
Mamaku Hantu
Part 73
Bagi terlihat berdiri dari balik gerbang rumahnya saat Damar memberhentikan laju mobilnya.
Wajah-wajah letih terpancar nyata dari penumpang yang turun satu demi satu dari dalam mobil.
“Udah pulang, Pa?” Sapa Senja pada Bagi.
“Iya, Ja. Sudah dari tadi. Papa tadi permisi dari kantor, terus malas balik lagi. Jadi Papa pulang aja.” Balas Bagi. “Gimana petualangan kalian hari ini? Seru?” Tanya Bagi pada yang lain.
“Seru banget, Om!” Sahut Ragil antusias.
“Seru apaan?! Kejadian waktu kita kuliah terulang kembali ini, Bro.” Damar menimpali sahutan Ragil.
“Maksudnya?” Tanya Bagi bingung.
“Iya, mereka nemu jasad anak kecil di bawah rumah gubug!” Sahut Damar singkat.
Mata Bagi terlihat membesar. Namun, dia memutuskan untuk menggiring anak-anak itu untuk singgah ke dalam rumah terlebih dahulu.
“Sudah-sudah. Sebelum pulang, kalian makan dulu. Om sudah order makanan enak tadi lewat aplikasi on line.” Ajak Bagi pada sekumpulan anak penuh rasa ingin tahu itu.
“Asyik! Makanan apa, Om? Kebetulan laper banget!” Teriak Riki dengan wajah semringah.
“Ayo, masuk aja. Nanti juga tahu.” Balas Bagi.
***
Semua orang di ruang makan terlihat sibuk dengan alat makan yang berisikan Tahu Tek Telur buatan Mang Kerto. Bumbu kacang yang menjadi pemandu betapa menggairahkannya telur, tahu, tauge, timun, juga lontong, untuk masuk menjadi kebahagiaan dalam mulut penikmatnya.
“Papa order di warungnya Mang Kerto, ya?” Tanya Agia.
“Pa, ditanya Mama. Katanya Papa order di warung Mang Kerto?” Sahut Sena membantu Mamanya untuk berkomunikasi dengan Bagi.
“Kok Mama bisa tahu?” Bagi terkejut dengan kemampuan istrinya dalam menebak rasa.
“Kan Mama hantu!” Balas Agia berkelakar.
__ADS_1
Sena dan Doni tersenyum penuh makna saat mendengar jawaban Agia.
“Iya, Tante memang hantu paling keren yang pernah saya lihat.” Jawab Doni berbisik.
“Terus, gimana ceritanya kalian bisa nemu jasad di sana?” Bagi membuka percakapan diantara mereka.
“Oke, pertama, yang nemuin itu bukan kita. Tapi Mama yang punya feeling setelah Raya nunjuk ke suatu sudut. Kedua, bukan jasad, Pa. Tapi plastik polybag warna hitam. Kepolisian menduga kalau didalamnya ada kerangka manusia. Kita enggak dibolehin untuk lihat. Katanya nanti mental kita jadi jelek dan kepikiran terus. Dan sekarang, penemuan itu lagi dibawa petugas forensik ke rumah sakit untuk diperiksa.” Ucap Senja menjelaskan secara rinci dengan wajah merengut.
“Kenapa muka kamu kelihatan kesal?” Tanya Bagi ingin tahu perubahan wajah Senja.
“Karena, aku tuh pengen banget ngelihat yang ada didalam plastik polybag itu, Pa. Aku penasaran banget.” Sahut Senja.
“Loh, ya benar itu yang dibilang Pak Polisi. Kalian ini kan masih anak-anak. Papa yang sudah hampir tamat kuliah aja dulu takut kok kalau ingat ada kerangka manusia di halaman kampus.” Balas Bagi menyetujui pemikiran kepolisian.
Senja hanya memonyongkan bibirnya. Senja dan Sena tahu betul cerita kasus Asih Prabandari yang menjadi temu awal kedua orang tuanya.
“Ah? Om pernah punya pengalaman kayak kita juga?” Tanya Ragil antusias.
“Iya, dulu. Itu juga sama Om Damar kok dulu.” Balas Damar ikut serta dalam pembicaraan.
“Cerita dong, Om. Cerita.” Pinta Ragil dan Riki.
