
"Waktu itu ... akulah yang menemukan kamu." Tobias mulai menceritakan semua kejadian padaku.
"Pagi itu kamu kutemukan terdampar dekat pantai masih mengenakan jaket pelampung. Aku takut, kupikir kamu mayat. Aku lari ke rumah. Lapor pada Mister Sam. Sama Mister Sam, kamu dibawa ke klinik kota milik keluarganya, dokter Bim."
"Dokter Bim?" Dahiku berkerut mendengar nama itu.
Bukankah itu nama dokter sakit jiwa yang ingin mencuci otakku?
"Kenapa? Kamu pernah bertemu dengannya?"
"Lupakan saja! Lanjutkan ceritamu lagi Tobi! Aku ingin mendengar lebih banyak."
"Dari klinik, kamu dibawa pulang ke rumah. Tapi, saat Madam Alice melihatmu, dia mengira kamu adalah Selena. Kalian memang terlihat mirip."
"Kau tahu apa yang telah terjadi pada Selena?" tanyaku.
"Dia kecelakaan saat kabur dari rumah. bersama Aris pacarnya. Mobil yang mereka bawa jatuh ke jurang. Keduanya mati."
Tragis sekali.
"Lalu kenapa Madam Alice mengira aku adalah Selena?"
"Madam tidak mau terima kalau Selena sudah mati. Dia akan berteriak seperti orang gila bila ada yang memberitahu kalau anaknya mati. Dia yakin Selena suatu saat akan pulang kembali ke rumah."
"Ya ampun!" Aku menggeleng mendengar cerita Tobi.
"Dan kamu tiba-tiba muncul Nona. Mister Sam pun meminta kami semua untuk membantunya menjadikan kamu pengganti Selena. Kupikir ... itu bukan ide yang buruk. Bukankah menjadi anak Mister Sam sebuah keberuntungan? Dia sangat kaya. Jika kamu menjadi Selena semua kekayaan Mister Sam akan jadi milikmu, Nona."
Aku menghela napas menatap wajah polos di depanku.
"Hidup tidak semudah itu Tobi. Bisakah kau bayangkan? Jika saat ini, di suatu tempat. Keluargaku tengah cemas kehilanganku. Mungkin saja sekarang ibu atau ayahku sedang menangis mencariku."
Tobias menunduk. "Iya ... kamu benar Nona. Seharusnya Mister Sam tidak boleh begitu padamu."
"Aku harus pergi Tobi. Aku harus mencari tahu keluargaku sebenarnya."
"Kemana? Bukankah kamu sedang lupa semuanya?"
"Kemana saja. Aku harus sembunyi dari Mister Sam. Kata dokter Phil ingatanku bisa pulih pelan-pelan. Tolonglah aku Tobi! Bawa pergi aku dari sini!"
Pemuda tanggung itu terdiam. Matanya menerawang menatap riak air di bawah perahu.
"Bukankah kamu juga ingin pergi dari sini? Menemui ibumu?" Aku merunduk ke arahnya.
"Ibuku sangat jauh dari sini. Butuh uang yang banyak untuk menyusulnya," sahutnya lesu.
"Ayolah Tobi! Kamu ini laki-laki. Kalau kamu mau pasti bisa. Kita pergi ke kota cari pekerjaan. Aku akan membantumu mengumpulkan uang yang banyak." Kutepuk punggungnya pelan. "Aku janji untuk membayarmu. Karena kamu telah berjasa mengeluarkanku dari sini."
__ADS_1
"Benarkah? Aku sangat ingin bertemu Mamah." Ia mulai bersemangat.
"Hmm." Aku mengangguk meyakinkannya. "Kamu akan bertemu Mamahmu."
"Bagaimana kalau Mister Sam menemukan kita? Aku bisa dibunuh olehnya."
"Katakan saja kalau aku telah memaksamu. Aku juga akan bilang begitu."
Ia tersenyum. "Aku akan bertemu Mamah!"
"Ya! Mamahmu sangat menunggu kedatanganmu. Dia rindu anak kesayangannya," ujarku menambahkan harapan untuknya.
"Aku benci Betty! Aku tidak akan tinggal lagi dengan mulut ketel itu!"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Yes! MAMAAAH ... TOBIAS AKAN PULAAANG!!!" Anak itu tiba-tiba berteriak lepas di tengah laut.
Aku ikut tertawa senang melihat tingkah pemuda tanggung itu. Tak sia-sia usahaku untuk membujuknya.
