
Mamaku Hantu
Part 29
***
Ragil memarkirkan sepedanya di depan gerbang sekolah. Tidak lupa dia mengaitkan kunci sepeda dengan baik antara ban sepeda dan pintu gerbang sekolah. “Dasar Riki pengecut. Cuma segini aja kok harus takut. Apa yang harus ditakutkan?” Ragil merutuki temannya dengan mulut berkomat-kamit pelan. Kesal sekali rasanya jika harus berjuang sendirian melawan rasa penasaran namun sekaligus ketakutan.
“Lo baik-baik di sini ya, Sepeda. Nanti kalau ada yang mau ngambil, lo teriak aja. Biar gue cepet-cepet ke sini, ok?” Ucap Ragil kepada sepedanya.
Ragil lalu memandang gedung dibalik pintu gerbang yang sangat besar itu. Sekolah dalam keadaan gelap, walau ada beberapa lampu yang dibiarkan hidup sebagai penerang. Ada rasa ragu untuk melanjutkan perjalanan malam itu.
Ragil melirik kesekitar. Sepi. Tidak ada siapa pun. “Bukannya ada Pak Satpam, ya? Kok malam ini malah enggak ada?” Tanya Ragil pda dirinya sendiri.
Ragil berjalan memutar ke sebelah kanan sekolah, berlawanan dengan arah menuju jalan setapak yang membawa siapapun melewatinya akan sampai di persawahan dan juga lapangan.
Terdapat pohon kamboja besar di luar tembok sekolah. Ragil naik ke atas pohon kamboja agar bisa meraih puncak tembok dan melompatinya.
Begitu berhasil duduk di puncak tembok, Ragil menyesali keputusannya untuk datang ke sekolah.
“Ngapain coba gue ke sini. Kalau lompat ke bawah apa mungkin kaki gue akan patah?” Tanya Ragil pada dirinya sendiri.
Ragil merapalkan sebait doa agar segala urusannya berjalan lancar malam ini.
Ragil mendorong tubuhnya dan mendarat sempurna dengan bertumpu pada kedua kaki.
Ragil menghela napas lega. “Enggak jadi nyesel, deh. Ternyata langkah pertama berjalan lancar.” Ucapnya lagi.
__ADS_1
Berikutnya Ragil memfokuskan diri untuk bergerak menuju belakang sekolah. Tembok tinggi yang menjadi pembatas sekolah akan diraihnya kini.
Ragil mengambil bangku yang berada di depan gudang sekolah. Dia lalu memastikan jika bangku tersebut aman untuk dinaiki. Walaupun bangku tersebut tidak lagi sempurna, namun kekuatannya masih kokoh. Ragil memantapkan diri untuk naik ke atas bangku agar bisa melihat ke arah lapangan belakang sekolah. Hal pertama yang dilihat oleh Ragil adalah kebun pisang dalam keadaan gelap gulita. Kemudian lapangan besar dan luas yang telah didirikan puluhan tenda di atasnya.
Ragil melirik jam tangannya, “sudah jam sembilan. Pantas perkemahan sudah sepi. Mereka pasti sudah masuk ke dalam tenda.” Ucap Ragil dalam hati.
Tanpa menunggu lebih lama, Ragil meraih ranselnya dan mengeluarkan Action Camera berukuran kecil dengan bentuk persegi. Dia memastikan lagi jika kamera tersebut berfungsi dengan baik. Sigap Ragil meletakkan kamera tersebut dikepalanya yang telah dibaluti oleh topi kupluk agar terhindar dari serangan udara dingin. Kemudian Ragil meraih lampu senter berukuran kecil, tali pada ujung senter dimasukkannya kedalam pergelangan tangan agar benda penting itu tidak jatuh, apa lagi menghilang.
Dalam hitungan detik, Ragil menaiki tembok hingga terduduk di puncak. Tembok belakang sekolah tidak setinggi bagian samping seperti sebelumnya. Hal ini lebih memudahkan Ragil untuk lompat turun. Dalam sekali gerakan, dia berhasil mendarat dengan sempurna dengan disertai bunyi berdebum dari sepatunya.
Ragil melihat ke sekitar, kebun pisang terasa begitu menyeramkan malam ini. Desau angin bergemerisik menggerakkan daun-daun pisang saling bergesekan. Suara-suara yang tidak diketahui dengan pasti membuatnya berpikir yang bukan-bukan. Seketika Ragil bergetar menahan rasa takut.
