
Mamaku Hantu
Part 27
Sejak pukul lima sore, para siswa telah disibukkan dengan kegiatan memasak. Dengan didampingi oleh satu guru setiap kelompok, mereka membagi tugas dalam proses memasak makan malam mereka.
Guru-guru telah menyiapkan bahan makanan, yaitu kentang, jagung, sosis, ayam potong, dan sayur selada. Guru-guru yang dipimpin oleh Pak Hartanto ingin jika anak didik mereka melewati setiap proses yang berlangsung selama menikmati makanan.
“Tolong bagikan perlengkapan masak yang lain ini ya, Doni.” Perintah Pak Guntur sebagai pendamping kelompok dua.
Doni menerima sebuah kardus yang di dalamnya berisikan alat panggang berukuran sedang sebanyak tiga buah, kuas sebanyak dua buah, panci berukuran sedang, alat pengupas, pisau, talenan dan juga tusuk sate.
Doni dengan bantuan Danti membagikan alat memasak. Danti menyerahkan pisau dan alat kupas kepada beberapa orang agar bisa mengupas kentang.
Beberapa orang lainnya membawa kentang yang telah dikupas untuk dicuci di sungai.
Beberapa orang lainnya menghiduokan kompor yang telah disediakan oleh pemilik tenda. Kini, mereka memiliki tiga kompor.
Ibu Situ berjalan cepat membawa tas plastik besar ke arah kelompok satu. Beliau membagikan tiga botol kecap dan saos. Kemudian giliran kelompok dua yang menerima.
“Ini saos barbeque, kecap manis, dan saos tomat. Gunakan secukupnya ya. Ada karena Ibu belinya pas nih untuk kalian. Kalau kurang, ya resiko. Oke?” Ucap Ibu Siti kepada Tia. Tidak lupa ucapan terima kasih dilontarkan oleh Tia, setelah mengambil saos-saos itu.
“Makasi, Bu Siti!” Teriak Pak Guntur ketika melihat Ibu Siti bergerak mendekati kelompok tiga. Beliau hanya melambai sebagai jawaban untuk Pak Guntur.
“Oke, anak-anak. Nanti kentang yang sudah dicuci, langsung direbus ya. Nyalakan api yang besar. Ini sosis boleh dipotong-potong.” Serah Pak Guntur kepada anak-anak yang belum mendapatkan tugas.
“Pisaunya masih dipakai untuk mengupas kentang, Pak.” Sahut salah satu dari mereka.
“Ya sudah potek-potek saja pakai tangan. Jadikan empat, ya. Jangan lupa nanti dicuci setelah potek.”
“Baik, Pak.”
Sosis-sosis itu kemudian dikerubungi oleh tiga orang siswa.
“Danti, nanti kalau sosisnya sudah selesai dicuci, tolong ajak temanmu untuk menusuknya dengan tusuk sate ini ya. Kita bakar nanti pakai saos barbeque.”
“Siap, Pak. Jagungnya bagaimana?”
“Kita rebus setengah, kita bakar setengah.”
Salah seorang siswa menyela Pak Guntur dan Danti, “Pak, seberapa lama merebus kentang?”
“Sampai blubub-blubub.” Sahut Pak Guntur dan disambut oleh tawa dari anak-anak lain.
“Lucu sekali Pak Guntur ini blubub-blubub.”
“Memang bagaimana suara air mendidih?”
__ADS_1
“Iya benar juga, Pak. Blubub-blubub.”
“Akan kita apakan kentang rebus ini pak?”
“Biar saja begitu. Nanti niar dicocol saos tomat sudah nikmat.”
“Pak! Ini ayam potongnya ketinggalan!” Teriak seorang anak yang melihat satu bungkus plastik berisikan ayam yang telah dipotong kecil-kecil.
“Waduh! Cuci ayamnya segera. Lalu tusuk selang-seling dengan sosis ya.”
“Baik, Pak!”
***
Akhirnya setelah dua jam berjibaku saling tolong menolong, mereka bisa menikmati makan malam terenak yang pernah mereka rasakan selama ini.
Jangan tanyakan tentang kebersihan kepada mereka, yang mereka pikirkan hanya satu, yaitu makan malam.
“Enak banget ya, guys!” Seru salah satu dari mereka.
Rata-rata menu makan malam seluruh peserta kemah tidak berbeda. Namun proses pembuatannya saja yang berbeda.
