Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
TIGA PULUH


__ADS_3


TEK ... TEK ... TEK! MIE TEK TEEEK!!!


.


.


.


.


Mata menghangat. Tanpa diinginkan buliran bening merembes jatuh. Memilukan. Saat menyadari hanya bisa mengungkit semua lewat kenangan.


Kuusap sudut mata yang telah basah. Menempelkan pelipis pada bahu Henry. Tak ingin dia menyadari aku yang sedang baper.


Jalan ke arah komplek perumahanku masih terlihat seperti dulu. Aku masih bisa mengenalinya biarpun telah banyak bangunan baru. Jalan ini yang sering kulewati tiap pergi sekolah. Kadang diantar ayah, kadang dibonceng Pipit naik motor, kadang bersama Henry naik sepeda.


Mobil dihentikan Henry di depan sebuah pos jaga. Sepi. Tidak ada seorang pun terlihat.


Pria itu menghela napas. Menoleh ke arahku. "Sepi, Sayang. Orang-orang mungkin sudah tidur."


"Iya, gak papa. Belum rejeki. Balik pulang aja kalau gitu," lirihku.


Bisa kulihat suasana sekeliling. Rumah-rumah dengan pagar tinggi tertutup rapat. Sebuah pos kamling kosong tanpa orang. Hanya terlihat kerumunan laron yang merubung lampu penerang jalan di sampingnya. Jalanan lengang. Embun dini hari turun berjatuhan membasahi kaca mobil kami. Hawa terasa semakin dingin.


Mesin mobil dihidupkan lagi oleh Henry. Mobil bergerak memasuki jalan komplek.


"Kemana?" tanyaku.


"Nostalgia sebentar. Lagian kalau langsung pulang bakalan susah tidur. Udah gak ngantuk," jawabnya.


Aku tersenyum setuju. Rumahku berada dua ratus meter dari depan jalan. Dekat lapangan tempat aku waktu kecil sering bermain dengan anak-anak tetangga.


"Yang ini kan rumah kamu?" Henry menginjak rem tepat di depan sebuah rumah bercat biru. Berandanya terang benderang oleh cahaya lampu taman.


Mataku seketika terpaku. Tidak banyak yang berubah. Hanya tanaman bunga yang biasanya menghiasi pekarangan sudah tak tampak. Pagar besi setinggi pinggang masih ada. Sebuah pohon belimbing wuluh di samping rumah masih ada. Bahkan ayunan besi tempatku bermain pun masih ada di sana.


Mata ini seolah melihat bayanganku bersama ayah dan bunda berada di pekarangan itu. Ayah sering duduk di bangku membaca koran. Bunda sibuk mengurus tanaman hiasnya. Sedang aku suka mengganggu keduanya.


Bunda telah menjual rumah kami sebelum menikah dengan Om Anwar. Entah siapa yang kini menempati rumah itu.


Ayah ... bunda ... Niken kangen.


"Huhuhuuu ...." Bahu berguncang menahan isak. Henry segera merengkuh tubuhku dalam pelukannya.


"Sssttt ... nanti dedek di perut ikutan sedih kalau kamu sedih. Tau gini, tadi kita gak usah masuk komplek," ujarnya sambil menepuk-nepuk pelan punggungku.


Tok tok tok!


Sebuah ketukan di kaca mobil mengejutkan kami. Seorang pria tampak dari sisi kaca mobil di samping Henry.


"Pacaran jangan di sini!" bentaknya begitu kaca mobil diturunkan Henry.


"Siapa yang pacaran, Pak? Kita suami isteri," sahut Henry sopan.


"Kalau suami isteri ngapain peluk-pelukan di tengah jalan begini? Di rumah kan bisa?!" Nada bicaranya masih terdengar ketus. Kumis tebal itu sampai bergerak-gerak.


"Isteri saya ini dulu pernah tinggal di komplek ini, Pak. Sekarang sedang hamil muda. Ngidam mie goreng tek-tek Mang Udin," terang Henry santai.


"Ooo ...." Mulut bapak berkumis itu seketika membulat sempurna. Dagu manggut-manggut sambil menatap ke arahku. "Maaf kalau begitu. Mang Udinnya barusan sudah pulang ke rumahnya."


"Iya gak papa. Bapak siapa?" tanya Henry.


