Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 51


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 51


Teguh terpekur membayangkan harus hidup seorang diri tanpa Mala. Perpisahan yang dia lalui beberapa menit lalu membawanya pada perubahan emosional secara tiba-tiba. Napas terakhir yang dihembuskan Mala, mengingatkannya tentang obsesi untuk memiliki seorang anak kuat dan pemberani.


“Mala lemah. Begitu saja sampai hipotermia. Sekarang Bapak harus bagaimana?” Ucap Teguh pada tubuh Mala.


Matahari kian merangkak naik, tidak dengan Teguh. Kejadian pagi itu justru menjatuhkannya hingga ke dasar jurang terdalam.


Namun, keyakinan akan kemampuan seseorang dalam menghidupkan lagi jiwa Mala sangat memburu dalam dirinya.


Tanpa air mata, Teguh menggendong Mala di atas punggungnya. Perlahan tapi pasti, Teguh sampai pada tempat parkir.


Hari semakin terang, beberapa penjaja makanan mulai menata di pinggiran jalan.


“Sampai tertidur, Pak. Pasti lelah sekali itu.” Sahut seorang ibu yang membawa beberapa potong topi rajutan untuk dijual.


Teguh tidak menggubris ucapan pedagang itu. Dirinya tetap melanjutkan langkahnya.


Pondok Mbah Kaliwesung menjadi tujuan utamanya saat ini.


***


Teguh diam memandang sebuah rumah layaknya istana. Pintu gerbang seperti gapura dengan detail ukiran rumit tidak mengurungkan niatnya untuk bertandang.


Mobil mewah berjajar rapi dengan berbagai jenis dan warna di garasi luas bagaikan sebuah showroom, nampak dari luar pagar. Teguh berjalan pelan menoleh ke sana kemari.


“Halo, Pak. Ada yang bisa dibantu?” Seorang laki-laki muda mendekati Teguh.


“Ini benar rumahnya Mbah Kaliwesung?” Tanya Teguh tidak yakin. Mana mungkin seorang dukun bertempat tinggal di rumah mewah bagaikan seorang raja pada zaman kerajaan Majapahit.


Laki-laki berbaju putih dengan celana olah raga pendek itu tersenyum simpul mendengar pertanyaan Teguh.


“Benar, Pak. Pagi-pagi sekali. Apa ada hal yang sangat penting?” Tanya laki-laki yang tidak menggunakan alas kaki itu.

__ADS_1


“Iya, Pak. Sangat penting.” Balas Teguh ragu.


“Syaratnya sulit, Pak. Lebih baik direlakan saja.” Jawab laki-laki itu menolak halus kedatangan Teguh.


“Apa pun syaratnya, pasti akan saya lakukan. Bahkan, ditukar dengan jiwa saya pun, akan saya lakukan.” Sahut Teguh tiba-tiba semangat.


“Baiklah. Silahkan masuk.” Ucap laki-laki itu yang kini melangkah pelan mendahului Teguh.


Kebun yang luas nan indah menjadi pandangan pertama saat Teguh berhasil melangkahi pintu gerbang. Rumput hijau yang tertata sangat rapi, tanaman hias menyejukkan mata, serta patung-patung antik menjadi daya tarik istimewa di rumah Mbah Kaliwesung.


Bangunan rumah bergaya khas daerah setempat dengan ukiran batu dan kayu, menjadikan suatu hal yang klasik berubah mewah. Tak tanggung-tanggung, seluruh bangunan rumah Mbah Kaliwesung bernuansa istana kerajaan.


“Dukun macam apa yang tinggal di rumah seperti ini?” Tanya Teguh dalam hatinya.


“Silahkan duduk dulu, Pak. Nanti Mbah akan keluar sendiri.” Ucap laki-laki tadi menambahkan.


Lama Teguh berdiam diri di sebuah bangunan terbuka yang berada di sebelah timur. Pikirannya tertumpu pada tubuh Mala yang dia tidurkan di kursi penumpang bagian belakang mobilnya.


Suara air bergemericik memanggil Teguh untuk sadar dari pikirannya. Dinding dengan ukiran batu dialiri oleh air yang bermuara pada kolam renang di sudut taman.


Bagian depan rumah dan bagian belakang sangatlah bertolak belakang. Tidak ada unsur rumah tradisional di belakang. Semua modern dan sangat mengagumkan.