Pada saat beginilah, kasta, agama, suku, kemampuan ekonomi, dan nilai raport tidak berguna lagi. Mereka menjadi satu. Mereka berbaur bersama-sama untuk menyelesaikan setiap misi yang diberikan oleh guru-guru.
Setelah makan malam, Pak Hartanto mengajak guru-guru untuk menyalakan api unggun di tengah-tengah lapangan. Beberapa siswa memiliki inisiatif untuk membantu. Yang lain enggan bergerak karena merasakan perut yang terlalu penuh setelah menyantap makan malam.
“Takut apa?”
“Dari tadi setelah gue pipis, gue merinding melulu.”
“Ah, perasaan lo aja. Mungkin karena dingin. Lo bawa jaket?” Tanya Sena.
“Bawa.” Elano segera masuk ke dalam tenda dan mengambil jaketnya.
Doni lalu duduk di sebelah Sena.
“Siapa tadi nama lo?” Tanya Doni
“Sena, Kak.”
“Lo dan Senja punya adik?”
“Maksudnya?” Tanya Sena heran.
“Senja berapa punya adik?”
“Satu aja, Kak. Ya gue ini.”
__ADS_1
“Ohhh. Sahut Doni berusaha mengerti.”
Elano bergabung bersama mereka. Malam temaram hanya ditemani oleh lampu kecil di dalam tenda, dan juga api unggun di tengah lapangan, membuat suasana kian kelabu.
“Mungkin gak ya ada hantu yang akan muncul sekarang?” Tanya Elano dengan wajah pucat.
“Kenapa lo?” Tanya Doni khawatir.
“Enggak kenapa-napa, Kak. Cuma, dari tadi gue ngerasa enggak nyaman aja.”
Doni tersenyum. Lalu mengerling ke arah Sena.
“El!” Teman sekelas Sena dan Elano memanggil dari kelompok lain. Elano bangkit dan segera menuju temannya itu.
“Nyokap lo, belum sadar ya, Sen?” Tanya Doni.
“Iya, Kak. Masih enggak sadarkan diri di rumah sakit.”
“Lo, enggak usah khawatir. Nyokap dan adik lo selalu ada disekitar lo, kok.”
***
“Nanti gue akan kerjain Si Tengik Sena biar dia takut.” Ucap Dandi kepada Bagas yang berada dalam kelompok sepuluh.
“Jangan lah, Dan. Berbahaya kalau menurut gue. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Lo mau tanggung jawab?” Balas Bagas resah.
“Ck! Bahaya apaan? Keadaan ramai begini bisa berbahaya gimana? Guru-guru juga banyak, kok. Lebay amat lo.” Sahut Dandi sewot.
“Terserah lo deh. Gue enggak ikut campur!” Balas Bagas dan segera meninggalkan Dandi seorang diri.
Dandi berdecak geram. Susah payah dirinya menyiapkan ide dan rencana untuk mengerjai Sena saat jurit malam nanti. Tapi tidak ada satu pun teman-temannya yang mau membantu.
Tidak ada jalan lain, dia memutuskan untuk menjalankan rencananya seorang diri.
***
Selama kegiatan api unggun guru-guru memainkan beberapa buah lagu dengan menggunakan gitar. Banyak siswa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Mereka bernyanyi bersama-sama dan membentuk ular yang mengitari api unggun.
Diakhir acara sebelum jam tidur, Ibu Siti menceritakan sebuah cerita.
Cerita umum tentang Si Kerudung Merah yang harus menggunakan banyak akal agar tidak dimangsa oleh Serigala yang jahat di tengah hutan.
Cara Ibu Siti bercerita sangat menghayati, hingga keadaan malam itu sangat mencekam.
Diakhir cerita, Ibu Siti memberikan pesan penting untuk anak-anak.
“Begitulah anak-anak, kita harus lebih waspada pada serigala-serigala yang bisa saja memangsa kita kapan saja. Jangan pernah melonggarkan kewaspadaan kita. Apa lagi jika serigala itu memakai topeng domba yang bisa mengelabui siapa saja. Berhati-hati lah kita semua!”
__ADS_1
Peserta kemah terdiam, sebagaian menjadi sangat takut setelah mendengar cerita Ibu Siti, sebagian lagi terdiam dengan berjuta pertanyaan di dalam benak mereka.