
Mamaku Hantu
Part 43
“Sena, kamu enggak apa-apa, Nak?” Tanya Agia khawatir. Betapa hancur hatinya saat mendapati seseorang yang disebut sebagai Om Jahat oleh Raya, mendorong tubuh anak bungsunya ke dalam ruang rahasia.
Menyesal hati Agia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong anaknya itu.
“Enggak apa-apa, Ma. Tapi, kita harus segera keluar dari sini, Ma. Danti ada di dalam tas ransel yang dibawa Pak Teguh.” Jawab Sena.
“Pak Teguh? Kamu tahu orang tadi itu?” Mata Agia membesar saat Sena menyebutkan nama Om Jahat itu sebagai Pak Teguh.
“Iya, Ma. Pak Teguh itu guru di sekolah kita.” Jawab Sena.
Ragil dan Riki diam terpana mendengar Sena mengoceh sendirian seperti tidak normal.
“Kalian enggak perlu kaget, Kak. Sena memang bisa berkomunikasi seperti itu.” Ucap Doni menjelaskan kepada Ragil dan Riki yang semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
“Jadi di sini ada hantu?” Tanya Ragil ragu.
“Bukan hantu, Kak. Tapi nyokap gue.” Balas Sena.
“Nyokap lo kan lagi sakit, Sen.”
“Betul, tapi jiwanya selalu sama gue, kemana pun gue pergi.” Balas Sena seraya menggenggam tangan Agia.
“Sekarang gimana cara kita keluar, Ma?” Tanya Sena.
“Danti gimana, Tante?” Tanya Doni yang serta merta membuat Agia terkejut.
“Kamu bisa lihat Tante?” Tanya Agia heran.
“Bisa, Tante. Anak perempuan yang sama Tante itu juga bisa aku lihat. Kemana dia Tante? Siapa itu?” Doni memberondong Agia dengan berbagai pertanyaan.
“Nanti Tante cerita. Sekarang, Ragil apa kamu bawa HP?” Tanya Agia.
“Kak Ragil, bawa HP enggak?” Tanya Sena mengulang pertanyaan Agia.
Ragil merogoh sakunya dan mendapati telepon genggamnya. “Bawa, nih.” Doni menyodorkan telepon genggamnya untuk Sena.
__ADS_1
“Saat ini kondisi kita tidak mungkin bisa melawan orang itu. Pertama, dia tahu betul situasi dan keadaan di area ini. Kedua, dia orang dewasa yang jahat, kita enggak pernah tahu, apakah dia punya komplotan atau enggak. Dia bisa ngelakuin apa aja untuk nutupin kejahatannya. Sementara kalian cuma anak-anak. Bahaya sekali. Ketiga, orang itu membawa teman kalian di dalam tas ransel besarnya itu. Mama takut, kalau dia kehabisan oksigen di dalam sana. Mama rasa, teman kalian itu pingsan. Jadi, sekarang segera hubungi Papa.” Terang Agia. Sena dan Doni mendengar Agia dengan seksama, juga menyetujui semua pemikiran Mama Sena itu.
Ragil dan Riki bingung juga heran saat menyaksikan Sena dan Doni menatap satu titik secara bersamaan dalam keadaan diam.
“Woi, ngapain kalian diam begitu? Gue jadi takut.” Ucap Riki lirih.
Doni bergegas meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya untuk memberikan kode agar diam.
“Enggak ada signal, Ma.” Sena mengacung-ngacungkan telepon genggam Ragil ke udara.
“Ragil…” panggil Dara lirih. Agia terperanjat karena sangat terkejut mendengar suara Dara.
“Siapa itu?” Tanya Agia.
“Kata Kak Riki, dia Dara yang dua tahun lalu dikabarkan hilang, Tante. Ternyata dia disekap di sini selama ini.” Doni memberikan penjelasan kepada Agia berdasarkan informasi dari Riki.
“Dara, lo manggil gue?” Balas Ragil seraya mendekat kepada Dara.
“Dia biasa pegang HP sambil duduk di sana. Coba geser rak itu sedikit.” Ucap Dara lembut.
Sena segera mengikuti arahan yang disebutkan oleh Dara. Benar saja, terdapat pipa yang sepertinya mampu mentransfer signal dari atas sana.
Sena dengan cepat menghubungi Bagi. Telepon tidak segera diangkat, bisa jadi karena Bagi masih terlena oleh buaian nikmatnya selimut.
