Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
60. Gelagat aneh Rey.


__ADS_3

Hening mencekam. Tiara tidak menyahut. Keningnya mulai dipenuhi bulir - bulir keringat pertanda ia sedang dilanda rasa takut.


" Kok diam aja,?" 


Tiara terlonjak kaget ketika aku kembali bersuara. Ia berusaha terus menghindari tatapanku.


" Tiara,"


" Hah, ya,? "


" Ada hubungan apa kamu sama cowok itu,?" aku kembali bertanya dengan mata tak lepas menatap Tiara dalam - dalam.


" Oh, itu. Aku...aku, kita cuma teman. Kamu tau dari mana aku kenal dengannya,?" ia balik bertanya.


Aku menunjuk wajahku.


" Ini, semua ini karena dia. Kemarin aku melihat dia masuk ke mobil kamu, lalu aku membuntutinya" jawabku.


Tiara mendelik, ia terlihat semakin panik.


" Bisa diceritakan bagaimana kamu bisa berteman dengan orang seperti dia. Bukannya kamu tipe orang yang suka pilih - pilih teman."


" Jadi, kamu kesini cuma mau menanyakan itu,?" Tiara berusaha tampak tenang.


Aku membuang nafas berat. Aku tahu dia sedang mencoba menutupi sesuatu yang sudah tercium olehku.


" Tiara, lebih baik kamu jujur saja. Daripada aku yang cari tahu sendiri. Tidak mungkin kan kamu hanya kebetulan kenal juga dengannya. Tadi aku juga dengar dari ART kamu, katanya kamu ingin pindah sekolah,? Kenapa?" tanyaku mengintimidasi.


Tiara semakin terpojok. Ia tampak kesusahan menemukan alasan yang tepat. 


" Kok diam, ? Apa alasan kamu mau pindah sekolah. Bukannya nanggung ya, bentar lagi ujian kenaikan kelas," 


Tiara menghela nafas, wajahnya semakin pucat. Tak sedetikpun aku alihkan pandanganku darinya.


" A-ku.." Mata Tiara mulai berkaca - kaca. 


Sepertinya aku berhasil meruntuhkan pertahanannya. Beberapa detik kemudian ia mulai menangis. 


" Kenapa menangis,? Apa aku salah ucap atau kau menangis karena suatu hal,?" 


Aku berusaha tidak terpancing dengan tangisnya. Ku singkirkan rasa kasihan yang tiba - tiba menyeruak. 


" Kamu menangis kayak gini, semakin membuat dugaanku tentangmu benar," 


" Dion," lirihnya.


" Ya," sahutku.


" Aku ingin pindah sekolah karena dia terus menerorku, dia terus memerasku. Aku tidak tahan lagi, aku merasa terancam," ujar Tiara sambil terisak.


" Dia siapa,?" keningku berkerut.


" Gilang, cowok dalam video itu, cowok yang kamu lihat kemarin," 


Apa yang sedang Tiara coba katakan. Apa dia sedang membuat skenario, supaya aku tidak beranggapan buruk padanya.

__ADS_1


" Aku tidak mengerti maksudmu. Satu hal yang ingin kutanyakan, Apa kamu otak dari kasus Dea itu,?" tanyaku penuh penekanan.


Bukannya menjawab, tangisnya malah semakin menjadi - jadi. Aku semakin geram dibuatnya. Aku mencengkram erat bahu Tiara.


"Jawab Tia, apa kamu yang meminta si brengsek itu untuk melecehkan Dea,?" bentakku marah sembari mengguncang badannya.


Ia menggeleng kepalanya pelan. 


 " Bukan aku, aku tidak ada sangkut pautnya dengan itu," jawabnya dengan suara bergetar.


Aku melepaskan cengkraman dari bahunya. Kepalaku terasa pusing, sesaat aku memijit pelipis untuk merilekskan pikiran. Aku harus buat dia mengaku apapun caranya.


" Buat apa kamu mengelak Tiara, semua sudah jelas. Kamu jangan coba - coba untuk membodohiku," sentakku marah.


" Aku berani sumpah, Dion. Aku tidak terlibat." ujarnya keukeuh.


" Lalu, apa alasannya meneror kamu,?" aku semakin murka.


Tiara semakin terisak, tak tahan melihatnya aku mengambil tisu di atas meja lalu menyodorkan padanya. Percuma mengajaknya bicara saat seperti ini. Aku memilih untuk duduk sejenak di kursi santai dekat jendela. Mataku menatap keluar, langit tampak begitu cerah. 


Setelah sekian lama, Tiara lebih tenang. Tidak terdengar lagi isak tangisnya. Aku memutar kepalaku menghadap pada Tiara. Gadis itu tengah duduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk.


