
Flash Back Off
.
"Non Niken yang masak sarapan?" Buk Min menatap sungkan padaku.
"Iya Buk Min. Saya sudah biasa kok," ujarku meyakinkan.
"Saya bantu."
"Gak usah. Buk Min kerjakan yang lain aja."
Walau wajahnya terlihat risih, wanita itu akhirnya mengangguk. Meninggalkan aku sendiri berjibaku dengan alat dapur.
.
.
"Hmm ... wangi betul." Henry memeluk pinggangku dari belakang. Ia pulang sholat subuh dari mesjid yang berada di dekat rumah. Pria itu terlihat tampan dengan sarung dan peci di kepala. Rambutnya masih tampak basah.
"Yang mana yang kamu bilang wangi? Orangnya apa masakannya?" tanyaku tersenyum, sambil mengaduk nasi goreng di wajan.
"Orangnya dong." Ia mengendus rambutku.
"Iih ketauan bo' ong. Aku kan belum mandi. Weeek." Aku menengok padanya seraya menjulurkan lidah.
"Kamu mandi sama enggak susah bedainnya, tetap cantik." Masih saja dia merayu. Udah liat isterinya masih berantakan begini.
Gombal.
"Memangnya kenapa belum mandi? Sibuk banget, ya? Sini Abang yang lanjutin. Kamu mandi sana!" Henry menyenggol tubuhku dari depan kompor, hingga tubuhku bergeser dari tempat semula. Ia pun merebut spatula dari tanganku.
"Ganggu aja, bentar lagi selesai," sungutku gusar. Aku ingin membuat sarapan pagi untuknya dengan tanganku sendiri. Sengaja kuminta pada Buk Min, agar aku yang memasak. Tanpa dibantu olehnya.
"Buruan mandi sana! Habis sarapan aku ada kejutan buat kamu." Tangan Henry lincah memegang spatula. Sepertinya Henry memang lebih mahir dari pada aku soal memasak.
Aku memandang kecewa padanya. Henry tak menyadari reaksiku. Aku sedang mencoba menjadi isteri yang berguna. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk suamiku di rumah ini. Semuanya sudah dilakukan Buk, Min.
Kutinggalkan Henry di dapur. Melangkah lesu ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar kami. Memandangi wajahku yang masih jelek di depan kaca. Rambut digulung asal. Wajah berminyak. Sudah mirip emak-emak.
Sudah hampir seminggu kami pulang dari Kalimantan. Aku begini-begini saja tidak ada kemajuan. Isteri yang lelet melayani suami.
***
"Sini, Sayang!" Henry menggeser kursi di sampingnya untukku duduk.
Nasi goreng telah tertata rapi di atas meja makan lengkap dengan dua gelas teh hangat. Henry semakin membuat aku merasa tidak berarti.
"Kenapa muka ditekuk gitu? Lagi dapet, ya, Yang?"
Iih kok tau sih? Aku aja barusan taunya tadi, waktu mandi.
Aku diam. Duduk di sampingnya menghadapi sarapan.
"Kenapa, sih?"
"Enggak." Menggeleng.
Henry memutar kursiku ke arahnya. Memandangi wajahku. Mata kami beradu.
"Kalau ada apa-apa itu ngomong! Aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu. Jangan bikin aku bertanya-tanya! Hmm?" Wajahnya merunduk. Mengecup pipiku.
"Aku tadi mau bikin sarapan buat kamu. Tapi kamu sudah mengacaunya," sahutku dengan bibir mengerucut.
"Hmmmpft ...." Henry menahan senyum.
"Gak lucu!" Mataku malah berkaca meliat reaksinya. Entahlah ... aku sedang sensitif sepertinya.
Wajah Henry sontak menegang. Menyaksikan kaca-kaca di mataku. Ia menarik tenggkukku, membenamkan wajahku ke dadanya.
"Maaf, aku gak tau kalau kamu segitunya. Oke, mulai besok kamu yang bikin sarapan sampai selesai. Aku gak bakalan ganggu." Tangannya menggosok-gosok punggungku. Berkali-kali menghujani kecupan pada kepalaku.
"Aku dimaafin kan, Sayang?' Ia mengusap sudut mataku yang basah.
"Hu' um," sahutku seraya mengangguk.
"Senyum."
"Hmm." Kutarik kedua sudut bibir.
