
"Ada apa dengan mereka,ya,?"gumamku sambil mendudukan diri di bangku.
Dion mengedikan bahunya. Ia menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya. Hening mengambil alih, kami terdiam dan larut dengan pikiran masing - masing.
"Hah, aku lapar,"keluh Dion.
"Aku juga,"
"Mau makan apa,?"tanya Dion.
"Terserah,"
"Nggak ada yang namanya terserah,"jawab Dion.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar taman. Hanya ada gerobak penjual bakso. Terlalu lelah untuk kembali ke tempat tadi, dimana disana lebih banyak pilihan makanannya.
"Makan bakso itu aja yuk,"ajakku.
Dion bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya. Dengan senyum mengembang, aku meraih tangan itu. Kami segera menuju penjual bakso.
Setelah memesan, kami duduk di kursi plastik yang disediakan. Tidak ada meja, hanya kursi plastik tanpa sandaran.
Tak jauh dari tempat kami, ada pertunjukan musik. Ada beberapa orang yang sedang menonton. Aku bergumam pelan mengikuti lirik lagu yang sedang dibawakan oleh penyanyinya.
Bakso pesanan kami telah siap.
"Bisa,?"tanya Dion melihatku kesusahan makan sambil memegang mangkuk.
Aku mengangguk. Walaupun sebenarnya sedikit kurang nyaman.
"Kira-kira Sarah sama Rey kenapa ya,?"tanyaku disela makan.
"Udahlah.Nggak usah dipikirkan,"sahut Dion.
Kami melanjutkan makan dalam diam. Selesai makan kami kembali berjalan - jalan. Sebenarnya aku ingin pulang saja, tapi Dion bilang dia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamaku.
Hingga matahari sudah kembali keperaduannya, kami masih disini. Malam yang gelap menyambut. Gemerlap lampu di sepanjang sungai tampak indah. Bukannya semakin sepi, tempat ini malah semakin ramai. Terutama dengan muda mudi.
Cahaya kembang api berpendar menghiasi langit malam. Aku menatap takjub, kilatan - kilatan cahaya di langit itu tampak memukau.
Dion merengkuh pinggangku. Kami berdiri di pinggiran sungai bersandar pada pagar pembatas.
"Siapa sih yang pertama kali menemukan kembang api,?"tanyaku. Entah kenapa aku penasaran dengan asal usul benda yang meledak di udara itu.
"Hem, menurut sejarahwan, kembang api itu berasal dari cina, yang dulunya digunakan untuk mengusir roh jahat,"jelas Dion.
"Kamu tau dari mana,?"
"Sekarang itu ada google Dea, kita bisa mencari informasi apa saja,"jawab Dion.
"Tapi tidak semua google tau,"bantahku.
__ADS_1
"Ya tergantung, kalau yang kamu tanyakan nyeleneh ya nggak tau lah, contohnya, google siapakah jodohku? Ya google nggak tau lah,"ujar Dion terkekeh.
Aku ikut terkekeh sambil menyikut perut Dion dengan siku ku.
Dion melepaskan rengkuhannya di pinggangku, kemudian meraih bahuku untuk menghadap padanya.
"Kalau aku tidak perlu lagi menanyakan siapa jodohku, karena orangnya sudah ada di depan mata,"ucap Dion.
Dion menatap mataku dalam dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Kenapa kamu begitu yakin,?Perjalanan kita masih panjang. Hati manusia itu gampang berubah, apalagi kita ini masih muda,"jawabku.
Tatapan Dion berubah sendu. Ia melepaskan tangannya dari bahuku. Dion memutar badannya menghadap lurus ke depan dengan tangan bertumpu pada pagar.
"Kamu tidak ingin hubungan kita berlanjut ke yang lebih serius,?"tanyanya dengan suara lemah.
"Bukan itu maksudku,kita ini masih SMA. Setelah ini kamu akan kuliah, lalu kerja. Diperjalanan itu kamu pasti akan bertemu dengan banyak gadis yang lebih baik dariku,"
"Di hatiku cuma ada kamu Dea, kamu tidak perlu takut. Aku bukan orang yang gampang jatuh hati," ucap Dion tegas.
Aku kehabisan kata - kata. Aku memilih diam sambil menatap langit yang masih dihiasi kembang api. Ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan menyeruak dalam hatiku. Aku sudah terlalu dalam menyelami perasaanku pada Dion. Jika nanti kami ditakdirkan berpisah aku tidak yakin akan bisa kembali ke permukaan dengan mudah. Bagi sebagian orang percintaan di kala remaja itu hanya persinggahan. Jarang sekali yang terus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan.
