Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Anggap saja hidup sedang mengajakku bercanda. Ya ... kadang hidup bisa selucu ini. Bayangkan saja. Ingatanku belum sepenuhnya pulih. Aku hanya mampu mengingat sebagian. Menurut dokter yang merawatku, sebagian memoriku yang terakhir mungkin pelan-pelan akan kembali.


Memoriku saat ini hanya memuat kenangan masa kecil sampai SMA. Sedang memori setelah itu terasa buram. Itu dipengaruhi oleh alam bawah sadarku yang berusaha mengubur kenangan menakutkan yang pernah kualami. Pertemuanku dengan seorang psikopat yang terobsesi padaku.


Ingatanku dipenuhi cerita manis masa kecil, juga persahabatanku dengan Henry di SMA. Yang aku ingat kalau Henry adalah sahabatku yang kutu buku. Berpenampilan culun dengan kaca mata tebal. Selalu tersipu malu tiap aku menatap wajahnya.


Aku seperti telah terbangun dari tidur yang panjang. Henry tiba-tiba muncul di depanku dengan penampilan yang berbeda. Dia telah berubah menjadi pria dewasa. Tubuh yang dulu kurus jangkung kini tegap berisi. Kaca mata tebal tak lagi menghalangi pandangan.


Pria yang dulunya selalu tersipu bila beradu mata denganku. Kini malah memberiku tatapan menggoda. Tatapan kalau dia sangat menginginkanku.


.


.


.


.


Dua buah mobil sedan telah menunggu kami di depan dermaga, begitu kapal telah berlabuh. Beberapa pria bertubuh besar dengan sigap memindahkan koper-koper yang kami bawa ke bagasi mobil.


"Ben, kamu tolong bantu Mbak Ayu sama Mbak Roro. Antar mereka sampai mes karyawan. Kamu urus semua keperluan mereka. Aku sama isteriku bisa pulang sendiri," ujar Henry pada Beno.


"Siap Bos," sahut Beno. "Mari embak-embak," ujarnya pada Roro dan Ayu.


"Kalian ikut Beno. Dia yang akan mengurus semua keperluan kalian," Henry bicara pada dua temanku.


"Iya. Makasih Bos. Eh Bang. Eh Mas." Roro menutup mulutnya sendiri. Mungkin dia bingung harus menyebut Henry dengan panggilan apa.


Aku dan Ayu sama-sama tergelak dibuatnya. Kupeluk dua gadis itu sebelum kami memasuki mobil masing-masing. Mereka akan diantar Beno ke asrama karyawan, sedang aku dan Henry menuju pulang ke rumah.


"Nanti kita teleponan," ujarku sembari cipika cipiki dengan keduanya.


"Kalian kalau mau main ke rumah. Minta antar sama supir kantor aja," saran Henry.


"Iya, makasih," sahut Ayu.


Henry mulai tampak posesif padaku. Kedua temanku langsung diantar ke asrama. Tidak menginap di rumah kami. Dia ingin aku langsung istirahat setelah tiba di rumah. Khawatir isterinya malah kebanyakan ngobrol mungkin.


Henry membukakan pintu belakang mobil untukku. Kulambaikan tangan ke arah Roro dan Ayu yang masih berdiri menungguku masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak!" seru Henry pada supir yang telah duduk di depan kemudi.


"Siap, Gan!" jawab Pak supir di depan.


Mesin mobil dihidupkannya. Mobil itu kemudian bergerak keluar dari dermaga. Roro dan Ayu pun kulihat sudah mulai masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka.


Di atas sana langit mulai temaram. Sebentar lagi matahari pulang ke peraduan. Suhu dalam mobil terasa dingin menembus kulit.


.

__ADS_1


.


.


Jalan yang kami lalui cukup padat. Mobil sedan yang membawa kami bergerak pelan di antara arus lalu lintas kota. Lampu-lampu penerang jalan mulai menyala.


"Dingin?" Henry seolah mengerti. Ia melingkarkan lengan ke bahuku. Menarik kepalaku bersandar pada dadanya.


Aku masih malu-malu kucing. Seperti orang yang baru mulai pacaran.


"Roro sama Ayu nanti kamu kasih kerjaan apa?" tanyaku kemudian.


"Staf admin. Nanti ada orang kantor yang akan melatih mereka."


"Memang masih banyak lowongan di kantor kamu?"


