
Dada Dion bergemuruh, hatinya berdenyut nyeri melihat kedekatan Dea dan Dean. Saat Dean berbalik, Dion merapatkan tubuhnya ke batang pohon. Dion tak mau Dean melihatnya, ia tidak ingin pria itu besar kepala.
Dean yang memang sudah tau kalau Dion bersembunyi di balik pohon menarik sudut bibirnya. Lalu pria itu menaiki motornya dan pergi. Begitu Dean sudah menjauh, Dion keluar dari tempat persembunyiannya.
Ia menatap sendu kosan dua lantai itu. Tadinya ia berniat ingin bertemu Dea, namun melihat kejadian tadi, ia mengurungkan niat. Melihat Dea baik - baik saja sudah cukup baginya. Dengan hati nelangsa ia meninggalkan tempat itu.
Di dalam kamarnya, Dea duduk termangu. Ia mengelus pipinya yang tadi disentuh Dean. Ia memejamkan mata, untuk menata hatinya yang mulai bimbang. Di tengah kisruh hubungannya dengan Dion, Dean tiba - tiba mengatakan perasaanya dan Dean dengan jelas memperlihatkan perubahan sikapnya.
"Apa yang harus aku lakukan,?" Dea mengusap wajahnya gusar.
Melihat waktu yang terus berjalan. Dea segera bangkit dari duduknya. Ia harus pergi bekerja.
Sampai di tempat kerja ,Dea langsung disibukan dengan pekerjaannya. Sebuah pesanan kue tart bertingkat masuk pagi ini. Dea yang belum mahir menghias, hanya ditugaskan untuk membuat cakenya.
" Ini ,serius buat besok mbak,?"tanya Dea pada Juni.
" Iya, makanya kita harus cepat selesaikan. Besok pagi - pagi sudah diantar,"
***
Keesokan harinya.
" Dea, kamu ikut sama cece ya antar kue itu." ucap Meylani.
Dea menunjukan dirinya sendiri merasa tak percaya Meylani mengajaknya.
" Iya,, temanin saya. Biasanya Tiwi, tapi hari ini dia libur,"
Dea mengangguk.
Kue tart bertingkat itu dimasukan ke dalam mobil dengan hati - hati. Dea diminta untuk memegangi supaya tetap aman sampai di tujuan.
Meylani mengemudikan mobil dengan pelan agar tak terlalu berguncang. Dea yang tidak tau kemana arah dan tujuan, hanya diam sambil terus memegangii box kue yang sebesar gaban itu.
Sampai akhirnya mobil Meylani memasuki kawasan sebuah kampus. Dea celingukan memperhatikan sekitar.
" Kok kesini, ce,?" tanyanya heran.
" Lah, emang kamu nggak baca tulisan di kuenya? Kan untuk acara hari jadi kampus ini,"
Perasaan Dea mulai tak enak, pasalnya kampus itu adalah kampus tempat Dion kuliah.
"nggak mungkin juga kan ketemu,"batinnya.
Mobil yang dikemudikan Meylani terparkir sempurna. Meylani menghubungi si pemesan kue. Seorang pria datang untuk menjemput kue itu. Karena kuenya yang besar, Dea terpaksa membantu membawakan kue itu ke aula tempat acara diadakan.
__ADS_1
"Disini aja mbak," kata pria tersebut meletakan kue itu di sebuah meja.
" Pembayarannya sudah kami kirimkan ke rekening Ibu Meylani, dia sudah tau juga," jelas pria itu.
Dea mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi,"
"Iya, terima kasih ya,"
"Sama - sama,"
Saat Dea akan berbalik, ia melihat Dion baru saja masuk ke dalam aula. Sontak gadis itu kembali membalik badan. Ia sedang tak ingin bertemu dengan Dion. Dea berharap Dion tak menyadari kehadirannya. Tapi sialnya, pria tadi malah memanggil Dion. Dea terjingkat kaget.
" Iya Pak," Dion sudah berdiri di dekat Dea.
Dea merusaha menutup wajahnya dengan tangan dan berbalik badan. Tapi usahanya menghindar sia - sia, saat seseorang memanggilnya.
Dion yang berbincang dengan Pria tadi tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Tiara berjalan ke arahnya. Lalu matanya beralih pada gadis memakai baju putih seperti baju koki.
"Dea, jadi beneran kamu. Aku kira salah lihat," ucap Tiara.
