Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 24


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 24


Sena berdiri di samping pintu gerbang dengan menatap heran ke arah Senja yang keluar dari dalam rumah menarik sebuah koper berukuran sedang. Dia sudah siap dengan seragam olah raga, sepatu olah raga berwarna hitam, dan juga topi pribadi warna senada dengan sepatunya.


“Yuk berangkat!” Perintah Senja kepada Sena.


“Kak! Jangan bercanda lah. Kita mau kemah, kenapa Kakak bawa koper?”


“Biar gampang dan semua masuk.” Sahut Senja santai tanpa menoleh Sena. Dia membuka pintu bagasi mobil untuk memasukkan kopernya yang berwarna hitam.


Sena menggelengkan kepala karena terheran-heran melihat kelakuan dari senja.


“Papa mana?” Tanya Senja karena mendapati tidak ada Bagi di luar rumah.


“Barusan ambil HP dulu katanya ketinggalan di kamar.” Sahut Sena yang beranjak memasuki kursi penumpang bagian belakang sebelah kanan.


***


Senja dan Sena telah sampai di depan gerbang sekolah pukul tujuh pagi.


“Kalian nanti hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, langsung bilang sama guru. Misalnya sakit kepala atau ada keseleo atau apapun itu, langsung bilang sama guru. Jangan ambil keputusan sendiri-sendiri, oke?” Pesan Bagi seraya menurunkan barang-barang Senja dan Sena dari bagasi mobil.


“Iya, Pa.” Sahut Senja dan Sena kompak. “Kita masuk dulu ya, Pa.” Senja menambahkan ucapannya kepada Bagi.


Sebuah sepeda motor menepi di depan gerbang sekolah, “Woi, Senja! Mau kemana lo? Mau pindah rumah?” Ledek Doni tidak tahan karena melihat Senja yang sedang mengatur posisi kopernya agar mudah ditarik. Doni menertawakan Senja karena selalu detail dalam persiapan.


Doni adalah salah satu teman sekelas Senja yang kebetulan sampai berbarengan di sekolah diantarkan oleh Bapaknya dengan menggunakan sepeda motor.


“Berisik, lo!” Sahut Senja seraya menjulurkan lidahnya. Sementara Sena mempercepat langkahnya agar tidak menjadi sasaran berikutnya dari ledekan Doni.


***


Semua siswa peserta kemah diarahkan untuk menuju ke lapangan sekolah. Sebelum keberangkatan menuju lokasi perkemahan, Kepala Sekolah akan memberikan beberapa hal seperti arahan dan juga himbauan.


Sena berjalan menuju barisan kelas 4-B dengan menggendong tas ransel berukuran besar. Upayanya cukup besar untuk mempertahankan opini agar dapat membawa ransel ini menggantikan tas jinjing yang disiapkan oleh Senja.


“Gue kira lo enggak jadi ikutan kemah.” Dandi berbicara sinis ketika Sena berjalan melewati teman-teman yang sudah datang lebih dulu.


Sena hanya meliriknya sekilas tanpa mau meladeni tingkah temannya yang selama empat tahun ini selalu berada di kelas yang sama. Dia tetap berjalan menuju barisan untuk siswa laki-laki.


“Sudah datang, Sen?” Tanya Elano ketika melihat Sena berjalan melewatinya dan berdiri di belakangnya untuk berbaris.


“Iya, baru aja.” Sahut Sena.

__ADS_1


“Gue agak ragu untuk ikut kemah nih, Sen.” Ujar Elano seraya membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Sena.


“Kenapa?” Tanya Sena sambil menatap wajah Elano.


“Gue takut.” Balasnya berbisik.


“Takut apaan?” Sena mendekatkan diri agar bisa mendengar suara Elano lenih jelas.


“Lo dengar gosip ada anak hilang pas jurit malam enggak?” Bisik Elano nyaris tanpa suara seraya mendekatkan bibirnya ketelinga Sena, otomatis Sena pun mendekatkan kepalanya.


Sena menarik tubuhnya tegak. “Serius lo?”


Elano menganggukkan kepala mantap. “Katanya anak itu hilang karena diculik seseorang.”


Sena mengernyitkan alisnya.


“Memangnya Kakak lo enggak ada cerita?”


“Enggak.” Sahut Sena dibarengi dengan menimbang-nimbang, apakah dirinya melewati suatu informasi dari Senja. Karena sering kali saat Senja berbicara, Sena malas mendengarkan.


Elano menghela napas pasrah. Melihat temannya nampak begitu takut, Sena menepuk pundak Elano. “Semoga itu cuma rumor aja, El. Lo enggak perlu takut. Kan kita ramai-ramai.”


Kemudian terdengar suara pengeras suara dari tengah lapangan. Bapak Hartanto sebagai Kepala Sekolah memulai untuk menyampaikan beberapa hal.


“Selamat pagi anak-anak. Apa bisa Bapak mulai kegiatan kita?” Ucap Pak Hartanto yang disambut dengan suara riuh dari siswa-siswa untuk menyanggupi pertanyaan dari Pak Hartanto.


Suasana lapangan menjadi hening karena para siswa menunggu Pak Hartanto memberikan instruksi tentang pembagian kelompok.