"Gampang diatur. Orang kantor lebih tahu itu. Apalagi kalau Roro dan Ayu nanti sudah mahir pegang komputer. Mereka kurekomendasikan sebagai karyawan tetap." Dia mencubit lembut pipiku. "Tenang ... teman-teman kamu akan terjamin."


"Iya. Aku percaya sama kamu. Makasih sudah baik sama mereka." Aku tersenyum tipis ke arah pria itu.


"Aku juga berencana ngasih hadiah, Non. Buat teman-teman kamu itu. Menurut kamu apa bagusnya?" tanyanya.


"Hadiah?" Kedua alisku bertaut.


"Hadiah terima kasih karena sudah menyelamatkan isteriku," jelasnya.


"Apa, ya?" Aku berpikir sejenak. Benda yang mungkin akan berguna untuk mereka. "Sepeda motor?" saranku kemudian.


"Motor? Gak ah," sahutnya dengan dahi berkerut.


"Kenapa?"


"Yang mau naik motor itu kamu kan?" tuduhnya. "Kalau mau naik motor sama aku aja, Non. Gak boleh sama yang lain! Bahaya." Rautnya tampak tak suka.


"Dih. Siapa yang mau naik motor, sih? Cuman ngasih saran. Tadi kamu yang nanya," jawabku kesal.


"Iya deh. Maaf ..." Tangannya mengusap kepalaku. "Jangan cemberut gitu dong! Habis ... biasanya kamu tuh paling semangat kalau diajak jalan naik motor," leranya.


Cup. Keningku dikecup.


Handphone milik Henry tiba-tiba berbunyi. Dikeluarkannya benda persegi itu dari saku jaket.


"Pesan dari Panjul," ujarnya tanpa kutanya.


"Siapa Panjul?" tanyaku.


"Panjul sama Opi anak buah Beno. Mereka sudah sampai di Flores nganter Tobias ketemu ibunya," ujarnya lagi.


"Oh, ya?" Aku menatap takjub pada Henry.

__ADS_1


"Hmm ... Panjul kirim video Tobias untuk kamu." Henry mengutak atik layar gawainya, lalu menyerahkan padaku. "Kamu yang buka!"


Sebuah video telah dikirimkan Panjul lewat sebuah aplikasi di handphone itu.


Kusentuh tanda panah. Gambar di layar handphone mulai bergerak. Wajah Tobi tampak tersenyum disamping seorang wanita setengah baya yang berdiri di sampingnya.


"Halo Kakak Nona. Terima kasih Kakak. Aku sudah bertemu dengan Mamahku. Kenalkan ini Mamahku, Kak." Tangan Tobias menepuk-nepuk bahu wanita di sampingnya. Wanita itu sangat mirip dengan Tobi.


Aku tersenyum bahagia melihat betapa berbinarnya mata Tobi.


"Mamah, bilang makasih sama Kak Nona!" ujar Tobi pada ibunya.


"Bilang apa?" tanya ibunya pada Tobias. Dia tampak bingung.


"Terserah Mamah saja," sahut Tobi.


Mamah Tobi kemudian tersenyum ke arah kamera.


"Terima kasih Nona sudah membantu Tobias pulang." Ia tiba-tiba tergugu haru. "Saya tidak menyangka bisa bertemu dia lagi. Huhu ...." Wanita itu menangis memeluk anaknya.


Wajah seorang pria menutupi kamera. Video itu lalu terhenti. Handphone Henry kuserahkan lagi padanya.


"Kamu senang?" tanya Henry.


"Hu' um. Makasih." Kulingkarkan kedua tangan ke pinggang pria itu.


Aku sangat lega. Janjiku pada Tobias telah terpenuhi.


"Bagaimana cara kamu menjemput Tobias dari tempat Mister Sam?" tanyaku heran.


Henry tersenyum simpul seraya merapikan kerah jaket dengan satu tangan.


"Aku punya banyak cara untuk membuat orang itu tak berkutik. Suamimu ini bukan orang sembarangan, Non," ujarnya bangga.


Mulutku membulat. Henry malah terkekeh melihat ekspresiku.


"Kamu cukup terima beres, Sayang. Aku melakukan semuanya untukmu," tambahnya lagi.


"Oke ...." jawabku.


"Sini!" Tubuhku direngkuh agar bersandar padanya. Aku memejamkan mata yang mulai terasa kantuk. Hari beranjak semakin gelap.


"Tidur! Kamu pasti capek." Diusap-usap punggungku.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2