
Season 2..
Hai semua.. mulai bab ini aku akan menggunakan sudut pandang orang ke tiga. Jadi ceritanya akan lebih luas.
Selamat membaca,!!
...----------------...
Beberapa bulan kemudian…
Adzan subuh telah berlalu. Matahari sudah sepenggalan naik. Tapi seorang gadis masih saja tidur tengkurap di atas ranjangnya, bahkan suara dengkurannya masih terdengar. Selimut teronggok begitu saja di atas lantai, entah kapan kain itu terjatuh. Jam di dinding menunjukan pukul 9 lewat.
Suara alarm yang disetel di ponselnya tidak membuat gadis itu mengerjapkan matanya.
Sejak lulus sekolah, Dea kerap bangun kesiangan. Kalau neneknya belum mengomel ia tidak akan segera bangun. Seperti pagi ini, ketika semua orang sudah sibuk dengan rutinitasnya ia masih saja tidur nyenyak.
" Deaaaaa,"
Suara teriakan dan ketukan pintu terdengar tingkah bertingkah dengan dengkuran halusnya. Ia hanya bergumam tak jelas, tapi sama sekali tidak membuka matanya.
" Deaaaa,, dasar anak tak tau diri. Bisa - bisanya jam segini masih tidur,"
Nenek terlihat marah - marah di depan pintu sambil terus menggedor pintu kamar Dea.
" Astaga…"
Karena yang dibangunkan tak kunjung menyahut, wanita tua itu pergi meninggalkan kamar sang cucu sambil mengomel sepanjang jalan.
" Dia belum bangun nek,?" tanya Sifa yang sedang menyantap sarapannya di meja makan.
Nenek tak menjawab, ia menggerutu sambil membereskan piring kotor.
Tak lama berselang, Dea muncul di dapur. Ia berjalan malas menuju meja makan mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Baru saja ia akan mengangkat gelas hendak meneguk air, tiba - tiba nenek menyambar gelas dari tanganya.
" Minum air keran saja, kerjaanmu hanya malas - malasan di rumah. Kau pikir air ini gratis," gerutu Nenek.
Dea mendengus kesal, ia memutar malas bola matanya. Sementara Sifa diam - diam beranjak dari meja makan.
"Pagi - pagi udah marah,"sahut Dea.
Ia menghentakan kakinya ke lantai dan berlalu ke kamar mandi. Dea membanting pintu kamar mandi meluapkan rasa kesalnya.
Sebenarnya ia tidak ingin seperti ini, semua tidak berjalan sesuai rencananya. Lulus dengan nilai pas - pasan membuatnya susah mendapatkan pekerjaan. Dan akhir - akhir ini kue nya mulai tak laku, sehingga ia memutuskan untuk berhenti berjualan.
Terlepas dari itu semua, yang membuatnya kehilangan semangat karena harus berpisah dengan Dion. Sudah dua bulan mereka tak bertemu. Dion yang sedang sibuk dengan masa ospeknya di kampus membuat pemuda itu jarang menghubungi sang pacar.
Seperti ada yang hilang dari hidup Dea, ia yang terbiasa bertemu dengan Dion hampir setiap hari kini harus dihadapkan dengan hubungan jarak jauh. Ia masih belum terbiasa. Selama ini ia terlalu bergantung pada Dion, jadi saat Dion tak ada disisinya Dea merasa kehilangan. Baginya Dion itu segalanya. Seperti malaikat yang selalu tau apa mau dan inginnya. Yang selalu membantu dan meringankan bebannya.
" Nggak ke kampus,?" tanya Dea saat melihat Sifa yang masih duduk santai di sofa tamu.
__ADS_1
"Kuliah siang,?"jawab Sifa tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel digenggamannya.
"Hem,"
Dea memposisikan diri duduk disebelah Sifa, sesaat ia melamun memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Jujur ia juga mulai bosan hanya di rumah saja. Terlebih harus mendengar omelan nenek yang tiada putus - putusnya dari pagi sampai malam.
"Aku mulai bosan ,Fa,"keluh Dea.
"Makanya cari kerja, biar nggak di rumah aja,"jawab Sifa.
"Nyari dimana lagi,? Aku sudah masukin lamaran dimana - mana, tapi nggak satupun yang menghubungi kembali,"
Sifa mengantongi ponselnya lalu memutar badan menghadap pada Dea.
"Kamu itu kurang sungguh - sungguh, memang sudah berapa banyak lamaran yang kamu ajukan,?"
Dea mengacungkan tiga jarinya di depan wajah Sifa. Melihat itu Sifa menggeleng pelan sambil mendesis.
