Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
TUJUH


__ADS_3

Apa yang terjadi pada Henry?


Flash Back setelah kejadian serangan malam itu di pulau. Henry mengendarai jet ski bersama Niken dalam keadaan gelap serta diguyur hujan yang deras. Henry hanyalah manusia biasa pemirsa. Sekaya raya apapun seorang Henry, dia hanyalah manusia yang tak berdaya menghadapi alam. Ketika itu, lautpun sedang dilanda ombak besar. Maksud hati Henry akan menuju ke pulau lain yang ada di Kepulauan Derawan. Menemukan tempat yang aman untuk isterinya tercinta. Tapi, apa hendak dikata, jet ski yang ia kendarai terpental oleh hantaman gelombang. Mereka sama-sama kehilangan kesadaran. Terombang ambing oleh arus lautan.


***


POV HENRY


Panas ... panas sekali rasanya ... tapi kelopak mata sulit digerakkan.


"Aakh!!" Sesuatu yang terasa tajam menggores daun telingaku. Spontan tanganku menepis sesuatu itu. Mata terbuka.


"Gaaak ... gaaak!" Seekor burung gagak segera mengepakkan sayap menjauh.


Ternyata burung itu yang telah mematuki telingaku. Apa dipikirnya aku telah jadi bangkai?


Mata memindai sekeliling. Suara debur ombak menyadarkanku, kalau saat ini terbaring telentang tak jauh dari pantai. Sinar matahari terasa membakar kulit. Kuhela napas dalam mengumpulkan nyawa dan ingatan.


"Niken!" Mataku membelalak saat berhasil mengingat semua. Mulut seketika membisikan nama wanita yang sangat kusayangi itu.


Aku telah mengingat kejadian yang menimpa kami. Malam itu aku tak mampu lagi mengendalikan keseimbangan, saat gelombang besar tiba-tiba menggempur tubuh kami yang berada di atas jet ski. Setelah itu semuanya menjadi gelap. Begitu bangun sudah ada di sini.


Sudah berapa lama aku di tempat ini?


Dimana Nikenku?


"Nikeeen!" Suara yang keluar dari mulutku serak tak bertenaga. Aku tak mampu berteriak nyaring.


Tubuh terasa kering di bawah terpaan panas matahari. Untuk bergerak pun butuh usaha yang keras.


"Aargh!" Kedua kaki terasa lemas. Seperti telah digunakan untuk berlari jauh hingga puluhan kilo meter.


Kucoba menyeret tubuh dengan tiarap, melata di atas pasir. Sepertinya aku cukup lama terpanggang matahari. Kulit rasa terbakar. Sambil merayap di atas pasir aku berusaha mencari keberadaan Niken.


"Keeeen ... dimana kamu sayang? Bersuaralah ...!"


Ah, suaraku begitu serak dan pelan. Mungkin hanya telingaku sendiri yang mendengarnya. Deru ombak dan angin begitu kencang, meredam suaraku.


"Ken ... Nikeeen!" Tenggorokan terasa cekat. Tapi tetap kupaksakan untuk bersuara.


Tubuh terus kuseret. Pantai ini begitu lengang. Tak ada satupun perahu nelayan yang tampak.


Sepi.


Mungkinkah Niken tertutup bebatuan besar yang ada di pinggir pantai? Hingga aku tak dapat menemukannya. Mataku berpendar mencari kemungkinan tempat Niken berada. Tubuh kembali beringsut mendekati batu-batu besar yang cukup jauh dariku.


"Keeen ... Nikeeen! Sayangku! Bersuaralah! Aku mencarimu ...." Terengah-engah aku merangkak di antara bebatuan.


"Niken ... jangan pernah lagi jauh dariku Ken ...."


Astaga ... dimana isteriku? Tak juga aku menemukannya.


Tubuhku roboh di samping batu-batu besar itu. Tenagaku sudah habis. Semua yang ada di sekitarku seperti berputar-putar. Membuat kepalaku pusing. Tiba-tiba pandanganku gelap.


***


"Gak mau ah, kalau seperti Adam dan Hawa. Adam dan Hawa itu turun ke dunia dalam keadaan terpisah. Diturunkan di tempat yang berbeda." Niken tak setuju karena aku menyamakan kami dengan pasangan pertama di bumi itu.


Aku dan Niken menyusuri tepi pantai dengan kedua kaki telanjang. Menikmati lembutnya pasir pada telapak kaki kami. Menunggu saat sunset sebentar lagi. Jejak-jejak kaki kami membekas di sepanjang sisi pantai.

__ADS_1


"Oke ... bagaimana kalau Romeo and Juliet?" tanyaku lagi dengan kepala meneleng. Aku berjalan mundur di depannya.


"Gak mau juga. Romeo and Juliet itu kisah cintanya berakhir tragis. Dipisahkan oleh kematian."


"Arjuna dan Sinta?" Aku menyebut nama tokoh percintaan lainnya.


Niken menggeleng-geleng dengan bibir manyunnya yang seksi.


"Novita dan Sisuka?" ujarku lagi. Sengaja membuatnya keki.


Niken menggeleng lagi.


"Naruto dan Hinata?" Aku sangat suka melihat bibir merahnya itu kian mencucu mendengar kata-kataku. Menggemaskan.