Kamipun mulai sarapan seperti biasa. Denting bunyi sendok dan garpu mewarnai ruang makan. Henry pandai merubah suasana hatiku. Aku yang tadi sendu jadi ceria lagi dengan banyolannya.
"Yang ... negara apa yang kamu paling pengen kunjungi?" tanya Henry sambil menyapu sudut bibirnya dengan tisue makan.
"Negara? Tempat di luar negeri?"
__ADS_1
"Hu' um." Henry mengangguk.
"Banyak, sih. Tapi paling penasaran sama Dubai."
"Lusa kita berangkat."
"What?" Mataku melebar tak percaya.
"Kita bulan madu ke sana."
Semudah itu?
Ups! kutepuk repleks dahi. Suamiku kan Horang Kayah.
***
Dubai di pagi hari.
Seperti berada di dalam mimpi. Aku tidak menyangka Henry dengan mudahnya membawaku ke tempat ini. Tempat yang sebelumnya hanya bisa kulihat lewat foto-foto dan video yang ada di beranda sosial mediaku. Kami terbang dengan jet pribadi dari Indonesia.
"Ini nyata, Ken," gumamku pada diri sendiri.
Aku berdiri di balkon kamar hotel. Menatap takjub permandangan kota Dubai dari ketinggian. Di luar masih tampak gelap. Padahal jam sudah menunjuk lewat dari pukul tujuh. Kabut tipis terlihat menggulung di atas Kota Dubai. Hawa udara masih terasa dingin walau tubuhku telah mengenakan sweater tebal. Kepala yang tertutup hijab kulapisi lagi dengan topi rajut.
Henry keluar dari pintu kamar mendekatiku. Tubuhnya pun kini mengenakan jas tebal. Ia kemudian merangkul bahuku dari belakang. Hangat.
"Kamu suka?" Henry meletakkan dagu di bahuku.
"Suka sekali." Aku menoleh padanya. Kukecup lebut pipi tomat itu. "Makasih," ujarku lagi.
Dubai saat ini sedang musim dingin, udara dingin seperti ini sangat cocok untuk bermalasan. Tapi, hari ini kami sudah ada janji dengan tur guide untuk melakukan perjalanan wisata.
Aku dan Henry kemudian turun ke lantai satu hotel untuk sarapan di cafe. Hari ini kata Henry, ia akan membawaku berkeliling di pasar emas, Dubai Souk. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Dubai.
Di lobby hotel, seorang guide yang sengaja disewa Henry telah menunggu. Ia memperkenalkan diri pada kami, namanya Mister Malini yang akan mendampingi kami selama menjelajah di kota Dubai. Dia sangat fasih berbahasa Indonesia.
Tak jauh dari kami seperti bayang-bayang kulihat ada Beno dan beberapa rekannya. Penampilan mereka sangat mirip dengan body guard yang ada di film-film. Berpakaian serba hitam juga kaca mata hitam. Sepertinya mereka berusaha menjaga jarak dengan kami. Takut mengganggu kenyamanan kami mungkin.
.
.
Sebuah mobil sudah menunggu di depan hotel untuk mengantar perjalanan kami. Mister Malini duduk di samping supir. Aku dan Henry di bangku penumpang. Sebuah mobil jenis mini bus yang nyaman. Sangat cocok untuk perjalanan jauh. Fasilitas di dalam cukup lengkap.
Sepanjang jalan, Mister Malini terus berceloteh tentang pengetahuannya tentang Kota Dubai.
.
.
Tak perlu waktu lama kami tiba di tempat yang dituju. Mobil berhenti di depan deretan ruko.
Pasar Emas itu ternyata bukan sekadar memamerkan keindahan perhiasan emas. Tapi, juga keindahan tempatnya. Ada Taman-taman di depan area toko yang sengaja dirancang untuk membuat pengunjung nyaman. Pertokoan ini juga dikelilingi oleh danau yang sangat bersih. Sangat memanjakan mata.
"Kita foto depan sini, yuk Hen!" usulku.
Henry setuju. Kami mengambil beberapa swafoto dengan berbagai pose di depan taman.
Henry kemudian mengajakku memasuki pertokoan emas.
"Kamu suka perhiasan emas?" tanya Henry berbisik.
"Suka," jawabku ragu. Khawatir Henry akan kecewa jika kujawab tidak.
