Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
EXTRA PART


__ADS_3

Apa ... Niken ada di rumah? Tidur di kamar?


Wauw ....


Bik Yati kemudian pamit padaku.


Aku masih di ruang tengah, bersandar pada sofa empuk yang menghadap televisi.


Tangan memencet remot televisi dengan gelisah. Pikiran berkelana. Pandangan selalu saja beralih arah, dari televisi ke arah kamarnya. Kamar Niken.


Pintu itu tertutup rapat. Tapi ... seolah-olah aku melihat gadis itu tengah berdiri di depan pintu, dia tersenyum manis seraya melambaikan tangan padaku. Seakan dia meminta aku untuk mendekat.


Astaga ... ada apa denganku. Sepertinya setan sedang menari-nari di atas kepala ini. Ayolah Anwar ... gunakan kesempatanmu. Kapan lagi kamu bisa mendekatinya. Si cantik itu sedang menunggu kamu di dalam sana.


Jantung ini berdegup dengan indahnya.


Tunggu aku, Sayang. Aku akan datang padamu, Manis.


Pelan tapi pasti kakiku melangkah mendekati pintu. Kuhirup udara memenuhi paru-paru lalu mengembuskannya pelan. Meredakan degup jantung yang berdetak kian cepat seperti kuda sedang berlari kencang.


Ini tak seperti biasanya. Belum pernah ada lagi wanita yang mampu membuatku begini. Debar-debar yang menghangatkan. Sepertinya aku memang telah jatuh cinta padanya.


Tanganku telah memegang handle pintu.


Klik. Hhh ... terkunci. Sial!


.


.


.


Eits ... tenang, ada kunci cadangan. Aku tersenyum penuh kemenangan.


Coba lagi. Klik. Krek ... cetek. Berhasil. Pelan kudorong daun pintu.


Lihatlah di sana! Bidadari itu tengah tertidur pulas di atas tempat tidur berukuran king size. Tempat tidur mewah yang sengaja kusediakan untuknya. Kamar nuansa pink inipun sengaja jauh-jauh hari kupersiapkan khusus untuk gadis itu. Seluruh interior ditangani oleh penata ruang profesional. Karena Niken sangat istimewa bagiku.


Aku berdiri di depan tempat tidur mengamati. Mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Posisi tidurnya terlihat manis. Apalagi ia kini hanya mengenakan tank top. Pintar sekali, setiap keluar kamar gadis ini selalu memakai pakaian tertutup.


Kepalaku meneleng. Kupuaskan mata ini. Kulit sehalus pualam, bentuk tubuh yang mampu memanjakan mata pria, rambut hitamnya lebat dan panjang. Bibir itu setengah terbuka tampak menantang. Membuat jiwa lelakiku kian terbakar.


Suara dengkuran halus dari mulut Niken seperti magnit yang terus menarik tubuhku untuk terus mendekat. Mendekat dan makin mendekat lagi. Hingga aku kini tepat berada di sampingnya.


Pipi halus itu memaksa jari-jariku bergerak menyusuri. Kubelai dengan lembut.


"Jangan ganggu dong, Bun! Ken masih ngantuk."


Gadis itu tiba-tiba bicara. Ia menepis tanganku. Mungkin dikira aku ibunya. Aku tersenyum geli. Tingkahnya begitu lucu.


Tangan nakalku kini berpindah menyentuh rambut. Kubelai dengan sayang. Gadis itu diam, bibirnya malah tersenyum. Sepertinya ia suka rambutnya kubelai. Menggemaskan.


Hmm ... wangi aroma buah apel dari rambutnya yang tergerai. Kuhirup penuh perasaan.


Hmm ... aku suka aroma rambutnya. Wajahku kian mendekat. Menghirup wangi itu semakin dalam. Anganku semakin tinggi.


"Om ngapain di kamarku?" Ia tiba-tiba terbangun.


Ah, lagi-lagi sial.


.


.


Utami tiba-tiba saja datang di saat usahaku mulai berhasil. Semua kacau tidak sesuai espektasiku. Niken lolos dari genggaman. Tampaknya perlu usaha lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan rusa cantik itu.


Apapun akan kulakukan untuk bisa mendapatkannya.


Keinginan seorang Anwar Abimayu adalah sebuah keharusan.


***


Jika menghilangkan dua nyawa tak masalah bagiku. Maka, bila ditambah satu nyawa lagi tak akan berarti apa-apa.


