
Bobby ( Flashback )
Dua piring nasi goreng sudah pindah ke dalam perutku. Ditambah segelas teh manis, sekarang perutku terasa benar - benar sesak. Aku beranjak ke teras rumah dari ruang makan untuk mencari angin.
Siang ini cukup gerah. Mataku menyipit melihat Gilang lewat di depan rumahku sambil mengibas - ngibaskan uang di depan wajahnya.
" Woi," Seruku memanggilnya. Ia menghentikan langkah. Menoleh padaku dengan senyum menyeringai.
" Apa gendut, ngapain lo manggil gue," Balasnya.
Aku bangkit dari duduk dan melangkah menuju pagar.
" Banyak banget duit lo, dapat dari mana,?" Tanyaku curiga.
" Bukan urusan lo," Sahutnya sambil memukul - mukul uang itu di depan wajahku. Aku menepisnya sambil mendesis.
" Lo habis nyopet kan,?" Tudingku.
Gilang melotot tajam, ia menyentil keningku dengan jarinya.
" Ini gue dapat karena kerja, bukan nyopet,"
" Ck, kerja apa,? Bukannya kerja lo cuma nyopet kalau nggak malakin orang yang lewat di gang sepi,"
Gilang tertawa sumbang.
Aku tinggal di lingkungan yang sama dengan Gilang. Gilang lebih tua dariku, tapi karena kami sepupu dan sudah jadi teman main sejak kecil aku terbiasa berbicara santai dengannya. Gilang di DO saat tahun pertamanya di bangku SMA karena ia ketahuan mengkonsumsi obat terlarang. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Saat masuk SMA, aku tidak menyangka akan sekolah di SMA tempat gilang pernah menimba ilmu. Untung saja saat aku masuk di SMA itu, orang - orang tidak ada yang tahu kalau aku memiliki hubungan keluarga dengan Gilang.
" Serius ,ini bukan hasil copet atau malak," Tegasnya sekali lagi.
" Terus dapat dari mana,?" Tanyaku penasaran.
" Lo ,kenal Tiara nggak,?" Tanyanya.
Aku mengernyit, Tiara mana yang dimaksud oleh Gilang.
" Tiara siapa,?"
" Yaelah, itu tu cewek cantik di sekolah lo, yang ke sekolah bawa mobil," Ucap Gilang.
__ADS_1
" Hah,? Kok lo bisa kenal sama Tiara," Sentakku terkejut.
Gilang menceritakan bagaimana ia bisa mengenal Tiara, anak pindahan di sekolahku. Meski baru pindah, ia langsung populer karena ia satu - satu siswa yang memakai mobil ke sekolah. Tak hanya itu Tiara juga cantik.
" Emang dia ngasih kerjaan apaan ke elo," Tanyaku tak yakin kalau Gilang beneran kenal dengan Tiara. Kini kami sudah berpindah duduk di bangku di bawah pohon rambutan.
" Kerja gampang, cuma disuruh ngerjain orang," Ujar Gilang terbahak.
Aku semakin dilanda rasa penasaran. Ternyata Tiara tak sebaik penampilannya.
" Jadi gini, gue disuruh ngerjain cewek yang dia benci. Katanya cewek itu pacaran sama cowok yang ia suka."
" Masih anak sekolah gue,?" Tanyaku.
Gilang mengangguk.
" Siapa,?"
" Gue lupa namanya. Lo tau kan kejadian tadi pagi di lapangan upacara, Nah itu kerjaan gue," Gilang semakin terbahak.
" Apaaaa,??" Pekikku tak percaya.
Jadi cewek yang dikerjai oleh Gilang adalah Dea, teman kelasku. Benar - benar berita mengejutkan.
" Ya bisa lah, gue kan pernah sekolah di sana. Jadi gue tau jalan tikus," Ucap Gilang merasa bangga.
" Eh , asal lo tahu ya, dia teman kelas gue,"
" Serius," Gilang melotot.
" Iya,"
Gilang tampak terkejut, guratan kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya.
" Kenapa,?" Tanyaku.
" Lo bisa tutup mulut kan,?"
Aku tertawa terbahak.
__ADS_1
" Bisa aja, tapi harus ada uang tutup mulutnya dong," Kataku.
