Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
TUJUH BELAS


__ADS_3

Pria itu masih tertidur saat aku keluar dari toilet. Mata masih terpejam. Namun, tubuhnya terlihat bergerak gelisah. Aku melangkah pelan melewati tempat tidurnya.


"Ken ... jangan pergi!" lirihnya tiba-tiba.


Sontak aku menoleh pada wajah itu. Dia mengigau. Napasnya terengah mirip orang yang sedang berlari. Sepertinya dia mengalami mimpi buruk. Kasihan.


"Jangan kemana-mana, Sayang! Tetap di sini!" Mulutnya mengigau lagi.


Beberapa detik tubuhku seperti membeku, lalu tersadar kalau hari ini aku harus mengejar waktu. Toilet di kamar lain sedang menunggu untuk dibersihkan. Bergegas kaki berlari kecil menuju pintu keluar.


Bugh ... ember yang kubawa terjatuh ke lantai.


"Keeen!!!" Tiba-tiba dia berteriak nyaring hingga tubuhku tersentak kaget.


"Uhuk ... uhuk!!" Pria itu bangun, duduk memegangi leher seraya terus terbatuk.


Ada beberapa botol air mineral di atas meja tak jauh dariku. Kuraih satu lalu segera mendekatinya. Ragu-ragu kusodorkan botol berisi air itu.


Wajahnya memerah menahan batuk. Aku lekas menundukan wajah, dengan tangan masih tersodor padanya. Kondisinya yang bertelanjang dada sangat membuatku risih.


Air mineral di tanganku sudah berpindah tangan. Aku segera menjauh darinya. Membereskan dengan kilat ember yang terjatuh tadi.


Tanganku akan menjangkau gagang pintu.


"Tunggu!" serunya.


Apa lagi? Aku terpaksa berbalik menghadapnya.


"Kamu siapa?" tanyanya dengan mata memicing.


Kuangkat ember dan sikat WC agar ia bisa melihat jelas kalau aku seorang cleaning servis.


"Terima kasih."


Aku mengangguk hormat. Berbalik lagi.


"Sebentar!"


Astaga ... orang ini kenapa?


Ia bergegas turun dari tempat tidur seraya meraih kaos. Memakainya sembari berjalan ke arahku.


"Nama kamu siapa?" Pria itu menatapku lekat.


Untuk apa menanyakan nama segala? Aku diam tak menyahut.


"Maaf. Mungkin ini terdengar kurang sopan. Bisakah kau buka penutup pada wajahmu?" pintanya.


Mata sipitnya turut melebar saat aku melotot ke arahnya. Aku menggeleng keras. Saat ini aku tidak akan mudah percaya pada orang lain.


Pria itu maju mendekat. Aku mundur, tersudut. Dada mulai berdebar. Bisa saja dengan mudah orang ini berbuat jahat padaku. Di dalam kamar tidak ada siapapun.


Aku menelan saliva dengan gugup. Kukeluarkan sikat WC dari dalam ember. Mengacungkan ke arah wajahnya. Hanya ini senjata yang kupunya.

__ADS_1


"Maaf kalau aku membuatmu takut. Aku tidak bermaksud jahat." Pria itu mengangkat kedua telapak tangannya. Berhenti melangkah mendekatiku.


Tok tok tok. Suara pintu diketuk, lalu daun pintu itu terbuka.


"Selamat pagi, Bos."


Beberapa pria muncul dari pintu. Aku semakin ngeri berada di dalam kamar. Pintu masih terbuka, segera kuselipkan tubuh keluar dari situ.


***


POP Henry


"Jangan pernah pergi lagi!" Jari-jariku menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Kami berbaring saling berhadapan.


"Hum." Niken mengangguk. "Aku akan selalu ada di sini," sahutnya menunjuk dadaku. Mata itu menatapku penuh cinta.


"Janji?"


Dia tersenyum. Wajahnya mendekat mengecup pipiku. Niken sangat suka melakukannya. Menciumi pipiku. Sepertinya pipiku adalah bagian paling menarik baginya.


"Kemana?" Kupegangi tangannya saat akan bangkit dari tidur.


Mata indah itu mengerling, melepaskan dengan halus peganggan tanganku. Membalikan tubuh menjauh. Angin bertiup dingin, mengibarkan pakaian tipis yang membalut tubuh isteriku.


"Ken ... jangan pergi!"


Namun, dia tetap melangkah. Aku segera bangun berniat menahannya.


Tiba-tiba alam di sekitar kami berubah gelap. Terdengar suara petir menyambar. Niken tak tampak lagi olehku. Dia menghilang.


"KEEEN!!!" Aku berteriak keras menyebut namanya seraya duduk terbangun. "Uhuk ... uhuk!" Langsung tersedak.


Kupegangi tenggorokan yang terasa kering. Saat masih terbatuk-batuk, sebotol air mineral tiba-tiba tersodor di depanku. Dipegangi oleh sebuah tangan yang tertutup sarung tangan karet.


Aku mendongak menatapnya. Kulihat seorang wanita berpakaian sangat tertutup. Dia berdiri menghadap padaku, dengan wajah menunduk dalam.


Kuterima botol air mineral dari tangannya. Lalu mereguk pelan. Dia tampak tergesa membenahi beberapa barang yang tercecer di lantai. Gerak tubuhnya terasa familiar di mataku.


