
Pelukan hangat itu berlangsung lama sampai Dea melepaskan diri dari dekapan Dion.
"Jangan menangis lagi?"ucap Dion mengusap sisa air mata Dea di pipi gadis itu.
Dea mengangguk lemah sambil menyusut ingusnya. Dea mengangkat wajahnya dan menatap Dion begitu dalam. Berjinjit lalu mengecup sekilas bibir laki - laki itu.
"Maaf atas semua sikapku,"lirihnya.
"Kau tidak salah, akulah yang salah,"jawab Dion.
Dion mengulas senyum dengan ibu jari mengusap bibir Dea. Kemudian ia menurunkan sedikit wajahnya untuk menjangkau bibir Dea. Menyesapnya dengan lembut penuh perasaan. Dea membalas ciuman itu. Meski tak berlangsung lama tapi tetap saja di dalam sana jantung keduanya bertalu - talu.
Malam itu mereka menikmati waktu melepas rindu satu sama lain. Merajut kembali cinta yang sempat memudar di hati keduanya. Berjanji akan selalu setia pada pasangan. Dan berkomitmen untuk masa depan.
Tak terasa malam kian larut.
"Ayo kita pulang,"ucap Dion.
"Selarut ini,?" Dea melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Maksudku, aku akan mengantarmu ke rumah nenek aku akan ke rumah Rey. Besok pagi baru kita kembali,"jelas Dion.
Meski sedikit ragu, Dea mengangguk setuju. Dion mengantar Dea ke rumah neneknya. Saat Dea mengajak untuk mampir, Dion menolak karena sudah larut.
Kepulangan Dea tentu membuat nenek dan Sifa cukup terkejut. Namun mereka tak banyak tanya. Nenek hanya menyuruh Dea untuk istirahat.
Tengah malam Dea terbangun karena harus ke toilet, lagi - lagi ia mendengar suara tangis dari kamar sang nenek yang sedang berdoa berharap sang paman segera pulang. Tentu itu menjadi cambuk bagi Dea, ia sudah tahu keberadaan pamannya. Hanya saja ia belum yakin. Haruskah ia katakan pada neneknya, tapi bagaimana kalau itu bukan pamannya, tentu akan membuat neneknya semakin merana.
***
Dea kembali ke kota, dan memulai aktivitasnya seperti biasa. Berbaikan dengan Dion membuatnya semakin semangat. Hari ini di toko, keadaan sangat sibuk. Karena ada pesanan kue bolu besar - besaran.
"Dea, kita kehabisan butter, kamu bisa ambilkan di rumah ce Meylan,!"pinta Juni.
Dengan semangat Dea menyanggupi. Ini adalah kesempatan emas baginya. Siapa tau ia bisa bertemu dengan suami bosnya itu. Rumah Meylan tidak jauh dari toko, jadi Dea memilih berjalan kaki.
Sampai disana, Dea langsung mengetuk pintu. Seorang ART, membukakan pintu dan menanyakan tujuan Dea.
"Oh, kamu karyawan nyonya. Kalau gitu ambil saja di gudang penyimpanan, saya sedang masak di dapur,"
Dea menuju gudang penyimpanan bahan - bahan yang dimaksud oleh ART itu. Namun menjelang kesana, mata Dea mengamati setiap sudut rumah. Sebuah pigura besar terpampang di dinding, memperlihatkan foto sepasang pengantin.
" Dilihat dari sudut manapun suami cece tetap mirip paman," gumam Dea mengamati foto di pigura itu.
__ADS_1
"Siapa kamu,?" Suara berat pria mengagetkan Dea, ia sontak menoleh. Dea semakin kaget melihat pria itu adalah pria yang ada di foto yang baru saja dilihatnya.
Pria itu mengamati Dea dengan seksama. Kemudian ia teringat dengan gadis yang tak sengaja berpapasan dengannya di jalan waktu itu.
"Siapa kamu,?" tanya lagi dengan nada dingin.
Lidah Dea jadi kelu, ini adalah kesempatannya untuk bertanya tapi entah kenapa suaranya tercekat di tenggorokan.
"Loh ,Dea. Kamu kok ada disini, bukan di toko," Meylani tiba - tiba muncul.
"Ini ce, saya mau mengambil butter. Di Toko kehabisan butter," jelas Dea tergagap.
" Jadi dia karyawan kamu, kok aku nggak pernah lihat," ucap pria itu melirik istrinya.
" Lu, kan jarang ke toko. Dea masih baru, belum sampai sebulan,"
Dea hanya berdiri mematung di tempatnya. Kalau ada Meylani bagaimana ia akan bertanya.
***
Hari berlalu, tanpa terasa sudah hampir 6 bulan Dea bekerja disana. Tapi ia belum mendapatkan info apa - apa tentang suami Meylani yang mirip pamannya itu. Pria itu jarang sekali mampir ke toko. Dea pun tidak ada kesempatan untuk ke rumah Meylani lagi. Hingga suatu hari Dea memberanikan diri untuk bertanya pada Meylani saat mereka sedang mengantarkan pesanan kue seorang publik figur.
"Ce, maaf sebelumnya. Apa aku boleh bertanya sesuatu yang pribadi,?" tanya Dea.
"Ini tentang suami cece," jawab Dea takut. Ia menelan paksa ludahnya
Meylani mengernyit. Ia melirik Dea sekilas kemudian kembali fokus menyetir.
