
Henry mendorongku masuk ke dalam kamar. Klik. Pintu kemudian dikunci.
"Duduklah, Non! Cuaca dingin seperti ini mengingatkan aku saat kita liburan di Turkey," ucapnya.
Henry melepas kaosnya yang basah di depanku. Tampaklah tubuh atletis dengan perut six pack yang membuat mata ini jengah.
"Kamu demam karena tak kuat menahan cuaca dingin. Hingga kita hanya bisa berdiam di kamar hotel," ujarnya lagi, seraya mengeringkan tubuh dengan handuk kecil.
Dia begitu lancar bercerita. Aku duduk di sudut ranjang.
"Emh ... tiduran di sini, Sayang!" Henry naik ke tempat tidur. Menepuk bantal yang ada di sampingnya. "Aku akan bercerita banyak. Kamu harus mendengarnya."
Kepalaku menggeleng. "Duduk di sini saja."
"Baiklah ... aku taruh guling di tengah." Sebuah guling kemudian ia letakkan di tengah tempat tidur, yang berukuran tidak begitu besar itu.
Aku menatapnya ragu. Tapi, mata pria itu seperti sedang menghipnotisku untuk menurutinya.
"Kamu harus benar-benar rileks," ujarnya seraya menyelimuti tubuhku yang telah berbaring di sampingnya.
"Aku ingin mendengar ceritamu," lirihku.
Kami berbaring saling berhadapan dipisahkan oleh sebuah guling. Saling menelaah manik mata.
"Aku akan menceritakan sejak awal perkenalan kita." Bibirnya menyunggingkan senyum. "Kenangan manis kita selalu menarik untuk diungkit lagi. Kita teman satu kelas waktu SMA. Duduk sebangku. Kamu itu bawel tapi cantik." Henry terkekeh. Tangannya menjulur mengelus pipiku.
__ADS_1
"Aku jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu tidak menyadarinya. Perhatianku kamu kira hanya perhatian seorang sahabat. Setelah lulus SMA kita lama gak ketemu."
"Seperti apa penampilan kamu waktu SMA?" Aku mulai tertarik dengan cerita Henry.
"Jauh berbeda dengan sekarang. Pemuda culun berkaca mata tebal. Pulang pergi sekolah cuman naik sepeda. Tapi, kamu mau-mau aja kuboncengin naik sepeda."
Mataku menerawang membayangkan.
"Kita bertemu lagi saat kamu sudah kerja di sebuah hotel." Ia menghela napas panjang. "Di hotel itu ... ada sebuah kejadian tragis. Mungkin sebaiknya yang ini tidak perlu kamu ingat lagi."
"Ceritakan!" Kupegangi lengannya.
Henry terpaku. "Dulu kamu ingin sekali melupakannya, Ken. Karena kejadian itu seringkali menghantui tidurmu."
"Aku ingin mendengarnya."
Beberapa detik Henry diam. Menghela napas berat. Seolah enggan untuk melanjutkan bicara.
"Apa yang terjadi setelah itu?" desakku.
"Dia melukaimu, Ken."
Astaga ... mataku melebar. Apakah peristiwa itu yang ada dalam mimpiku. Perutku ditusuk.
"Ken ... kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Hum." Aku menggeleng. "Lanjutkan ceritamu!"
"Kamu terluka dalam. Aku ... kemudian memindahkan perawatanmu ke Singapore atas ijin Om Aryo."
"Siapa Om Aryo."
"Dia paman kamu yang tinggal di Kalimantan. Dialah yang menikahkan kita sebelum aku membawamu ke Singapore."
"Menikahkan kita?" Alisku bertaut tak mengerti. "Bukankah aku ...."
"Yah. Kita menikah saat kamu dalam keadaan koma."
Mulutku membulat. Hampir tak masuk akal. Dia mau menikahi aku yang sedang sekarat?
"Kau sudah percaya padaku sekarang, Ken?" tanganku diremas lembut. "Aku sangat takut kehilangan kamu. Jangan pernah lagi jauh dariku!"
Wajah Henry mendekat. Mataku terpejam. Sesuatu yang hangat melekat di bibirku. ***** dan *****.
Sentuhannya bagai sengatan listrik yang mampu membuat lumpuh sendi-sendiku. Aroma wangi tubuh pria itu membuatku hanyut dan tenggelam dalam dekapannya. Tubuhku seakan terbang melayang ke awan-awan. Tak mampu menolak nikmat yang ia tawarkan. Pesonanya meluluh lantakan dinding pertahananku.
Semua terjadi begitu saja. Alam bawah sadar seakan membetot jiwaku untuk patuh pada pria itu. Membiarkannya membawaku menyelam ke lautan cinta yang mengelora. Bersama rintihanku. Bersama deru napasnya. Hingga ranjang di bawah kami berderit pelan.
Bersambung.
.
__ADS_1
.
.