“Pak, jadi mau ketemu saya atau mau lihat-lihat saja?” Kata seseorang di belakang Teguh.


Tak kuasa Teguh mengontrol dirinya dari keterkejutan ulah orang itu. Seketika Teguh membalikkan badan. Seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun berdiri dengan penampilan santai. Wajah tampan nan rupawan tidak menunjukkan sedikit pun bahwa dirinya adalah seorang dukun.


“Maaf, Mbah. Saya kagum dengan rumahnya Mbah. Kayak istana lo, Mbah.” Sahut Teguh menahan malu.


Mbah Kaliwesung tersenyum kecil mendengar Teguh mencoba berbasa-basi.


“Jadi, seseorang yang memberitahu tentang saya, kan? Tidak mungkin tahu tempat ini begitu saja.” Ucap Mbah Kaliwesung.


“Betul, Mbah. Seorang kenalan saat mendaki di gunung seberang pulau yang bercerita tentang Mbah. Saya ke sini pun sesuai ceritanya, tidak boleh berbicara, dan tidak boleh melihat ke sebelah kanan saat menuju ke rumah Mbah.” Balas Teguh yakin. “Padahal kenalan saya itu belum pernah ke sini.”


“Tujuan Pak ke sini benar-benar tidak menggunakan logika. Bisa saja saya langsung menolaknya. Tapi saya ingin mendengar langsung alasannya.” Ucap Mbah Kaliwesung.

__ADS_1


“Saya mau mengulang semua, Mbah. Saya tidak akan memaksanya untuk mengikuti kemauan saya.” Ucap Teguh parau.


“Saya tidak yakin. Kalau kesempatan itu datang, pasti akan Pak salah gunakan. Semua akan percuma. Belum tentu yang Pak harapkan itu sesuai dengan ekspektasi, Pak.” Balas Mbah Kaliwesung.


“Tidak, Mbah. Saya janji. Saya janji, Mbah. Tolong hidupkan anak saya, Mbah. Tolong saya.” Teguh berlutut dan merengek di hadapan Mbah Kaliwesung.


“Memangnya Pak bisa membawakan saya anak perempuan yang belum datang bulan?” Tanya Mbah Kaliwesung langsung pada inti pembicaraan tanpa ada niatan untuk pindah tempat berbincang.


“Bisa Mbah, Bisa!” Sahut Teguh lantang. “Ah? Untuk apa, Mbah?” Tanya Teguh kemudian.


Mbah Kaliwesung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi yang diberikan oleh Teguh.


“Sudah lah. Pulang saja, Pak. Datang lagi kalau Pak mengerti apa maksud saya.” Balas Mbah Kaliwesung sebelum melangkah meninggalkan Teguh. Dia berjalan dengan tegap menuju bangunan di sebelah utara.


***


Teguh masih berdiam diri di dalam mobilnya. Debaran jantungnya bergemuruh tanpa ada tanda-tanda untuk tenang. Dia menoleh ke arah Mala yang enggan membuka matanya, meski telah dibangunkan ribuan kali oleh Teguh.


Bebera menit kemudian sebuah mobil tua berwarna merah berhenti di depan pintu gerbang Mbah Kaliwesung. Seseorang turun dari mobil itu hingga menghentikan napas Teguh.


“Loh, orang itu kan yang mencalonkan diri menjadi presiden. Ngapain dia ke sini?” Tanya Teguh seorang diri.


Tak kuasa dirinya ingin mengetahui maksud dan tujuan orang tadi. Teguh pun keluar dari mobil.


Seorang ajudan menghentikan langkahnya untuk memasuki rumah Mbah Kaliwesung.


“Saya mau bertemu dengan Mbah. Sudah ada janji, kok. Ada masalah apa dengan anda?” Tantang Teguh nekat.


Mendengar ucapan Teguh, ajudan yang duduk dekat pintu gerbang tidak mampu berbuat apa pun.


Teguh melangkah masuk dengan angkuh. Samar-samar terdengar pembicaraan antara calon presiden itu dengan Mbah Kaliwesung.


“Berhenti sebentar, ada tikus yang berusaha mencicip keju besar.” Ucap Mbah Kaliwesung.


***

__ADS_1


Jangan lupa like ya. Terima kasih.


__ADS_2