
Di tempat berbeda ,Dion tak bisa memejamkan matanya meski sudah lewat tengah malam. Berkali - kali ia mengubah posisi tidur tapi tetap saja kantuk itu tak kunjung datang.
Dion meraih ponselnya, berharap ada balasan pesannya dari Dea. Tapi pesan itu masih belum terkirim, apalagi terbaca oleh Dea.
Ketika pagi menyapa, Dion langsung bertolak ke kosan Dea. Ia benar - benar tak tenang jika Dea masih marah padanya. Bahkan ia tidak peduli jika ia ada kelas pagi ini.
Begitu sampai di kosan Dea, Dion dikejutkan dengan ramainya orang berkumpul disana. Dion menghampiri seorang ibu - ibu untuk menanyakan apa yang terjadi.
" Ada apa ini ,bu. Kok rame,?"
" Oh, ada yang bunuh diri di lantai dua."
Deg.. Dion begitu terkejut. Darahnya berdesir. Ia semakin mencemaskan Dea. Pikiran buruk mulai menggerayanginya. Dengan tergesa ia menaiki tangga, berharap kalau itu bukan Dea.
Dion bernafas lega, mendapati garis polisi terpasang di kamar sebelah kamar Dea. Ia mendekati kamar Dea, namun pintu kamar itu terkunci. Dion mencoba mengetuk pintu itu.
" Dea.. ini aku."
" Maaf, mas. Dea nya nggak ada," Suara seseorang di balik punggungnya. Dion sontak menoleh.
" Semalam, ia ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Tapi setelah itu Dea tidak pulang" Jelas seorang wanita yang merupakan penghuni kamar lain di kosan itu.
" Oh, makasih ya mbak"
Dion kembali menuruni anak tangga dengan tergesa. Ia jadi semakin mengkhawatirkan Dea. Di sela langkahnya Dion kembali mencoba menghubungi Dea, namun sama saja. Nomor ponsel gadis itu masih belum aktif.
Saat Dion hendak pergi ke kantor polisi, secara bersamaan Dea datang bersama Dean. Dion mengurungkan niatnya untuk naik ke atas motor, ia kembali melepaskan helmnya.
Dea juga terkejut, melihat Dion pagi - pagi sudah ada di kosannya.
" Dea, apa kamu baik - baik saja,?" Dion menghampiri Dea.
Mulut Dea terkunci rapat, ia malah membuang muka saat Dion menatapnya.
"Apa semalam kamu tidur di kantor polisi,?" tanya Dion.
" Tidak, dia tidur di apartemenku," Dean yang menjawab pertanyaan itu.
Dion beralih menatap Dean. Seketika ia merasa kesal. Lagi - lagi pria itu.
"Aku masuk dulu, terimakasih untuk semuanya," Dea berpamitan pada Dean, lalu gadis itu pun berlalu. Dea sama sekali tak mengacuhkan Dion.
Ketika Dean hendak pergi, Dion menahan lengan pria itu.
"Jangan mencari kesempatan. Jangan mempengaruhi Dea," ucap Dion ketus.
Dean mengulas senyum, sembari menjauhkan tangan Dion dari lengannya.
__ADS_1
"Aku tidak mencari kesempatan, tapi Dea sendiri yang menelponku semalam." Dean menepuk pelan pundak Dion.
Dion tak bisa berkata apa - apa lagi, tangannya terkepal geram. Tak hanya merasa bersalah pada Dea, Dion juga menyesal membuat Dea bekerja di perusahaan asuransi itu. Karena tanpa sengaja ia mempertemukan Dea dengan Dean yang sekarang menjadi duri dalam hubungannya dengan Dea
Dea baru saja sampai di lantai dua, kakinya tiba - tiba terasa lemas. Kejadian kemarin kembali terulang di benaknya. Dengan langkah diseret Dea mencoba mendekati kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya, ia sempat menoleh dan melirik kamar Tari yang dipasang garis polisi.
Dea terduduk lemas di sisi ranjangnya. Tak lama berselang, Dion datang dan masuk ke kamarnya.
" Dea, " panggil Dion lirih.
Dion mendekat dan duduk di samping Dea. Ia menatap gadis yang tampangnya begitu berantakan dan kusut.
" Aku minta maaf, tolong jangan seperti ini. Aku tau tindakanku salah, tapi apa kau sama sekali tidak akan memberiku maaf,?" Dion bicara memelas.
" Pergilah, aku ingin sendiri,"
" Tapi Dea.."