Jika Utari adalah sebuah penghalang bagiku untuk mendapatkan Niken. Maka aku harus segera menyingkirkannya.


Rencana menyingkirkan Utari telah kurancang dengan penuh perhitungan. Sama halnya ketika aku menghabisi Rosa dan Aldo pada malam laknat itu. Aku akan melakukannya tanpa jejak.


"Mas membelikan aku sebuah Villa?" Bola mata Utari membeliak takjub.


"Kenapa? Kamu tidak percaya padaku, Sayang?"


"Ooh Mas Anwar. Apa aku pantas menerima itu?"


"Tentu saja. Kamu isteriku. Semua yang kumiliki adalah milikmu. Villa itu sengaja kubeli dari seorang temanku yang arsitek. Kamu pasti suka."


Wanita itu menghambur memelukku. Ia begitu bahagia. Berulang kali mulutnya mengucap terima kasih.


"Kapan kamu mau melihatnya?" tawarku.


"Boleh aku mengajak Niken?"


"T- tentu saja," sahutku ragu.


Kalau Niken ikut, sangat sulit melakukan eksekusi. Rencanaku tidak bisa berjalan lancar.


"Nanti aku telepon Niken Mas. Anak itu ... sekarang sudah sibuk sendiri. Dia lebih suka ngumpul sama teman-temannya. Padahal aku kangen banget sama dia. Alasannya selalu saja banyak tugas kuliah," keluhnya padaku.

__ADS_1


"Maklum saja, Sayang. Niken kan sekarang memang sibuk. Anak muda jaman sekarang memang begitu," ujarku sok bijak.


"Beruntung sekali aku punya suami pengertian sepertimu, Mas. Makasih sudah mengayomi kami. Sayangnya ... Niken masih belum dekat sama kamu, Mas," pujinya seraya mengelus lenganku.


Haha.


***


"Tuh kan, Mas. Niken gak bisa ikut." Utari menutup panggilan telepon dengan wajah cemberut.


Ia duduk di depan meja rias. Menyisir rambut pendeknya.


"Ya udah, gak papa, Sayang. Lain waktu bisa ajak dia lagi. Jangan paksa dia. Kasian," sahutku dari atas tempat tidur.


Kulepaskan kaca mata baca yang mengait di telinga. Meletakkan buku di atas nakas yang ada disamping, lalu mengatur posisi untuk tidur.


"Tapi aku pingin banget ngajak dia," ujarnya lagi sambil mengoles lotion ke beberapa bagian tubuhnya. Wangi aroma mawar menguar.


Utari kemudian mendekat ke tempat tidur, menyibak selimut kemudian berbaring di sampingku.


"Sudahlah, gak usah dibesar-besarkan. Tidur yuk! Besok pagi-pagi kita berangkat," sahutku mulai memejamkan mata.


"Hmm ..., Mas." Utari memelukku manja.


Entahlah ... saat ini aku tidak menginginkannya. Yang ada adalah ingin menyingkirkan wanita ini secepatnya. Agar bisa leluasa mendekati Niken.


***


Segala sesuatu telah kukondisikan. Kecelakaan mobil tunggal yang kurancang pada perjalanan pulang dari Villa.


Keadaan cuaca sangat mendukung rencanaku untuk menghabisi Utari. Saat itu hujan deras tengah menggempur kawasan puncak. Petir menggelegar. Kilat menyambar bersahutan. Aku terus mengemudikan mobil menuju arah pulang.


Tik tak ... tik tak. Wifer kaca mobil terus bergerak menyapu kabut air yang menutupi kaca depan.


Jalanan berkelok, penuh tanjakan lagi licin. Aku harus tetap berhati-hati. Salah-salah malah diri sendiri yang tamat. Kulirik Utari yang sudah tertidur pulas duduk di sampingku. Ia tampak kedinginan, tertidur memeluk tubuh sendiri. Sebuah syal hangat terbuat dari bulu wol melilit di lehernya.


Baguslah dia tertidur. Semua akan lebih mudah.


Maafkan aku Utari isteriku. Aku harus melakukan ini. Hidupmu hanya menghalangi obsesiku untuk mencintai Niken.


Mobil kuhentikan di atas jalan yang menurun. Suasana jalan sangat sepi. Di kiri kanan hanya pepohonan juga jurang. Tak ada satupun mobil lain terlihat. Perfect.


Utari tak bergeming. Tidurnya saaangat pulas, karena aku sempat memasukan obat tidur dalam minumannya sebelum berangkat.


