Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DELAPAN BELAS


__ADS_3

Aku mulai menikmati rutinitas pekerjaanku sekarang. Pagi-pagi sudah berangkat ke tempat kerja bersama dua sahabat baruku. Di gudang peralatan, biasanya kami berbagi tugas terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas. Menyesuaikan dengan jumlah kamar penginapan yang terisi. Kalau jumlahnya banyak maka jumlah toilet yang harus di bersihkan juga banyak.


Semoga aku bisa mengumpulkan uang. Untuk memenuhi janjiku pada Tobi.


.


.


"Aku bagian kamar yang ada Babang Siwonnya ya, Non." Ayu berbisik ditelingaku.


Aku mengangguk. Ayu menulis nomer-nomer kamar penginapan pada kertas. Masing-masing kami akan membersihkan toilet sesuai nomer yang akan Ayu bagi.


"Apa sih bisik-bisik?" Alis Roro mengernyit.


Kami berdua cekikikan.


"Hmm, kayaknya kalian menyembunyikan sesuatu," Roro cemberut.


"Apaan sih. Enggak," sahut Ayu cengengesan. "Aku cuman ngasih tau sama Nona, kalau cairan pembersihnya harus diencerkan dulu biar hemat. Iya kan, Non?" Tubuh semoknya menyenggolku pelan.


Roro menatap penuh selidik ke arahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Dari kemaren kalian selalu memilih barisan kamar yang sama. Aku jadi curiga. Terutama pada kamu, Yu." tunjuk Roro mengarah ke Ayu.


"Iih ... masa sih? Di sana gak ada apa-apa," kilah Ayu. Gadis berpipi chuby itu diam-diam mengedipkan mata padaku saat Roro berpaling ke arah lain.


Aku memunguti ember dan alat-alat yang kuperlukan dari lemari gudang. Mengisi penuh botol bekas air mineral dengan cairan pembersih. Wangi aroma apel menyeruak tajam.


"Muka kamu itu gak bakat bohong, Yu. Pokoknya aku mau hari ini tukeran kamar sama punya Ayu." Roro bersikeras.


"Ah, gak mau! Kemaren udah gagal ketemu gara-gara mules," sahut Ayu keceplosan.


Tawaku hampir menyembur mendengarnya. Roro benar si Ayu tidak berbakat bohong.


"Tuh kan ... ketauan. Jujur, Yu! Apa yang coba kamu sembunyikan dari aku?" tanya Roro galak sambil mencengkram leher baju Ayu. "Mana kesetiakawanan kamu, Yu?"


Si Roro badannya saja yang kecil. Tidak ada takutnya sama Ayu yang berpostur jauh lebih besar.


"Aku gak mau tukeran kamar." Ayu tak mau kalah. Didorongnya tubuh kecil Roro.


Aku memutar bola mata menyaksikan tingkah konyol keduanya.


"Sudah ... sudah! Gimana kalo suit aja?" tawarku, berusaha menengahi mereka.


"Nona ...," rengek Ayu. "Gimana kalau aku yang kalah?"


"Deal." Roro tersenyum miring. "Terima kasih usulmu Nona cantik." Dijawilnya pipiku.


Mereka akhirnya mengikuti saranku. Keduanya bersemangat melakukan suit jari. Dan akhirnya ....


"Huhuhu ... abis dah. Gagal lagi ketemu Babang Siwon," keluh Ayu sedih.


"Apah?! Babang Siwon?" Pupil di balik kaca mata Roro melebar. "Siwon nginap di kamar itu, Yu? Nomer berapa kamarnya?" Roro mengguncang tubuh Ayu sambil terbahak senang.


"Huwaaa." Ayu semakin sedih.


"Udah ... besok kan bisa gantian," hiburku.


***


Alhamdullah. Huuh ... akhirnya selesai juga kerjaanku. Roro dan Ayu belum tampak. Mungkin mereka belum selesai. Sebaiknya aku menunggu di bangku dekat pohon rindang yang ada di halaman depan. Biasanya kami suka ngumpul di situ usai kerja.


Langit tampak mendung. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan. Kuhempaskan pantat di atas bangku kayu. Mereguk hingga tandas air putih bekal, yang sengaja kubawa dari kosan. Nikmat sekali menyandarkan punggung. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi. Rasa lelah seketika menguap.


Suasana halaman depan tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa mobil yang keluar masuk. Lewat di depanku. Menuju tempat parkir penginapan.