" Dion,, ku mohon. Aku butuh waktu untuk berpikir. Kepalaku hampir pecah memikirkan semua ini. Semuanya datang di satu waktu. Aku,_" Tenggorokan Dea tercekat ketika pelupuk matanya mulai menggenang.
"Aku minta maaf," ucap Dion menatap Dea sendu.
Dea memejamkan matanya, satu bulir bening lolos meleleh membasahi pipinya. Hati Dion terenyuh, ia meraih tubuh Dea kepelukannya. Namun Dea menolak untuk dipeluk.
"Pergilah," ucap Dea menghapus air matanya.
Dion menghela nafas berat ,seraya bangkit dari duduknya.
Dion perlahan beranjak, berjalan mundur ke arah pintu sampai akhirnya ia benar - benar berbalik dan meninggalkan kamar kost Dea.
Begitu Dion pergi, Dea bergegas menutup pintu dan jatuh duduk merosot ke lantai. Ia memeluk lututnya dan membenamkan wajah di atasnya. Dea mulai menangis tanpa suara.
***
Hari berlalu..
Dea kembali mulai bangkit. Menguatkan pijakannya, meneguhkan hatinya. Ia tidak akan bersedih lebih lama lagi, hidupnya terus berjalan.
Pagi - pagi ia sudah bangun membersihkan kamar kosnya ,mandi, sarapan dan bersiap untuk keluar dari sarangnya. Ia akan kembali mencari kerja.
Ponselnya berdering, saat ia sedang mematut dirinya di kaca. Nama Dean tertera di layar ponsel. Sejak terakhir Dea menginap di apartemen pria itu, Dean tak pernah menghubunginya bahkan mengirim pesan pun tidak.
" Halo,!" Dea menjawab panggilan itu.
" Hai, apa kabar,?"
" Hem, baik. Sangat baik," jawab Dea mengukir senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Apa kau sibuk,?"
Dea tertawa kecil.
" Iya, aku sibuk menganggur," jawab Dea.
Di ujung telepon Dean ikut terkekeh.
" Aku punya kabar baik untukmu," ujar Dean.
" Kabar apa itu,?" tanya Dea sambil menata poninya.
" Kau tau kan toko bakery di dekat lampu merah. Kemarin aku membeli kue disana, dan ternyata toko itu sedang butuh karyawan. Apa kau berminat kerja disana,?"
Dea terdiam. Ini bukan kabar baik lagi, tapi teramat baik. Inilah yang dicarinya selama ini.
" Dea," panggil Dean karena tak ada jawaban.
" Hah, iya. Gimana tadi?" tanya Dea memastikan ia tak salah dengar. Dean pun kembali menjelaskan.
" Baiklah, aku akan kesana sekarang juga,"
Dea memutuskan sambungan telepon itu tanpa mengucap salam. Dea segera pergi menuju tempat yang Dean maksud, takut keduluan orang lain.
Begitu sampai disana, benar saja toko itu sedang butuh karyawan. Ada pengumuman yang di tempel di kaca pintu masuk.
Dengan dada berdebar, Dea melangkahkan kakinya masuk ke toko yang bernama Meylan Bakery itu.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Seperti memang sudah ditakdirkan Dea diterima bekerja di toko kue itu. Meylani wanita keturunan tionghoa si pemilik toko kue itu tanpa ragu untuk menerima Dea, terlebih saat Dea menceritakan kalau dia suka sekali membuat kue.
" Baiklah, kapan kamu bisa mulai bekerja,?" tanya Meylani.
" Sekarang saya bisa ,bu," jawab Dea antusias.
Meylani tersenyum. Melihat Mata Dea yang berbinar Meylani tak bisa menolak, ia menganggukan kepala tanda setuju.
" Kamu semangat sekali," ujar Meylani.
Dea tersipu malu. Bagaimana tidak semangat, sudah tiga hari ia mengurung diri di kamar kosnya tanpa melakukan apa pun.
Toko kue itu cukup besar,terdiri dari ruko dua lantai. Di bagian belakangnya terdapat dapur tempat pembuatan kue.
Meylan Bakery cukup populer, dan sudah memiliki cabang beberapa kota. Dea merasa bangga bisa bekerja disana. Ia juga diterima baik oleh karyawan disana.
Meskipun sekarang Dea sudah punya pekerjaan. Tapi ia sama sekali tak merasa bahagia, hatinya terasa hampa dan kosong.
Seketika ia teringat Dion. Hubungan mereka belum membaik. Tiba - tiba Dea merindukan Dion.
__ADS_1
...----------------...
Like dan komentar...