" Aku benar - benar tidak ada hubungannya dengan kasus video itu." sekali lagi Tiara membantah tuduhan ku.


Aku menghela nafas panjang. Kemudian bangkit dari duduk, memasukan tangan ke saku celana dan menghampirinya.


" Kalau kamu tidak ada hubungan dengan kasus itu, lalu kenapa kamu bisa berhubungan dengan cowok itu. Itu bukan diri kamu yang berteman dengan orang seperti dia," 


" Aku akan ceritakan,  tapi setelah itu kamu harus janji untuk menolongku dari ancaman dan teror si Gilang," ujar Tiara memohon.


...----------------...


DEA


Dari semalam Dion tidak menghubungiku. Pagi ini aku juga tidak melihatnya. Jam istirahat pun dia tidak datang ke kelasku seperti biasa. 


" Rey," aku memanggil Rey yang sedang berjalan menuju lapangan basket.


Ia menoleh, aku berlari menghampirinya.


" Dion mana,?" tanyaku dengan nafas tersengal.


" Dia nggak masuk," jawab Rey.


" Nggak masuk, ? Kenapa,? Dion sakit,?" 


Rey menggaruk kepalanya, wajahnya terlihat sedang kebingungan.


" Tapi nggak parah kok, palingan tu anak emang lagi malas pergi sekolah," 


Kenapa Dion tidak mengabariku kalau dia sakit. Tapi tadi pagi aku melihat motornya di parkiran. Atau aku hanya salah lihat.


" Oh yaudah, nanti pulang sekolah aku mau ke rumah kamu. Bareng ya," kataku.


" Hah,?" 

__ADS_1


Rey kembali menggaruk kepalanya. 


" Gimana ya, nanti pulang sekolah aku mau latihan futsal. " ujarnya merasa tidak enak.


" Oh, nggak apa - apa. Aku pergi sendiri aja." jawabku.


Begitu aku akan pergi, Rey mencekal tanganku. Sontak aku menoleh menatap heran padanya.


" Hemm,, Dion baik - baik saja. Aku rasa kamu tidak perlu ke rumah," 


Ada yang aneh dari gelagat Rey. Dia tampak seperti menyembunyikan sesuatu.


" Gitu ya. Nanti aku coba telpon dia, soalnya dari semalam dia nggak menghubungiku sama sekali. Pesanku juga belum dibacanya." 


Rey mengangguk - angguk sambil tersenyum kaku.  Sikapnya benar - benar mencurigakan.


Aku rasa latihan futsal hanya alasan Rey supaya aku tidak ke rumahnya. 


Puang sekolah aku membuntuti Rey, memastikan apa ia latihan Futsal atau tidak. Tapi sayangnya dugaanku salah. Ia benar - benar latihan futsal.


" Apa aku pergi aja ya ke rumah Rey."


Setelah memikirkannya, aku memutuskan untuk pergi saja ke rumah Rey. Aku penasaran dengan keadaan Dion. Bagaimana kalau dia sakit seperti waktu itu. 


Taksi mengantarkanku ke kediaman Rey. Setelah turun dari taksi aku langsung menuju gerbang dan menekan bel. 


" Nyari siapa dek,?" tanya satpam yang membukakan gerbang untukku.


" Dion nya ada pak,?" 


" Belum pulang dek," jawab satpam.


" Belum pulang dari mana pak,?" 


Satpam itu keheranan dengan pertanyaanku.


" Ya dari sekolah lah dek, Den Rey juga belum pulang. Paling bentar lagi juga sampai, kalau mau tunggu aja di dalam." 


Aku terperangah. Rey bilang Dion tidak masuk sekolah karena sakit. Apa Rey mencoba membohongiku.


" Bukannya Dion sakit ya pak," 


" Sakit,? Kening satpam itu berkerut. "  Mungkin maksud adek sakit karena habis dipukuli begitu?" 


" Di.. dipukuli gimana maksudnya pak,?" aku tersentak mendengar ucapan satpam itu.


Pantas saja sikap Rey mencurigakan, ternyata ini yang disembunyikannya dariku. Belum sempat satpam itu menjelaskan, suara motor Dion terdengar di belakang punggung.


Aku memutar badan, Dion tampak terkejut melihatku. Aku lebih terkejut lagi, melihat Dion dengan seragam sekolah. Berarti tadi pagi aku tidak salah lihat motornya ada di parkiran. 


Jadi dia bolos sekolah,?.


...----------------...


Tinggalkan jejak dan komentar...

__ADS_1


__ADS_2