
Mamaku Hantu
Part 15
Andi mendekati istrinya yang sedang fokus mengamati drama Korea di televisi.
“Ma, coba hubungi Bagi. Senja dan Sena kapan liburan sekolah? Kita ajak menginap ke luar kota saja mereka.”
Dewi menoleh sekilas dan menjawab suruhan Andi. “Telepon saja sendiri, Pa.”
“Kan lebih bagus kalau Neneknya yang menghubungi. Gimana sih Mama ini.”
“Ya nanti Mama telepon. Masih jam segini, Bagi kan kerja, Pa. Senja dan Sena juga pasti di sekolah.”
“Ya sudah, ingat hubungi mereka.”
“Memangnya Papa mau ajak mereka kemana?”
“Ke mana kek, ke kebun apel gimana? Kan dekat sana juga ada tempat wisata macam-macam transportasi. Sena pasti senang lihat banyak mobil antik.”
“Memangnya Papa punya uang? Pensiunan Papa kan dikit. Gayanya mau liburan segala. Uang untuk Mama saja sudah sangat sedikit” Cibir Dewi Sinis.
“Punya kalau untuk cucu. Kalau untuk Mama ya pasti enggak ada.” Balas Andi ikut sinis dan melenggang pergi dari dekat Dewi.
“Dasar pelit.” Dewi mencebik.
Hubungan mereka memang tidak lagi harmonis sejak Andi diketahui pernah mengharapkan teman masa kecil Dewi yang bernama Asih. Ditambah Dewi terbukti memiliki keterlibatan konflik secara fisik dan psikis dengan Asih, membuat Andi mati rasa dengan selalu berpikiran sempit tentang Dewi. Apapun yang dilakukan Dewi akan mengarahkan Andi pada bayangan tentang pergumulan Dewi dan Asih saat itu. Amarah Andi pasti akan mendominasi pikirannya.
Dewi benar-benar tidak terima jika dirinya harus terus dibandingkan dengan Asih. Sebenarnya Andi atau siapapun tidak pernah membandingkannya, tapi Dewi sendirilah yang membandingkan dirinya dengan Asih. Pikirannya terorientasi dengan segala hal tentang Asih.
Hingga kini Dewi pun masih membenci Asih, terlebih Deni menyampaikan hal yang sangat merendahkan harga dirinya.
__ADS_1
Deni sempat menjenguk Dewi saat di penjara. Bukan. Deni bukan bermaksud untuk menjenguk, namun mengatakan tentang tidak terpujinya perbuatan yang dilakukan Dewi kepada Asih. Deni bahkan mengatakan, jika seandainya boleh memilih, dia lebih menyetujui Kakaknya menikah dengan Asih dibandingkan dengan Dewi.
“Tapi kamu kan cinta sama Asih, kenapa bilang begitu?” Tanya Dewi heran saat mendengar pernyataan dari Deni.
“Kalau memang Kak Andi bisa membahagiakan Asih, aku rela. Dari pada harus menikah dengan perempuan psikopat seperti kamu.”
“Apa kamu bilang? Psikopat? Jangan sembarangan kamu.” Dewi menggubris Deni dari balik pagar besi gang membatasi mereka.
“Apa namanya perempuan yang membenci perempuan lain sampai tega melakukan segala cara seperti kamu?”
Dewi menaikkan satu sudut bibirnya, “Bisa-bisanya kamu punya pikiran seperti itu. Sementara Ibu kandungnya justru lebih jahat dibandingkan aku. Mungkin Ibumu lebih pantas disebut ratunya psikopat.”
“Hei! Tidak perlu lah kamu mencari-cari seperti itu.”
“Mencari-cari apanya? Bukannya semua orang tahu kalau Ibumu sangat sadis? Sudahlah membunuh, lalu menghilangkan jasad, ditambah membuat saksi palsu untuk tetap bersembunyi dari tindak kejahatan yang dilakukan. Aku curiga jangan-jangan Ibumu sedang bersandiwara menjadi orang gila.”
Deni tidak menjawab. Dirinya menahan amarah karena menerima hinaan tentang Ibunya.
Dewi lalu berbisik, “Siapa sih yang tidak tahu kalau kamu itu bukan anak kandung Dira Nugraha? Kamu itu anak dari hubungan kotor. Hubungan menjijikan antara dua manusia laknat. Tahu kamu?” Dewi segera berdiri dan meninggalkan Deni dengan napas memburu.
