Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 6


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 6


Bagi membuka pintu rumah dan terkejut karena mencium aroma yang sangat dikenalnya. Kopi dan creamer seperti buatan Agia menguar di seluruh penjuru rumah.


Dada Bagi bergemuruh menahan rasa rindu dengan perempuan yang tak pernah sedetikpun redup geloranya.


Bergegas Bagi menuju meja makan. Senja dan Sena tengah duduk dan bersiap untuk menyantap makan malam. Mereka berdua monoleh ke arah datangnya Bagi.


“Papa, sudah pulang? Ayo kita langsung makan malam, Pa.” Ajak Senja kepada Papanya.


“Siapa yang bikin kopi?” Tanya Bagi tanpa bisa menahan rasa penasarannya. Masih berdiri Bagi kini berada di samping kursi tempat dia biasa duduk bersama keluarganya.


Senja dan Sena saling pandang memberikan kode, siapa yang harus menjawab pertanyaan Papa.


“Aku, Pa.” Sahut Senja santai. Sementara Sena melirik kursi kosong di hadapannya. Kosong untuk Bagi dan Senja, tapi tidak dengan Sena. Mamanya sedang duduk memperhatikan segala yang terjadi.


“Bohong.” Bagi lalu menyeruput kopi tersebut. “Ini Kopi buatan Mama.” Lanjutnya lirih.


Sena hampir mengatakan sesuatu namun disambut dengan gelengan kepala dari Senja. Sena melirik Mamanya yang berubah sendu.


“Gimana sih Papa. Mama kan di rumah sakit. Itu aku yang buat kok. Kan sering lihat Mama buatin Papa Kopi.” Terus berkelit.


Otot-otot dan sendi Bagi luruh karena harus kembali kepada kenyataan bahwa istrinya masih tidak sadarkan diri di rumah sakit. Kedua kaki Bagi tidak sanggup menopang tubuhnya. Dia memutuskan untuk duduk.


“Pa, makan dulu terus mandi ya.” Tegur Sena menyadarkan Bagi yang masih memperlihatkan wajah sendunya.


Bagi lalu tersenyum. Dia kemudian mengedarkan penglihatannya ke atas meja. Wajahnya berubah lebih heran.


“Siapa yang masak?” Bagi bertanya karena melihat hidangan nasi goreng, telur gulung, dan sambal terasi.


Senja lagi-lagi menatap adiknya agar tidak mengatakan apapun.


“Tadi aku order lewat online, Pa. Ada kurir yang bawa ke rumah.” Sahut Senja cepat.


Bagi meraih piring dan menyendok nasi goreng serta telur gulung.


Senja dan Sena menatap lekat Papanya yang memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya. Senja menahan napas menunggu respon yang akan dikeluarkan oleh Bagi.


Rasa yang tidak pernah berubah sejak dua belas tahun Bagi mengajak Agia untuk hidup bersama. Nasi goreng pedas manis dilengkapi dengan potongan wortel yang sangat kecil karena Bagi dan anak-anak tidak suka wortel.


Kedua mata Bagi mengembun menahan haru. Dengan cepat Bagi juga mencoba sambal terasi yang diletakkan di dalam wadah kecil berbentuk daun.

__ADS_1


Bagi menahan tangisannya agar tidak keluar. Dengan cepat Bagi melahap nasi goreng yang dirasakannya penuh dengan cinta kasih. Tidak berapa lama makan malam disudahi oleh Bagi.


“Papa duluan ya, Papa mau mandi terus ke rumah sakit lihat Mama.” Bagi tidak menunggu jawaban dari anak-anaknya. Bagi berhamburan menuju kamar tidurnya dan menangis dengan dada penuh kesedihan.


Bagi merasakan kehilangan teman bercerita, teman berkeluh kesah, teman bercanda, teman tertawa, teman bermain, juga teman berdiskusi. Cinta sejati yang dirasakan Bagi terhadap Agia menjadi dukungan dan kekuatan dalam hidupnya.


“Mama, Papa rindu, bangun Ma. Tolong segera sadar.” Ucap Bagi lirih.


***


“Kasihan Papa, Kak.”


“Enggak ada kasihan-kasihan begitu. Kalau ternyata benar Papa ada niatan jahat sama Mama, gimana? Mending kita diam dulu deh.”


