Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
72. Permintaan Tiara.


__ADS_3

Kantuk tak kunjung menyerang, padahal waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Kejadian di acara festival tadi terus terbayang di kepalaku. Sesekali aku tersenyum jika teringat saat kami melarikan diri karena kepergok berciuman di jembatan.


Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk pulang. Untung saja sampai di rumah nenek tidak marah karena aku pulang malam.


Selain itu ,aku juga tak bisa tidur karena memikirkan Sarah. Tadi aku mengirim pesan padanya, tapi sampai sekarang belum dibalas. Teleponku juga tidak dijawabnya.


"Semoga aja dia marah bukan karena aku,"gumamku kembali mencoba memejamkan mata.


Keesokan harinya,


Sarah belum datang ,saat aku sudah sampai di sekolah. Tak biasanya dia terlambat. Bel sudah berbunyi, tapi Sarah belum menunjukan batang hidungnya.


"Apa dia tidak masuk,?"


Aku merogoh ponsel dalam saku, dan mencoba menghubunginya. Baru saja nada sambung terhubung, Sarah muncul di pintu kelas. Nafasnya tampak terengah-engah .Aku kembali menyimpan ponselku.


"Hampir saja aku dihukum,"keluhnya setelah duduk di bangku.


"Tumben, telat,?"tanyaku.


"Iya,semalam aku tidur larut,"jawab Sarah sambil mengeluarkan buku dan alat tulisnya.


"Kalau kau tidur larut kenapa tidak membalas pesanku, aku pikir kau tidur lebih awal,"protesku.


Sarah menyeringai. Ia membentuk huruf V dengan jarinya.


"Semalam aku kebablasan main game sampai lupa waktu,"ujarnya.


Aku mendesis, mencubit lenganya karena gemas.


"Au," Sarah meringis.


"Aku kepikiran tau, aku pikir kamu marah karena kejadian di festival kemarin,"


"Ya ampun Dea, kan sudah aku bilang, itu bukan karena kamu,"


"Lalu kenapa,? Serius aku penasaran,kenapa kalian berantem,cerita dong" Aku menatap penuh harap. Tapi Sarah hanya balas tersenyum.


"Ih, sebal," Aku merajuk.


"Nanti aja ya,"Sarah menunjuk dengan dagunya ke arah pintu. Guru Matematika baru saja masuk ke kelas. 


Aku mendengus kesal, sepertinya aku akan mati penasaran menunggu Sarah menceritakan apa yang terjadi kemarin.


Saat jam istirahat tiba ,aku memaksa Sarah untuk bercerita.


"Cepat katakan apa yang terjadi kemarin,"


"Kenapa kau begitu penasaran, padahal bukan hal besar kok,"jawab Sarah.


"Pokoknya kamu cerita saja, apa yang terjadi antara kamu dan Rey," Aku menatap tajam pada Sarah.


"Baiklah, tapi apa tidak sebaiknya kita ke kantin dulu. Apa kau tidak lapar,?"


Aku menggeleng, rasa keingintahuanku lebih besar dari rasa lapar. Sarah memanyunkan bibirnya, kemudian ia menghela nafas berat.


"Sebenarnya, itu cuma masalah sepele. Kemarin itu kita sempat taruhan, perahu pilihan siapa yang kalah maka dia harus bayar lima puluh ribu. Dan pilihan aku kalah"Sarah menjeda ceritanya, ia menatapku.


"Terus kenapa kamu marah sama dia,?"tanyaku tak mengerti.


"Karena dia menyebalkan, dia terus menertawakan aku. Rasanya itu habis jatuh ketiban tangga, udah uang raib, aku juga diolok - olok sama si Rey itu,"ujar Sarah menggebu - gebu.

__ADS_1


Aku melongo tak percaya,hanya masalah sesimple itu kenapa mereka harus sampai bertengkar.


"Masa iya Rey kayak gitu,?"tanyaku tak percaya.


"Sudahlah aku lapar, ayo ke kantin,"


Aku dan Sarah beranjak ke kantin. Secara kebetulan kami bertemu dengan Rey dan Dion yang sudah lebih dulu sampai di kantin. Begitu melihat Rey ,Sarah langsung buang muka.


"Kita duduk di sebelah sana saja,"ajak Sarah menghindari makan di meja yang sama dengan Rey.


Dion tampak menyikut lengan Rey, dengan malas Rey bangkit dari duduknya kemudian menghampiri kami yang baru saja mendudukan diri di meja yang tak jauh dari mereka.


" Sarah," sapa Rey.


"Gue minta maaf soal kemarin,"ucap Rey. Sarah bergeming. 


"Nih, gue kembalikan duit lo,"Rey meletakan uang di atas meja.


Sarah melirik Rey tajam.


"Gue nggak mau,ambil lagi,"Sarah menepis uang di depannya.


Rey mendengus,kemudian ia mengambil kembali uang itu dan memasukan ke dalam sakunya.


"Gue udah minta maaf, gue juga udah niat buat kembalikan duit lo. Tapi lo nya nggak mau, terus gue harus apa lagi,?"ujar Rey.


"Minta maaf lo nggak tulus,"sembur Sarah.


Rey memutar malas bola matanya. Tiba - tiba saja dia berlulut di samping meja.


" Haruskan gue berlutut baru lo mau maafin,"


Sontak aksi Rey membuat banyak mata menatap ke arah kami. Mata Sarah membulat. 


