Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
73. Akhir masa SMA


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat,  Kini aku sudah duduk di kelas 12. Tahun terakhirku di SMA ini. Tapi sayangnya di kelas 12 aku tidak sekelas lagi dengan Sarah. Aku sedikit gamang, karena harus berpisah kelas dengan Sarah. 


Dion pun tidak sekelas lagi dengan Rey. Tapi ia malah sekelas dengan Tiara. Tapi tidak masalah, karena aku dan Tiara sudah jadi teman baik. Meskipun terkadang aku tidak bisa menepis rasa cemburu ketika Tiara berdekatan dengan Dion. 


Meski tidak sekelas dengan Sarah, jam istirahat aku tetap bersamanya. Tak hanya berdua tapi juga Dion, Rey dan Tiara. Entah sejak kapan kami sering menghabiskan waktu bersama. 


Seperti siang ini, kami belajar bersama di taman belakang membahas soal untuk persiapan ujian try out minggu depan. 


"Udah paham kan,?"tanya Dion setelah menjelaskan soalan matematika padaku.


Aku menyeringai, menggaruk kepala yang tidak gatal. 


"IQ kamu berapa sih,masak soalan mudah itu aja nggak paham," sambar Rey.


Aku merenggut, melemparkan tatapan marah padanya. 


" Lo mau ngatain cewek gue bodoh gitu," Dion melempar karet penghapus pada Rey.


"Udah, coba aku yang bantu jelasin," Tiara menimpali. Ia mengambil kertas baru dan kemudian menjelaskan kembali menurut versinya.


Penjelasan Tiara sederhana dan mudah dimengerti. Berbeda dengan cara Dion yang berbelit.


"Gimana,?Paham,?"tanya Tiara.


"Kayaknya aku ngerti kalau kamu yang jelasin deh,"ujarku.


"Kalau gitu, coba kerjakan soal ini,?" 


Tiara membuat soal serupa dan menyuruhku mengerjakannya. Aku melirik semua orang sebelum aku mengerjakannya.


"Benar nggak ,?" tanyaku setelah menyelesaikannya.


Tiara mengacungkan jempolnya. Aku bersorak senang. Dion hanya tersenyum kecut.


"Lanjutin besok lagi, kepala gue mulai panas nih," ujar Rey.


" Cih, baru juga sejam, bilang aja mau main." celetuk Sarah.


" Suka - suka gue dong, masa muda itu nggak datang dua kali, jadi harus dinikmati sebaik mungkin,"


" Ya ya ya,,,lo mah enak orang kaya, warisan orang tua lo banyak. Jadi meskipun lo cuma main - main aja hidup lo udah terjamin. Beda sama kita berjuang untuk sukses,"ujar Sarah.


"Maksud lo apa,? Meskipun gue banyak main, nilai gue tetap bagus, otak gue udah encer dari sononya,"balas Rey.


Aku menghela nafas, jika dibiarkan maka mereka akan semakin menjadi - jadi, dan ujung - ujungnya berantem.


" Kalian kenapa sih, nggak capek apa berantem terus," ucapku.

__ADS_1


Rey mendengus, ia mengemasi buku dan alat tulis ke dalam tas. Lalu bangkit dari duduk sambil menyampirkan tas ke bahunya.


" Gue cabut dulu bro, lanjutin aja sama para dayang lo," Rey menepuk pundak Dion.


Dion yang geram, menendang bokong Rey. Tapi Rey lebih dulu mengelak sambil tertawa. Kemudian ia pergi meninggalkan taman.


" Gimana nih, masih mau lanjut,?" tanyaku.


" Udahan aja, aku juga capek,"sahut Tiara sambil memijit tengkuknya.


Dion mengangkat bahunya, sementara Sarah tidak merespon.


" Ya udah lanjutin besok aja, suasana mulai nggak kondusif," ujarku mulai mengemasi kertas soal dan alat tulis.


Tiara pamit pergi, kemudian disusul oleh Sarah. Kini tinggal aku dan Dion yang masih disini.


"Kamu juga mau langsung pulang,?" tanya Dion.


" Iya, aku harus menagih uang kueku, terus ke pasar beli bahan." ucapku memelas.


Dion tersenyum lembut sembari mengelus pucuk kepalaku. 


Tak hanya giat belajar, aku juga giat mencari uang. Banyak biaya yang dibutuhkan untuk kelulusan nanti. Siapa yang akan aku harapkan selain diriku sendiri.


"Ya udah yuk, aku antar pulang,"


...----------------...


"Nggak apa - apa, soalnya memang sulit. Nilaiku aja pas - passan,"ujar Dion menyemangatiku.