Senja mencuci piring bekas makan malam keluarga. Agia berdiri di sebelah Senja memperhatikan anak sulungnya yang sudah bisa diandalkan untuk mengurus rumah tangga. Walaupun Sena ngotot meminta untuk dimasakkan nasi goreng sebagai makan malam.


Senja tidak setuju awalnya, karena pasti akan memancing Bagi dan mengenali masakan Mamanya.


“Kenapa Kakak bisa curiga banget sama Papa, sih?” Agia bertanya kepada anak-anaknya.


“Kak, ditanya Mama, kenapa Kakak bisa curiga sama Papa?”


“Curiga aja. Siapa tahu Papa punya pacar. Terus biar Mama enggak tahu, jadi Mama dibikin koma.”


“Tadi Papa kan bilang mau ke rumah sakit, kita ikut aja kalau gitu. Siapa tahu Papa bohong.” Kata Sena mengajukan ide.


“Setuju. Yuk kita ganti baju.” Sena menyetujui ajakan Senja.


***


Senja dan Sena telah siap menunggu Bagi di ruang televisi.


“Kalian sudah selesai makan?”


“Sudah, Pa. Papa jadi ke rumah sakit?” Tanya Senja.


“Jadi. Kalian baik-baik di rumah ya. Pintunya dikunci aja. Enggak perlu nunggu Papa datang.”


“Kita ikut, Pa.” Sahut Sena.


“Kalian kan besok sekolah.”


“Papa juga besok kerja.”

__ADS_1


“Nanti kalau Papa lama gimana?”


“Enggak apa-apa. Kan lamanya nengokin Mama. Siapa tahu kalau kita nengok ramai-ramai, Mama cepat sadar.” Sena tidak mau kalah menuntut keikut sertaannya kepada Bagi.


“Ya sudah. Ayo.”


Sena segera menggenggam erat tangan Mamanya agar mereka tidak berpisah lagi.


***


“Tadi Tante Silvi jadi jemput kalian dari sekolah?” Bagi membuka pembicaraan di dalam mobil.


“Jadi, Pa. Cuma ya itu. Terlambat lagi.” Sahut Sena malas. Sena duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Mamanya. Sementara Senja duduk di kursi penumpang bagian depan, di sebelah Bagi.


“Mungkin di toko ada banyak urusan. Kan semua tugas Mama, Tante Silvi yang ambil alih.”


Tidak ada yang menyahut. Hanya saja Sena melihat Mamanya tersenyum kecut saat tahu bahwa anak bungsunya tidak menyukai pegawainya.


“Pa..” Panggil Senja.


“Hm..” Sahut Bagi dengan mata tertuju pada jalanan di depan sana.


“Seandainya, seandainya nih. Seandainya kalau Mama enggak bangun lagi, gimana?”


Bagi menoleh Senja sekilas.


“Kok kamu ngomong gitu?”


“Aku cuma tanya, Pa.”


“Jangan nanya gitu. Papa enggak mau kalau Mama kalian pergi. Papa enggak akan rela kalau harus pisah sama Mama.” Sahut Bagi tegas.


Senja memandang Papanya yang tetap fokus menyetir.


“Seandainya Mama enggak bangun, apa Papa bakalan nikah lagi sama perempuan lain?” Senja menembak tepat sasaran.


Bagi memasang lampu sein untuk memberikan tanda akan berhenti di pinggir jalan.


“Kamu kenapa bilang gitu? Sampai kapanpun Mama akan jadi satu-satunya istri Papa. Mama kalian itu orang yang sangat sederhana tapi bisa membuat Papa merasa istimewa. Seandainya pun kematian akan ada di antara Papa dan Mama, Papa yakin Papa dan Mama akan bertemu kembali di surga sana. Walau apapun yang terjadi, walau Papa dan Mama harus terpisah, tapi enggak akan ada yang berubah. Mama kalian itu Papa yang memilih. Mama itu bisa membuat Papa bahagia dengan cara Mama sendiri.” Bagi tidak dapat menahan rasa sedihnya membayangkan harus berpisah dari cinta sejatinya.


“Maaf, Pa.” Sahut Senja lirih. “Aku enggak tahu kalau ternyata Papa secinta itu sama Mama. Maaf kalau aku menganggap Papa lain.” Senja pun tak kuasa untuk menahan air mata yang mengalir bagaikan tetesan air hujan, semakin deras.


Sena melirik Agia dengan derai air mata tanpa suara.

__ADS_1


“Ma, Mama akan sadar, kan?”


__ADS_2