
Mamaku Hantu
Part 35
“Dandi!” Teriak Elano begitu keras karena perasaan campur antara lega dan juga marah menjadi satu.
“Lo ngapain di sana? Mau ngerjain kita, ya?” Tuduh Elano sengit. Dirinya tidak terima jika harus mengalami rasa takut berlebihan seperti tadi jika tujuan Dandi hanya untuk keisengan belaka.
Dandi berjalan mendekati anggota kelompok dua. Anggota kelompok lainnya bergerumul mendekati Dandi karena penasaran, mengapa dia bisa berada di dalam kebun pisang?
“Gue mau gabung di kelompok kalian. Gue harus nemuin Danti.” Sahutnya tegas.
“Danti?” Tanya Deva heran. “Ngapain lo mau nemuin Danti?”
Sena berjalan mendekati Dandi yang terlihat salah tingkah. “Biar gue yang cerita, Dan.”
“Jadi gini guys, Danti itu saudara kembarnya Dandi.” Ucap Sena membuka penjelasan tentang munculnya Dandi diantara mereka.
“What?” Sahut Elano. “Ini, memang cuma gue yang enggak tahu atau gimana?”
“Iya, memang gue enggak pernah cerita sama siapa-siapa. Gue juga enggak mau Danti cerita sama siapa-siapa.” Balas Dandi.
“Ya gitu lah badungnya Dandi. Saudara sendiri aja enggak mau diakui.” Sahut Sena menyindir Dandi.
“Terus? Apa benar kata Pak Guntur kalau Danti pulang dijemput sama bokap nyokap lo?” Tuntut Tia antusias dan berharap agar Dandi menjawab benar. Sayangnya, Dandi memberikan gelengan lemah.
“Jadi, Danti dimana?” Tanya Yulia mulai tidak nyaman dengan keadaan saat ini.
“Itu yang harus kita cari tahu. Rencana gue dengan Sena dan Dandi tadi adalah, kita harus pura-pura beranggapan bahwa Danti memang benar dijemput orang tua pulang ke rumah. Disana kesempatan kita untuk memperhatikan sesuatu yang mencurigakan. Kalau kita menuntut ke guru-guru, takutnya pelaku justru memperketat penjagaan atau memindahkan tempat persembunyian Danti. Gue yakin, Danti masih ada di sekitar area perkemahan.” Terang Doni berusaha membuat yang lain agar mengerti tujuan mereka.
“Lalu, gimana dengan kelompok Dandi yang di lapangan? Nanti mereka bingung nyariin lo.” Tanya Jeremiah memastikan rencana mereka agar berjalan dengan lancar.
“Gue kelompok sepuluh, jadi masih ada waktu untuk balik ke kelompok gue. Kalau pun enggak keburu waktu, gue bisa bilang kalau di toilet.” Sahut Dandi meyakinkan yang lain.
“Jadi jurit malam kita sekarang bukan hanya sekedar rentetan acara perkemahan, nih?” Tanya Deva dengan wajah berubah menjadi semangat.
“Betul! Kita punya misi untuk menyelamatkan Danti.” Balas Elano.
__ADS_1
Di dalam gelapnya kebun pisang yang dingin, kelima belas anak dibawah umur itu berjuang untuk mencari keberadaan salah satu temannya yang berada entah dimana.
***
“Pos 2 lagi seberapa jauh sih, Kak?” Tanya Nadia yang berjalan bersebelahan dengan Rama.
“Seingat gue, enggak terlalu jauh. Mungkin sebentar lagi. Kenapa?” Tanya Doni memastikan.
“Gue, kayaknya gue lapar deh.” Balas Nadia.
“Memangnya di Pos Pemberhentian ada makanan?” Tanya Rama kepada Nadia.
“Enggak tahu gue. Kali aja salah satu guru ada yang bawa makanan gitu.” Balas Nadia. “Yang lain, pada lapar juga, enggak?” Sambung Nadia lagi.
“Enggak terlalu sih gue. Gue haus. Untung aja bawa minum.” Balas Jeremiah yang berjalan berdampingan sengan Sena.
“Kita berhenti sebentar, yuk?” Saran Sena.
Mereka lalu berhenti sebentar dan duduk saling berdekatan. Sena memeriksa tasnya. Saat memastikan ketersediaan air minum tadi, dia melihat ada tiga bar cokelat yang disiapkan oleh Senja.
“Gue ada cokelat. Setahu gue cokelat lumayan bisa ganjal lapar. Makan ini aja dulu, Nad.” Ucap Sena. Sena lalu mengambil satu bar cokelat dari dalam ranselnya dan membagi menjadi empat bagian.
