
Cinta itu adalah sebuah kata.
Namun cinta tidak cukup hanya berupa kata.
.
.
.
"Buka baju kamu, Sayang!" ujarnya begitu melihatku keluar dari toilet kamar.
"Apah?" Mataku melebar.
To the poin sekali pria ini.
Henry berdiri tepat di depan pintu toilet, seolah sengaja menungguku keluar. Aku baru saja membersihkan diri bersiap untuk tidur.
Orang bergelar suamiku itu mendekat. Tanpa persetujuan, jari-jari Henry melepaskan kancing piyamaku. Mataku semakin dibuat membelalak kaget.
Dia memang suamiku. Tapi, aku kan butuh proses menyesuaikan diri jadi isterinya. Memori tentang hubunganku dengannya masih buram. Jujur sangat risih kalau dilucuti tiba-tiba begini.
"Kamu seksi," gumamnya dengan tatapan sendu. Piyamaku kemudian disentak jatuh ke lantai.
Lha iya lah seksi. Tinggal bra tipis saja yang melekat.
Aku shock dengan perlakuannya. Kedua tangan sigap menyilang menutup dada. Entahlah ... kenapa tingkahku jadi seperti gadis perawan begini?
"Akh!" Aku terpekik. Belum sempat berpikir. Henry sudah mengangkat tubuhku ke atas tempat tidur.
Dia membuatku gugup.
"Kamu akan merasa nyaman setelah ini," desisnya seraya meletakkan tubuhku.
Henry melepas kaos yang ia pakai di depanku. Dada bidang dengan tonjolan otot miliknya terpampang jelas. Aku menatap ke arahnya sambil menelan ludah. Dia terlihat manly.
Tangan Henry sekarang mulai melepas gasper. Wajah tampan itu tersenyum mesum. Bibir tipisnya sengaja membuat gerakan seolah ingin memberikan ciuman padaku.
Segera aku membalikkan tubuh miring, agar tak menyaksikan lagi tingkahnya. Dadaku bedegub-degub. Pasokan darah di dalam tubuh terasa mengalir deras. Apakah ia ingin kami melakukan lagi perbuatan saat di kamar kos waktu itu?
Tempat tidur bergerak. Dia mengatur posisi tubuhnya di sampingku. Aku masih bertahan untuk tak berpaling ke arahnya. Kuatur deguban jantung yang kian menggila.
"Kamu lebih suka posisi seperti ini?" tanyanya seraya mengusap punggungku yang telah polos.
"Po-posisi ... posisi apa?" Aku balik bertanya dengan tergagap.
"Posisi yang membuatmu nyaman." Jari-jarinya berjalan di atas tengkukku.
"Hmm ...." Aku masih berusaha mencerna apa yang dia maksud.
"Bersiaplah, Sayang! Pejamkan matamu! Nikmati sentuhanku!" bisiknya tepat di telinga. Diakhiri tiupan ke lubang telingaku. Tubuh bergidik geli dibuatnya.
"I-iyah," sahutku pelan.
Oh Tuhan ... kenapa aku tegang begini?
Aku menurut memejamkan mata. Dia suamiku. Tak mungkin aku menolak maunya. Bukankah memang kewajiban seorang isteri melayani hasrat suami.
"Tiarap!" titahnya.
__ADS_1
Tiarap? Apa yang akan ia lakukan?
"Ayolah, Sayang! Aku ingin menunjukkan kemampuanku padamu."
Astaga! Beginikah kalau punya suami? Banyak maunya.
Walau ragu aku menuruti perintah suami.
Ups! Pengait braku sekarang dilepaskan. Tangannya berpindah pada pinggangku.
Sreeek! Satu tarikan tubuhku benar-benar dibuat polos olehnya.
Huuuft ... aku memicingkan mata. Kedua tangan meremas ujung bantal. Mempersiapkan mental.
"Jangan tegang! Buatlah tubuhmu serileks mungkin, Sayang!"
"Hum ...," gumamku.
Penciumanku menangkap aroma khas yang terasa familiar. Hidung mengendus--endus. Bau apa ini? Bukan parfum Henry. Kulit punggungku merasakan tangan Henry mengoleskan cairan. Seperti ... minyak telon?
"Gimana, Sayang? Enak?" tanyanya.
What the? Dia sedang memijat punggungku?
"Aku punya teman dokter kandungan. Katanya psikologis ibu hamil itu sangat berpengaruh untuk bayi. Aku ingin membuat kamu rileks, Non. Supaya tidur kamu malam ini nyenyak," ujar suamiku itu seraya melakukan pijatan lembut pada otot-otot punggungku.
Hais!! Kalau cuman mau memijat doang. Kenapa pakai pasang muka mesum segala?
Henryyyy!!!
Aku menghempaskan napas kasar.
"Pijatan penuh cinta ini akan ikut dirasakan calon bayi kita, Non," tambahnya lagi. "Sayang ... kok diam aja dari tadi?"
"Sayang ...." Wajahnya merunduk menengok wajahku yang melekat di bantal.
Aku tak bergeming. Ini suami gini amat pehape isteri. Hhhh ... bikin deg-degan iya.
"Udah tidur aja ... pijatanku baru mulai. Kaki kamu juga mau kupijat nanti." Henry masih saja bicara sendiri.
