Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Peringatan!


Episode kali ini khusus dewasa. Di bawah 21 thn, mending balik pulang!


👇👇👇


Tanganku, juga tangan Roro, hampir menjangkau isi nampan. Lidah sudah mengecap membayangkan lezatnya jika masuk ke mulut.


"Stop!" Teriak Ayu.


Spontan aku dan Roro berhenti bergerak. Tangan kami melayang di udara.


"Apa lagi sih, Yu? Udang ditengah itu udah manggil-manggil."


Roro merengut kesal. Matanya memelototi seekor lobster berukuran besar yang ditata cantik pada bagian tengah nampan.


Aku pun batal mencomot paha ayam bakar yang ada di sudut. Aroma sambel dalam cobek mungil membuatku menelan liur. Perut sudah keroncongan. Tadi sore kami bertiga cuma makan mie instant tanpa nasi, karena persediaan beras habis. Maklum tanggal tua.


"Jarang-jarang kita dapat rezeki begini. Musti terima kasih sama Allah," ujar Ayu bijak.


"Pan yang ngasih makanan, Babang Siwon, Yu?" sahut Roro polos.


Pletak! Buku jari Ayu mendarat telak di atas ubun-ubun Roro.


"Awuh ... main jitak mulu!" teriak gadis berkaca mata itu nyaring.


"Babang Siwon itu cuman perantara. Rezekinya tetap dari Allah," omel Ayu.


"Iya ... iya ... anak kecil juga tau itu mah."


Aku hanya jadi penonton. Senyum-senyum membiarkan mereka puas berdebat. Bagiku tingkah seru kedua gadis itu sebuah hiburan tersendiri.


"Aku yang baca doa." Ayu menengadahkan kedua telapak tangan. "Bismillah ...."


Kami terpaksa menahan diri. Ikut menadahkan tangan. Doa dibacakan Ayu dengan khusuk diiringi kata amin dari aku dan Roro. Acara makan malam pun berlangsung dengan nikmat.


"Beuh ... yang baca do'a. Inget sama Roro, Yu! Kepitingnya jangan dihabisin!"


Mereka ribut lagi.


***


Sejak subuh, air langit telah berderai menghunjam bumi. Dari tirai jendela yang tersingkap, kulihat warna langit tampak kelabu. Pasukan awan hitam bergerak pelan di atas sana. Kadang cahaya kilat benderang disusul bunyi petir yang terdengar marah.


Sudah beberapa hari ini cuaca selalu dingin. Musim hujan telah datang.


Namun, bagi para pejuang rupiah seperti kami, cuaca bukanlah penghalang untuk mengais rezeki. Urusan perut tak bisa ditunda.


Sebuah rain coat yang mulai koyak di beberapa bagian terpaksa kukenakan. Rain coat milik Ayu dan Roro pun kondisinya tak lebih baik. Apa boleh buat. Pagi ini kami harus tetap berangkat ke penginapan. Toilet-toilet telah menunggu untuk dibersihkan.


Angin bertiup kencang, saat aku membuka pintu kamar. Di seberang sana, Henry berdiri dengan tatapan tajam ke arahku. Apa maksud tatapannya itu? Aku tak punya waktu untuk memikirkan.


Satu per satu. Aku dan dua sahabatku menuruni tangga. Siap menerobos derasnya air hujan. Melawan dinginnya angin.


"Anginnya kencang, Non. Kita musti pegangan ke Ayu biar gak kebawa angin!" kelakar Roro sambil memeluk Ayu dari belakang. Aku tergelak melihat.


"Ssstt ... Babang Siwon ke sini," bisik Ayu memberi kode dengan mata.

__ADS_1


"Mau ngapain dia?" gumamku, melihat ke arah pria itu.


Dari seberang jalan, sebuah payung yang mengembang bergerak mendekat. Sepasang kaki panjang telah berdiri di depanku. Mataku terangkat.


"Kemana, Non?" Pria bermata sipit itu menatapku lekat. Tangannya menggenggam gagang payung.


"Mau kerja," sahutku seraya melanjutkan langkah membuntuti Roro dan Ayu yang berjalan mendahului.


"Kamu gak usah kerja dulu!" Henry menjajari langkahku.


Aku tersenyum tipis, menoleh padanya. Pandangan kami terhalang oleh rintik air. "Aku harus kerja."


Tetesan hujan berjatuhan di atas kepalaku yang berlapis tudung rain coat.


"Kamu isteri aku. Aku gak mau kamu kerja." Henry memegangi tanganku.


Roro dan Ayu mempercepat langkah. Mereka meninggalkanku.


"Tungguin!" teriakku pada mereka berdua.


Cekalan tangan Henry berusaha kulepas. Tapi, pria itu malah memperkuat pegangannya.


"Aku tidak mau kamu sampai capek," lirihnya.