Rey menggaruk kepalanya, kemudian ia kembali bangkit. Rey mengulurkan tangannya.


"Gue benar - benar minta maaf. Kemarin gue emang udah keterlaluan sama lo,"ucap Rey bersungguh - sungguh.


Sarah menatapku, aku mengangguk meminta Sarah untuk memaafkan Rey dan tidak lagi memperpanjang masalah sepele itu.


"Iya, gue juga minta maaf udah bilang lo banci," ucap Sarah sembari menjabat tangan Rey.


"Udah beres kan masalahnya, berarti boleh dong kita gabung,"ucap Dion, yang tiba - tiba sudah duduk di sebelahku.


Sarah dan Rey hanya membuang nafas. Sarah menggeser duduknya untuk memberi Rey ruang.


"Nggak baik tau berantem, ntar jatuh cinta baru tau rasa,"ledek Dion.


Mendengar itu ,Sarah dan Rey mengeram bersamaan. Aku tergelak, Dion tersenyum kaku karena mendapat tatapan tajam dari kedua orang itu.


Sarah dan Rey tidak banyak bicara, sepertinya mereka masih canggung. Kami melanjutkan makan di kantin dengan sesekali bercanda ringan.


Selesai makan di kantin, kami berpisah dan kembali ke ke kelas masing - masing.


"Dea,"


Seseorang memanggilku, aku menghentikan langkah dan menoleh. Tampak Tiara tersenyum kaku, berdiri seorang diri di dekat tiang selasar. Rupanya dia sudah kembali masuk sekolah. Tapi kemana teman - temannya, apa dia dikucilkan.


"Hai Tiara,"jawabku canggung.


"Bisa bicara sebentar,?"ucap Tiara ragu.

__ADS_1


"Ada urusan apa lagi lo sama Dea,"sentak Sarah.


Aku melotot tajam pada Sarah.


" Sarah, kamu duluan aja ke kelas. Aku mau bicara sama dia dulu,"ucapku.


" Ya udah, kamu hati - hati. Orang seperti dia itu tidak akan berubah begitu saja,"jawab Sarah dengan melayangkan tatapan benci pada Tiara. Tiara hanya memasang wajah datar.


Sarah sudah pergi, namun Tiara masih diam. Entah apa yang mau dikatakannya.


"Mau bicara apa,?" tanyaku lebih dulu.


Tiara menatapku, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku blazer yang dipakainya. Aku terkejut melihat ponsel lamaku ada di tangan Tiara.


" Kenapa ini,_" kalimatku tertahan.


"Aku minta maaf, waktu itu ponselmu terjatuh di mobilku, tapi aku sengaja tidak mengembalikannya padamu. Aku sungguh minta maaf," ucap Tiara tertunduk.


Aku mengambil ponsel itu dari tangannya, dan benar aku tidak salah lihat. Itu ponselku yang hilang.


" Sekali lagi maaf,"


Aku tidak tau akan menjawab apa. Aku menghela nafas panjang. Tiara masih berdiri di depanku dengan kepala tertunduk. Ia meremas jari jemarinya. Haruskah aku marah,? Tapi melihatnya seperti ini aku juga tidak tega.


"Sudahlah, aku juga tidak butuh lagi ponsel ini. Ponsel ini juga sudah tak layak pakai,"jawabku.


Barulah Tiara mengangkat wajahnya. Ia tersenyum getir. 


" Kapan kau masuk sekolah,?"tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


" Baru hari ini,"


"Hem,"


Sesaat kemudian keheningan panjang terjadi. Kami berdiri mematung tanpa berkata apa - apa. Aku juga bingung akan berkata apa lagi. Kami bukan teman dekat yang biasa bertukar cerita. Dulu sebelum kebenaran itu terungkap sangat mudah bagiku untuk berbicara dengan Tiara. Meskipun setiap kami bertemu selalu bertengkar. Tapi saat ini rasanya sangat berbeda.


"Kalau gitu, aku pergi dulu,"ucapku menyudahi keheningan ini.


" Dea, apa kau mau jadi temanku,? Maksudku apa kau mau berteman denganku,?"ucap Tiara sesaat setelah aku membalikkan badan.


Aku termangu, berteman,? Kalau orang lain yang berkata seperti itu mungkin aku akan cepat mengangguk dengan senang hati. Tapi ini Tiara, apa kami bisa berteman setelah semua yang terjadi,?


"Aku tau, aku tidak pantas menjadi temanmu, tapi aku sungguh ingin memperbaiki hubungan kita," ucap Tiara.


Hatiku masih ragu untuk berbalik, tapi aku tak sekejam itu mengacuhkannya yang sudah berusaha meminta maaf padaku. Aku memejam mata sesaat, kemudian mengukir senyum di wajahku dan membalik badan.


" Kenapa tidak, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Mari kita berteman,!" ucapku mengulurkan tangan.


Tiara tersenyum lebar, matanya terlihat berkaca - kaca. Ia tidak menyambut tanganku dan malah memelukku erat. Aku tersentak, sungguh hal yang tidak terduga.


" Terima kasih Dea, aku benar - benar menyesal telah berbuat jahat padamu," ucap Tiara.


Aku menepuk - nepuk pelan punggungnya. Dan berdoa dalam hati, semoga Tiara tulus dan benar - benar menyesal.


Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa acungan jempol dan komentarnya sobat reader...


Mau kasih rekomendasi novel kece lagi nih,,

__ADS_1



__ADS_2