
Ceklek ... suara handle pintu kamar dibuka dari luar.
Kupejamkan mata rapat-rapat. Guling di pelukanku saat ini mungkin akan remuk.
"Hai ..., Sayang," bisiknya hampir tak terdengar. Sebuah kecupan lembut mendarat di keningku.
Aku diam tak bergeming. Lebih baik pura-pura tidur. Dari pada bicara dalam keadaan mood yang buruk.Tempat tidur berderit. Sebuah tangan kekar dengan lengan kemeja telah tergulung, kini sudah melingkar di perutku. Aroma parfum yang sangat kuhapal tercium.
Ingin ngomel tapi tidak tega. Dia baru saja sampai di rumah. Kulirik jarum jam yang menempel di tembok. Sudah pukul tiga sore. Henry jenis orang yang punya waktu tidur teratur. Tidur siang jadi kebiasaannya setiap hari. Pasti ia masih capek pulang dari Bali. Tak perlu waktu lama, dengkur halusnya kemudian terdengar.
Kejadian tadi siang masih membuatku kesal hingga saat ini. Harus bagaimana lagi caraku protes pada Henry? Aku tidak suka segala kegiatanku selalu diawasi para body guard itu. Kebebasanku terasa terkekang.
Aku mengerti kalau maksud Henry baik. Ia ingin aku selalu dalam keadaan aman. Tapi, itu membuatku tidak nyaman. Aku merasa jadi orang aneh.
Aku ingin bisa keluar rumah tanpa dikelilingi pria-pria berotot itu. Ingin bisa kemana-mana tanpa ada mata yang terus mengawasiku seperti buronan.
Lima belas menit berlalu.
Tangan Henry bergerak mengelus lenganku, lalu jari-jarinya masuk ke sela jariku. Jari-jari kami pun terjalin. Dia sudah bangun.
Hmmh ... Kugigit bibir frustasi. Suami model begini yang susah cara menghadapinya. Dia terlalu manis untuk diomeli. Perlakuan bucin Henry selalu bisa membuatku meleleh. Aku tidak bisa marah padanya. Suer.
Kuembuskan nafas kasar.
"Sudah bangun? Kirain masih tidur," ujarnya dari belakang punggungku.
Aku membalikan tubuh menghadap padanya. Kami saling berbagi senyum.Sebuah peraturan yang telah dibuat lelakiku itu. Setiap bangun tidur kami berdua harus saling tersenyum.
"Gimana 'me time' kamu hari ini? Pasti menyenangkan. Senyum isteriku manis banget." Ia mengacak pelan rambutku.
Menyenangkan sekali Buambaaang Fergusooo. Senyumku semakin mengembang. Senyuman palsu. Tanganku balas mengacak gemas poni rambutnya.
"Aku mau ngomong sama kamu." Lekat kutatap kedua iris cokelat itu.
"Apa tuh?"
"Kamu tidak suka kan kalau aku jalan tanpa kamu?"
Mata sipit itu berkedip-kedip menatapku.
"Kalau kamu gak suka. Bilang aja terus terang. Aku gak papa kok, kalau memang harus di rumah gak ngapa-ngapain."
"Bukan begitu, Sayang." Henry tampak serba salah.
"Gak papa, kok." Aku berdiri lesu keluar dari kamar.
Sudahlah, Ken. Terima saja kenyataan. Kalau suamimu itu over protektif. Gak usah mikir bisa me time lagi. Syukuri saja apa yang ada. Nikmati saja.
****
"Jalan, Yuk!"
__ADS_1
Henry mendekati aku yang tengah melamun di balkon kamar, usai makan malam. Kedua tangan menopang dagu, bersandar di pagar pembatas.
"Gak usah. Kamu kan masih capek."
"Beneran nih, gak mau?"
"Enggak," memasang wajah acuh.
"Kita kencan."
"Males."
"Nostalgia, pacaran kayak dulu."
"Emang kita dulu pacaran?"
"Oh iya. Nostalgia temenan kalo gitu."
Aku menggeleng. Henry menghela nafas panjang. Sepertinya ia menyadari kemuramanku sejak tadi sore.
"Ini malam minggu lho, Non. Hayuk kita pacaran. Naik motor. Ngeng ... ngeng! Brumm ... brumm!" Henry menggerak-gerakan tangan seolah sedang memegang stang motor. Mulutnya meniru bunyi motor.