"Aku lebih suka kerja dari pada bengong di kosan," kusentak pegangannya.


"Tidak akan kubiarkan!"


"Lepasin!"


"Dengar, Henry Santoso! Foto-foto yang kamu perlihatkan tidak membuktikan apapun. Jadi, jangan coba mengatur hidupku!" Kudorong dadanya.


"Sadarlah, Ken. Percaya padaku!"


"Saat ini aku tidak bisa percaya pada siapapun. Berhenti membuatku merasa bodoh!"


"Ken ...." Tangannya sekarang melingkari bahuku.


Aku menoleh ke arah jalan. Roro dan Ayu sudah tidak kelihatan. Mereka sengaja meninggalkanku.


Payung dilempar Henry sembarang, hingga terbang terbawa angin. Tubuhku tiba-tiba dibopong paksa olehnya.


"Kamu mau apa?"


Pria itu tak peduli dengan perlawananku. Tubuhnya sendiri basah diguyur hujan.


Brak! Bunyi daun pintu yang dibanting.


Kami telah berada di dalam rumah yang sekarang ia tempati. Rain coatku dilepas, dengan tubuhku yang masih meronta memukul-mukulnya.


Aku tersudut, punggung menempel pada tembok. Terkungkung oleh kedua lengan Henry yang telah memegangi kedua tanganku. Wajah basah kuyupnya sangat dekat.


"Aku tidak suka dengan cara kamu!" Aku berteriak kesal di depan wajahnya.


"Kau pikir aku akan diam saja, hah?! Membiarkan isteriku membersihkan toilet kotor!" Matanya memerah.


"Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Aku harus bertahan hidup," lirihku dengan napas tersengal. kutelaah kedua manik mata di depan.

__ADS_1


"Ken! Aku suamimu. Kau bisa minta apa saja dariku. Tanpa harus bersusah payah."


Aku tersenyum getir. "Terserah kamu bicara apa. Andai kamu tahu. Apa yang kurasakan saat ini. Aku seperti tersesat di suatu tempat. Dalam kehidupan yang asing." Air mata meleleh.


"Aku tidak percaya siapapun. Termasuk kamu ... bahkan diriku sendiri. Semua menakutkan," ujarku lagi terisak.


Lengan itu menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya.


"Ken ... harusnya saat ini aku sudah bisa membawamu pulang. Bukan membiarkan kamu semakin tenggelam dalam duniamu sendiri. Tempatmu di sisiku, Ken. Selama ini kamu tak pernah jauh dariku. Aku tidak mau lagi kehilangan kamu."


Sebuah kecupan dibenamkan pada keningku.


"Aku takut ... aku takut jika ingatanku tak pernah kembali lagi," desisku.


"Itu tidak akan terjadi, Sayang. Kau harus lebih sering bersamaku. Agar aku bisa membantumu mengingat lagi. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?"


Tangan basahnya menyapu sisa air mataku.


"Tanya hatimu, Niken Amalia! Ingatanmu boleh belum kembali. Tapi, hatimu tak akan bisa bohong. Kamu mencintaiku," ujarnya percaya diri.


Glekh! Aku menelan ludah.


Benarkah begitu?


Matanya menatapku dalam. "Lihat mataku, Ken! Jangan bohongi hatimu! Kita saling membutuhkan."


Dia ... sangat mempesona. Aroma tubuhnya yang sangat dekat, lagi-lagi membuatku terhanyut. Mataku terpejam.


"Biarkan aku menyentuhmu!" Henry berbisik sangat dekat di telingaku.


Tubuhku seketika merinding. Dada berdebar.


"Kamu mau apa?" Kubuka lagi mata. Wajahnya sangat dekat, napas hangatnya sangat terasa.


"Membantumu mengingat kembali."


"Dengan cara apa?" Kedua tanganku meremas bajunya yang basah. Pria itu seakan tak mau melepaskanku.


"Melakukan apa yang biasa kita lakukan. Menikmati waktu bersama."


"Apa? Kamu jangan memanfaatkanku!" ujarku cemas. Sadar sedari tadi tak mampu melawan perlakuannya.


Henry tiba-tiba terkekeh. "Non, sebelum kamu yakin kalau aku suamimu. Aku tidak akan memaksamu bercinta denganku."


"Kamu sudah menakutiku." Kudorong tubuhnya kesal.


"Ikut aku!" Ia menarik tanganku.


Di luar hujan semakin deras. Deru angin terdengar kencang.


""""


Henry mendorongku masuk ke dalam kamar. Klik. Pintu kemudian dikunci.


"Duduklah, Non! Cuaca dingin seperti ini mengingatkan aku saat kita liburan di Turkey," ucapnya.


Henry melepas kaosnya yang basah di depanku. Tampaklah tubuh atletis dengan perut six pack yang membuat mata ini jengah.

__ADS_1


__ADS_2