Klik. Kulepaskan pelan sabuk pengaman yang terpasang di tubuh Utari.


Selamat jalan, Sayang. Selamat bertemu lagi dengan suamimu yang telah menunggu di alam sana. Baik-baik kamu di sana. Jangan lupa, sampaikan salamku padanya. Dia akan berterimakasih padaku. Karena telah mengembalikan isterinya tercinta.


Kukecup kening Utari sebelum kemudian turun dengan cepat dari mobil. Kubiarkan mesin mobil menyala.


Mobil itu kemudian meluncur deras ke bawah, menukik, terhempas dengan keras, lalu berguling terus-menerus. Suara benturan keras itu samar ditelan deru hujan.


Kedua kaki terus berlari dengan tubuh menggigil.


Hossh ... hossh ... nafas tersengal. Jantung memompa dengan cepat. Mata mulai terasa perih.


Kondisi mobil mewahku kini tampak mengenaskan. Badan mobil tak berbentuk lagi. Semua lampu mobil pecah. Kaca mobil apalagi. Retakan kacanya telah berhamburan di jalan.


Utari tak tampak. Kemana dia?


"Utariiii!!!" Aku berteriak menyebut namanya.


"Di mana kamu Utari?!"


Aku berlari ke sana ke mari mencarinya. Mungkin tubuh isteriku telah terlempar ke luar. Tapi di mana? Mustahil ia selamat dengan kondisi mobil seperti ini.


"Utariiii!!!"


"Utariiii!!!"


Aku terus berlari sambil menyebut namanya. Aku harus memastikan keadaannya. Masih hidupkah atau sudah mati.


Hujan tak juga berhenti. Angin bertiup semakin kencang. Tak satupun mobil lewat. Keadaan gelap, tak ada penerangan yang bisa membantu mataku mencari Utari. Mata semakin perih.


Aku kembali ke tempat mobil terongok. Meraih pecahan kaca lalu menggoreskan pada dahi. Membenturkan kepalaku agar ada lebam.


"Aaaaaarrgh!!" Aku menjerit kesakitan merasakan lengan yang kujepit sendiri di pintu mobil.


Tubuhku luruh ke tanah. Dingin semakin menusuk hingga menembus tulang. Pandangan tiba-tiba meremang lalu semakin gelap.


****


"Pak ... bapak bisa melihat saya?"


Remang kulihat seseorang menggerakkan tangan di depan wajahku. Mataku memicing berusaha melihat lebih jelas. Ternyata seorang wanita berpakaian perawat.


"Bisa liat saya, Pak?" ulangnya.


"Iya bisa. Ini di mana? Mana isteri saya?" cecarku.


"Bapak mengalami kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit. Tadi bapak pingsan. Isteri bapak masih ditangani. Beliau belum sadar. Perlu tindakan operasi segera pada isteri bapak. Tapi, kami perlu tanda tangan persetujuan lebih dulu dari bapak," jelasnya panjang lebar.


"Isteri saya kenapa, Suster. Ijinkan saya melihatnya," pintaku.


Dahi dan lenganku yang terluka kini telah dililit perban. Aku kemudian diantarkan oleh perawat itu ke ruangan tempat utari terbaring tak berdaya. Tubuhnya penuh luka. Perban pada bagian pinggangnya tampak berdarah. Terlihat sangat parah.


Perfect.

__ADS_1


"Utari isteriku ... maafkan aku tidak hati-hati!" Aku menangis meraung di sisinya. Perlu sandiwara agar lebih natural.


"Sabar, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik. Operasi harus segera dilakukan." Seorang pria berpakaian dokter menepuk-nepuk punggungku.


"Selamatkan isteri saya dokter! Berapapun biayanya saya siap," ujarku masih dengan tersedu.


***


Operasi pun berjalan. Aku menanti hasilnya dengan gelisah. Seandainya ternyata Utari akhirnya selamat. Maka jerih payahku tadi malam hanyalah sia-sia belaka.


"Tenanglah Tuan Anwar. Umur manusia di tangan gusti Allah. Berdoa saja minta sama yang di atas." Bik Yati yang baru datang berusaha menenangkanku.


"Bibik sudah telepon Niken?"


"Sudah, Tuan. Non Nikennya sudah menuju ke sini."


.


.