Dia hidupkan lampu penerangan yang akan menjadi sahabat karibnya selama beberapa jam kedepan.
Ragil lalu berjalan lurus ke depan menuju toilet di lapangan.
Suasana semakin mencekam karena penerangan dari lampu toilet semakin sirna. Pikiran Ragil tertuju pada film pendek yang pernah ditontonnya beberapa waktu lalu. Film itu menceritakan tentang ilmu hitam yang mampu merubah diri menjadi batang pohon pisang, lalu bersembunyi di antara pohon-pohon asli lainnya. Perubahan fisik itu dilakukan agar masyarakat tidak tahu jika yang bersangkutan adalah penganut ilmu sihir, jadi dia mengkamuflasekan dirinya menjadi suatu benda. Paling sering penganut ilmu hitam itu mengubah diri menjadi batang pohon pisang. Ragil bergidik ngeri jika seandainya saat ini salah satu dari beribu pohon pisang ini berbicara padanya.
Ragil memfokuskan lagi pengelihatannya pada rencana awal. Dia berhenti sebentar lalu mencari tempat yang tepat untuk merekam segala aktivitas di lapangan agar mudah dijangkau oleh tangkapan kameranya.
“Oh! Itu Senja sama Pak Guntur!” Ucap Ragil dalam hati. Ragil terus mengamati. Beberapa saat kemudian Ragil melihat pergerakan dari Pak Hartanto menuju toilet, “Waduh! Ada Pak Har!” Ucap Ragil dalam hatinya. Ragil bergegas menyembunyikan tubuhnya agar tidak terlihat. Sedetik kemudian, Ragil mencari-cari keberadaan Pak Hartanto. “Weleh, mana Pak Har? Kok hilang?” Ujar Ragil berbisik.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya yang menyebabkan Ragil tersentak kehilangan napas.
***
Aku merasa resah memikirkan anak-anaknya yang sedang belajar untuk bertumbuh menjadi mandiri.
__ADS_1
Kekhawatiranku menjadi berlebih karena keikutsertaan Agia dalam momen ini tidak ada. Ditambah tanpa sengaja aku mendengar ucapan Ragil, tetangga depan rumah yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Kenapa Ragil sangat cemas dengan acara perkemahan? Menyesal sekali rasanya karena aku tidak langsung bertanya kepada Ragil. Sekarang sudah jam sepuluh malam, apa benar Ragil akan ke tempat perkemahan? Haruskah aku menyusulnya?
***
Bagi memerhatikan rumah Ragil dari balik pintu gerbang rumahnya. Dia menimbang, apakah masih pantas untuk bertamu ke rumah tetangga pada jam ini?
Bagi membuka pintu pagarnya dan berjalan pelan ke seberang. Masih terdengar suara televisi dari dalam rumah Ragil. Bagi memutuskan untuk memanggil tuan rumahnya.
“Permisi, selamat malam…”
Tidak berapa lama wajah Bapak Ragil muncul dari balik gorden yang tersibak. Berikutnya, suara putaran kunci sebanyak dua kali dan diikuti oleh terbukanya pintu rumah Ragil.
“Pak Senja. Tumben, Pak. Apa ada masalah?” Bapak Ragil terburu-buru berjalan menuju pintu gerbang.
“Maaf Pak Ragil, saya pasti sangat menganggu ini,”
“Ada apa, Pak?” Tanya Bapak Ragil gugup.
“Saya mau bertemu dengan Ragil, bisa?”
Alis Bapak Ragil terangkat. “Ragil? Dia lagi nginap di rumah temannya, Pak. Ada apa kalau boleh saya tahu. Apa ada masalah dengan Ragil?” Tanya Bapak Ragil semakin cemas.
“Oh enggak ada apa-apa kok, Pak. Saya cuma mau minta nomor telepon salah satu guru di sekolahnya Senja dan Sena. Siapa tahu Ragil punya. Mereka sekarang lagi kemah, Pak. Pengen ngecheck saja, sih.”
Wajah Bapak Ragil kembali tenang. “Saya pikir ada apa. Dia tadi jam tujuh kayaknya pergi deh, Pak. Atau saya telepon saja dia, Pak. Tunggu saya ambil HP dulu ya. Enggak hapal saya sama nomornya Ragil.”
“Maaf kalau merepotkan, Pak. Sampai saya ke sini malam-malam.”
__ADS_1
“Enggak apa-apa, Pak. Tetangga itu kan sudah seperti saudara. Orang pertama yang akan selalu membantu saat kita kesusahan.”