"Saya yang jaga di poskamling. Kebetulan lagi keliling. Rumah Mang Udin gak jauh. Ada di ujung komplek. Kalau mau datangi aja ke rumahnya."


"Gimana, Sayang?" Henry menoleh ke arahku minta persetujuan.


"Gak usah. Entar mengganggu," sahutku.


"Gak papa, Mbak. Mang Udin itu tidurnya siang. Jualannya malam. Tadi kebetulan dagangannya habis jadi cepet pulang. Pasti sekarang belum tidur. Kalau mau, biar sama saya ke sana. Saya paling gak tega sama orang ngidam," ujarnya terkekeh.


"Oh. Boleh banget, Pak. Silakan masuk! Makasih sudah mau bantu." Henry mempersilakan orang itu duduk di bangku belakang.


Perjuangan kami untuk mendapatkan mie tek-tek malam itu pun berlanjut.

__ADS_1


.


.


Rejeki memang sudah ada yang mengatur. Mang Udin dengan suka cita menyambut kedatangan kami di rumah sederhananya. Di subuh buta.


"Alhamdulillah ... bahan-bahan di rumah masih lengkap. Ditunggu sebentar. Saya bikinin dulu. Gak nyangka ada yang ngidam mie tek-tek saya," ujarnya seraya tertawa kecil.


Aku dan Henry duduk di ruang tamu tanpa kursi hanya beralas tikar. Bapak yang mengantarkan kami telah pernisi pulang lebih dulu.


Hanya beberapa menit menunggu. Mie tek-tek idamanku telah tersaji hangat. Makanan itu terlihat begitu menggiurkan. Asapnya masih mengepul baru diangkat dari wajan. Aroma sedap menguar.


"Silakan, Mbak!" Isteri Mang Udin mempersilakan kami untuk makan. Dua porsi mie goreng tek-tek ada di depan kami.


"Boleh gak saya dengar suara Mang Udin teriak kalau lagi keliling?" pintaku sambil tersipu.


Henry tergelak mendengar permintaanku yang nyeleneh, begitupun Mang Udin dan isterinya.


"MIIEEE ... TEK TEEEEK!!!" Teriak Mang Udin nyaring memecah heningnya subuh.


Bagiku saat ini makanan terlezat di dunia adalah mie tek-tek buatan Mang Udin.


****


Waktu demi waktu berlalu. Hari demi hari berganti tanpa terasa. Usia kehamilanku semakin bertambah. Perut kian buncit. Tapi tubuhku tak serta merta menjadi gendut. Aku masih tetap terlihat cantik dengan perut besar, itu kata suamiku.


"Hai juniorku. Apa kabar kamu hari ini?" bisik Henry di perutku. Tangan mengelus-elus. "Dia bergerak, Ken!" serunya senang, melihat sisi perutku menonjol.


Padahal sudah sering ia menyaksikan gerakan cabang bayi di perutku. Tapi, tetap saja Henry selalu takjub dibuatnya. Mengajak baby kami bicara sebelum tidur kini jadi kebiasaan lelakiku itu.


"Muah ... kamu lagi ngapain sih di dalam? Pasti lagi senyum-senyum dengar suara Papah kan? Sudah gak sabar nungguin kamu keluar dari perut Mamah. Muah ... muah," bisiknya lagi diakhiriri kecupan bertubi-tubi. Membuatku geli.


"Belum lahir aja sudah bikin cemburu. Apalagi kalau sudah lahir. Bisa-bisa nanti aku dicuekin," keluhku.


"Ish ... ada yang cemburu sama kamu, Sayang. Besok lagi ya kita ngobrolnya. Papah ngeloni Mamah dulu, muah." Satu kecupan lagi mendarat di atas pusarku yang telah datar.


Aku terkikik geli menyaksikan tingkah konyol Henry.


Satu matanya mengedip genit. "Sekarang giliran kamu disayang-sayang," goda Henry mengusap rambutku.


"Mauuu," rengekku manja.


***


Jarum jam di dinding telah menunjuk angka tiga. Sudah menjelang subuh. Tubuhku masih polos. Kehamilan sama sekali tidak menghalangi aktifitas *** kami. Malah aku sendiri yang sering meminta. Henry seperti candu bagiku. Aku selalu menginginkannya.


Setelah mengenakan kembali kimono, sedikit tertatih aku menuju toilet. Rasa mules makin menjadi.