Kuhela napas panjang. Merenung, memandangi bunga lily beraneka warna yang bermekaran tak jauh dari bangku tempatku duduk.. Sampai saat ini memori tak jua kembali. Setiap kucoba paksa untuk mengingat. Kepala seperti akan meledak.


Mimpi tadi malam terasa terngiang-ngiang. Potongan-potongan adegan dalam mimpi buruk itu membuat merinding. Kalau benar aku pernah mengalami kejadian seperti itu. Betapa mengerikan hidupku. Bekas luka pada perut seakan membenarkan itu pernah kulalui.


Mendung semakin pekat. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Angin mulai bertiup kencang.


Hhh .... Lama sekali Roro dan Ayu.


Aku mulai bosan duduk menunggu. Kusembunyikan ember kerja di balik rimbun tanaman perdu. Bangkit dari bangku berniat masuk lagi ke dalam penginapan. Mencari dua temanku itu.


Kuayun kedua kaki menyusuri selasar penginapan. Hari ini aku mendapat jatah membersihkan toilet kamar yang berada di barisan depan tak jauh dari halaman. Sedang Roro dan Ayu lebih jauh masuk, di barisan kamar bagian dalam. Mungkin itu yang menyebabkan aku lebih dulu selesai, karena tak perlu jauh jalan kaki ke dalam.


Tenggorokanku mendadak cekat. Kuhentikan laju kaki. Mister Sam dan beberapa pria yang kemarin menangkap Tobi berjalan ke arahku.


"Selena!" teriak Mister Sam seraya menunjuk-nunjuk.

__ADS_1


Astaga ... aku lupa menutup wajah dengan masker. Tangan meraba wajah yang terbuka.


Kubenarkan lagi letak masker. Segera tubuh berbalik arah kembali menuju halaman. Kupacu kedua kaki semakin cepat. Aku lari.


Kenapa Mister Sam tiba-tiba ada di penginapan ini?


Dasar psikopat!


Aku takut. Aku tidak mau kembali ke rumah Mister Sam. Hidupku bisa berakhir.


Berlari keluar lagi dari penginapan. Melewati tempat parkir mobil. Jantung berdegup keras. Keringat bercucuran.


Bruk!!


"Aaawh!" Aku membentur pintu sebuah mobil yang tiba-tiba terbuka.


"Hati-hati!"


Seorang pria yang akan keluar dari mobil itu menegurku. Aku menoleh ke arah belakang. Dari jauh kulihat orang yang tadi bersama Mister Sam juga berada di tempat parkir. Matanya jelalatan seperti sedang mencari-cari.


Gawat!


Tubuh pria yang ingin keluar dari mobil kudorong masuk. Tanpa melihat raut muka orang itu.


"Tolong saya!" ujarku tak tahu malu.


Dia menurutiku masuk kembali ke dalam mobil. Aku ikut menjejalkan tubuh ke dalam, menutup pintu mobil itu tergesa.


Gerimis mulai turun.


Kedua tanganku menapak di kaca mobil. Kepala celingukan mengawasi keadaan di luar. Kutajamkan pandangan yang terganggu oleh air hujan yang berjatuhan. Mengamati anak buah Mister Sam yang berjalan di antara mobil yang terparkir.


"Bisa tolong saya keluar dari tempat ini?" tanyaku dengan napas tersengal. Tanpa melihat padanya.


"Kemana?" tanya pria pemilik mobil.


"Kemana saja. Yang penting ke luar dari sini."


"Ternyata kamu tidak gagu."


"Hah?" Sontak aku menoleh pada pemilik mobil.


"Hai," sapanya tersenyum.


"Maaf saya sudah tidak sopan," sahutku tersipu. Walau dia tak dapat melihat mimik wajahku.


Aku merubah posisi tubuh menghadap padanya. Sikapku tadi pasti sangat memalukan. Seenaknya mendorong ia masuk kembali ke dalam mobil. Apa boleh buat. Aku tak punya pilihan.


"Apa saya sudah mengganggu Anda?" tanyaku sungkan. Tatapan lekat itu membuatku risih.


Anak buah Mister Sam kulihat sudah menjauh.


"Makasih sudah boleh sembunyi di sini." Tanganku meraih handle pintu mobil, berniat keluar.


"Tunggu!" Ia mencekal lenganku. Segera kutepis.


