Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
SEBELAS


__ADS_3

"Lukanya sudah bisa dibuka. Tidak perlu ditutup lagi. Cukup dibersihkan dan dioles salep saja biar bekasnya lekas menghilang," ucap dokter Philip.


Pagi ini dokter berambut pirang itu datang lagi, untuk membuka perban pada lukaku.


"Coba kau lihat! Hampir tak tampak lagi bukan, bekas jahitannya?" Pria itu mengangkat sebuah cermin mungil ke arahku.


Kupegangi cermin itu. Mengarahkan pada luka yang ada di dahi. Dokter Philip benar. Lukaku hanya berupa garis halus yang hampir tak terlihat.


"Terima kasih dokter. Saya suka sekali," ujarku, seraya tersenyum puas menatap wajah di cermin.


"Sama-sama, Cantik. Aku sangat senang kamu menyukai hasil kerjaku." Sudut matanya berkerut saat tersenyum.


Dokter Philip membereskan lagi alat-alat ke dalam tas kerjanya.


Mommy dan Deddy palsuku ikut tersenyum puas. Mereka sedari tadi sudah berada di kamarku menyaksikan dokter Philip bekerja.


"Dokter Phil memang yang terbaik. Tak salah kami memilih dokter," puji Madam Alice. Diusap-usapnya rambutku.


Aku harus berupaya tetap bersikap biasa pada Madam Alice dan Mister Sam. Tak sedikit pun tersisa perilaku menyimpang Madam Alice. Ia kembali terlihat sebagai orang normal. Kadang aku merasa ngeri berada di dekatnya mengingat kejadian tadi malam.


Dokter Philip kemudian permisi pulang. Mister Sam ikut keluar dari kamarku mengantarkan dokter itu.


"Mommy, aku ingin main ke pantai bersama Tobias."


Aku bangkit dari tempat tidur, meraih dan mengenakan jaket hoddy dari dalam lemari.


"Boleh, tapi pulanglah sebelum makan siang!. Mommy tidak mau kulit kamu terbakar. Sekarang sudah musim panas, Selena."


"Iya Mommy, aku tidak akan lama. Mommy tenang saja," Kukenakan sepatu kets yang berada di atas keset.


"Hmm ... kau dan Tobias memang sangat kompak," sahut bibi Betty yang baru masuk ke kamar.


"Di mana Tobias sekarang Bibi Betty?"


"Ada di halaman, menyiram tanaman."


"Oke, Mommy. Selena mau keluar dulu." Kukecup pipi Madam Alice sebelum ke luar kamar. "Dah Bibi Betty," ujarku pada Betty.


"Be careful, Dear!" teriak Madam Alice.


Aku telah berlari ke luar pintu.


"Dia tampak senang sekali pagi ini," ujar Bibi Betty. Di-iyakan Madam Alice.


Sampai saat ini, semua masih berjalan lancar.


***


Aku berlari-lari kecil ke halaman belakang. Kulihat Tobias ada di sana.

__ADS_1


"Tobi, kamu sudah selesai?"


"Halo Selena. Selamat pagi. Tinggal menyirami mawar-mawar cantik ini," sahut pemuda tanggung itu.


"Temani aku ke pantai pagi ini. Bisa kan?" tanyaku, sambil memasang tudung kepala pada jaket hingga menutup seluruh rambut.


"Tentu saja. Akupun sangat ingin ke pantai.Tunggu saja di bangku!" Tobias tersenyum manis.


"Oke, aku tunggu di sana." Kuikat tali yang ada di bawah dagu hingga hanya wajahku yang terlihat. Entah kenapa aku merasa nyaman seperti ini.


Semoga sikap ceriaku hari ini tidak berlebihan. Aku hanya ingin menutupi kegugupan di hadapan orang-orang di rumah ini. Waktuku tidak banyak untuk pergi dari sini.


Bangku panjang di bawah pohon besar itu sedikit basah oleh sisa embun pagi. Udara pagi masih bertiup sejuk. Dari bangku ini aku bisa memandang ombak berkejaran di bawah sana. Sesekali aku menoleh ke arah Tobias.


Tobias mulai membereskan alat penyiram tanaman. Dia sudah selesai menyiram. Mawar di halaman belakang itu sangat terawat. Dipagar rapi dengan pagar kayu bercat putih. Kondisi daunnya rimbun, bunganya pun banyak. Bunga-bunga mawar itu perpaduan dari warna putih dan ungu.


