
Mamaku Hantu
Part 66
Agia terduduk di bawah meja belajar Sena.
“Ma! Kenapa, Ma?” Tanya Sena panik saat mendapatin Mamanya duduk dengan memegangi perut.
“Perut Mama sakit sekali, Sena.” Sahut Agia getir.
Sena berhamburan menuju kamar Bagi.
“Pa! Pa! Mama sakit perut!” Teriak Sena panik membuat Bagi dan Senja keluar dari kamar ha masing-masing. Baru saja mereka beranjak menuju tempat istirahat setelah Damar, Andre, dan juga Ragil meninggalkan rumah mereka.
“Sakit perut gimana?” Tanya Bagi turut panik. Mereka semua bergegas menuju kamar Sena. Walaupun Bagi dan Senja tidak mampu melihat keadaan Agia, mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk membantu dan memberikan pertolongan untuk orang yang paling mereka sayangi.
“Ma! Masih sakit perutnya?” Tanya Sena hati-hati.
Agia mengangguk pelan.
Sena melihat Bagi dan Senja guna memberikan informasi bahwa Agia masih dalam kesakitan.
“Mama di bawah, Sen?” Tanya Senja.
“Iya, ini duduk di lantai.” Balas Sena.
“Pa, apa perlu kita ke rumah sakit? Siapa tau Mama kenapa-napa di sana, Pa.” Saran Senja membuat Bagi bingung.
“Enggak perlu, Senja. Mama enggak apa-apa, kok.” Sahut Agia lemah.
“Kalau enggak apa-apa kok tiba-tiba Mama kesakitan kayak gini?” Sungut Sena membalas ucapan Mamanya.
“Mama ingat sesuatu, Sena. Mama ingat, yang biasanya beli keperluan dapur di toko itu Tante Rania.” Ucap Agia tiba-tiba.
“Tante Rania?” Tanya Sena heran. Begitu juga dengan Bagi dan Senja yang saling lirik melihat Sena yang sedang berbicara seorang diri.
“Kita coba cari tahu, apa Rania ini punya masalah atau enggak sama Mama. Seingat Mama, keadaan di toko baik-baik aja. Tapi entahlah. Mama enggak yakin juga.” Ucap Agia nanar.
__ADS_1
“Mama bilang apa, Sen? Tante Rania yang ngeracunin Mama?” Tanya Senja sengit, napasnya memburu membayangkan keselamatan Mamanya terancam karena ulah seorang manusia yang masih berada dalam satu lingkungan.
“Mama enggak yakin, Kak. Mama bilang kalau Tante Rania yang biasa belanja kebutuhan dapur di toko. Kemungkinan besar Tante Rania yang naruh teh beracun itu di dapur.” Terang Sena.
“Memangnya Mama kalau di toko enggak buat teh sendiri?” Tanya Bagi yang tidak tahan ingin segera bebas bercengkrama langsung dengan pujaan hatinya.
Agia menggeleng lemah. “Enggak, Pa. Pasti Rania atau Sutustini yang buat teh untuk Mama.” Sahut Agia.
“Mama bilang kalau Tante Rania atau Tante Sutustini yang buat, Pa.” Ucap Sena menerangkan pada Bagi dan juga Senja.
“Kalau racun itu dimasukkan cuma-cuma ke teh yang ada di toko, kok cuma Mama ana yang sakit? Tante Silvia dan yang lain kok sehat-sehat?” Senja mengutarakan rasa penasarannya. Bagi dan yang lain tidak menyahut, karena memang tidak tahu harus menyahut apa.
“Lalu, kita harus cari tahu dari mana, Ma?” Tanya Bagi.
“Mama juga enggak tahu, Pa.”
***
Jari jemari Bagi bergegas mengetik oesan kepada Darmawan.
[Wan? Sudah tidur?]
[Wan, saya perlu sekali dgn hasil lab bunga kering dan teh itu. Kira-kira kpn bisa selesai hasilnya, ya?] Balas Bagi tanpa memberi jeda.
[Bsk pgi saya telp tmn saya. Bpk tggu kbr secepatnya. Semoga hasilnya sesuai yg Bpk harapkan. Btw klo saya blh tau, Bpk mengharapkan hasil apa?] Balas Darmawan lagi.
[Saya jg gak tau nih, Wan. Paling gak, hasil lab ini bs saya serahkan kedokter. Siapa tau dokter punya ide pengobatan lainnya. Saya takut terlambat, Wan.] Bagi mengetik pesan dengan perasaan penuh haru.