"Aku ingin kamu memilih cincin yang kamu sukai."
"Tapi kan kamu sudah membelikan cincin untukku. Aku menyukainya."
"Sayang, ayolah ... ijinkan aku menyenangkan hati kamu."
Aku menatapnya lekat lalu mengangguk pelan.Tak ingin mengecewakan pria itu.
Henry mengajakku memasuki area pertokoan emas. Tangan kami saling terjalin.
Begitu berada di dalam, etalase-etalase kaca memamerkan cahaya kuning menyilaukan mata. Semua area mirip ruko ini dipenuhi perhiasan. Sangat luas. Jalan-jalan yang lebar semarak dengan para pedagang dan seniman yang terlatih dalam kerajinan mendesain perhiasan, mulai dari perhiasan pesanan hingga desain Arab yang memikat dengan harga yang dapat ditawar. Kami mulai masuk ke beberapa toko.
Henry menunjuk sebuah cincin. Cincin emas dengan bentuk yang unik. Harus kuakui, selera Henry bagus. Dia kemudian memasangnya di jari manisku yang belum terpasang cincin. Ukurannya pas dengan jariku.
"Aku ingin kamu memiliki ini," ujarnya.
"Hu' um aku juga suka," sahutku jujur.
Henry tersenyum puas. Ia segera membayar cincin itu. Pemilik toko itu sangat pintar. Atau mungkin dia tahu kalau Henry punya banyak uang. Ia memamerkan beberapa perangkat perhiasan lainnya ke depan kami. Bentuk-bentuknya sangat unik dan indah. Henry tampak begitu tertarik.
"Hen, aku tidak butuh perhiasan sebanyak itu," bisikku di telinga Henry. "Aku hanya butuh cinta kamu," ujarku mempengaruhinya.
__ADS_1
Kukedipkan mata genit saat Henry menoleh padaku. Jangan sampai pengaruhku kalah dengan pengaruh pemilik toko itu. Kutarik pelan tangan suamiku. Ia mengalah.
Puas berkeliling, kami kemudian keluar dari area market, menuju sebuah kursi panjang, di bawah pohon palm. Duduk berdua di sebuah bangku panjang menikmati pemandangan tepi danau yang sepi dan nyaman. Air danau buatan ini sangat tenang. Di tengah danau ada beberapa kapal yang lewat membawa rombongan wisatawan.
"Kamu pernah ke sini sebelum ini?" tanyaku pada Henry.
Henry menggeleng. "Sama dengan kamu. Aku juga baru kali ini melihat langsung kota Dubai. Kalau kamu mau kita bisa tinggal di sini. Opah punya beberapa apartemen di tengah kota," ujarnya enteng.
"Gak mau ah. Di sini gak ada gudek, gak ada pecel, gak ada gorengan."
Henry tergelak mendengar jawabanku. Belum tahu dia kalau lidah isterinya ini tidak bisa pisah dengan kuliner Indonesia.
"Kalau kamu sendiri, tempat yang paling ingin dikunjungi di mana?" tanyaku.
"Aku? Aku pingin ke Afrika."
"Mau ngapain di sana?"
"Bertualang di hutan Afrika. Berkemah, berburu."
"Wow asyik juga."
"Entar, kapan-kapan kita ke sana. Mungkin lebih seru kalau kita sudah punya anak, Ken. Bawa anak-anak kita berkemah."
Henry mengusap kepalaku yang tertutup hijab. Aku bersandar di bahunya.
Sebuah kapal melintas di danau, suara mesinnya mengganggu pendengaran. Lajunya meninggalkan riak ombak bergelembung. Desau angin danau terasa dingin membelai.
"Kamu mau punya anak berapa?" tanyaku.
"Berapa aja yang penting banyak," sahutnya terkekeh.
Tangan Henry mengambil satu batu kecil dibawah kaki, lalu melemparkan batu itu ke tengah danau hingga membentuk bulatan.
Hari makin beranjak siang, matahari tetap saja bersinar malu-malu. Angin masih bertiup dingin. Sepi, danau tidak lagi terdengar riuh oleh kapal yang lewat.
"Ehem." Ada suara deheman dari belakang kami. "Bisa kita lanjutkan perjalanan lagi Tuan dan Nyonya Henry?"
Aku dan Henry sontak berbarengan menengok ke belakang. Kami lupa Mister Malini tengah menunggu. Kasihan juga. Sejak kapan ia berdiri di situ?
