
Mamaku Hantu
Part 13
Bagi bersandar pada sofa di ruang keluarga. Kepalanya menengadah, matanya terlihat bengkak karena semalaman tidak tidur. Dia memfokuskan diri dalam memeriksa keuangan toko Agia. Terjadi selisih yang cukup mencengangkan, karenanya Bagi sangat menyesal telah abai kepada Agia selama ini
Selama mengelola toko, Silvia terkonfirmasi menyelewengkan dana hampir enam ratus juta rupiah. Hal ini dapat dibuktikan oleh Bagi dari nota penjualan yang tidak dicantumkan dalam laporan keuangan.
Untuk penyelewengan dana sejumlah ini dalam jangka waktu sembilan belas tahun, tidaklah terlalu besar. Namun, penyelewengan tetap tidak boleh dianggap benar.
Bagi sangat menyayangkan keteledoran Agia dalam menentukan penggunaan nota pembelian dari pelanggan tanpa nomor nota. Inilah penyebab mudahnya pemalsuan data yang dilakukan oleh Silvia selama ini.
Beruntung data fisik masih lengkap, sehingga kecurangan Silvia segera terungkap.
Bagi menaruh curiga bahwa Silvia pun melakukan kecurangan mengenai pemasok bunga dan perlengkapan desain untuk buket dan karangan bunga.
Geram Bagi memikirkannya. Tanpa sadar matanya terpejam karena terlalu lelah. Hingga melupakan tentang bunga mering di dalam kotak kayu.
***
“Kalau benar Nek Dewi berniat menjahati Mama. Aku enggak akan segan mengantarnya ke kantor polisi. Sudah cukup malu aku selama ini diejek teman-teman karena punya Nenek mantan narapidana. Sekarang bisa-bisanya dia mau nyakitin Mama.” Senja memasang wajah garang di dalam mobil.
“Kita harus cerita sama Papa.” Ucap Sena kemudian.
“Jangan dulu. Kalau Papa memihak Nek Dewi bagaimana?” Balas Senja.
“Papa enggak begitu kok, Senja.” Agia membela suaminya.
“Mama bilang Papa bukan orang kayak gitu, Kak.”
“Ish, Mama malah belain Papa. Nenek itu pasti sengaja naruh bunga-bunga di dalam daun teh. Terus Mama jadi kayak gini.”
“Senja, kamu jangan terbawa emosi gitu. Kan belum terbukti kalau Nek Dewi yang melakukan itu. Lagi pula kita belum tahu kandungan yang ada di dalam bunga itu. Siapa tau maksud Nek Bagi justru baik kan. Dia bermaksud untuk mendukung Mama dengan memberikan bunga-bunga itu.” Ucap Ayah Agia.
“Terus, kita harus gimana sekarang?” Balas Senja.
“Kita pulang, terus kalian mandi, dan makan masakan Nenek.”
***
“Mbak Agia, kemarin Ibu Dewi datang membawa pot bunga ini.” Ucap Sutustini ketika Agia berkunjung ke toko setelah mengantar Sena dari sekolah TK.
“Oh ya? Wah cantik sekali bunga-bunga ini.” Balas Agia semringah. Bertepatan dengan itu, Pak Gede datang membawa pesanan bunga-bunga untuk tiga hari kedepan.
“Selamat Pagi Bu Agia.” Sapanya ramah.
__ADS_1
“Pagi, Pak Gede. Jam berapa berangkat? Pasti pagi-pagi sekali ya?” Agia bertanya seperti itu karena tahu tempat tinggal dan kebun bunga milik Pak Gede terdapat di dataran tinggi. Kurang lebih memerlukan waktu perjalanan selama tiga jam dari toko Agia.
“Ah engga, Bu. Sudah biasa. Yang penting kan pengiriman tepat waktu. Kasihan kalau Bu Agia dan yang lain harus menunggu bunga-bunga ini.
“Pak Gede. Coba lihat ini. Pak Gede tahu enggak ini bunga apa?” Sutustini lincah menyampaikan rasa penasarannya kepada Pak Gede.
“Wah! Dapat dari mana bunga Azalea, Bu?” Wajahnya menampakkan keseruan.
“Dikasi, Pak.” Jawab Sutustini.
“Ini bunga dari luar sebenarnya. Tapi karena kita punya iklim yang sangat bagus, mereka justru hidup lebih baik di sini.” Pak Gede mengangkat pot bunga itu, dan melanjutkan ucapannya.
“Tapi bunga ini lebih bagus kalau ditanam langsung tanpa pot. Pasti akan tumbuh subur.”
“Iya akan saya tanam di belakang sana, Pak.” Balas Sutustini.