[Saya doakan yg terbaik u/ keluarga Bpk. Skrg Bpk istirahat dulu. Bsk kita bahas lg di kantor. Semoga hasilnya bs keluar bsk.] Darmawan terlihat bingung harus membalas apa. Balasan pesannya terkesan diplomatis.
[Trims ya, Wan. Slmat istirahat.]
[Selamat malam Pak]
Bagi meletakkan telepon genggamnya atas nakas. Pikirannya melayang membayangkan hal-hal buruk terjadi jika dirinya benar-benar harus hidup tanpa Agia. Kepalanya menggeleng dengan cepat, seolah hendak menghilangkan bayangan buruk itu. Tangannya kemudian mengambil telepon genggam dan mengirimkan pesan pada Silvia.
[Sudah tidur, Sil?]
__ADS_1
Pesan yang dikirimkan Bagi belum terbaca. Sebenarnya Bagi hanya ingin mengenal lebih jauh tentang pegawai-pegawai di tempat istrinya berusaha. Tapi sepertinya Silvia sudar tidur.
Bagi lalu mencari nomor kontak Damar, dia lalu menghubungi sahabatnya itu.
“Kenapa? Lo belum tidur?” Sahut Danar saat sambungan telepon mereka terhubung.
“Apa sebaiknya gue cerita ke Pak Andre tentang masalah Agia?” Terang Bagi pada Damar.
Damar terdengar diam sebelum menjawab. Sepertinya Damar tidak menyangka jika Bagi menanyakan perihal Agia.
“Memangnya lo sudah punya bukti akurat?”
“Justru, karena gue belum punya bukti, gue perlu bantuan yang lebih paham, Mar. Barusan Sena bilang kalau Mamanya kesakitan dibagian perut. Gue yakin banget kalau Agia mengkonsumsi sesuatu yang enggak seharusnya.” Bagi menceritakan pengalamanmya barusan bersama Sena dan Senja. “Agia bilang kalau selama di toko, pegawainya yang membuatkan teh, Mar. Gimana caranya kita menyelidiki orang ini tanpa harus membuat dia curiga.” Jelas Bagi melanjutkan.
“Jadi Agia curiga kalau salah satu pegawainya yang nyelakain dia, gitu?” Balas Damar antusias.
“Agia enggak yakin. Kalau hasil lab teh yang gue temuin keluar, kita jadi bisa tahu itu teh apaan. Kalau pun hasilnya keluar, gimana kita bisa tahu itu teh punya siapa. Pala gue pusing, Mar. Mumet banget!” Sahut Bagi mengeluhkan perasaannya.
“Ya jelas pusing lah. Gini deh, besok kan gue juga anak-anak lo ketemu sama Pak Andre. Coba gue iseng aja cerita tentang Agia. Siapa tahu dia ada ide dan mau bantu kita. Gimana menurut lo?” Tanya Damar berusaha memberikan sedikit jalan keluar agar perasaan Bagi lebih tenang.
“Gue minta tolong ya, Mar. Sekalian bantu titip anak-anak gue. Mereka enggak punya rasa takut. Yang ada cuma rasa penasaran yang tinggi.” Sahut Bagi.
“Ya sama lah kayak kita dulu. Kalau belum terungkap semua, kita gak berhenti menggali, terus menggali sampai jelas. Ya walaupun hasilnya justru menyakitkan ya, Bro.” Balas Damar disertai tawa renyah. “Ya udah, sana lo istirahat. Enggak usah mikir aneh-aneh. Kalau lo sakit, anak-anak mau gimana?”
“Sekali lagi, makasi banyak ya, Mar. Selalu bantu gue.”
“Lo jadi melankolis begini. Ngeri gue, ngeri, Bro!”
Mereka berdua lalu tertawa bersamaan.
***
Berarti, sekarang saya boleh ngemis like lagi? Boleh dong masak enggak. Hehehe. Minta bantuannya untuk ngelike, komen, apa lagi kalau komennya baik-baik wih saya semakin semangat merangkai kata-kata sederhana untuk Mamaku Hantu.
Kalau saya ngemis vote boleh gak sih? Biar keren kayak penulis besar lainnya gitu. Banyak sekali punya vote. Ngarep mulu Mamak-mamak anak dua.
Baiklah. Sekarang kita istirahat dulu ya. Besok mulai lagi kelanjutannya.
__ADS_1
Salam sayang,
Intan Pandan.