Hihi.
***
Begitu melihat kami mendekat. Beno dan dua anak buahnya berdiri siaga di dekat mobil. Mereka menaiki mobil terpisah membuntuti kami dari belakang.
Menurut Mister Malini perjalanan kami selanjutnya menuju desert safari. Hari ini kami akan bermain di gurun pasir sepuasnya. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Dubai. Sebelum memasuki lokasi padang pasir, mobil berhenti di sebuah stasiun pengisian bahan bakar.
Perjalanan pun berlanjut. Banyak penjual aksesoris dan pernak pernik di tempat kami tiba. Aku memilih sebuah sorban penutup kepala untuk Henry. Wisatawan lain kulihat juga mengenakan ikat kepala khas tanah Arab itu. Henry menurut saja ketika aku memasang sorban di kepalanya. Suamiku terlihat gagah.
"Ganteng." Kucubit pelan pipinya.
Aku dan Henry berfoto lagi, sebelum melanjutkan perjalanan.
Gurun pasir yang indah akan kami arungi dengan menaiki mobil 4WD. Di lokasi, kami berpindah ke mobil khusus untuk berpetualang itu. Sudah disediakan sopir khusus untuk membawa kami.
"Sesaat lagi adrenalin akan berpacu. Agenda tour selanjutnya adalah sand bashing. Off road di padang pasir, inilah akan sangat mendebarkan," terang Mister Malini pada kami.
Mister kemudian mempersilahkan kami menaiki mobil 4WD, khusus untuk off road,
"Sopir yang mengemudikan mobil ini harus memiliki sertifikat khusus. Tidak semua orang bisa mengemudikannya," ujar guide kami itu lagi.
Aku dan Henry berada dalam satu mobil. Beno dan anak buahnya juga ikut menaiki mobil 4WD yang lain.
Henry tersenyum, sambil melirik ke arahku. Aku paham arti lirikan genit itu. Kedua lenganku melingkar erat di perutnya. Adegan selanjutnya akan penuh dengan pelukan.
Petualangan dimulai, pada awalnya mobil merambat pelan, makin lama makin berguncang. Mobil 4WD itu mengajak kami gila-gilaan naik turun bukit-bukit pasir yang seolah tak ada habisnya. Mobil bisa menanjak tinggi, berhenti dalam keadaan menukik di tepi bukit, atau miring seolah mau terbalik! Benar-benar memacu adrenalin!
Aku dan Henry terus berteriak dengan seru. Kedua lengan kini semakin erat memeluk perut Henry. Kami berjuang mempertahankan posisi. Pengalaman yang sangat mengasyikan.
"Wuuuhuuuu!! Yesss!! Haaaargk!!" Mulut Henry terus berteriak. Aku terbahak menyaksikan kekonyolan Henry. Kadang ia sengaja mempertontonkan matanya yang dibuat juling padaku.
Teriakan ngeri dan menikmati menambah keriuhan kami di dalam mobil. Si pengemudi sengaja memutar musik dengan volume keras. Dia tahu cara membuat senang penumpang. Beberapa kali manuver dilakukannya mengundang teriakan histeris dari kami.
Sekitar tiga puluh menit, kami diguncang dalam mobil yang meraung-meraung di atas padang pasir yang menghampar luas. Hilang semua kegundahan dan beban di hati. Aku dan Henry sangat menikmati perjalanan ini. Tangan kami saling merangkul.
Akhirnya, mobil berhenti di sebuah tempat, seperti rumah makan terbuka. Mister Malini menyambut kami.
"Saatnya menikmati makan malam, Tuan dan Nyonya. Tempat ini mengusung konsep open table, dan barbeque. Mari ikuti saya," ujar Mister Malini.
Henry dan aku mengikuti pria itu berjalan memasuki area berpasir.
Dia kemudian mempersilahkan kami duduk di sebuah kursi panjang. Banyak meja dan kursi yang disiapkan melingkar. Ada panggung di tengah halaman. Sepertinya kami akan menikmati atraksi. Sudah puluhan orang duduk manis sambil menikmati sunset.
Senja bergulir di ufuk barat. Dari sini terlihat sang surya mulai menuju peraduan, meninggalkan semburat oranye yang indah.
__ADS_1
****
Yang baca komen dong biar saya cemungut.