Hubungan Deni dan Andi pun tidak bisa dikatakan baik. Mereka tetap melakukan segala aktivitas seperti sedia kala. Namun, desas-desus yang beredar tentang skandal perselingkuhan antara istri mantan dekan dengan mandor pekerja banguan menuai rasa curiga antara Andi dan Deni.
Sejauh apakah hubungan Ibunya? Andi dan Adik-adiknya sangat ingin tahu. Namun, di sisi lain, mereka tetap menjaga perasaan Dira Nugraha yang kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Dira depresi ringan. Ditambah desakan pihak kepolisian agar Dira mau menjadi saksi atas segala perbuatan istrinya yang memuakkan dan memalukan itu.
Entah bagaimana cara memperbaiki nama baik keluarga saat menantunya didakwa sebagai pelaku percobaan pembunuhan, istrinya menghianati ikatan suci pernikahan, buruk ya lagi, ternyata istrinya melakukan pembunuhan yang sesungguhnya.
Setiap kali Dira memikirkan hal itu, tekanan darahnya akan melambung tinggi. Kepalanya menjadi berat dan tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Ingin sekali Dira segera pergi dari dunia ini. Malangnya, Deni lebih dulu pergi meninggalkan segala kenangan indah serta pahit yang ada di dunia ini. Kebahagiaan bersama Asih dan anaknya menanti di dimensi lain. Entah di mana keberadaan kekasih serta anaknya itu, Deni akan berusaha mencarinya.
***
“Sil, lo dimana?” Suara Rania memburu dari seberang telepon.
__ADS_1
“Kenapa?” Silvia enggan memberi tahu bahwa dirinya sedang melakukan perawatan di salon Tante Marimar.
“Ada orang datang mau pasang CCTV.” Balas Rania semakin terdengar gawat.
“Oh… Gue kira kenapa.” Sahut Silvia santai sambil menerima pijatan dipundak oleh pegawai Tante Marimar.
“Lo sudah tahu memangnya?” Tanya Rania curiga karena jawaban Silvia tidak terduga.
“Iya, Kak Bagi yang mau pasang.”
“Kak Bagi? Kok tiba-tiba Kak Bagi masang beginian?” Rania berpura-pura tidak tahu menahu masalah yang menimpa rekan kerjanya itu.
“Biar bisa mantau dari rumahnya kali. Biarin aja, kan dia yang punya.” Silvia masih santai tanpa berniat untuk berbincang lama-lama dengan Rania.
“Lo dimana sih? Enggak ke toko?”
“Lagi satu jam gue sampi toko. Sudah dulu ya, gue matikan teleponnya.” Tanpa menunggu jawaban dari Rania, Silvia segera memutus sambungan teleponnya.
Silvia berpikir, “Bagaimana bisa Kak Bagi tiba-tiba melakukan audit laporan keuangan? Padahal selama dua bulan terakhir, dia tidak pernah sekalipun mengunjungi toko.” Dia lalu memukul keningnya sendiri. Menyesali kecerobohannya karena tidak membuang nota-nota penjual secara aktual.
“Apa mungkin Kak Bagi akan memecat gue?” Pikirnya lagi, “ Tapi Kak Bagi tidak akan tega melakukan hal itu tanpa diskusi dengan Mbak Agia. Bagaimana bisa berdiskusi kalau sampai sekarang Mbak Agia tidak jelas keadaannya di rumah sakit.” Silvia lalu menghembuskan napas berat.
“Kenapa, Non. Kok kayaknya lagi punya masalah berat.” Tante Marimar menepuk pundak Silvia. Walaupun pegawai salon Tante Marimar sudah mencapai belasan orang, dia tidak pernah absen untuk menyapa dan menemani para pelanggan. Seluruh hidup laki-laki berkelakuan seperti perempuan itu memang dihabiskan untuk mempercantik perempuan-perempuan di luaran sana.
“Iya nih, Tante. Lagi berat berpikir.” Jawab Silvia malas
“Ya jangan dipikirkan sana kalau begitu. Nanti makin dipikir malah makin runyam.”
“Mana bisa enggak dipikir. Pemilik toko tempat aku kerja ngobrak-ngabrik laporan. Hamsyong aku, Tante.”
“Ketahuan nilep uang ya? Makanya jangan coba-coba. Pantesan berat berpikir. Ternyata emang bikin beban sendiri sih.” Tante Marimar meninggalkan Silvia sambil menahan diri agar tidak mencemooh pelanggannya itu.
__ADS_1