
Mamaku Hantu
Part 68
Darmawan melirik penunjuk waktu yang melingkar pada pergelangan tangannya. Setengah jam lagi waktu makan siang.
“Pak, nanti selepas makan siang, kemungkinan saya balik terlambat.” Ucapnya pada Bagi yang duduk tepat di seberangnya.
“Kenapa begitu? Tumben.” Balas Bagi menghentikan kegiatannya memeriksa laporan tentang proyek pelebaran jalan di salah satu daerah yang sangat sering terjadi kemacetan.
“Saya mau ambil hasil lab punya Bapak. Tapi tempatnya tidak dekat dari sini, Pak.” Jawab Darmawan.
Bagi seketika menaikkan alisnya. “Biar saya ikut saja kalau begitu. Apa boleh?”
“Memangnya tidak apa-apa kalau Bapak keluar kantor?”
“Semoga tidak ada yang mencari saya. Ayo, kita berangkat sekarang saja.” Seru Bagi.
***
“Gimana, Ma? Raya mau bicara sama kita?” Tanya Sena pada Agia.
Agia mengangguk dengan wajah ceria.
“Raya, ini anak Tante. Namanya Sena. Jadi, kan, Raya bantu Tante dan yang lain untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Agia pada Raya yang bersembunyi di balik kandang hewan ternak karena ragu dengan kedatangan Sena dan yang lain.
“Memangnya aku bisa bantu apa, Tante?” Balas Raya pelan.
“Hai, Raya! Gue Sena. Sebenarnya, Kak Dara itu diduga sebagai korban perjual-belian manusia. Jadi kita perlu sedikit informasi tentang keadaan sekitar sini. Gue yakin lo tahu sesuatu, kan?” Ucap Sena ramah pada Raya.
“Jual beli manusia? Siapa pelakunya?” Tanya Raya tidak percaya.
“Kita belum yakin, tapi teman gue, Kak Ragil pernah bilang kalau orang tuanya Kak Dara bicara dengan kepala sekolah. Apa lo tahu Pak Hartanto?” Tanya Sena lagi.
Raya menganggukkan kepalanya mantap.
Sena dan Doni saling pandang setelah mendapatkan respon positif.
Doni kemudian menoleh Andre dan menganggukkan kepala tanda dengan tujuan memberikan kode kepada mereka yang tidak bisa melihat Raya.
“Waktu itu, Mbak Dara dibawa ke sini sama Om Jahat. Untung aja Om jahat itu enggak pernah ke sini lagi.” Sahut Raya kemudian.
“Om Jahat ini, maksud lo Pak Teguh?” Tanya Doni kemudian pada Raya.
Raya memiringkan kepalanya tanpa menyahut karena tidak yakin dengan ucapan Doni.
Ragil lalu merogoh telepon genggamnya, mencari sebuah foto dari Teguh, dan menyerahkannya kepada Sena. Sena melihat telepon genggam Ragil, dan mengerti maksud juga tujuan q memberikannya telepon genggam.
Tanpa menunggu lama, Sena menunjukkan foto tersebut pada Raya.
Raya memfokuskan penglihatannya pada telepon genggam. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Bukan, itu bukan Om Jahat.”
Agia, Sena, dan Doni nampak bingung dengan jawaban Raya.
__ADS_1
“Tapi Raya, waktu orang itu ada di sini, kan Raya bilang kalau ada Om Jahat.” Sanggah Agia, karena dirinya yakin kalau Raya sempat mengatakan keberadaan Om Jahat di sekitar mereka saat Teguh mendekati kandang hewan ternak.
“Om Jahat memang ada, Tante. Tapi bukan yang itu.” Sahut Raya dengan gelengan kepala.
“Lalu, kok Kak Dara bisa ada di bawah?” Tanya Doni penasaran.
“Orang itu yang bawa Mbak Dara ke sana. Supaya Om Jahatnya enggak marah-marah.” Balas Raya.
Sena lalu mendekati Ragil dan menyerahkan telepon genggamnya. “Kak Ragil, tolong carikan fotonya Pak Har.”
Ragil mengaanggukan kepala dan menerima telepon genggamnya kembali.
Tidak perlu menunggu lama, Ragil menyerahkan kembali telepon genggamnya dengan wajah Pak Hartanto terpampang didalamnya.
“Cepat amat, dapat dimana?” Tanya Sena heran melihat kegesitan Ragil mendapatkan wajah terbaru Pak Hartanto dalam bentuk dua dimensi.
“Sosmed dong!” Seru Ragil membanggakan kemampuan intelejensinya.
Tanggap, Sena segera mendekati Raya dan yang lainnya.
“Raya, ini siapa?” Tanya Sena pada Raya, sekaligus menodongkan layar telepon genggam milik Ragil. Sena ingin memastikan kemampuan Raya dalam mengenali seseorang.
“Bapak yang sering mondar-mandir di sekitar sini. Pak Har kan namanya? Om Jahat sering ketemu Pak Har ini di sini.” Sahut Raya yakin.
“Om Jahat ini, jangan-jangan pemilik tenda ya, Ma?” Seru Sena pada Agia.
“Bisa jadi, Sen.” Balas Agia.