“Baik, yang pertama tolong dengarkan Bapak. Kita mulai dari kelas 4-A dulu, ya. Yang memiliki nomor absen ganjil silahkan berdiri di sebelah kanan, yang memiliki absen genap berdiri di sebelah kiri. Pak Guntur tolong anak-anaknya dibagi berdasarkan instruksi dari saya, ya. Yang nomor absennya ganjil pindah ke kanan yang nomor genap di sebelah kiri.”


Siswa-siswi kelas 4-A bergerak sesuai instruksi yang diberikan oleh Pak Hartanto. Setelah semua selesai menempati posisi, Pak Guntur menyiapkan barisan agar semua menjadi rapi kembali.


“Kelas 4-A beres, sekarang lanjut kelas 4-B, kelas 5 A dan B, juga kelas 6 A dan B. Tolong masing-masing wali kelas agar menyiapkan anak-anaknya supaya cepat.”


Lima belas menit kemudian, seluruh siswa telah berada pada posisi berdasarkan perintah dari Pak Hartanto. Suara riuh terdari dari seluruh penjuru lapangan upacara di sekolah.


“Sudah, sudah. Jangan ribut dulu. Ini mau Bapak lanjutkan lagi. Kelas 4-A, Kelas 5-B, dan Kelas 6-A, dengarkan, ya. Yang nomor absen ganjil satu sampai tujuh, silahkan berangkat ke lapangan di belakang sekolah. Sudah ada guru-guru yang akan mengantar ke lapangan. Ayo-ayo bergerak supaya cepat.”


Setelah instruksi-instruksi berikutnya, masing-masing kelas menyisakan lima orang anak di lapangan upacara. Pak Hartanto membagi mereka agar terdapat sepuluh group yang terdiri dari lima belas orang anak.


Seluruh siswa kini berjalan menuju lapangan di belakang sekolah melalui jalan utama. Tidak ada jalan pintas menuju lokasi. Mereka harus mengitari sekolah, berbelok ke jalan setapak dengan lebar seratus meter yang diapit oleh sawah.


Sesampainya di lokasi perkemahan, seluruh siswa harus menulis daftar absen berdasarkan kelompok masing-masing.


Setiap kelompok pun didampingi oleh tiga orang guru yang akan mengawasi selama kegiatan berlangsung.

__ADS_1


Dengan susah payah para guru dan siswa mendirikan tenda. Pihak sekolah menyewa banyak tenda untuk akhir pekan itu. Pak Hartanto pun meminta kepada vendor tenda agar tetap tinggal saat kegiatan mendirikan tenda.


“Minta tolong dibantu ya, Pak Leri. Nanti kalau enggak ada yang ahli kayak Bapak, bisa batal anak-anak kemah. Mendirikan tenda itu susah sekali, Pak.” Ucap Pak Hartanto kepada Pak Leri.


“Pasti, Pak Har. Sekolah ini kan sudah langganan dengan saya. Nanti anak buah saya akan mendampingi kok. Tenang saja, Pak Har.” Jawab Pak Leri.


Walaupun masing-masing kelompok memerlukan waktu hampir dua jam untuk mendirikan tiga tenda, semua terlihat sangat puas melihat tenda-tenda yang berdiri sempurna.


Para siswa meletakkan barang bawaan di dalam tenda masing-masing.


Perjalanan dari sekolah, juga kegiatan mendirikan tenda rupanya menguras tenaga anak-anak. Maka dari itu, guru-guru telah mempersiapkan makan siang berupa nasi bungkus untuk mereka.


Tanpa penolakan, para siswa menuntaskan panggilan dari masing-masing perut mereka.


***


“Kamu apa kabar, Stev?” Tanya Damar kepada Stevina yang kini duduk di hadapannya.


“Baik. Kak Damar bagaimana?” Balas Stevina dengan tersenyum manis.


“Aku masih begini saja.” Jawab Damar merendah. “Kamu kapan sampai Indonesia?” Lanjut Damar.


“Tadi pagi, Kak.” Balas Stevina.


Percakapan mereka terhenti, karena seorang pramusaji datang membawakan pesanan.


“Strawberry Milk Shake dan Caramel Macchiato.” Ucap pramusaji tersebut.


“Terima kasih, Mbak.” Ucap Stevina.


Keduanya menunda obrolan karena tergugah dengan minuman yang disajikan oleh pramusaji itu.


“Gimana kerjaan di Jepang? Lancar?” Sambung Damar lagi setelah meneguk kopi yang baru pertama kali diminumnya.


“Lancar. Tapi ya gitu, sering kangen rumah. Jadi aku pulang. By the way, Kak Damar sekarang senang minum yang manis-manis?” Balas Stevina.


“Sebenarnya aku baru nyoba pertama kali minuman ini. Ternyata rasanya aneh. Terlalu manis.” Jawab Damar meringis.


“Kalau begitu pesan saja yang lain, Kak. Macchiato saja, jangan diisikan karamel. Mungkin karamelnya itu yang bikin rasa jadi aneh.” Balas Stevina.


Damar diam menatap Stevina.


“Kamu masih marah sama aku?” Tanya Damar tidak menanggapi saran Stevina.


“Marah karena apa? Karena Kakak memberikan bunga untuk perempuan tadi?” Tembak Stevina sinis.

__ADS_1


“Bukan. Karena aku tidak mau menikah waktu itu.”


__ADS_2