Degh!


Itu kan warna kesukaan Selena! Bola mataku membulat mengingat kejadian yang kualami tadi malam di kamar Selena.


Tobias masuk ke dalam gudang mungil yang ada di samping rumah. Aku kembali mendekati halaman belakang. Mengamati rimbunan bunga mawar itu. Warnanya sangat cantik. Putih, ungu, serta ungu muda. Aku baru saja menyadari. Sebelumnya aku tidak begitu tertarik. Mungkin aslinya aku bukan penyuka bunga.


Tanganku terulur untuk menyentuh kelopak bunga-bunga itu. Lalu mendekatkan wajah menghirup wangi dari putiknya. Hmm ... ini aroma therapy yang menenangkan.


Gerakanku terhenti, saat netra menangkap sesuatu yang berada di tengah rimbunnya mawar. Sebuah kayu yang berbentuk salip. Tanganku menyibak lebih banyak dedaunan dan batang yang menutupi. Hingga jelas terlihat olehku sebuah tulisan yang dipahat di atasnya; RIP Selena, 5 April 2015


Bola mataku membelalak membaca tulisan itu.


"Aakh!!"


Aku terpekik kaget, sontak menarik tangan. Jariku pun berdarah tergores oleh duri.


"Kau membuatku kaget Tobias!" omelku dengan mata mendelik padanya.


"Maaf. Apa kau terluka?"


"Ck!" Mulutku berdecak. "Hanya tergores sedikit," keluhku.


Padahal rasanya perih sekali.


"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku mintakan obat dulu pada Betty."


"Ssshh ... tidak usah Tobias!" Dengan cepat kucekal lengannya. "Hanya luka kecil. Aku tidak akan kenapa-napa. Kita langsung ke pantai saja sekarang. Nanti keburu siang." Kutarik lengan pemuda tanggung itu menuju arah pantai.


.


.


"Kau ingin kita kemana? Mencari kerang di pantai atau mancing dengan perahu?" tawar Tobias.

__ADS_1


"Mancing? Sepertinya menyenangkan. Apa kita pernah melakukannya?"


Tobias tertawa terpingkal.


"Tidak ... aku bohong! Haahaha!" Ia tertawa lagi.


"Kenapa?" tanyaku tak mengerti.


"Aku yang sering mengajakmu. Tapi, kamu tidak pernah mau."


"Oh, ya? Kenapa aku tidak mau?"


"Katamu mancing itu membosankan karena harus duduk lama, menunggu ikan memakan umpan di kail."


"Sepertinya aku berubah pikiran sekarang. Aku mau Tobi."


"Tapi, Betty tadi berpesan padaku. Kita hanya boleh ke pantai saja. Sebelum siang kita harus pulang."


"Ah Tobi ... Betty tidak akan tahu kita akan kemana."


"Haha ... kau benar juga."


"Kamu sendiri pernah memancing dengan perahu?"


Tobias tersenyum misteri.


"Tapi ini rahasia kita, Selena."


"Hmm." Aku mengangguk.


"Aku sering diam-diam memancing dengan perahu motor milik Mister Sam."


"Kamu bisa memakai perahu motor?"


"Kalau perahu motor saja aku bisa. Aku sering ikut Toni ke kota seberang dengan perahu motor."


"Siapa lagi Toni?"


"Toni itu pekerja Mister Sam juga. Dia yang sering belanja ke kota untuk keperluan villa. Karena sering ikut, aku dia ajari cara menggunakan perahu motor."


Aku manggut-manggut. Harapanku semakin besar kini. Tobias bisa mengemudikan perahu motor. Ini sangat menguntungkan bagiku.


"Toni itu sangat menyukaimu. Makanya dia sangat benci pada Aris."


"Aris? Siapa pula Aris?" Alisku bertaut mendengar nama itu.


Tobias menepuk dahinya. "Bu-bukan siapa-siapa. M-maksudku. Kamu itu cantik Selena. Jadi banyak sekali pria yang ingin jadi pacarmu." Ia menjawab terbata, salah tingkah.


Hari ini aku harus mengorek semuanya dari Tobi.

__ADS_1


"Maksud kamu Toni dan Aris menyukaiku?" tanyaku dengan mata menyelidik.


"Seandainya kita seumuran. Akupun ingin menjadikanmu pacarku Selena. Bukan cuma mereka," ujarnya tersipu.


__ADS_2