Doni mengangguk sigap dan segera menceritakan hasil pembicaraan mereka pada yang lain.
Andre kemudian menghubungi seseorang untuk mencari tahu identitas pemilik tenda yang disewa oleh pihak sekolah.
“Kalau kalian enggak memberikan banyak informasi seperti ini, saya yakin mereka dengan santainya bebas tanpa tersentuh sedikit pun.” Ucap Andre setelah mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang melalui telepon genggam.
“Pak,” panggil Riki. Andre menoleh cepat ke arah Riki.
“Apa mungkin Raya ini korban dari jual-beli sama seperti Dara?” Tanya Riki.
“Bisa jadi demikian. Saya juga belum berani memastikan. Karena, penculikan anak sekarang sangat baik sekali pengelolaannya. Hilang tanpa jejak dan juga terstruktur. Kelompok mereka besar dan memiliki orang penting dibaliknya. Bahkan saya curiga, di dalam organisasi besar seperti kepolisian pun ada perannya tersendiri.” Sahut Andre. Riki, Ragil, Senja, dan Doni terpana mendengar penuturan Andre.
“Salah sebenarnya kalau saya menceritakan keburukan atap rumah milik saya, tapi begitulah kenyataannya. Narkoba, minuman beralkohol, bahkan pembobolan bank pun ada orang besar yang mendudukinya.” Andre menghela napas setelah mengucapkannya, “sedih, kan?”
Anak-anak berusia muda itu terdiam, tidak tahu harus mengucapkan apa.
***
“Raya, apa yang bisa kami bantu untuk Raya? Tante kasihan kalau Raya harus di sini terus.” Ucap Agia pada Raya. Mereka berdua kini duduk bersandar pada pohon durian besar di samping rumah gubug. Sena berjongkok di depan mereka.
Raya menatap Agia tanpa suara.
“Kalau gue boleh tahu, lo dulu diikatnya dimana sama Om Jahat?” Tanya Sena kemudian.
Raya mengangkat tangannya dan menunjuk ke rumah gubug.
__ADS_1
Sena dan Agia mengikuti arah tunjuk itu dengan mata.
“Di dalam rumah gubug maksud lo?”
Raya menggeleng lemah.
”Lantas? Dimana, Raya?” Desak Agia.
“Dulu, rumah itu enggak ada, Tante. Raya juga enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa ada rumah itu di sini.” Raya tiba-tiba bangkit dan berjalan menuju rumah gubug.
Agia dan Sena mengikutinya. Mata Doni dan yang lain mengikuti aksi kedua orang di belakang Raya. Walau hanya Doni saja yang bisa melihat pergerakan mereka bertiga, yang lain hanya melihat Sena yang berjalan mendekati rumah gubug.
“Kemana?” Tanya Damar.
Sena menjawab dengan meletakkan jari telunjuknya pada depan bibir.
Damar mengikuti langkah Sena. Sudah menjadi suatu kewajiban untuk Damar menjaga janjinya dengan Bagi agar selalu berada dekat anak-anak.
Raya berhenti di sudut rumah bagian belakang. Di depan lemari kayu.
“Lo diikat di dalam lemari, Raya?” Tanya Sena memastikan.
Raya menggeleng lemah, “enggak tahu.”
Hanya itu saja jawaban Raya.
Damar memperhatikan kesekeliling. Memindai dan melacak dengan seksama. Tidak ada ruangan lain di dalam rumah.
“Gimana ni, Ma?” Tanya Sena pada Agia.
“Kak Damar, mungkin kah Raya dikubur di bawah rumah ini?” Tanya Agia pada Damar.
“Dikubur, Ma?” Sena nyaris memekik mendengar pertanyaan Agia.
“Kenapa, Sen?” Tanya Damar terkejut.
“Mama bilang, mungkin enggak kalau Raya itu dikubur di bawah sini, Om.” Ucap Sena pada Damar.
Tiba-tiba Damar teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu. Dengan cepat, Damar memanggil Andre.
“Pak Andre, coba tolong ke sini sebentar!”
Andre dan yang lainnya kemudian berjalan cepat menuju rumah gubug.
“Ada apa?” Tanya Andre cepat.
“Ada kemungkinan jasad anak kecil yang betnama Raya itu dikubur di bawah rumah ini, Pak.” Ungkap Damar dengan wajah serius. Semua orang yang mendengarnya seketika berubah mimik wajah.
“Bagaimana bisa?” Tanya Andre memastikan.
Sena kemudian mendekat dan menjelaskan, kalau Agia lah yang memiliku prediksi itu. “Lagi pula, Pak, Raya bilang kalau rumah ini dulu enggak ada. Bisa saja, kan, kalau rumah ini dibangun untuk menutupi sesuatu yang mereka sembunyikan. Kalau sudah ada rumah gubug begini, siapa yang punya pikiran untuk menggali atau apa pun.” Sahut Sena kemudian.
Adrenalin setiap orang yang berada di kebun durian itu tiba-tiba terpacu. Siapa yang bisa menyangka, tujuan awal untuk berbincang dengan Raya, berakhir pada prasangka keberadaan jasad seorang anak.
__ADS_1