"Diiih." Bola matanya berputar.


"Aku gak mau disamain mereka. Henry dan Niken adalah pasangan romantis yang paling manis. Gak ada duanya," sahutnya nyaring.


Kalimat manis Niken membuatku ingin segera me***** bibir ranum itu.


Niken selalu mampu membuatku melambung. Ia tak pernah sungkan mengungkapkan perasaan cintanya padaku.


Aku tersenyum. "Ken ... Niken ... Kesini Sayang!" Tanganku berusaha merengkuh tubuhnya.


Tapi, isteriku itu malah berlari menjauh. Seakan mengajakku bermain kejar-kejaran. Ia tertawa-tawa kecil.


"Ken ... Ken ....!"


Ia semakin menjauh dariku. Aku tak mampu mengejarnya. Napasku tersengal. Tubuh Niken bertambah jauh, kian mengecil dari pandangan.Tanganku berusaha menggapai-gapai.


"KEEEEN!!!" Teriakku keras. Huft ... napas tersengal. Mataku tiba-tiba terbuka dalam posisi duduk.


Siapa yang membawaku ke tempat ini?


Mataku menyapu sekeliling. Tidak ada siapapun. Hanya aku yang ada di ruangan ini. Tidak ada Niken.


Pintu terbuka dari luar.


"Syukurlah sudah bangun. Permisi, saya akan mengukur tekanan darah Anda." Seorang perawat pria setengah baya berpakaian serba putih, mendorong sebuah alat mendekati tempat tidurku.


"Apa isteri saya dirawat disini juga?"


"Isteri Mas namanya siapa?"


Perawat itu memasang manset pada lengan atasku, kemudian memompa alat di genggamannya hingga lengan atasku terasa mengencang.


"Nama isteri saya Niken."


"Owh ... coba nanti saya cari tahu di ruang perawatan untuk wanita."


Aku mengangguk senang. Hati dipenuhi harapan bisa segera bertemu Niken.


"Siapa yang membawa saya ke sini, Pak?" tanyaku.


"Saya kurang tahu, Mas. Tapi, di depan kamar ini ada dua orang yang selalu berjaga sejak Mas dirawat di sini," sahutnya seraya melepaskan kedua cabang stateskop pada telinga.


"Apa mereka bertubuh tinggi besar?" tanyaku lagi. Begitu ia selesai memeriksa tekanan darahku.


"Hmm ... iya. Tubuh mereka besar-besar seperti atlet tinju," sahut pria itu terkekeh.

__ADS_1


Ia lalu mendekatkan sebuah thermometer digital ke dahiku hingga benda itu mengeluarkan bunyi.


Aku menebak kalau orang yang ia maksud adalah Beno dan anak buahnya.


"Bisa minta tolong panggil mereka untuk masuk ke sini?"


"Iya tentu. Nanti saya kasih tahu sama mereka, kalau Mas sudah sadar."


Perawat itu mencatat hasil pemeriksaannya pada buku yang ia bawa, lalu permisi keluar.


"Selamat pagi, Bos."


Panjul anak buah Beno masuk ke dalam kamar tak lama setelah itu.


"Mana Beno?"


"Bang Beno ...." Kalimatnya menggantung.


"Mana isteriku?" tanyaku lagi.


Panjul menatapku sejenak kemudian menunduk. Pikiranku semakin tak karuan.


"Cepat jawab! Jangan membuatku bertanya tanya!" bentakku keras, hingga tubuh Panjul tersentak.


Aku merasa gusar. Firasatku mulai buruk. Apalagi mengingat mimpiku barusan sebelum siuman.


"A-anu, Bos. Bang ... Bang Beno masih berusaha mencari keberadaan Nyonya Bos," jawabnya terbata dengan wajah menunduk.


Aku menangkupkan kedua tangan pada wajah. Meremas-remas kepala yang terasa berdenyut sedari tadi.


"Bisa kau hubungi Beno sekarang? Aku mau bicara padanya."


"Bisa, Bos." Panjul merogoh handphone dari saku jaketnya. Begitu nada panggil tersambung pada Beno, benda itu ia serahkan padaku.


"Bos." Suara pelan Beno.


"Mana isteriku Ben? Aku harus segera bertemu dengannya sekarang."


"Bos ... saat ini saya dan anak-anak tengah berpencar mencari Nyonya. Bersabarlah, Bos! Nyawa saya pun akan saya pertaruhkan demi mencari isteri, Bos."


"Jadi ... Niken menghilang?" tanyaku lemah. Kedua netra seketika berkabut.


"Bos pulihkan saja kesehatan. Pencarian Nyonya serahkan pada kami."


"Aku tidak bisa diam saja, Ben. Mungkin saja saat ini isteriku dalam bahaya. Aku harus mencarinya sendiri."


Klik. telepon kumatikan.


"Panggil perawat untuk melepas infus ini, Jul!"


" Tapi, Bos ...."


Aku menatapnya tajam.


"Panggil kataku!!" Sekali lagi Panjul mendapat bentakan dariku.


****


Bersambung

__ADS_1


Like n komen jangan lupa ya geng. Biar rame kek pasar. Otor gak ngantuk nulis klo dikomenin terus.


__ADS_2