Aku berjanji Tobi. Dengan cara apapun akan membantumu bertemu Mamahmu.
Aku janji.
***
"Perahu ini akan aku letakkan tersembunyi. Kalau belum dapat. pekerjaan kita masih bisa hidup dengan makan ikan," ujarnya nyaring melawan suara mesin perahu.
"Bahan bakarnya masih banyak?" tanyaku dengan suara nyaring pula.
"Cukup untuk sampai ke kota. Kalau habis tinggal ganti dengan ini." Tobias terkekeh mengacungkan sebuah sampan.
"Oke Tobias! Kita mulai petualangan! Semangaaat!!" Kuacungkan kepalan tangan ke udara.
"Siap Nona Cantik!" Oh iya, kamu harus punya nama baru Nona!"
Tobias betul juga.
"Coba kau pikirkan satu nama untukku!"
"Aku suka memanggilmu Nona. Bagaimana kalau Nona saja?"
"Hum ... boleh juga."
***
Sampai di kota. Aku dan Tobi memutuskan untuk berpencar mencari pekerjaan. Tapi, kami saling berjanji akan kembali ke tempat perahu bersandar sebelum matahari terbenam. Tobi anak yang baik. Dia percaya kalau aku akan menepati janji.
__ADS_1
Menurut Tobi tempat ini jauh dari bangunan klinik milik dokter Bim. Tempat itulah yang harus kuhindari. Tobi mencoba mencari kerja di sekitar pesisir pantai. Menawarkan tenaga pada kapal ikan yang butuh tenaga untuk membongkar hasil tangkapan.
Pekerjaan itu tak cocok untukku. Kata Tobi di sekitar pantai kota banyak penginapan dan resort yang mungkin saja butuh tenagaku. Tempat ini memang memiliki pantai yang indah. Kota yang berada dekat dengan pantai. Tampaknya sudah dikelola dengan baik oleh pemilik tempat.
Kedua tungkaiku terus berjalan melewati beberapa turis asing yang asyik berjemur di atas tikar. Anak-anak kecil berlarian dengan kaki telanjang melewatiku. Ombak di sini cukup besar. Beberapa orang turis memanfaatkannya untuk surfing.
Aku harus mulai dari mana? Tak jauh dariku ada sebuah resto serta penginapan yang cukup besar. Kerja jadi waitres akan beresiko bertemu orang banyak. Mungkin lebih aman kalau kerja di penginapan. Aku ingin kerja di tempat tertutup.
Aku berdiri memindai sekeliling.
"Sendirian saja?" Seseorang wanita setengah baya menyapaku.
"Iya. Tadi sama teman."
"Mau menyewa papan surfing?" Tangannya menunjuk tumpukan papan surfing.
Ternyata dia menyewakan alat itu.
"Oh, tidak." Aku menggeleng. "Saya bukan turis. Tapi sedang mencoba mencari pekerjaan di sekitar sini."
Wanita itu manggut-manggut. Membenarkan letak topi lebar di atas kepalanya.
"Banyak penginapan di sini. Coba kau tanya saja di sana. Kau masih muda dan cantik. Pasti tidak akan sulit."
"Iya terima kasih saran ibu. Nanti akan saya coba ke sana."
Aku melanjutkan langkah lagi. Keluar dari pantai menuju jalan beraspal. Harapanku ada tempat lain selain penginapan. Tempat laundry misalnya.
Tapi, aku tidak bisa terlalu jauh dari pantai. Takut lupa arah jalan menuju perahu yang telah di sembunyikan Tobi. Letaknya tersembunyi terlindung batu karang besar. Batu karang itu telah ditandai Tobi agar aku mudah mengingatnya.
***
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar!"
Suara menggema seketika membuat langkah kakiku beku. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Menggetarkan sanubari. Ada memori bawah sadarku yang menyatakan kalau aku terbiasa dengan suara menggema itu.
"Mau sholat? Hayuk bareng!" Seorang wanita muda menyadarkanku. Aku cukup lama berdiri di depan bangunan yang tidak begitu besar.
"Sholat?"
"Iya sholat. Hayuk masuk! Di dalam banyak mukena. Gak usah kuatir." Ia menuntun lenganku.
.
.
.
__ADS_1
Sepanjang sholat air mataku bercucuran, dengan isak yang berusaha kutahan. Anehnya aku bisa mengikuti setiap gerakan sholat juga bacaannya.