Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH EMPAT


__ADS_3

Bahagia itu tak perlu direncanakan. Kadang tanpa diduga diam-diam menghampiri.


.


.


.


.


.


"Kenapa kamu gak mau ketemu aku?" Suara pria itu terdengar sangat dekat di sampingku.


Glekh! Aku menelan ludah. Mata kupejamkan lebih rapat saat selimut yang menutupi kepala ditarik perlahan.


"Kamu demam, Sayang?" Suara itu terdengar panik. Tangannya menyentuh dahiku.


"Mbak, saya mau bawa isteri saya ke klinik." ujarnya lagi. Nampaknya dia bicara pada Roro dan Ayu.


"Si-silahkan, Bang. Eh, Mas. Eh, Pak," sahut Ayu terbata.


"Jadi beneran Abang, Eh Mas, Eh, Pak suaminya Nona?" Suara Roro latah.


"Iya saya suaminya. Panjang ceritanya, Mbak. Terima kasih sudah berbaik hati menampung isteri saya di sini."


Tubuhku terasa diangkat naik. Kelopak mata kubuka. Wajahnya begitu dekat. Ternyata pria itu sedang membopong tubuhku.


"Aku dibawa ke mana?" tanyaku.


Tanganku mencoba mendorong. Tapi, tak bertenaga.


"Kita periksa ke dokter. Aku gak bisa biarin kamu begini," sahutnya tegas.


"Turunin! Aku gak mau ke dokter."


Di tak mempedulikan keberatanku.


"Roroo ... Ayuuu!" teriakku lemah memanggil teman-temanku.


"Mereka ikut nganter kamu. Jangan kuatir!"


Dia terus membawa tubuhku keluar dari kosan. Melalui jalan sempit sampai ke depan gang. Mata kami kadang bertemu karena aku terus menatapnya lekat. Di luar langit gulita. Sebuah mobil ternyata telah menunggu. Ayu dan Roro ikut masuk ke dalam mobil itu.


****


Mataku tiba-tiba terjaga. Menatap ruangan serba putih yang mengelilingi. Sebuah botol cairan infus menggantung pada tiang besi di atas kepalaku. Bisa kulihat tetesannya jatuh pelan satu demi satu menuju selang plastik yang terpasang pada lengan kiriku.


Senyap.


Hanya terdengar detak jarum jam dinding serta bunyi napasku, juga ... dengkuran halus dari arah kanan tubuhku.


Pelan aku menoleh ke kanan. Pria yang mengaku suamiku, tengah tertidur dengan posisi duduk menyandar pada tempat tidur. Satu tangannya menggenggam tanganku. Wajah itu tampak tenang.


Setelah mendapat pengobatan dari klinik tadi malam, aku langsung tertidur. Tubuhku terasa lebih nyaman. Demam pun sekarang sudah reda.


Roro dan Ayu tidak tampak dalam ruangan. Hanya ada pria ini. Kenapa dia begitu peduli padaku?


Krieek ... pintu terbuka.


"Selamat pagi?" Bunyi derap kaki mendekat ke arah kami.

__ADS_1


Seorang dokter dan perawat memasuki ruangan.


Henry tersentak bangun. "Pagi Dokter, Suster ...," ucapnya dengan suara sengau. Pria itu segera duduk tegak. Mengusap wajahnya yang sembab.


Dokter tersenyum mendekati aku. "Permisi, saya periksa dulu, Nyonya Niken."


Dokter setengah baya itu mengaitkan kedua cabang stateskop pada telinganya, lalu meletakan ujung stateskop pada dadaku.


Kepalanya manggut-manggut.


"Kondisi ibu baik, kondisi janinnya insya Allah juga baik," ucap dokter itu seraya melepaskan stateskop dari telinganya. Menatap ke arah Henry.


Janin?


"Maksud dokter?" tanya Henry. Ia segera bangkit dari duduk.


"Selamat Pak. Dari hasil laboratorium isteri Bapak hamil," jelasnya dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillaaah," sahut Henry sumringah. Tangannya meremas tanganku.


Hamil? Siapa hamil? Aku?


"Kira-kira berapa umur kehamilan isteri saya, Dok?" Henry tampak antusias.


"Masih trimester pertama. Untuk pastinya nanti bisa periksa lagi dengan USG," sahut dokter itu terkekeh melihat eskpresi wajah Henry yang tampak surprais.


"Ken ... kamu hamil," ujarnya padaku dengan mata berbinar.


Aku hamil? Bukankah kami baru melakukannya kemarin. Aku membalas tatapannya dengan tatapan bingung.


"Ini namanya demam membawa bahagia. Hal yang normal saat tubuh ibu hamil bereaksi terhadap kehadiran janin dalam rahimnya," ujar dokter itu lagi.


"Terimakasih dokter," ucap Henry. Senyum tak lepas dari wajah tampan itu.


Aku hamil oleh pria ini? Jadi dia benar suamiku? Benakku dipenuhi tanya.


"Dengar Sayang, ada kehidupan dalam rahimmu. Junior kita sedang tumbuh." Dibenamkan kecupan hangat pada keningku.


"A-aku ham-mil?" tanyaku tak percaya menatapnya.


"Iya Sayang. Kamu hamil anak kita." Tangannya mengelus kepalaku.


"Kamu benar suamiku?"


