
Sebelum beranjak tidur, Dea mengirim pesan pada Sifa bahwa dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.
Besok adalah awal hari barunya menjadi seorang karyawan. Ia tidak ingin membuat kesalahan di hari pertamanya. Dea sengaja tidur lebih awal supaya tidak bangun kesiangan, tidak lupa ia juga menyetel alarm.
Sementara di tempat berbeda, Dean tampak gelisah. Di dalam kamar kosnya ia duduk bersandar di dinding sambil mengisap rokok, pintu kamar ia biarkan terbuka.
Ponsel yang terletak di sampingnya duduk bergetar, Dean memutar kepala melihat siapa yang menghubunginya. Melihat nama mama Riska yang menghubungi pria itu mengabaikannya. Dean menghisap kembali rokoknya, lalu membuang puntung rokok keluar kamar begitu saja.
Setelah panggilan itu terputus barulah ia mengambil ponsel itu dan langsung menonaktifkannya. Pria yang bernama lengkap Dean Stefan itu bangkit dari duduk dan melangkah menuju ranjang, menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Aku tak butuh kalian lagi,"gumamnya seraya memejamkan mata.
Dean merupakan anak angkat di keluarganya. Dulu ia tinggal di panti asuhan sampai berumur 5 tahun. Sampai detik ini dia tidak tau siapa orang tua kandungnya. Menurut cerita ibu panti, ia dulu ditemukan di dalam kardus di depan panti saat masih bayi.
Belakangan ini mama angkatnya terjerat utang dengan seorang rentenir, dan menjadikan Dean sebagai tebusan hutangnya. Ia akan dijodohkan dengan anak rentenir yang mengalami cacat mental. Tentu saja Dean menolak, untuk itu ia memilih keluar dari rumah itu. Beruntung saat ia melamar di perusahaan asuransi ia langsung diterima. Tapi yang tidak disangka ia malah bertemu dengan gadis yang pernah di tolongnya. Siapa lagi kalau bukan Dea, sayangnya gadis itu tidak ingat bahwa dia pernah menolong gadis itu.
***
Pukul 5.00 pagi ,Alarm ponsel Dea berbunyi. Gadis yang terlelap di bawah selimut itu mengeliat. Dea segera bangkit dan mematikan Alarm, takut akan menganggu penghuni kost lain.
Gadis itu menjatuhkan kakinya ke lantai, ia menguap sambil menggaruk tengkuknya. Setelah nyawanya terkumpul semua, barulah ia menuju ke kamar mandi.
Pukul 7 Dea sudah rapi dengan kemeja putih dan celana kain bewarna hitam. Hanya itu pakaian formal yang ia punya. Dea mengikat rambutnya tinggi.
Saat ia keluar kamar, secara bersamaan pintu kamar di sebelahnya juga terbuka. Seorang wanita dengan pakaian tidur daster selutut tengah menyapu kamar kostnya. Dea tersenyum tipis saat wanita itu melihat ke arahnya. Maksud hati ingin mengabaikan ,tapi wanita itu lebih dulu menyapanya.
"Anak baru ya,?"tanya wanita itu berjalan ke arah Dea.
"Iya kak, baru pindah kemarin."jawab Dea sambil mengunci pintu kamar kosnya.
Wanita itu mematut penampilan Dea. Ia kemudian tersenyum dan mendudukan diri di sebuah bangku yang disediankan untuk tamu di depan kamar kost Dea.
"Kerja dimana dek,?" tanya wanita itu.
"Di Perusahaan asuransi kak,"
"Oh, yang dekap persimpangan itu ya,?"tanya wanita itu lagi.
Dea mengangguk, ia yang ingin segera pergi terpaksa mengurungkan niatnya. Sepertinya wanita ini akan bertanya banyak hal lagi.
"Umur kamu berapa,?Kayaknya masih kecil,"ujar Tari.
"18 kak,"jawab Dea singkat. Tanpa ada niat untuk balik bertanya.
"Oh, baru lulus SMA ya,, berarti kamu pintar dong bisa dapat kerja di perusahaan asuransi,"
__ADS_1
Dea hanya menyeringai, anggap saja ia memang pintar. Atau lebih tepatnya beruntung.
"Nama aku Tari,"wanita itu mengulurkan tangannya.
"Dea,"sahut Dea menjabat tangan wanita itu.
"Semoga betah ya kos disini,"ucap Tari kemudian bangkit dari duduknya.
Dea balas tersenyum. Ia tidak terlalu pandai berbasa - basi.
"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan - sungkan. Ketuk aja pintu kamar aku."
