
Melihat ada darah di tangannya ,Dea mendadak jadi pusing. Tubuhnya oleng ke belakang. Untung Dean dengan cepat menangkap tubuh Dea sebelum jatuh ke tanah.
Beberapa orang tampak menyalahkan pria paruh baya pemilik mobil. Karena dirinya memang salah, pria itu meminta maaf dan mengatakan akan bertanggung jawab.
"Saya akan bertanggung jawab, saya akan membawa gadis itu ke rumah sakit,"ucapnya.
Dean tak yang mau masalah itu diperpanjang, memilih berdamai sebelum polisi datang. Dean menggendong Dea masuk ke mobil pria itu.
Pria itu langsung melajukan mobilnya ke sebuah klinik terdekat. Sampai di sana Dea langsung ditangani.
"Maafkan saya,saya akan bayar semua biayanya. Termasuk perbaikan motormu,"ucap Pria itu penuh penyesalan.
"Iya pak, saya mengerti,"jawab Dean.
"Tapi saya harus pergi, saya ada urusan penting. Ini kartu nama saya, kalau ada apa - apa hubungi saja nomor yang ada disitu,"
Dean mengambil kartu nama itu. Ia membacanya sekilas kemudian menyimpannya di saku kemejanya.
Setelah kepergian pria itu, Dean menemui Dea di dalam kamar pemeriksaan. Gadis itu telah sadar.
"Kamu baik - baik saja,?"tanya Dean.
"Hem, kamu sendiri bagaimana,?"
"Aku baik - baik saja, justru aku mengkhawatirkanmu. Kau sampai pingsan,"ujar Dean penuh kekhawatiran.
Dea mengulas senyum diiringi erangan karena lukanya terasa perih.
"Aku tidak bisa melihat darah,"ucap Dea memeriksa luka di tangannya yang sudah di perban.
Ponsel dalam tas Dea terdengar berdering, Ia meminta Dean untuk mengambilkan benda itu. Dean mengambil ponsel itu, keningnya berkerut melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Siapa itu Malaikat tak Bersayap,?"tanya Dean seraya mengangsurkan ponsel ke tangan Dea.
Dea mengulas senyum sebagai jawaban. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Dion,!" Sapa Dea.
"Jadi dia,"batin Dean.
Dean tersenyum getir, ternyata laki - laki itu sangat berarti untuk Dea. Hatinya terasa nyeri. Dean menghela nafas berat, kemudian meninggalkan ruangan itu, memberikan ruang pada Dea untuk leluasa berbincang dengan pacarnya.
Dean mendudukan diri di kursi besi diluar ruangan itu.
"Kenapa juga aku harus menyukai pacar orang,"gumamnya.
Dean duduk termangu, larut dengan pikirannya. Siapa pun tidak pernah tau kepada siapa hatinya akan berlabuh, tapi sialnya Dean justru jatuh cinta pada Dea yang notabenenya sudah memiliki pacar. Terpaksa perasaan itu ia pendam sendiri.
Tak lama berselang, Dion datang dengan raut wajah cemas. Tatapan tajam Dion layangkan ketika ia bertatap muka dengan Dean. Keduanya sama - sama memasang wajah datar.
"Dimana Dea,?"tanya Dion dingin.
"Ada di dalam,"sahut Dean.
Tanpa berpikir panjang Dion segera memasuki ruangan yang dimaksud oleh Dean.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu,?"tanya Dion begitu melihat Dea.
"Aku baik - baik saja, hanya luka kecil," Dea menunjukan luka di siku dan lututnya.
Dion meraih tubuh Dea ke dalam pelukannya.
"Jangan terluka lagi,"ucap Dion.
Dea mengangguk kecil sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dion. Dion mengecup lama kening kekasihnya itu.
Adegan romantis itu ternyata tertangkap oleh sepasang mata Dean. Ia yang tadi akan masuk kembali ke kamar perawatan, perlahan mundur teratur begitu melihat sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra.
Karena tak ada luka serius, Dea diperbolehkan pulang. Dion memapah Dea berjalan keluar dari klinik.
"Aku akan antar kamu pulang"kata Dion.
"Apa kamu akan mengantarnya pulang dengan motormu?"tanya Dean.
"Tidak, kami akan naik taksi. Aku akan meninggalkan motorku disini dulu,"jawab Dion.