“Pa, ini Sena. Dengerin aku baik-baik. Aku keterbatasan signal. Aku diculik oleh guru yang namanya Pak Teguh, dan disekap di bawah kandang, Pa. Di dalam kebun durian. Tolong, Pa. Urgent!” Ucap Sena lugas.
“Ha? Jangan bercanda, Sena.” Sahut Bagi tidak serta merta percaya dengan ucapan anaknya.
“Aku enggak bercanda, Pa. Serius.”
Sambungan terdengar putus-putus. “Sen, Sena! Sena! Halo,” Bagi segera bangkit dari tidurnya dan menghubungi Damar.
“Mar! Gue tunggu lo di depan gerbang sekolah Sena, ya. Tolong gue. Sena diculik.” Ucap Bagi panik lalu segera meraih jaket dan kunci sepeda motor.
Damar yang masih terjaga malam itu tertegun mendengar ucapan Bagi. Dirinya tahu bahwa Bagi tidak bercanda. Tidak menunggu waktu lebih lama, Damar beranjak untuk mengikuti instruksi dari Bagi. Dalam perjalan dengan menggunakan kendaraan roda empat, Damar menghubungi Stevina yang sudah tertidur.
“Maaf mengganggu. Sena diculik orang. Kamu mau ikut? Aku sudah dijalan menuju sekolah Sena.
“Hah? Sekarang aku ke depan rumah. Hati-hati, Kak.” Stevina segera mengganti pakain tidurnya dengan celana olah raga panjang, baju kaos dan dilengkapi jaket. Perasaan panik menyelimutinya. Rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan anak sahabatnya begitu besar. “Gue pastikan Sena baik-baik aja, Gi.”
__ADS_1
***
“Gimana ceritanya Sena bisa diculik? Bukannya dia lagi kemah kata Kak Bagi?” Ucap Stevina saat mobil Damar berhenti di depannya.
“Aku juga enggak tahu. Bagi cuma minta tolong untuk bertemu di depan gerbang sekolah Sena.” Sahut Damar tanpa menoleh Stevina yang dengan cepat meletakkan tubuhnya di kursi penumpang bagian depan.
Damar membelah jalanan sepi menuju sekolah Senja dan Sena. Untung saja sekolah Senja dan Sena tidak jauh.
***
Damar dan Bagi tiba hampir berbarengan di depan gerbang sekolah.
“Kak, gimana Sena?” Ucap Stevina begitu berhadapan dengan Bagi dan Damar.
“Tadi Sena telepon gue, dia bilang gurunya yang bernama Teguh nyulik dan menyekap di bawah kandang. Kandang itu ada di dalam kebun durian. Ajaibnya lagi, Sena telepon gue pakai HP punya anak tetangga depan rumah.” Jelas Bagi.
“Lantas sekarang bagaimana?” Tanya Damar.
“Kita ke area kemah dulu, gimana?”
***
“Maaf, Bu Siti, saya bercanda. Bu Siti kok malah jadi pucat begitu sih?” Ujar Pak Teguh.
“Jangan bercanda yang aneh-aneh deh Pak Teguh.” Balas Bu Siti sengit. “Saya bisa jantungan dan tewas ditempat kalau Pak Teguh begitu.”
“Maaf ya, Bu. Ini HP saya sudah ketemu. Saya balik ke Pos 3 dulu, ya.” Kata Pak Teguh berpamitan.
“Pak Teguh kok berani sih sendirian jalan di tempat gelap begini?” Balas Bu Cahya.
“Apa yang harus ditakutkan, Bu? Saya tidak takut apa-apa.” Sahut Pak Teguh. “Perlu Ibu-ibu ketahui, yang harus kita takuti di dunia ini cuma satu, Tuhan. Itu saja.”
***
“Pa, bisa dengar Sena?” Ucap Sena setelah sambungan telepon mereka terhubung. Bagi tidak bisa mendengar apapun yang diucapkan Sena. Bagi lalu mencoba mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi obrolan.
[Putus-putus, Sen. Bisa kamu kirimkan titik lokasi kamu sekarang? Papa sudah di depan sekolah.]
Pesan diterima oleh Ragil yang kebetulan memegang telepon genggamnya kini.
__ADS_1
“Sen, bokap lo sudah sampai depan sekolah. Gue kirimkan lokasi kita sekarang.” Ucap Ragil kemudian membagikan informasi kepada yang lain.
Wajah-wajah putus asa itu kini menunjukkan secercah harapan.