Naik motor? Mau ....
Hatiku mulai tergoda. "Kemana?" Pura-pura jaim.
"Kemana aja kamu mau, Non. Mau keliling kota ..., keliling dunia. Abang jabanin, dah pokoknya. Yang penting jangan cemberut lagi." Henry melancarkan rayuan, kedua alis naik turun.
Padahal rasanya pingin jingkrak-jingkrak meluk suami saking antusiasnya.
Naik motor ... diboncengan suami keliling kota? Menikmati angin malam sambil memeluk pinggangnya dari belakang. Terus ... mampir di tukang jual kacang rebus. Beli kacang rebus. Terus ... duduk di depan alun-alun nonton pertunjukan seni. Terus ... pulangnya makan di angkringan. Terus ....
Mataku melebar membayangkan semua itu. Pasti seru.
"Gimana, Yang?" Henry menyenggol bahuku lagi. "Ya udah ... kalau gak mau, Abang gak maksa, Non ...."
"Huuu ... Mau ... mau bangeeeet!!" teriakku senang, meledak-ledak.
Aku memeluk lehernya sambil jingkrak-jingkrak. Kuhujani pipi tomat itu dengan kecupan.
Henry terkikik geli melihat reaksiku. Tubuhnya hampir terjungkal karena tingkah konyolku.
"Wuih ... iya, Sayang. Ayo siap-siap. Nanti kemalaman."
***
Terserah kalau ada yang bilang aku munafik. Aku bukanlah Nia Ramadhabi. Punya suami kaya, bukan berarti selera hidupku berubah. Bukan berarti merasa jika status sosialku meningkat. Sama sekali bukan.
Aku tetaplah Niken yang dulu. Yang lebih suka jajan di pinggir jalan dari pada duduk di restoran mewah. Yang lebih menikmati naik motor digempur angin dari pada berada di dalam mobil tertutup ber-AC. Aku lebih menikmati kehidupan seperti itu.
Menurutku itu lebih menyenangkan.
__ADS_1
.
.
.
Senyum terus melekat di bibirku. Gigiku sampai kering karena kebanyakan nyengir. Kedua lengan melingkar erat di pinggang Henry. Helm model kura-kura terpasang manis di kepala. Bersandar di punggung suami.
Kami sudah berada di atas motor matic yang melaju membelah jalan ibu kota. Di antara kendaraan lainnya. Angin malam terasa segar meniup wajah. Mengibarkan hijab simple yang kupakai.
Lampu-lampu berkelip cantik dengan semarak menghias jalan protokol yang kami lewati. Muda-mudi kulihat berpasang-pasangan naik motor melaju di kiri kanan kami. Malam minggu yang cerah.
Henry sengaja membawa motor berputar-putar kota. Mungkin, biar isterinya yang sudah lama tidak naik motor ini puas.
***
"Mau jajan apa?" Henry menepuk-nepuk tanganku yang menempel di perutnya.
Motor berhenti di depan deretan lapak pedagang jajanan yang ada di halaman sebuah mart. Para pedagang itu hanya berjualan dari sore hingga malam. Kebanyak menjual gorengan.
"Gak ada kacang rebus?" Leherku memanjang mencari-cari. Kami berdua masih duduk di atas jok motor.
"Kamu ngidam, Yang?" Henry menoleh ke belakang. Berusaha melihat wajahku.
Ngidam? Masa sih?
***
Henry merogoh gawai dari saku jaket bombernya. Menggeser-geser layar dengan jempol kanan.
"Mau nelpon siapa?"
"Nyuruh mereka nyari kacang rebus."
Mereka siapa? Anak buah Beno?
"Ih, gak usah nelpon mereka! Nanti pada datang. Aku gak mau," protesku.
"Tapi dari tadi kita sudah keliling nyari. Gak ada. Siapa tau mereka bisa bantu nyari."
Aku mendengkus kesal.
"Kalau gak ada gak papa. Kan banyak jajanan lain," ujarku.
"Entar anak kita ngeces kalau gak kesampaian ... auwuch!" Henry menjerit kecil. Pinggangnya kucubit.
"Siapa juga yang ngidam? Aku gak ngidam, Sayaaang," sahutku gemas.
Please deh, Henry ... jangan merusak suasana hatiku dengan memanggil pasukan Beno.
****
__ADS_1