"Kamu sendiri bagaimana," Dea bertanya pada Dean. Karena ia tau motor Dean tertinggal di tempat kecelakaan tadi.
"Jangan pikirkan aku, lebih baik kamu pulang dan istirahat dirumah. Aku sudah memberi tau pak Bagas apa yang terjadi, jadi kamu diizinkan pulang lebih awal,"
Cara Dean menatap Dea yang terasa berbeda membuat Dion merangkul bahu Dea lebih erat. Seakan menekankan kalau gadis itu adalah miliknya dan tidak siapapun bisa merebutnya.
***
Di dalam taksi, Dion menggenggam erat tangan Dea seolah tak ingin melepaskannya.
"Hah,?"
Dion menatap dalam manik mata Dea.
"Dean, dia menyukaimu. Caranya menatapmu terlihat berbeda."
Dea tertawa kecil.
"Tidak mungkin, kami hanya berteman. Itu hanya perasaanmu saja,"bantah Dea.
"Dea, kamu itu masih polos. Tidak ada namanya pertemanan antara laki - laki dan perempuan, pasti salah satunya memiliki perasaan."
Dea melepaskan genggaman tangannya dari Dion. Ia membuang pandangan keluar jendela.
"Tapi kamu juga berteman dengan Tiara, dan aku tidak keberatan"
Dion tertegun, ia mengepalkan tangannya sambil tersenyum miring.
"Kenapa kau bawa - bawa Tiara? Apa kau berniat membalasku,?"
Sontak Dea menoleh, ia menatap tajam laki - laki disampingnya.
"Membalas apa maksudmu,?"tanya Dea.
"Maaf, lupakan saja. Aku hanya asal bicara,"
__ADS_1
Keduanya kemudian saling diam sampai taksi mengantarkan mereka ke kosan Dea.
Karena letak kamar kos Dea ada dilantai dua membuat gadis itu kesusahan menaiki tangga meski baru beberapa undakan.
"Ayo naik ke punggungku," Dean berjongkok di depan Dea.
"Tidak perlu, aku bisa kok jalan,"tolak Dea.
"Cepat naik, jangan tunggu aku memaksamu,"
Tak mau berdebat, dengan ragu Dea mendekat dan naik ke punggung Dion.
"Kenapa kamu ringan begini"ucap Dion dengan suara tertahan.
"Jangan menyindir, kau sendiri yang ingin menggendongku tadi,"jawab Dea merenggut.
Dion menaiki undakan tangga dengan perlahan. Sesekali ia membenarkan posisi Dea yang hampir melorot.
"Aku cemburu kau terlalu dekat dengannya. Jujur aku merasa tak nyaman."ucap Dion pelan.
"Aku takut kamu akan berpaling,"
"Aku hanya menganggapnya seperti seorang kakak, apa yang kamu takutkan itu tak akan terjadi,"jawab Dea.
"Semoga saja, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti,"sahut Dion.
Dea tidak lagi menanggapi, ia sedang tak ingin berdebat untuk hal yang tidak penting. Sampai akhirnya mereka sampai di kamar kost Dea.
Dion menurunkan Dea dari punggungnya. Dea merogoh kunci dari dalam tas dan menyerahkannya pada Dion.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu,"ucap Dion saat mereka sudah ada di dalam kamar.
Dea mengangguk patuh, ia lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dibantu oleh Dion.
"Bagaimana dengan motormu?"
"Aku bisa mengambilnya nanti sore,"ucap Dion sembari menyelimuti Dea.
Dion mengusap pelan kepala Dea, kemudian meninggalkan kecupan hangat di kening gadis itu.
"Aku mencintaimu,"
"Aku juga,"
Dea mencoba memejamkan matanya. Tak lama berselang terdengar dengkuran halus pertanda gadis itu telah terlelap.
Dion menemani Dea sampai ia juga ikut terlelap. Menjelang sore Dion terbangun, dia ingat motornya masih tertinggal di klinik tadi. Ia pun segera meninggalkan kos Dea, tanpa membangunkan gadis itu.
Setelah mengambil motor, Dion mendatangi kantor tempat Dea bekerja. Ia akan membuat perhitungan dengan Dean. Cukup lama ia menunggu sampai akhirnya Dean muncul dari balik pintu kaca.
"Aku mau bicara denganmu,"
...----------------...
Sabar ya pemirsah,,, Dea pasti bahagia kok...
__ADS_1