Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 10


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 10


Senja dan Sena telah bersiap diri menunggu jemputan dari Kakek dan Nenek. Mereka akan menghabiskan akhir pekan di rumah Kakek dan Nenek.


“Jam berapa Kakek bilang mau datang?” Bagi memastikan waktu kedatangan mertuanya kepada anak-anak.


“Jam delapan, Pa.” Sahut Sena tidak mengubah posisi awalnya menyaksikan acara televisi.


Bagi menyeruput kopi ditemani dengan berita yang terpampang dilayar telepon genggamnya.


Terdengar bunyi klakson di depan rumah. Senja berhamburan membukakan pintu gerbang untuk Kakek dan Nenek. Ternyata Nenek lebih dulu membuka pintu. Sementara Kakek sedang menepikan mobilnya.


“Sudah sarapan belum?” Tanya Bunda Agia.


“Sudah, tapi cuma roti dan susu. Nenek enggak bawa sesuatu?” Senja menodong Bunda Agia.


“Bawa dong!” Bunda Agia memperlihatkan tas berisikan rantang beserta makanan lainnya. Wajah Senja berubah semringah membayangkan apa saja yang dibawa oleh Neneknya.


Senja, juga Kakek dan Nenek memasuki rumah. Begitu sampai di ruang keluarga, tempat Sena menonton televisi, sekaligus Bagi yang menikmati secangkir kopi di meja makan, Kakek berhenti dan terkejut mendapati Agia sedang memandangnya dengan senyuman cantik.


Agia lalu menganggukkan kepala yang berarti mengiyakan tentang pengelihatan Ayahnya.


Bagi menyapa kedatangan mertuanya yang sudah dianggap seperti orang tua sendiri.


Dengan bantuan Senja, Bunda Agia menyiapkan dan menghidangkan makanan yang dibawanya dari rumah.


“Ayo semua, makanan sudah siap!” Panggil Bunda Agia.


Sena beranjak gesit menyambar tangan Agia untuk mengajaknya ikut serta menikmati hidangan yang dibawa Nenek.


Ayah Agia terkejut melihat pemandangan itu. Agia menoleh dan menunjukkan tawa kecilnya kepada Ayah.


“Wah! Sudah lama enggak makan enak nih kita ya, Kak.” Seru Sena.


“Iya benar. Gimana kalau kita tinggal di rumah Nenek aja?” Senja mengeluarkan idenya begitu saja.


“Terus Papa sendirian?” Bagi memprotes ide yang diajukan oleh anak sulingnya.


“Bercanda, Pa.” Senja terkekeh mendengar aksi protes Papanya.


“Ayah, silahkan duduk di sini, Yah.” Bagi memanggil bapak mertuanya agar turut serta bergabung dengan mereka.


“Iya, sebentar. Ayah mau mencuci tangan dulu.”


Sena telah menepati posisinya tepat di sebelah Agia. Bunda Agia lalu berjalan mencoba untuk duduk di sebelah cucu laki-lakinya.


“Nek! Jangan duduk di sini!” Hardik Sena. Semua terkejut mendengar teriakan Sena.


Sena lalu menyadari bahwa dirinya terlalu berlebihan.


“Maksud Sena, di sini biar Mama yang duduk, Nek. Kan biasanya memang Mama duduk di sini. Nenek jangan marah, ya.” Bunda Agia diam sebentar lalu tersenyum.


“Enggak. Ngapain Nenek marah. Ya sudah Nenek duduk sama Kakak aja kalau begitu.”


***

__ADS_1


Diperjalanan menuju rumah Kakek dan Nenek, Ayah Agia menginterogasi anak dan cucu-cucunya. “Jadi sudah berapa lama hal ini terjadi?”


“Hal apaan?” Tanya Bunda Agia.


“Coba tanya sama cucu-cucunya, tuh.”


“Apaan? Siapa yang mau jelasin Nenek?”


“What? Kakek udah tahu?” Senja tercengang saat sadar bahwa Kakeknya mengetahui rahasia yang mereka jaga baik-baik. Dia lalu melirik adiknya penuh rasa curiga. “Pasti kamu ya yang cerita sama Kakek.” Senja menuduh Sena.


“Enak aja. Aku enggak ada bilang apa-apa kok.”


“Kakek memang bisa lihat Mama kok, Sayang.” Agia menjawab rasa penasaran Sena.


“Yang benar, Ma? Iya, Kek? Kakek bisa lihat Mama?” Kejar Sena menuntut jawaban dari Kakeknya.


“Iya benar.” Sahut Ayah Agia singkat.


“Gimana, gimana?” Bunda Agia pun menuntut penjelasan dari orang-orang terkasihnya.


“Iya, Nek. Mama beberapa hari ini bareng sama kita di rumah. Tapi Mama jadi hantu gitu deh.” Balas Senja.