"Apa kamu takut hubungan kita akan kandas di tengah jalan?"
"Hem, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini."
Dion kembali memutar tubuhku menghadap ke arahnya.
"Dea, tatap mataku."ucap Dion.
"Dengar, apa pun yang akan terjadi, kita akan lalui bersama. Dan hatiku hanya milikmu, begitu sebaliknya. Yakinlah, cinta kita tidak akan goyah semudah itu. Hubungan ini tidak hanya sekedar cinta monyet, tapi akan berlanjut dan terus berlanjut sampai kita sudah siap untuk menikah,"ucap Dion.
Aku tergelak, pembicaraan kami terlalu berat untuk umur yang baru 18 tahun.
" Kenapa kau ketawa,?"Dion merenggut.
"Tidak, aku hanya merasa lucu,"ucapku.
"Apanya yang lucu,?"Dion mengernyit.
"Lupakan saja,"
Dion menjauhkan tangannya, wajahnya terlihat kesal.
"Hei, apa kau marah,?" aku menelisik ke dalam matanya.
"Tidak,"
"Lalu kenapa muka ditekuk begitu,?"
"Sudahlah, ayo ke sebelah sana. Disini terlalu ramai,"
__ADS_1
Dion menarik tanganku menuju jembatan yang membentang sungai dan kami berhenti di tengahnya. Pemandangan lebih bagus dari sini, pantulan cahaya lampu pada permukaan air tampak memukau.
"Dea," Dion memanggilku dengan lirih.
" Hem,"
"Apa kamu mau menungguku sampai aku menjadi orang sukses,?"ucap Dion.
Aku menatapnya. Mengulas senyum sambil menganggukkan kepala. Dion merentangkan tangan untuk menyambut ku ke dalam pelukannya.
"Enam tahun lagi aku akan melamar mu, apa kau tidak keberatan menunggu selama itu,?"ucap Dion. Tangan nya mengelus belakang kepalaku. Aku mengangguk dalam dekapannya.
"Aku janji, aku akan membahagiakanmu. Bersabarlah untuk sekarang. Sesulit apapun hidupmu jalani dengan baik,"
Aku membenamkan wajahku di dada bidang Dion. Dadaku tiba - tiba terasa sesak. Kata - kata Dion menyentuh relung paling dalam di hatiku.
" Dea,? Kau menangis,?"tanya Dion.
Ia melepaskan dekapannya, memiringkan kepalanya untuk melihat wajahku.
"Hei, kau menangis,?"
"Tidak, mataku kelilipan,"ujarku berbohong.
Dion terkekeh, ia lalu meraup kedua pipiku. Dengan mata berkaca aku membalas tatapannya. Dion mengelus pipiku dengan ibu jarinya. Tiba - tiba saja Dion mengecup lama keningku. Setelah itu kecupan itu beralih ke bibirku. Awalnya hanya kecupan singkat. Tapi situasi mendukung untuk melakukan lebih.
Aku juga tidak bisa menolak. Dion meraih tengkukku menciumku lebih dalam. Bibir kami saling bertaut. Saling mengecap satu sama lain. Sepertinya aku mulai mahir. Gairah cinta yang membara membuat kami lupa diri. Semakin lama ciuman itu semakin dalam.
" Hei, apa yang kalian lakukan,!"
Sebuah teriakan keras berhasil membuat kami menyudahi adegan itu. Aku dan Dion saling tatap.
"Kalian mesum ya,"
Suara lantang itu terdengar lagi. Aku menelan kasar ludahku. Dion meraih tanganku, menggenggamnya erat.
"Dalam hitungan ketiga kita lari,"bisik Dion.
Aku mengangguk.
" Ok, Satu….dua...tiga,_"
Dion menarik tanganku, dan kami pun mulai berlari. Derap langkah kaki terdengar di belakang kami. Aku mengeluarkan semua tenagaku untuk berlari. Entah siapa yang mengejar, yang jelas ia terus berteriak menyuruh kami berhenti.
Dion melirikku, dan ia malah tersenyum. Kami terus berlari menghindari kerjaan dari orang itu. Sampai akhirnya kami bersembunyi dibalik pohon. Dan orang yang mengejar itu tidak tampak lagi, mungkin ia kehilangan jejak kami. Nafasku tersengal, begitu pun dengan Dion. Tapi sejurus kemudian kami tertawa.
Bersambung...
...----------------...
Hai semua, masih nungguin up cerita dari Dea dan Dion kan,? Jangan lupa berikan like dan komentar..
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir ke karya dibawah ini..