" Ardi,? Apa yang ingin kamu tanyakan tentang dia,?"
Hening. Dea mencoba merangkai kata yang pas.
"Mau tanya apa,? Apa kamu lihat suami cece selingkuh,?" Suara Meylani berubah dingin.
"Bukan,"
" Lalu,?"
"Sebenarnya, suami cece mirip sekali dengan paman saya yang menghilang beberapa tahun yang lalu. Bahkan nama mereka pun sama. Saya ingin tau asal usul suami cece,"
Dea terkejut, ketika Meylani tiba - tiba menepikan mobilnya. Wajah wanita itu berubah pucat karena terkejut.
" Maaf ce, aku rasa aku salah orang,"ucap Dea takut.
__ADS_1
Meylani menatap Dea dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Meylani memeluk Dea. Tentu saja gadis itu terkejut.
" Maafkan saya,"ucap Meylani.
Meylani pun menceritakan tentang masa lalunya. Waktu itu ia tak sengaja menabrak Ardi sehingga pria itu koma selama dua tahun. Ia yang takut masuk penjara menyembunyikan fakta itu. Meylani merawat Ardi yang koma di rumahnya hingga Ardi sadar. Namun pria itu malah kehilangan ingatannya. Meylani yang sudah jatuh cinta pada Ardi tak mengatakan yang sebenarnya, takut pria itu akan lari dan meninggalkannya. Sehingga pada akhirnya mereka menikah. Bahkan selama ini Meylani menyimpan semua identitas Ardi yang ia temukan saat kecelakaan itu.
"Maafkan saya Dea, saya telah menyembunyikan kenyataan itu pada paman kamu. Sampai saat ini dia belum ingat apa - apa?" jelas Meylani dengan air mata mengucur deras.
Dea tertegun. Apalagi saat Meylani memperlihatkan identitas pamannya yang selama ini Meylani simpan.
"Kenapa anda melakukan itu,? Apa anda tidak bisa lihat disini paman saya sudah menikah, apa anda tidak berpikir, bagaimana kalau pria yang anda nikahi itu memiliki anak,?"
Dea merasa marah pada Meylani. Ia jadi teringat pada kedua sepupunya, serta neneknya yang selama ini menunggu kepulangan pamannya.
Hingga hari itu juga, Dea meminta Meylani untuk mempertemukan dia dengan Ardi.
Ardi yang tidak ingat apa - apa tentang masa lalunya terlihat bingung. Yang ia tahu, kalau dirinya diselamatkan oleh Meylani karena tabrak lari. Tapi sekarang ia harus menerima kenyataan kalau yang menabraknya itu istrinya sendiri.
"Mey, apa yang dikatakan gadis ini benar,?" tanya Ardi pada Meylani yang tertunduk.
"Maafkan aku,"
Ardi mengusap wajahnya gusar. Ini benar - benar mengejutkan baginya. Ia menatap Dea yang mengaku sebagai keluarganya itu.
"Paman, ayo kita pulang. Nenek sudah menunggu paman selama ini, begitu juga dengan Sifa dan Mas Rangga, mereka pasti senang jika tau ayah mereka masih hidup," Dea menggenggam erat tangan Ardi. Namun Ardi menarik tangannya, ia belum yakin dengan semua itu.
"Apa aku ini benar pamanmu, atau barangkali aku hanya mirip saja," Ardi menatap Dea dalam.
" Untuk itu, ikutlah denganku. Kita pulang ke rumah, paman bisa menemukan ingatan paman disana,"
Ardi tidak tau akan menjawab apa. Sebenarnya ia cukup penasaran dengan masa lalunya. Kadang ia sering memimpikan orang yang tidak ia kenal. Apa mungkin yang ia mimpikan itu keluarganya.
Tidak mudah bagi Dea untuk membawa pamannya pulang. Namun pada akhirnya Ardi setuju. Kepulangan Ardi disambut dengan derai air mata oleh nenek. Akhirnya doa - doa sampai ke langit dan dikabulkan Sang pencipta. Namun nenek harus menerima kenyataan pahit, kalau anaknya itu tidak mengenalinya. Sifa yang awalnya marah pada sang ayah, akhirnya mau mengerti setelah mengetahui kenyataan sebenarnya.
Selama beberapa hari tinggal di rumah nenek, satu per satu ingatan Ardi yang hilang muncul.
Ia bahkan ingat apa yang menyebabkan ia kecelakaan. Saat itu dirinya sedang kalut karena baru saja kehilangan istri. Ditambah ia memiliki dua anak yang akan ia besarkan. Sementara ia tidak memiliki pekerjaan. Di Bawah semua tekanan itu, Ardi mencoba mengakhiri hidupnya dengan menyeberang jalan saat sebuah mobil melaju kencang. Tapi Tuhan tak segera mencabut nyawanya malah mempertemukannya dengan Meylani.
Keluarga itu kembali utuh. Ardi sangat senang bisa kembali dipertemukan dengan keluarganya. Lalu bagaimana dengan Meylani,?.
Dea meminta pamannya untuk memaafkan Meylani. Karena mereka sudah diikat tali pernikahan. Menurut Dea Meylani itu baik, meski ia sudah melakukan kesalahan besar.
...----------------...
__ADS_1