
"Kita sering mencari kerang. Memunguti bintang-bintang laut yang terdampar di pantai. Dan kamu ... sangat menyukai matahari yang terbenam," jawabnya lancar.
Mataku melebar. Matahari terbenam?
"Kamu sangat menyukai warna langit saat senja hari," ulangnya. Ia berhenti di gundukan pasir. Tangannya yang memegang ranting mengorek-ngorek gundukan pasir itu.
"Tobi ...."
"Hum?"
"Berapa umurmu sekarang?"
Ia menggaruk-garuk kepala dengan ekspresi lucu.
"Kau lupa umurmu?"
"Aku ingin seumuran denganmu."
"Tidak mungkin. Wajahmu terlalu polos. Kamu tidak sekolah?"
Ia menggeleng. "Kata Betty sia-sia aku sekolah. Bodoh tetap saja bodoh," ucapnya dengan wajah kesal.
"Melihat wajahmu paling sekarang umurmu lima belas."
"Mungkin."
"Tobi ...."
"Hum?"
"Kau tahu kecelakaan yang menimpaku. Dimana kamu waktu itu?"
"Aku ... waktu itu ...." Dia tampak mengingat-ingat. Matanya menerawang.
"Seperti apa kondisiku saat itu Tobi?" tanyaku lagi.
"Kamu tak sadarkan diri."
"Hmm ...."
"Kepala dan kakimu terluka. Lalu dibawa ke klinik di kota."
"Hmm ... lalu?"
"Mungkin kepalamu membentur sesuatu waktu berenang di laut. Hingga dahimu harus dijahit."
__ADS_1
"Berenang di laut?" Alisku bertaut menatapnya.
Apa yang Tobi bicarakan?
Tobias mengangguk yakin.
"Jadi luka yang kudapat karena aku berenang di laut?"
"kenapa? Wajahmu tiba-tiba memerah," ujarnya polos.
"Mana yang benar Tobi? Aku kecelakaaan karena mengemudi mobil atau ... karena berenang di laut?"
Wajah gelap Tobias tiba-tiba pias.
"Astaga ... aku lupa menyerahkan kunci villa pada penjaga." Tobias menepuk dahinya. "Maaf Selena, aku harus buru-buru. Kalau tidak nanti Om Teo nanti marah padaku."
"Siapa Om Teo?"
"Dia orang yang mengelola villa milik Daddymu. Kemarin aku membersihkan satu villa yang kosong, tapi lupa mengembalikan kunci padanya."
"Bisa nanti saja? Masih banyak yang ingin kutanyakan padamu."
"Tidak bisa Selena. Om Teo bisa membunuhku. Dia sangat pemarah." Tobias berlari seraya melambaikan tangan.
Aku harus mencari tahu yang sebenarnya! Sepertinya Tobias bisa menjadi sumber informasiku. Dia lebih polos dari yang lain. Aku harus bisa membuat Tobias buka mulut.
Kalaupun mereka bohong tentang asal usulku ... apa untungnya untuk mereka?
Saat ini ingatanku memang hilang. Tapi bukan berarti aku bodoh. Aku tidak bisa diam saja dengan kejanggalan-kejanggalan yang kutemukan.
Kedua tungkaiku terus menyusuri pantai. Matahari semakin turun ke peraduan. Sebentar lagi senja akan datang. Kata Tobi aku suka warna langit senja.
Di depan ada sebuah dermaga. Beberapa kapal tampak bersandar di sana. Aku terus saja berjalan hingga kakiku berada di dermaga itu. Ada tiga buah kapal berukuran cukup besar. Ketiganya bertulis Samuel dengan huruf kapital. Mirip rumah-rumah terapung yang bergoyang-goyang dipermainkan oleh ombak laut.
"Hoaaaaah ...." Tiba-tiba ada suara nyaring.
"Aaargh!!" Aku berteriak kaget karena ada kaki yang menyembul dari jendela kapal.
"Siapa di situ?" Sekarang satu kepala pelontos menyembul di jendela itu.
"Maaf, saya cuma kaget."
Pria berkepala pelontos yang ada di jendela kemudian mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki.
"Kamu siapa?" tanyanya dengan wajah sembab khas orang bangun dari tidur.
__ADS_1
Dia tidak tahu siapa aku. Kalau dia salah satu pekerja Daddy pasti dia mengenaliku.
"Om tidak kenal saya?" tanyaku balik.
"Apa aku harus mengenalmu?" Alisnya bertaut.
Aku akan bohong padanya.
"Saya pekerja baru di rumah Mister Sam," sahutku asal.
Pria berkepala pelontos itu mengulum senyum. "Pintar sekali Mister Sam mencari pekerja yang cantik. Mungkin dia ingin menjadikan kamu isteri muda. Supaya bisa punya anak lagi," ujarnya kemudian tertawa terbahak.
Aku meringis. Berusaha mencerna kata-katanya.
"Nama Om siapa?" tanyaku mendekat ke arah kapal.
"Aku Rudi. Yang mengemudikan kapal sewaan ini. Baru tadi siang sampai di sini. Kapal ini kemarin disewakan selama satu minggu," jelasnya sambil menopangkan kedua tangan di bingkai jendela kapal.
Hmm ... mataku menyipit. Dia baru datang tadi siang. Kemungkinan dia tidak tahu apa-apa tentang hal yang baru terjadi di sini.
"Sudah berapa lama Om bekerja di tempat ini?"
"Kamu tidak usah khawatir. Mister Sam orang baik. Apalagi pada wanita secantik kamu," sahutnya dengan mata nakal.
Menyebalkan!
"Terima kasih Om Rudi. Saya harus kembali ke rumah." Aku menyerah bicara padanya.
"Namamu siapa?"
Aku pura-pura tidak mendengar pertanyaannya.
"Kau tak berminat naik ke kapal ini barang sebentar?" teriaknya saat aku telah menjauh.
Hiih amit-amit.
Aku berlari kecil keluar dari dermaga. Ingin segera menjauh dari makhluk berkepala pelontos itu. Langit mulai berwarna kemerahan. Kusempatkan duduk di atas sebuah bangkai pohon yang terongok di tepi pantai.
Semburat merah dengan kilau keemasan memantul di atas laut. Kurasakan gelenyar indah yang memenuhi ruang hati saat memandangnya. Seperti ada memori bahagia yang tersimpan di otakku. Yah ... Tobias benar aku sangat menyukai warna langit senja.
Bersambung
Jangan lupa like n komen ya kuy!
Vote seiklasnya
__ADS_1