Gilang merenggut kesal. Sejenak ia tampak berpikir.
" Ok, tapi lo harus janji jangan bocorkan berita ini. Gue masih butuh duitnya si Tiara itu."
" Lo mau morotin uang dia,?" Tanyaku.
Gilang menyeringai. Dasar licik.
Tak ada masalah selagi itu memberikan keuntungan untukku. Toh aku tidak terlalu menyukai Dea. Semester pertama di kelas 12, aku sekelas dengannya dan dapat tempat duduk persis di belakang nya. Tapi tak sekalipun ia berbicara denganku. Hal itu menimbulkan rasa benci di hatiku. Menurutku dia itu sombong, padahal ia bukan cewek populer atau orang kaya. Dia sama denganku, sama - sama orang miskin dan tidak punya banyak teman. Bahkan dia lebih parah dariku, temannya hanya si Sarah.
Tadi siang pertama kalinya kami berbicara, itu pun karena aku yang memulai. Aku memberikan kotak bekalku padanya, karena merasa kasihan sebab kejadian di lapangan upacara itu. Ternyata setelah berbicara dengannya, ia tak sesombong yang kukira.
_
_
_
Sejak kesepakatan itu, Gilang selalu membagi uang yang ia dapat dari hasil memeras Tiara denganku. Aku terlena dengan uang yang didapat dengan cuma - cuma. Asal aku terus bungkam ,cuan tetap mengalir.
Namun ada hal lain yang aku rasakan. Entah seja kapan ,sebuah rasa muncul di hatiku pada Dea. Seiring berjalan waktu, rasa itu semakin tumbuh di hatiku. Kami juga sering mengobrol. Ada rasa ingin memilikinya di hatiku. Sayangnya ia sudah punya pacar, dan ia juga tak mungkin akan menyukaiku cowok gendut sepertiku.
Hingga pada hari sabtu, aku melihat Dion masuk ke kelasku. Karena penasaran aku mengintip, dan yang kulihat Dion menaruh sebuah surat di atas meja Dea. Setelah Dion pergi, aku masuk ke kelas. Karena di kelas tidak ada siapa - siapa selain aku, dengan lancang aku membuka lipatan kertas itu.
" Oh, ngajak ketemuan," gumamku setelah membaca isinya.
Cukup lama aku menatap lembar kertas itu, sebelum sebuah ide tercetus di kepalaku. Aku mengambil kertas baru dan mengulang menulis surat itu dengan mengubah isi suratnya. Setelah itu aku mengirim pesan pada Gilang, menyampaikan ide gilaku itu.
Aku ingin membuatnya berpisah dengan Dion. Dan setelah itu aku akan menjadi pahlawan untuknya. Meskipun caranya sedikit kejam, tapi hanya dengan ini aku memiliki peluang untuk memilikinya. Jika nanti semua orang membencinya, tentu ia akan sendiri. Di saat itulah aku akan masuk, menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan padanya. Dengan begitu ia pasti akan jatuh hati padaku Rencana yang sempurna bukan.
Tapi sayangnya semua tak berjalan sesuai keinginanku. Dea dikabarkan akan dikeluarkan dari sekolah. Kalau dia dikeluarkan tentu semua rencanaku jadi sia - sia. Aku tidak akan melihatnya lagi. Aku memutar otak bagaimana supaya ia tidak dikeluarkan.
Aku memberi tahu Dion kalau ada yang mengubah isi suratnya. Berharap itu bisa membantu Dea supaya tidak jadi dikeluarkan.
Tapi hal itu justru berbalik padaku, pengakuan bodohku itu malah mengantarkanku ke jurang kehancuran. Aku tidak berpikir jauh, sedikit kata dariku itu malah membuka jalan untuk mereka menemukan siapa dalang dibalik kasus pelecehan itu.
Dan tanpa aku ketahui, di belakangku Gilang memanfaatkan video pelecehan itu untuk memeras Tiara. Sekarang kami berdua akan menerima buah dari perbuatan buruk kami. Tak hanya kehilangan kesempatan untuk memiliki Dea, tapi aku juga kehilangan masa depanku.
__ADS_1
...----------------...
Like dan komentarnya..