Perasaanku sangat-sangat galau begitu mengetahui operasi telah selesai. Utari yang masih belum sadar kemudian dipindahkan ke ruangan ICU. Niken sudah ada di sana menemaninya. Besar sekali semangat hidup wanita itu.


Besok harinya kabar baik kuterima. Utari menghembuskan nafas terakhirnya. Ia tak mampu bertahan melewati masa kritis.


Yeeesss!! Akhirnya.


***


Minggu. Hari masih pagi. Aku menikmati sarapan di ruang makan. Ketika seorang asisten rumah tangga mendekat.


"Di luar ada tamu, Tuan."


"Siapa?" tanyaku sambil mengunyah nasi goreng.


"Katanya dari kepolisian."


Degh. Kunyahanku berhenti.


Sekarang sudah lewat hari ke-40 kematian Utari. Untuk apa kepolisian menemuiku.


"Antarkan mereka ke ruang kerja saya!"


"Baik Tuan."


Aku mengurut pangkal hidung. Apa mungkin mereka telah menemukan kejanggalan dalam peristiwa kecelakaan itu?


Jika mereka berhasil menemukan bukti yang mengarah padaku. Semoga saja orang yang menemuiku ini adalah seorang pemuja uang.


***


"Selamat pagi, Pak Anwar. Maaf telah mengganggu hari minggu anda." Salah satu dari mereka membuka pembicaraan.


Obrolan dibuka dengan basa-basi yang tak begitu penting. Sampai akhirnya sampai juga pada poin yang mereka tuju. Mereka mencurigaiku.


"Jika kepolisian mencurigai saya. Tolong katakan apa motif saya mencelakakan isteri saya sendiri? Saya sangat mencintainya. Itu sangat mustahil," ujarku emosi.


Sandiwaraku luar biasa bukan?


"Maaf, Pak Anwar. Kami hanya menjalankan tugas. Kami harap bapak bisa memahami. Mohon kerja sama bapak untuk memberikan informasi yang kami perlukan," sahut salah satu dari mereka.


"Saya tidak terima kalau dituduh sengaja mencelakakan isteri saya. Hal bodoh apa yang ada di otak kalian sampai bisa berpikir seperti itu. Cuci otak kalian!" omelku.


"Sekali lagi maaf, Pak Anwar. Kami hanya sedang mengumpulkan informasi dan bukti sebanyaknya. Kemungkinan kami akan datang lagi."


"Terserah," jawabku sinis.


Mereka permisi dari ruanganku.


Kuraih handphone di atas meja kerja. Kupilih kontak Joan orang kepercayaanku. Nada tersambung.


"Iya, Pak Anwar." Suara Joan dari seberang telepon.


"Joan aku butuh bantuanmu.'


"Apa itu?"


"Barusan ada dua orang polisi datang ke rumah. Mereka mencurigaiku sebagai dalang kematian Utari."


"Apa yang harus saya lakukan, Pak Anwar?"


"Aku tidak mau lagi mereka datang kembali ke hadapanku dengan tujuan yang sama, dengan tuduhan yang sama. Lakukan apa saja untuk membungkam orang-orang itu."


"Apakah itu berarti ... Bapak memang melakukannya?" tanya Joan hati-hati.


Aku diam. Hanya suara nafas kami yang bersahutan.


"Astaga ... bapak melakukannya lagi?" tanyanya lagi dengan suara tertahan. "Untuk apa, Pak? Apa Buk Utari sudah membuat kesalahan yang sama dengan Rosa?"


"Saat ini aku tidak bisa menjelaskan alasannya, Joan. Mungkin lain kali."


"Tapi, Pak ...."


Sambungan telepon segera kumatikan. Kuremas benda pipih itu. Tubuh bersandar pada bangku kerjaku yang nyaman. Mata kupejamkan.


Joan satu-satunya orang yang mengetahui perbuatanku pada Rosa dan Aldo. Joan pula yang berhasil mengatasi pihak kepolisian yang berusaha menginterogasiku waktu itu. Kekuatan uang telah membungkam mereka.


Aku sendiri tidak tahu. Kenapa tiba-tiba menjadi makhluk kejam berdarah dingin. Mungkinkah saat ini iblis sudah bersemayam di aliran darahku. Menghabisi nyawa orang lain tanpa penyesalan.

__ADS_1


Niken, dialah yang membuatku seperti ini. Gadis itu telah ikut bersalah.


Aku sangat merindukannya. Tapi saat ini momen yang tidak tepat untuk.


__ADS_2