Yudis melirik deretan pohon pisang di sekitar mereka. “Siapa tahu ada pohon yang buahnya sudah matang.” Ucap Yudis dengan tatapan penuh selidik.
“Ih, takut ah kalau metik langsung. Nanti ganggu yang lagi rapat di pohon pisang.” Balas Tia menyindir Deva dan disambut gelak tawa dari yang lain.
“Bagus juga ide lo, Dis. Kita sama-sama saling lihat ya, siapa tahu nemu buah pisang yang bisa dipetik.” Sambung Jeremiah menyetujui saran Yudis.
Saat semua sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, Tia mendengar suara-suara dari arah selatan. Tangan Tia mencengkeam erat lengan Yulia. “Aw! Sakit, Ti!” Jerit Yulia mengagetkan yang lain.
“Kalian dengar, gak?” Ucap Tia berbisik. Yang lain pun diam dan memasang telinga dengan fokus pendengaran dua kali lebih tajam dari sebelumnya.
Doni yang mendengar suara dari arah selatan segera mengarahkan lampu penerangan. Sena dan Dandi mendekati Doni. Mereka bertiga memberi kode untuk mendekati asal suara.
Perlahan-lahan mereka bertiga berjalan dengan waspada.
Beberapa langkah kemudian suara tadi menghilang berganti dengan sinar terang dari balik pohon. Cahaya lainnya yang berwarna merah kecil pun terlihat bergerak ke sana kemari. Dandi menahan napas tegang. Doni menguatkan kakinya, jika sesuatu yang muncul ini membahayakan, akan ditendang dengan sangat kuat. Sementara Sena berjongkok dan mengambil segenggam tanah. Sena akan melemparkan mata lawannya dengan tanah, jika diperlukan.
__ADS_1
“Woi! Kita bukan orang jahat!” Ucap Ragil yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon pisang.
Sinar lampu yang dibawa Sena menangkap wajah Ragil, “Kak Ragil! Kak Ragil, kan?” Tanya Sena tidak percaya dengan pengelihatannya.
“Iya, ini gue! Kalian pikir gue setan?” Balas Ragil sengit. Doni mengendurkan kekuatannya karena mengetahui jika Sena mengenal orang yang kini sedang berdiri di hadapannya.
“Ngapain Kak Ragil di sini?” Tanya Sena. Anggota kelompok dua yang lain mendekati Sena. Tidak ingin rasanya melewati setiap detail ketegangan yang mereka lalui.
“Gue lagi ngerekam muka-muka takut kalian. Kapan lagi penonton gue bisa ngelihat bayi-bayi yang lagi jurit malam dengan muka ketakutan begini?” Jawab Ragil membuat yang lain kesal.
“Kok kalian bisa lihat kita, sih?” Tanya Riki menyertai percakapan antara Ragil dan Sena.
“Iya! Gue yang lihat. Jangankan dua manusia usil dan tengil macam kalian. Malaikat pencabut nyawa aja bisa gue lihat! Makanya jangan sok oke deh lo berdua!” Balas Tia sangat kesal karena harus dua kali mengalami kenaikan adrenalin malam ini.
Riki mendengus karena harus menahan tawa ulah ucapan Tia. “Lagak lo bisa ngelihat malaikat, dengar gue nyandar di pohon pisang aja udah takut.”
“Kak Ragil. Itu yang dikepala Kakak, kamera ya?” Tanya Sena.
“Iya. Kenapa?” Jawab Ragil.
“Gue boleh tahu enggak, Kak Ragil dari kapan ada di sana?”
“Dari kalian baru tidur. Kenapa?” Tanya Ragil penasaran.
“Boleh gue lihat-lihat isi rekamannya, enggak Kak?”
“Memangnya kenapa?”
“Salah satu dari kita menghilang, Kak.”
***
Aku pikir penculikan itu cuma isu biasa. Ternyata ini benar-benar terjadi. Tapi kenapa harus aku yang jadi korban, ya? Bodohnya aku terlalu gampang percaya dengan orang itu. Dari awal orang itu memang mencurigakan dan penuh misteri.
Dimana ya ini? Aku enggak bisa lihat apa-apa. Apa enggak ada sedikitpun cahaya untuk memastikan posisiku sekarang.
‘Grodog, grodog…’
__ADS_1
Hah? Suara apa itu? Aduh, aku takut sekali, Ibu. Aku mau pulang. Tuhan, tolong selamatkan aku, Tuhan.
***