“Tapi bunga ini tidak disenangi kucing atau anjing, Bu. Bahaya juga untuk mereka. Bisa keracunan nanti.” Sambung Pak Gede lagi.
“Untung kita enggak punya hewan peliharaan di sini, Pak.”
***
Bagi datang ke rumah mertuanya dalam keadaan yang memprihatinkan. Matanya bengkak karena terlalu lelah. Dia terbangun jam sepuluh pagi dan menyadari bahwa baru tidur selama dua jam.
Rasanya sangat tidak nyaman harus menghabisi hari minggu sendirian. Sangatlah menyenangkan bila berkumpul dengan anak-anak juga istrinya.
“Iya mau minta makan sama Nenek.” Sahut Bagi jujur.
“Tapi kok muka Papa gitu? Kayak orang kebanyakan utang!”
“Memangnya kamu pernah lihat orang kebanyakan utang?”
“Pernah di TV, Pa!” Sahutnya disertai dengan tawa ringan.
“Papa udah mandi?” Tanya Senja beriringan dengan Bagi menuju dapur Nenek. Aroma masakan dari dapur Bunda Agia menguar hingga membuat siapa saja terpanggil rasa laparnya.
“Sudah dong.”
“Loh, Bagi. Jemput anak-anak?” Tanya Bunda Agia.
“Enggak, Bun. Mau minta makan.”
“Belum sarapan kamu? Ayo tunggu sebentar lagi, masakan Bunda hampir mateng.”
“Masak apa, Bun. Baunya enak banget.” Balas Bagi
__ADS_1
“Masak enak, Pa. Aku bantu Nenek masak tadi. Ada udang goreng tepung, ada ayam suir, sayur apa, Nek namanya?”
“Sayur urab.” Sahut Bunda Agia sambil sibuk mengolah sambal kecombrang.
“Sena dan Kakek, mana?” Di kamar. Lagi bahas orang-orang yang jahat sama Mama.”
“Apa?” Bagi memastikan pendengarannya.
“Sana lihat aja sendiri di kamar tamu.”
***
Bagi melihat Sena dan Ayah Agia membahasa sesuatu di dalam kamar dengan pintu terbuka.
Bagi mengetuk pintu perlahan.
Sena, Ayah Agia, dan Agia menoleh.
“Papa!” Sena semringah melihat kedatangan Papanya.
“Lagi pada ngapain?”
Sena dan Kakeknya saling pandang.
“Enggak ngapain, Pa. Ngobrol-ngobrol aja.” Sahut Sena.
“Nanti kita ke rumah sakit, yuk? Kita tengok Mama.” Ajak Bagi.
“Ayuk. Kakek ikut, ya?”
***
Rania bekerja berdua saja dengan Sutustini. Hari minggu Silvia memilih untuk istirahat di rumah dan tidak datang ke toko. Namun jika orderan membludak, Silvia tidak keberatan untuk datang ke toko untuk membantu.
“Aku kemarin ke rumah sakit nengok Mbak Agia.” Rania berucap membuka pembicaraan dengan Sutustini.
“Aku sudah bulan lalu.”
“Kasihan ya, Mbak Agia. Dia yang aktif enerjik harus terkapar dengan waktu yang sangat lama di rumah sakit.”
“Benar. Dia pasti rindu dengan kegiatannya. Apalagi anak-anaknya. Mbak Agia kan sangat menyayangi anak-anaknya. Seluruh waktunya difokuskan untuk anak-anak dan keluarga. Sakit apa sih sebenarnya Mbak Agia itu ya, Ran?” Sutustuni menghentikan gerakannya merangkai bunga dari kertas. Mereka mendapat orderan karangan bunga untuk berbela sungkawa.
“Mana aku tahu, Tin. Silvia bilang karena kecapekan. Masak sih kalau cuma capek bisa koma? Aku aja tiap hari capek ngurus anak, kerja, ngurus suami. Apa lagi kalau mertua pas cerewet. Gak sampai tuh koma segala. Ngawur banget Silvia itu ngomong.”
“Aku enggak sabar lo nungguin Mbak Agia sadar.” Balas Sutustini.
__ADS_1
***
“Maafkan kesalahan saya Mbak Agia. Saya terbawa emosi. Tapi saya tidak menyesal dengan semua yang saya lakukan. Entahlah Mbak Agia mendengar saya atau tidak. Tapi, harapan saya Mbak Agia tidak akan mendengar untuk selamanya. Kalau Mbak Agia biasa membuat karangan bunga untuk orang meninggal, biasakan lah diri Mbak Agia untuk menerima karangan bunga nantinya.