"Tunggu!" Spontan aku menahannya, saat tangan wanita itu akan meraih handle pintu.


Wanita itu berbalik ke arahku.


"Kamu siapa?" tanyaku. Aku sadar ini pertanyaan bodoh.


Diangkatnya sebuah sikat bertangkai panjang dari dalam ember tanpa mengucapkan sepatah kata. Yah, aku mengerti kalau dia seorang petugas yang sedang membersihkan kamar mandi.


"Terima kasih," ucapku. Dibalasnya dengan anggukan.


Wanita itu berbalik lagi. Tapi, gerakan tubuh itu membuatku sangat penasaran. Ah, atau aku memang sudah terlalu frustasi. Hingga melihat semua orang adalah Niken.


"Sebentar!" Lagi-lagi aku menahannya untuk keluar dari kamar.


Aku menuruni tempat tidur. Mendekatinya sambil mengenakan baju. Tubuhnya tampak menegang. Apalagi saat aku menanyakan namanya. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Tapi, ia tampak begitu ketakutan.

__ADS_1


Lebih konyol lagi ... aku memintanya untuk membuka penutup wajah. Mata dibalik kaca mata itu melotot marah. Mata itu ... ah entahlah. Mungkin aku sudah gila sekarang. Mengira wanita gagu ini sebagai Niken. Mana mungkin Niken tidak mengenaliku.


Dia menggeleng tegas. Sebuah sikat panjang diacungkan ke arah wajahku. Mungkin merasa terancam oleh sikapku yang berlebihan. Padahal aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri. Kubiarkan wanita itu keluar saat Beno dan anak buahnya muncul dari luar.


"Selamat pagi, Bos," sapa Beno.


"Hum." Aku mengangguk. "Masuk!" sahutku.


Aku berdiri memegangi daun pintu. Memandangi punggung wanita itu sampai jauh.


"Bos kenapa?" tanya Beno mendekatiku. Dia ikut memperhatikan wanita yang sedari tadi membuatku penasaran.


"Entahlah, Ben. Mungkin aku sudah gila," sahutku sambil kemudian masuk ke kamar.


"Apa kabar yang kamu bawa, Ben?"


****


( Kembali POP Niken )


Sebuah ruangan kamar. Aku memasukinya bersama seorang pria. Wajah pria itu tak begitu jelas pada penglihatanku. Aku tak suka saat dia menutup pintu kamar. Tapi, tak bisa berbuat banyak.


Dia menyodorkan sebuah dasi. Dasi berwarna biru dengan corak hitam senada dengan tuxedo yang telah dia pakai. Semua baik-baik saja. Kupasang dasi itu di lehernya. Tapi, keadaan berubah menakutkan. Pria itu dengan paksa memeluk tubuhku.


Napasku terengah. Aku bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi. Betapa menjijikan ketika dengan leluasa mulutnya menciumku. Keadaan bertambah mengerikan. Kulihat dan kurasakan saat dia menampar juga menjambak rambutku.


Sebuah vas bunga jatuh ke lantai. Pecahan kacanya berhamburan. Ada darah ditanganku yang menggenggam beling. Ada darah di lengan pria itu.


Napasku kian tersengal. Seolah ada adegan film yang diputar dengan cepat di hadapanku. Ada teriakan keras. Tubuhku tiba-tiba terkulai tak berdaya, setelah sebuah tusukan menghunjam sangat dalam di perutku. Sakit ... hingga air mata meleleh.


Ada cairan amis yang keluar dari mulutku.


DOR!! Sebuah bunyi letusan keras memekakkan telinga. Lalu pandanganku gelap.


"TIDAAAK!!!" Aku berteriak.


"Non ... Non! Kamu mimpi buruk. Istighfar, Non!" Kurasakan beberapa tepukan di bahu.


Huufh ... aku menarik napas panjang. Syukurlah hanya mimpi. Tapi, terasa begitu nyata. Kusadari berada di kamar bersama Ayu dan Roro. Napasku terasa masih tersengal.


Tanganku menyibak baju yang menutupi perut. Ada bekas luka parut di bagian kanan perutku. Nyeri tusukan itu ... sepertinya pernah kurasakan. Apakah mimpi tadi adalah bagian dari memoriku?


"Tidur lagi lagi, Non. Sambil baca ta'awuz. Biar gak mimpi buruk lagi." Ayu menepuk-nepuk bahuku lagi.


Roro tampak masih pulas di tempat tidurnya. Tidak terusik oleh teriakanku tadi. Kami masing-masing tidur pada kasur kecil yang disusun berdampingan. Kamar yang berada di lantai dua ini tidak begitu luas. Dilengkapi sebuah kipas angin dan satu televisi berukuran mungil.


Udara malam mulai terasa dingin menusuk tulang. Jarum jam dinding yang menempel di tembok telah menunjuk angka dua. Mataku menerawang memandangi langit-langit kamar. Mimpi tadi terasa mengganggu pikiranku. Tak lama suara dengkur Ayu terdengar lagi.


"Hmm ... Babang ... Babang Siwooon. Tungguin Ayu, Bang!" Ayu tiba-tiba meracau.


Aku geleng-geleng tersenyum. Sekarang Ayu yang bermimpi. Tapi, tampaknya mimpi yang indah. Beruntung sekali kamu,Yu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2