"Di luar hujan. Aku akan mengantarmu keluar dari sini. Tapi, kita harus bertukar tempat duduk." Pria itu menujuk setir di depanku.


Oh, iya. Dia benar.


Aku mengangguk.


Dia keluar dari mobil, lalu berlari memutar ke pintu di sampingku. Aku begeser pindah. Pria itu masuk, duduk di depan kemudi. Tubuhnya sekarang basah.


"Namamu siapa?" tanyanya, begitu mobil sudah keluar dari halaman penginapan.


"Nona," sahutku singkat.


"Aku harus mengantar kamu kemana, Non?"


Satu tangan pria itu menjumput tisue yang berada di atas dash board. Mengeringkan sisa air pada wajahnya. Sedang rambutnya masih basah.


Aku berpikir sejenak. Baiknya aku kembali ke kosan saja. Tak ada tempat yang lebih aman.


"Saya mau pulang saja. Ke kosan."


"Oke, beritahu saja aku arahnya."


Dia sesekali melirik ke arahku. Entah apa yang dipikirkan. Tapi, firasatku mengatakan ia bukan orang jahat. Mobil dikemudikan dengan santai. Menuruti rute jalan yang aku tunjuk. Diam-diam aku menikmati aroma parfumnya. Aku sangat suka.


"Sudah lama kamu kerja di penginapan itu?"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Masih baru."


"Siapa orang yang kamu hindari tadi?"


Aku diam tak menjawab. Tak mungkin aku menceritakan semua masalah pada orang yang baru kukenal.


"Baiklah. Kalau kamu keberatan memberitahuku." Dia mengangguk-angguk.


Mobil terus meluncur menembus derasnya hujan. Wifer pada kaca mobil bergerak pelan menyapu kabut air yang menutupi pandangan. Aku tenggelam dalam lamunan sendiri.


"Berhenti di depan gang kecil itu!" Tanganku menunjuk jalan masuk kosan.


"Di situ tempat tinggalmu sekarang," gumamnya seperti pada diri sendiri.


Mobil berhenti tepat di depan gang sempit. Jalan selebar dua meter itu tak bisa dilalui oleh mobil Mesin pun kemudian dimatikan.


"Terimakasih banyak. Saya sudah sangat merepotkan," ujarku seraya menunduk hormat padanya.


"Boleh saya minta bayaran?"


A-apa?


Mataku terangkat. Mendadak gugup. Sepeserpun aku tak memegang uang. Gaji belum terima. Jajan dan makan masih mengharap belas kasihan teman.


Pria itu menatapku dengan tatapan entah. Kasihan mungkin.


"Bukan bayaran uang," ujarnya cepat.


"Lalu?"


Pikiran negatif tiba-tiba muncul.


"Saya bukan wanita murahan," sahutku mulai kesal.


"Astaga, Non. Aku cuma mau liat muka kamu. Bayarannya cuma itu."


"Untuk apa?" tanyaku tak mengerti.


"Aku hanya ingin berteman denganmu. Boleh?"


Aku menggeleng.


"Please! Kamu mengingatkanku pada seseorang."


"Enggak!" sahutku tegas.


Aku harus segera keluar dari mobil ini. Bergegas pintu mobil kubuka.


Tapi, sebuah tarikan kuat menyentak tubuhku ke arahnya. Masker penutup wajahku dibuka paksa.


"Ken!" serunya.


Plak! Spontan tanganku melayang ke wajah berkulit putih itu. Dia sudah keterlaluan.


"Kamu Nikenku."


Pria itu seolah tak peduli dengan tamparanku. Dia malah merengkuh tubuhku ke pelukannya. Aku dipeluk dengan erat.


"Lepaskan! Tolooong!" Aku teriak dan berontak memukuli punggungnya.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang? Sampai lupa padaku begini."


Aku tak mengerti apa yang ia ucapkan.


Semakin aku meronta. Pelukannya bertambah kuat.


Perlawananku sia-sia. Akhirnya hanya bisa menangis karena tak kuasa melepaskan diri.


"Menangislah Ken! Aku tidak mau melepaskanmu." Pria itu terisak.


Kami berdua sama-sama menangis. Aku mulai lelah berontak darinya. Tenagaku tak ada apa-apa dibanding pria ini. Kondisi jalanan sepi. Hujan semakin deras mengguyur bumi.


Bersambung.


.


.


.


Moga yang baca pada baper.

__ADS_1


__ADS_2