Dea mendesis, memalingkan wajahnya.
"Dea, kenapa kamu ada disini,?" tanya Dion.
"Dia karyawan di Meylani bakery. Tempat kita memesan kue ini," pria tadi menimpali.
Tiara membulatkan bibirnya. Tanpa Dea sadari, Tiara menyunggingkan senyum mengejek penampilan Dea. Sangat Berbeda dengan saat ia bertemu dengan Dea kala itu yang memakai setelan formal saat Dea bekerja di tempat asuransi.
" Jadi kamu nggak kerja di perusahaan asuransi itu lagi ya. Tapi wajar sih, kalau kamu nggak bertahan di sana, pasti susah dan beratkan bagi kamu yang hanya lulusan SMA. Kerja di toko kue lebih cocok buat kamu,"
Dadah Dea mendidih. Tapi mulutnya terkunci rapat. Ia tidak bisa membalas ucapan Tiara. Karena memang seperti itulah kenyataannya.
Sementara muka Dion memerah, tangannya terkepal. Secara tidak sengaja Tiara mengungkit lagi kesalahan yang pernah ia lakukan. Hal itu pasti akan membuat Dea semakin marah padanya.
" Tiara, jaga bicaramu," ucap Dion pelan namun tajam.
" Apa yang dikatakannya benar kok," sahut Dea. Dea menoleh dan menatap Dion. Mata keduanya sama - sama terlihat memerah.
Beberapa mahasiswa menatap ke arah mereka. Dea merasa tak enak, ia pun memutuskan untuk segera pergi. Lagian Meylani menunggunya di mobil.
Dion tak membiarkan Dea pergi begitu saja. Dion mengejar Dea dan berhasil menghentikan langkah gadis itu setelah keluar dari aula.
" Aku mau bicara," ucap Dion datar.
__ADS_1
Dea menatap pergelangan tangan yang dipegang oleh Dion. Ia lalu menarik kasar tangannya. Membuang muka tak mau bersitatap dengan laki - laki di depannya itu.
" Aku tidak punya waktu," jawab Dea dingin.
Dion tersenyum kecut. Kejadian kemarin di depan kost Dea kembali terbayang olehnya.
" Apa sekarang waktu kamu hanya untuk dia,?"
Dea memutar kepalanya, kini ia menatap laki - laki yang namanya masih bertahta di hatinya.
"Untuk Dia,?"
" Iya, untuk pria itu. Bukannya kalian semakin dekat. Dan sekarang kamu mencampakkan aku. Atau jangan - jangan kalian sudah pacaran,?"
Dea tertawa sumbang seiring dengan matanya yang semakin memanas. Dea mengerjapakan matanya menahan air mata itu tidak tumpah.
"Lalu bagaimana denganmu,? Apa kamu sudah mewujudkan harapan Tiara untuk bisa berpacaran denganmu,?"
Dion mengernyit.
"Apa maksudmu,?" ketus Dion.
" Lalu apa maksudmu menuduhku berpacaran dengan pria lain,?" Suara Dea terdengar bergetar.
" Aku tidak menuduhmu,aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Dean mengusap kepala dan mengelus pipimu. Apa namanya itu kalau kalian tidak pacaran,?" mata Dion menatap nanar Dea.
Dea tersentak. Jadi Dion melihat kejadian di depan kosnya itu.
"Aku juga melihat Tiara keluar dari rumah kamu. Bukannya kamu bilang tidak dekat dengannya karena kalian beda fakultas,?" ucap Dea tak mau kalah.
Lontaran dari mulut Dea membuat Dean terpaku. Apa mereka selama ini saling menstalking satu sama lain. Bagaimana Dea tau kalau Tiara pernah ke rumahnya saat papanya sakit.
"Sepertinya kamu salah paham tentang itu,"
Dea kembali tertawa sumbang.
"Hari itu papa sakit, Tiara dan teman - teman dari mapala datang ke rumah untuk melihat papa. Jadi tak hanya Tiara, ada yang lain juga,"
Wajah Dea berubah pias. Ia tidak ingin mempercayai ucapan Dion. Tapi dari sorot mata pria itu ia bisa merasakan kalau Dion mengatakan yang sebenarnya. Itu artinya ia yang salah disini.
Bersambung...
...----------------...
Maaf ya reader,, slow update.. Lagi ribet sama Real life... hehehe..
__ADS_1