"Iya kak,"
Wanita bernama Tari itu berbalik dan masuk kembali ke kamarnya. Dea bernafas lega, ia melirik jam tangannya. Waktunya sudah terbuang sepuluh menit. Ia segera bergegas meninggalkan kost - kosan itu. Setidaknya butuh waktu setengah jam berjalan menuju kantor. Ia juga harus mencari sarapan terlebih dahulu.
Dea sampai di kantor sebelum pukul 8. Nampaknya kantor itu sudah buka, tapi belum ada karyawan yang tampak datang. Seorang satpam tampak berjaga di depan pintu kaca. Dea bingung akan melakukan apa. Dea memilih menunggu di luar, duduk di bangku di dekat pintu masuk.
Tak lama berselang Dean datang, senyum terukir di bibirnya melihat gadis itu sudah datang dan tengah melamun duduk di bangku.
Dean memarkir motornya di tempat khusus motor, ia lalu mendekati Dea dan duduk di sebelah gadis itu.
"Selamat pagi,"sapa Dean.
Dea tersentak dari lamunannya. Ia tak menyadari seseorang sudah duduk di sampingnya.
Dea tersenyum kikuk. Ia memperbaiki duduknya lebih tegap.
"Selamat pagi juga mas,"balas Dea.
Dean tertawa kecil.
"Jangan panggil mas, panggil nama saja. Nggak lupa kan sama nama saya,?"ujar Dean.
"Tapi.." Dea merasa tak enak, dari tampangnya saja pria yang duduk disebelahnya itu jelas lebih tua darinya.
"Saya nggak suka dituakan,,"ucap Dean terkekeh.
Dea mengangguk mengerti.
Satu persatu karyawan mulai berdatangan. Dan pagi itu diawali dengan briefing. Pak Bagas sebagai manajer memperkenalkan Dea dan Dean sebagai karyawan baru. Sepertinya dari empat orang yang interview kemarin hanya mereka berdua yang diterima.
"Kalian berdua akan ditempatkan pada bagian marketing,"ujar Pak bagas saat briefing dengan mereka berdua.
Bagi Dean itu bukanlah hal sulit, sebelumnya ia juga bekerja di bidang yang sama pada sebuah bank swasta. Tapi bagi Dea tentu hal baru, ia sama sekali tidak punya pengalaman di bidang itu.
__ADS_1
"Kalian akan melakukan pelatihan terlebih dahulu selama tiga hari untuk memperkenalkan produk jasa yang akan kita pasarkan," tutur Pak Bagas.
***
Selama masa pelatihan Dea banyak mendapatkan kesulitan, tapi ia beruntung karena Dean selalu membantu menjelaskannya dengan sabar. Ia dan Dean juga semakin akrab karena selama tiga hari kerap bersama.
" Kalau gini, mending aku jadi OG aja,"keluh Dea saat mereka sedang makan siang bersama di hari terakhir masa pelatihannya.
"Kayaknya memang itu lebih cocok,"sahut Dean.
Dea melempar tatapan kesal.
"Kok bisa tamatan SMA kayak kamu diterima ya,?" tanya Dean.
Dea hanya mengedikan bahunya. Ia sendiri juga tidak tau apa alasan pak Bagas menerimanya.
"Apa kamu saudara Paka Bagas,?"tebak Dean.
"Tidak juga,"
"Lalu apa alasan Pak Bagas menerima kamu, apa karena kamu cantik,"ujar Dean.
Menyadari apa yang sudah diucapkannya Dean jadi salah tingkah. Begitu pun dengan Dea, wajahnya merona. Dean yang terang - terangan memujinya membuatnya malu.
Keheningan panjang terjadi. Tak satupun yang mau mulai bicara sampai mereka selesai makan.
"Kamu masih belum ingat ya kapan kita pernah bertemu sebelumnya,?"tanya Dean memecah keheningan di antara mereka.
"Entahlah, aku tidak terlalu mengingatnya,"
"Ck . Dasar,"
Dean mendengus kesal. Dea menyeringai memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
"Apa kau masih sering ditinggal pacar mu di tepi jalan seperti waktu itu,? Gimana ya kalau waktu itu aku tidak memberimu tumpangan, kakimu pasti akan sakit berjalan sekian KM,"
Dea mendelik, sekarang ia sudah ingat kapan ia pernah bertemu dengan Dean. Ternyata pria itu tidak berbohong, mereka memang pernah bertemu sebelumnya.
Bersambung...
...----------------...
Tinggalkan jejak say...
Mampir juga ke karya teman otor yang satu ini..
__ADS_1