“Hantu? Jadi cuma jiwanya saja yang ada, gitu?”


“Iya, Nek. Keren kan?” Sahut Sena.


“Sekarang Mama kalian ada di dalam mobil sama kita?”


“Iya, ini duduk di sebelah aku.” Jawab Sena.


“Iya, Nek. Keren kan aku?”


“Gi, kamu sehat-sehat, Nak?” Tanya Bunda Agia lirih.


“Gimana bisa sehat, Bun. Itu kan rohnya Agia saja.” Jawab Suaminya.


“Ih Ayah ini. Maksud Bunda bukan gitu. Apa ada yang dirasa sakit atau gimana gitu.”


“Roh itu enggak bisa sakit, Bun.”


“Bisa, Yah. Kalau aku terlalu memaksa melewati pintu sendirian, terasa sakit kok.” Sahut Agia.


“Iya kah, Ma? Aku kok enggak dikasi tahu. Berarti kemarin di sekolah aku, Mama sakit ya?”


“Sakit sedikit.” Sahut Agia sambil menunjukkan ibu jari dan telunjuknya sebagai wujud tanda dari kata sedikit.


“Apa yang kamu rasa sekarang, Gi?” Tanya Ayah masih tetap fokus menyetir.


“Apa ya? Rasanya lelah, Yah. Kalau terlalu banyak bicara aku ngerasa kayak habis lari maraton.”


“Apa kata Agia, Yah?”


“Kalau kebanyakan ngomong jadi cepat lelah.” Sahut Ayah.


“Sebenarnya kamu kenapa? Kok bisa lama begini enggak sadarkan diri?” Tanya Bunda lagi.


“Iya, Gi. Apa ada yang mengikat jiwa kamu?” Ayah ikut serta menginterogasi Agia.

__ADS_1


“Aku enggak tahu, Yah. Jujur aja, aku enggak tahu harus mengira-ngira kenapa atau pun siapa.”


“Bagi tahu kamu ada di sini?”


“Enggak, Kek. Aku larang Sena untuk bilang. Aku takutnya kalau Papa ada niatan buruk ke Mama. Aku takut Mama enggak balik lagi.” Sahut Senja lirih. Mendengar itu Agia menggenggam tangan kiri Senja. Seketika Agia terkesiap.


“Ma! Mama pegang tangan aku ya? Kaget aku ma!” Senja berujar sewot.


“Segitu aja kaget. Huu..” Sena menggoda kakaknya.


“Memangnya Mama kalian bisa berkontak fisik?” Ayah Agia penasaran setelah mendengar perkataan Senja.


“Bisa, Kek. Bahkan Mama bisa kesana kemari karena aku pegang. Kalak enggak, Mama enggak bisa lewat. Jadinya terkurung di ruangan itu.” Sahut Sena.


“Agia, kamu mau bantu Ayah dan anak-anak untuk cari tahu apa sebenarnya yang terjadi?”


“Memangnya Mama kenapa, Kek?” Tanya Sena.


“Entahlah, ada aura hitam di ruang ICU tempat Mama kamu dirawat. Tapi Kakek enggak yakin itu apa. Awalnya Kakek mengira kalau itu malaikat yang akan mengajak Mama kalian ke..” Ayah Agia menghentikan ucapannya.


“Kemana, Kek?” Kejar Senja.


“Ke tempat lain.”


“Meninggal maksud Kakek?”


***


Rania mendekati Bagi yang sedang duduk di ruang tunggu ICU.


“Selamat siang, Kak Bagi.” Sapanya sopan.


Bagi menoleh dan membalas sapaan pegawai istrinya itu.


“Rania datang dengan siapa?”


“Sendirian, Kak. Kak Bagi sendirian? Anak-anak di mana?”


“Anak-anak sedang menginap di rumah Kakek dan Neneknya. Mau melihat Agia?”


“Iya, Kak. Tapi sebelumnya, mumpung Kak Bagi ada di sini, saya mau menyampaikan sedikit permohonan.”


“Permohonan apa?”


“Bisa Kak Bagi datang ke toko untuk mengecek keuangan dan segala hal tentang toko?”


Bagi mengernyitkan keningnya. “Memangnya kenapa?”


“Takutnya ada penyelewengan dana atau apapun di toko, Kak. Kan sudah lama Mbak Agia enggak memantau.”


“Memangnya penjualan berkurang?”


“Kalau penjualan setiap harinya ada saja, Kak.” Rania lalu menyerahkan buku kecil yang berisikan tulisan-tulisan tentang penjualan dua bulan terakhir. “Ini catatan dari saya pribadi. Mungkin bisa dicocokan dengan laporan dari Silvia, Kak.”


Bagi melihat sekilas catatan pada buku itu.


“Saya mohon, Kak. Jangan biarkan G Florist berlayar sendirian.”

__ADS_1


__ADS_2