"Baru tiga Dea, kamu udah mengeluh dan putus asa," ujar Sifa.
"Bukannya begitu, lowongan kerja itu banyak, tapi yang buat tamatan SMA itu susah nyarinya. Kebanyakan mereka minta minimal D3," ujar Dea.
" Lah, kamu kan S3, lebih tinggi kan,"jawab Sifa meledek.
Dea mendengus kesal. Ia melayangkan tatapan tajam pada sepupunya itu.
"Kamu beruntung dapat beasiswa untuk kuliah, masa depan kamu sudah jelas. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi," ucap Dea lirih.
"Meski aku kuliah, belum tentu juga aku akan sukses. Kamu jangan pesimis gitu dong, coba lagi, kita nggak tau usaha keberapa yang membuahkan hasil kan," Sifa mencoba memberi nasehat pada Dea.
Dea membuang nafas berat, ia menyandarkan punggung dengan tampang penuh keputusasaan.
***
Waktu terus bergulir, Dea sudah banyak membuang waktunya dengan sia - sia. Tidak ada hal yang berarti yang bisa dilakukannya. Kemarin ia kembali memulai membuat kue. Dea mencoba membangkitkan semangatnya yang sempat tenggelam.
Sore ini ketika tengah sibuk membuat adonan donat, ponsel yang ia selipkan di apronya bergetar. Dea merogoh benda itu dengan tangan kiri. Senyum terbingkai di wajahnya melihat nama yang tertera di layar ponsel. Buru - buru Dea menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan itu.
" Halo,"sapa Dea.
"Hai,lagi apa,?"sahut suara diseberang sana.
"Lagi bikin adonan donat,kamu,?"
"Lagi mikirin kamu,"
"Ck, gombal. Kenapa baru nelpon sekarang," seketika nada bicara Dea berubah dingin dan ketus.
"Aku lagi sibuk sayang. Jangan marah gitu dong,"
__ADS_1
Dea menghentikan pergerakan tangannya menguleni adonan. Ia menatap lurus kedepan.
"Sesibuk apa sih, sampai buat ngirim pesan aja nggak sempat,"ketus Dea.
Tak ada sahutan diseberang sana.
"Dion,"sentak Dea marah.
"Aku minta maaf, aku nggak bermaksud begitu," jawab Dion.
"Ya udah, aku juga lagi sibuk. Nelponnya nanti aja,"sahut Dea.
Ia buru - buru mematikan panggilan itu dan meletakkan dengan kasar ponsel di atas meja. Matanya berlinang, mendengar suara Dion membuatnya tak kuasa menahan rindu.
Dea menengadahkan kepalanya supaya air matanya tak tumpah. Hubungan jarak jauh ini sungguh menyiksanya.
Sementara di tempat berbeda, Dion termangu menatap layar ponselnya yang sudah menggelap. Ia juga merasakan hal yang sama, yaitu rindu.
" Maaf Dea, tak hanya kamu, aku juga tersiksa di sini,"gumamnya.
Suara deheman seseorang membuat Dion tersentak dari lamunannya.
" Kenapa,?" tanya seorang gadis yang baru saja mendudukan diri di depannya.
Dion tersenyum hambar, ia menggeleng lemah. Gadis itu balas tersenyum.
" Ya udah, pulang yuk,"ajak gadis itu kembali berdiri.
Dion mengangguk, ia menyambar tasnya dan menyampirkan di punggung.
"Tapi aku mau singgah dulu ke kantor pos, nggak apa - apa kan,?"tanya Dion.
Gadis itu tampak berpikir, kemudian ia mengangguk.
Kembali pada Dea, setelah menerima telepon dari Dion ia tak melanjutkan pekerjaannya. Gadis manis itu malah beranjak ke kamar. Di dalam kamar ia mulai menangis. Matanya tertuju pada pigura kecil di atas nakas yang memperlihatkan fotonya dan Dion. Tangan Dea meraih pigura itu, menatapnya sesaat kemudian meletakkannya kembali.
Dea mulai tenggelam dengan pikirannya. Ia tidak bisa jika terus seperti ini. Berbagai pikiran buruk mulai menghantuinya. Bagaimana kalau Dion mempunyai gadis lain di sana.
"Sepertinya aku yang akan kesana,"gumam Dea.
Ia lalu mengambil ponsel dan mulai mencari lowongan pekerjaan di kota tempat Dion berada.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak, karena dukungan kalian sangat berarti untuk kelangsungan novel ini..
Selagi nunggu up, boleh mampir ke karya teman author di bawah ini...
__ADS_1