"Hmm ... apa lagi yang kamu sangsikan? Aku sudah menghamilimu. Kita menikah sudah enam bulan yang lalu," bisiknya.


Tanganku menggapai wajahnya. Memegangi pipi berkulit putih itu. Ingin melihat lebih jelas. Henry malah mengedipkan satu mata dengan genit.


Suamiku setampan ini? Pantas aku tak mampu menahan diri dari godaannya.


Tok tok tok! Pintu diketuk dari luar.


"Masuk!" ujar Henry nyaring.


Pintu terbuka. Menyembul wajah seorang pria berambut gondrong. Dengan bentuk rahang tegas.


"Selamat pagi, Bos. Pagi Nyonya Bos." Dia sekilas melihat ke arahku.


"Beno! Kamu sudah bawa semuanya?"


"Ada, Bos. Lengkap semua." Pria itu mendekat. Menyerahkan sebuah tas tangan berukuran cukup besar, entah berisi apa.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kamu keluar! Ajak makan dua teman isteriku yang ada di ruang depan!"


"Oh. Siap, Bos."


Pria bernama Beno itu mengangguk hormat, sebelum keluar dari ruangan. Henry mengeluarkan sesuatu dari dalam tas persegi itu.


"Yang ditunggu-tunggu datang. Buku nikah kita yang ingin kamu lihat."


Tangannya membuka sebuah buku mungil bersampul cokelat. Juga beberapa lembaran lain. Dia lalu mengambil posisi berbaring di sampingku.


"Nama kamu Niken Amalia. Kartu keluarga kita juga ada. Lihat wajah imut kita di buku nikah." Henry tertawa kecil memegangi benda yang sangat ingin kulihat.


Aku menerima benda itu dari tangannya. Membaca tulisan-tulisan pada buku nikah kami. Hatiku lega. Pria yang memang kusukai ini ternyata benar-benar suamiku.


"Aku juga minta Beno bawa beberapa album foto kita. Foto kita masih SMA juga ada di situ." Sebuah benda lagi ia sodorkan padaku. Sebuah album foto selebar buku tulis.


Aku tersenyum melihat foto-foto.


"Ini di mana?" tanyaku menunjuk sebuah foto. Dalam foto itu Henry dan aku berfoto dengan beberapa orang.


"Itu di Kalimantan. Di rumah Om kamu Om Aryo. Ada Om Aryo, Tante kamu, gadis kecil ini Rumi sepupu kamu. Kamu sangat menyukainya. Dia lucu sekali," Henry menunjuk orang-orang yang ada di dalam foto.


Album foto itu terus kubolak balik penuh rasa ingin tahu. Sebuah kecupan mendarat di pipiku. Kubiarkan Henry memeluk dan memciumiku dari samping. Dia seakan ingin menumpahkan rasa bahagianya.


"Handphone kamu juga dibawakan sama Beno."


Sebuah benda lagi ia berikan. "Lebih banyak lagi foto di hape kamu. Liat sampai puas. Habis ini baru kita makan," ujarnya, lalu memejamkan mata memelukku. Dia tampak mengantuk.


Jariku bersemangat menggeser layar hape. Aku merasa familiar dengan benda ini. Kupilih icon galeri. Memilih koleksi foto.


Jariku berhenti saat mendapatkan sebuah foto yang bagiku sangat menarik. Sebuah foto Henry muda yang sedang menatap kamera. Aku seolah terbetot ke masa lalu. Seakan berpindah ke tempat lain. Saat aku dan Henry masih di bangku SMA.


"Liat ke sini, Hen!" Aku tertawa kecil seraya mengarahkan kamera phonsel-ku ke arahnya.


"Ck." Mulut pemuda berkaca mata itu berdecak. "Jangan difoto ... jelek." ujarnya gusar.


"Henry ... aku pingin punya foto kamu."


"Buat apa?" Wajahnya meringis.


"Buat aku pandangin kalau lagi kangen."


Aku mengedip-ngedipkan mata merayunya. Selama ini Henry memang paling sulit difoto. Dia tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Buat dipandangin kalau kangen?" gumamnya pelan seolah bicara pada diri sendiri.


"Hum." Aku mengangguk cepat.


Tapi, Henry malah berubah gugup salah tingkah.


"Kenapa? Gak boleh?" tanyaku polos.


Aku dan dia bersahabat erat. Aku yakin akan kangen padanya karena kami akan berpisah setelah acara kelulusan SMA.


"Boleh, sih ...," jawabnya lama. Sambil membenarkan letak kaca mata yang tak pernah lepas dari wajahnya.


Diam-diam aku menghidupkan kamera phonsel. Mataku terus menatap pria muda itu. Mengincar momen yang tepat untuk menjepret. Henry diam mematung. Mungkin ia bingung. Pipi sahabatku itu tiba-tiba bersemu kemerahan. Aku tersenyum kecil seraya memencet kamera. 'Dasar pipi tomat.' ujarku dalam hati. Senang berhasil menangkap ekspresi pipi tomat yang kutunggu-tunggu.


.


.

__ADS_1


"Pipi Tomat!" seruku nyaring. Mata melebar menatap layar phonsel.


"Pipi siapa tomat?" Wajah kantuk Henry langsung terangkat. Ikut menatap layar phonsel yang kupegang.


__ADS_2