Hmm ... pijatan Henry enak banget. Telapak tangan hangat itu terus bergerak di atas punggungku. Mata dibuatnya mengantuk.
"Kulit kamu halus banget, Sayang." Kurasakan kecupan di bahu. "Tapi, kamu pasti capek sekarang. Aku tidak mau ganggu kamu."
Entah apa maksud Henry bicara begitu. Kelopak mataku semakin berat. Aku semakin larut. Mungkin sebentar lagi akan mendengkur.
***
Mataku mengerjap. Usai sholat subuh lagi-lagi aku tertidur. Mungkinkah ini pengaruh kehamilan? Atau efek pijatan penuh cinta yang diberikan Henry tadi malam. Bawaan jadi ngantuk terus.
"Hoaaam." Kutepuk mulut yang masih ingin menguap.
Aku tidak ingin menjadi ibu hamil yang pemalas. Henry sudah keluar rumah sejak azan subuh. Katanya sholat subuh di masjid lebih nikmat. Oleh tak ada lagi teman bicara membuatku ketiduran.
Jam di tembok menunjuk pukul setengah tujuh pagi. Kuraih remot pendingin ruangan. Menekan tombol off. Suhu yang dingin ini bisa membuatku enggan beranjak dari tempat tidur.
Pintu balkon kubuka lebar. Udara sejuk pagi menyeruak masuk. Henry belum kembali juga. Kemana dia?
Suasana halaman belakang tampak asri. Ada taman tepat di bawah balkon kamar. Banyak bunga mawar bermekaran si situ. Pada bagian tengah halaman, tampak sebuah kolam dengan air yang memancar. Ada bangunan lagi yang berada di halaman belakang. Mungkin garasi. Aku belum sempat menjelajah lagi rumah ini.
__ADS_1
Sebaiknya aku segera turun ke bawah. Mengingat lagi suasana rumah ini. Bukankan kami sudah menikah enam bulan yang lalu. Artinya aku sudah cukup lama tinggal di sini.
.
.
.
"Pagi, Non Niken." Seorang wanita setengah baya menyambutku begitu menuruni tangga.
"Pagi, Buk Min," sahutku. Tadi malam aku sudah berjumpa dengannya.
"Den Henry tadi pesan. Kalau Non Niken mau sarapan, duluan aja. Aden Henry masih olah raga di halaman belakang."
"Ooh ... iya. Saya belum lapar. Nanti aja sarapannya bareng."
"Geh, Non. Susu ibu hamil sudah saya bikinin di meja makan. Masih anget," ujarnya lagi.
Susu ibu hamil. Kapan Henry membelinya? Keningku bertaut.
"Iya. Nanti saya minum, Buk."
"Geh. Saya permisi, Non. Mau ngerjain yang lain."
"Silahkan!"
Wanita itu sedikit membungkuk sebelum menjauh dari hadapanku. Aku mendekati meja makan. Mereguk segelas susu hangat. Rasanya sedikit aneh. Agak amis. Tidak seperti susu yang biasa kuminum. Tak apalah demi baby. Yang penting sehat.
Segelas susu hangat cukup membuatku kenyang. Habis ini aku ingin jalan ke halaman. Pingin tau olah raga seperti apa yang sedang dilakoni suami. Tubuhnya sekarang memang tampak kokoh. Jauh beda dengan tubuh jangkungnya dulu.
"Pagi, Non Niken." Sekarang Pak Min yang menyapaku. Ia sedang mengurus tanaman di halaman belakang.
"Pagi, Pak Min," sahutku. "Bapak sama Ibu tidurnya di mana kalau malam?" tanyaku ingin tahu.
Pak Min menggaruk-garuk kepalanya.
"Kan di rumah belakang, Non," sahutnya bingung. Dia mungkin lupa kalau aku ini sedang amnesia.
"Ooh." Aku meringis.
Sebaiknya aku jelajahi sendiri rumah kami. Semoga dengan begitu semua memoriku bisa kembali.
***
Kedua kaki terus kubawa melewati halaman belakang. Kolam yang kulihat dari atas balkon tadi ternyata cukup luas. Banyak ikan koy dengan corak yang cantik berenang menari-nari di dalam air. Suara gemericik air yang memancar ke atas menambah nyaman suasana taman.
Aku penasaran dengan bangunan cukup besar yang berada di bagian halaman belakang. Berupa bangunan beton yang sebagian ditutup roling door besi. Mungkinkah ini garasi mobil?
Ternyata ada jalan lagi menuju ke belakang. Luas sekali area rumah ini. Dari depan hanya sebuah rumah yang terlihat.
"Hiaaah!!"
"Aaargh!!
Suara teriakan-teriakan terdengar nyaring dari arah belakang bangunan. Aku menghentikan langkah. Memasang pendengaran.
"Pukul ... banting!!" Sebuah suara lagi.
Mataku tercengang dengan mulut menganga. Henry kulihat bergulat saling piting dengan seorang pria berbadan besar, berambut setengah botak. Banyak pria lain berpenampilan sangar berdiri mengelilingi. Mereka hanya melihat tanpa melerai. Pria besar bertato itu menyerang Henry. Tubuh Henry terus dipiting. Tulang suamiku bisa patah olehnya.
__ADS_1
"Jangaaaan!!" Aku berteriak histeris.
Bersambung