Aku membuang nafas kasar, kepalaku terasa berat. Akhir - akhir ini aku kebingungan untuk membagi waktu antara belajar dan mencari uang. Keduanya sama - sama penting. 


"Nanti pulang sekolah kita belajar lagi, aku selalu siap membantu kamu,"


Aku tersenyum getir. Tak hanya di sekolah, di rumah kadang aku sering belajar bersama dengan Sifa. Tapi emang dasar punya otak lemot, aku harus bagaimana lagi. Mungkin yang bisa kulakukan hanya memperbanyak Doa.


Hari yang berat dan kadang terasa membosankan itu berlalu begitu cepat. Aku berjuang mati - matian untuk bisa lulus dengan nilai memuaskan. Dion dan temanku yang lain selalu mensupport dengan cara mereka sendiri - sendiri. 


Dulu aku ingin sekali secepatnya bisa menamatkan pendidikan di bangku SMA. Aku ingin cepat bisa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Tapi sekarang, rasanya waktu tiga tahun terasa kurang untuk bisa menikmati masa putih abu - abu. Ada kesedihan yang mendalam yang tidak bisa dijelaskan saat menyadari waktuku tinggal hitungan hari lagi di sekolah ini. 


Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan, setelah itu aku akan menanggalkan status sebagai pelajar dan memulai hari baru.


Di saat perpisahan sudah di depan mata disitulah kita merasa waktu yang sudah dilalui begitu beharga, saat itu juga kita merasa sedih untuk berpisah dengan teman - teman yang semakin kesini semakin akrab. Kenapa nggak dari dulu ya kayak gini? Terkadang pertanyaan itu muncul di kepalaku. Teman - temanku terasa begitu ramah dan baik. Mereka terlihat seperti teman sejati.


Siang ini seperti biasa aku,Dion ,Rey, Sarah dan Tiara duduk di bangku taman. Bukan membahasa soal lagi,melainkan apa yang akan dilakukan setelah ini. Kami bercerita sambil sesekali bercanda. 


"Tiara, lo mau lanjutin kuliah dimana,?"tanya Rey.

__ADS_1


"Aku maunya kuliah di luar negeri, tapi papa bilang kuliah disini aja, disini juga ada universitas keren,"jawab Tiara.


"Kamu Sarah,?"tanya Rey pada Sarah yang duduk di sebelahnya.


Yang ditanya hanya senyum malu - malu. Sarah tampak salah tingkah, ia menyelipkan anak rambut ke belakang daun telinganya.


"Woi, kok senyam-senyum. Kamu mau lanjut kuliah dimana,?" Sambar Dion.


Sarah melayangkan tatapan kesal pada Dion karena sudah meneriakinya.


"Kamu mau lanjut dimana Rey,?" Bukannya menjawab Sarah malah balik bertanya.


"Kenapa,? Mau lanjut di tempat yang sama ya?" goda Rey sambil mengerlingkan matanya.


Sarah mengulum senyum membuat kami keheranan dengan sikap mereka yang biasa selalu adu bacot saat bertemu.


"Cuma nanya kok," balas Sarah.


"Aku mau kuliah dimana ada kamunya disana,"ujar Rey.


Dion terbatuk, sementara aku dan Tiara saling pandang sambil menahan senyum.


" Bau - baunya ada yang lagi pedekate nih," celetuk Tiara.


Wajah Sarah merona. Rey hanya tersenyum simpul.


"Cie,,, benerin nih ,Sar," Aku menyikut lengan Sarah.


" Apaan sih, jadi serba salah ya sama kalian. Giliran kita berantem dibilangnya nggak capek apa berantem terus, giliran baik - baik dibilangin Pedekate," Sarah mendengus sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kok kamu kesal,nggak usah peduliin apa kata mereka, kita kan memang lagi pedekate," ucap Rey mencolek dagu Sarah.


Aku membekap mulutku dengan tangan, jika tidak tawaku pasti akan tersembur. Tingkah mereka benar - benar membuatku geli. Ah, apa dulu aku juga kayak gitu ya waktu pertama kali dekat dengan Dion. Mengingat masa itu aku melirik Dion. 


Dion tampak mengolok - olok Rey, dengan membuat ekspresi seakan mau muntah. Kini pikiranku tertuju padanya, ada rasa sedih yang menyeruak dalam hatiku jika teringat perkataan Dion tempo hari.


"Dea, aku mau kembali ke kotaku. Aku mau kuliah disana,"


Jika Dion melanjutkan kuliahnya di kota asalnya berarti kita akan LDR, apakah aku sanggup untuk menjalaninya ?.


Season 1, End....


...----------------...


Mampir juga ke karya teman - teman aku di bawah ini...


__ADS_1



__ADS_2