.


.


.


"Hen ...!"


Pria itu tampak sangat lelap. Kuguncang pelan bahunya.


"Henry bangun! Sepertinya aku mulai pembukaan."


"Kamu kenapa?" tanyanya melihat wajahku meringis.


"Sudah keluar darah. Mungkin mau lahiran," jawabku berusaha tenang.


Mata sipit itu membelalak. "Anakku mau keluar?" ujarnya memegangi perutku. "Keras begini, Ken?" Dia tampak panik.


"Iya. Dokter bilang tanda melahirkan memang begini." Bibir kugigit mencoba memindahkan rasa sakit.


"Tenang, Sayang! Jangan panik! Aku keluarin mobil!"


Dia memintaku untuk tidak panik. Tapi wajahnya sendiri sepanik itu. Henry berlari menuju pintu kamar.


"Henry!!" Aku berteriak memanggil namanya.


"Kamu duduk dulu! Aku balik lagi setelah siap semua." Henry masih belum menyadari juga.

__ADS_1


"Sayang ... kamu belum pakai baju," ujarku menahan senyum.


Pria itu menepuk kepalanya sendiri.


"Lagian kenapa gak telepon Pak Min atau Beno aja buat siapin mobil?" saranku.


Henry menyugar rambut kasar. Suamiku yang biasanya selalu tampak smart tiba-tiba berubah seperti orang linglung.


"Maaf, Sayang. Aku tegang sekali," akunya.


Aku mengambil pakaian untuknya dari dalam lemari.


"Pakai baju!" Kusodorkan satu stel pakaian padanya.


"Anak pertama prosesnya gak cepat. Masih banyak waktu buat siap-siap," tambahku lagi agar Henry bisa lebih tenang.


***


"Sedikit lagi, Sayang!" Henry ikut membimbingku untuk mengedan. Dia duduk tepat di sampingku.


"Aku gak kuat. Capek ...." keluhku. Tenagaku rasanya sudah terkuras setelah menahan sakit hampir seharian.


"Kumpulkan tenaga dulu Bu Niken. Atur nafas! Tunggu sakitnya datang. Baru ngedan lagi." Seorang dokter kandung wanita berdiri di depan kedua kakiku. Beberapa asistennya turut mendampingi. Mereka begitu sabar menghadapiku.


"Ken ... Sayang. Kamu harus kuat." Mata Henry telah basah. Aku telah membuatnya menangis.


"Ingat anak kita. Saat ini dia juga sedang berjuang untuk bisa melihat dunia," bisik Henry di telinga.


"Anakku!" seruku bersemangat saat kontraksi panjang kembali muncul. Kekuatanku kembali.


.


.


.


"Ooeeek!!!" Tangis bayi mungil membahana di dalam ruang bersalin.


Suamiku ikut menangis melihat anaknya telah lahir. Wajah putih Henry memerah. Ia mengecup keningku.


"Makasih, Sayang. Sudah berkorban demi aku."


"Selamat bapak ibu, anaknya laki-laki," ucap dokter.


"Alhamdulillaaah!" Seru kami berbarengan.


Bayi merah itu diletakan di atas perutku agar bisa segera menyusu. Kata dokter kontak dini sangat baik untuk perkembangan bayi. Aku tersenyum bahagia memeluk buah hatiku. Henry? Dia tersenyum sambil menangis. Kasihan suamiku.


***


Aku tidak mengerti arti tatapan Henry kali ini. Kami sudah berpindah dari ruang bersalin ke ruang perawatan. Nyeri luka jahitan di bawah masih sangat terasa.


"Sayang ..." ucapannya terhenti. Tatapan itu tampak sendu. Kedua tangannya menggenggam tanganku.


"Iya?"


"Maafin aku." Tanganku ditempel di pipinya.


"Untuk apa?"


"Aku gak akan minta banyak anak lagi."


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Aku gak tega liat kamu kesakitan seperti tadi."


"Semua wanita melahirkan memang harus menjalani itu, Hen ...."


Dia menggeleng. "Hampir mati berdiri aku melihat kamu menderita."


"Sayang ... aku gak papa. Itu sebuah kebanggaan buat aku." Kuelus lembut pipi tomat itu.


Dia menggeleng. Sepertinya Henry sangat trauma melihat proses persalinanku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2