“Cerita apa lagi, Om. Semua udah sama kok kayak yang dibilang Senja. Cuma, kita dusuruh untuk nunggu aja dulu. Nanti pasti diinfokan lagi sama Pak Andre.” Jawab Ragil.
“Jadi, enggak ada yang menarik?”
“Enggak. Oh! Pak Har sudah di kantor polisi untuk diperiksa. Begitu juga pemilik tenda yang disewa sama sekolah.” Jelas Ragil menambahkan.
“Ya sudah, kalian habis makan langsung pulang ya. Supaya tidak sampai rumah terlalu malam. Nanti Om mau ngobrol sama Om Damar.”
***
Saat anak-anak lain sudah kembali ke rumah masing-masing, Senja juga Sena sedang membersihkan diri, Bagi dan Damar melanjutkan pembicaraannya di teras rumah.
“Tadi, gue sudah dapat hasil lab.” Bagi membuka pembicaraan dengan kaku.
Damar menoleh mantap. “Lalu? Hasilnya bagaimana?”
“Iya, bunga kering yang gue temuin di ruangan Silvia, dengan teh yang ditemuin anak-anak di dapur toko bunga memang sama.” Jelas Bagi.
__ADS_1
“Lalu, rencana lo apa? Apa hasil lab itu bisa membantu Agia untuk segera sadar?” Tanya Damar masih bingung dengan arah bicara Bagi.
“Jadi gini, gue sudah meminta petugas lab untuk mengecek kandungan bunga itu. Kalau hasilnya sudah terlihat, gue rencana untuk informasikan ke dokter yang menangani Agia. Siapa tahu dokter punya ide untuk pengobatannya, kan?” Terang Bagi jujur.
“Betul. Gue setuju. Kapan katanya hasil lab akan keluar?” Tanya Damar.
“Belum tahu. Petugas lab bilang kalau akan bergerak secepatnya. Maunya nih, ini baru bayangan gue ya, gue punya rencana kecil, Mar.” Ucap Bagi ragu.
“Rencana apa?” Damar menatap sahabatnya antusias.
“Gimana kalau lo bantu gue untuk main ke rumah Silvia.”
Damar menyatukan alisnya, “buat apa?” Tanya Damar heram.
“Ngorek-ngorek bukti, atau apa kek gitu. Sekecil bukti bisa bantu gue, Mar.” balas Bagi memelas.
“Kenapa harus di rumah Silvia?” Tanya Damar masih belum menyetujui permintaan Bagi.
“Coba lo pikir, dimana lagi orang bisa nyimpan barang paling berharga dan enggak bisa diketahui oleh orang banyak?” Ajak Bagi menganalisis pemikirannya.
“Benar juga yang lo bilang, tapi bukti apa yang lo harapkan bisa kita temuin di rumah Silvia? Kalau pun ada, pasti sudah dimusnahkan, Bro.” Jawab Damar seperti ragu.
“Iya betul. Gue putus asa. Enggak tahu harus gimana lagi. Kalau gue yang kesana sendiri, Silvia pasti curiga.” Balas Bagi menurunkan nada suaranya.
“Memangnya lo memutuskan untuk menjadikan Silvia pelaku utama?” Balas Damar lagi.
“Enggak yakin gue. Gue sama sekali enggak punya bayangan. Kapan hari, Agia sempat bilang, kalau yang terbiasa membeli perlengkapan dapur di toko itu pegawainya yang lain. Namanya Rania. Tapi gue bingung harus memulai dari mana. Gue putuskan untuk pendekatan dengan Silvia. Tapi karena perkenalan awal gue sama Silvia sudah terlanjur jelek karena masalah korupsi itu, gue enggak yakin bisa ngedeketin dia. Makanya gue minta tolong sama lo.” Terang Bagi dengan wajah memelas.
Damar terlihat berpikir. “Gue eggak tahu apa akan bisa membantu. Tapi gue akan coba. Jadi tadi lo permisi dari kantor untuk ambil hasil lab?” Tanya Damar.
Bagi menganggukkan kepala.
“Lalu, gimana cara untuk mendekati pegawai-pegawai Agia yang lain?” Tanya Damar memastikan.
“Gue akan coba minta bantuan anak-anak. Gue rasa anak-anak itu bisa diandalkan untuk menjadi detektif sungguhan. Apa lagi kalau ini berhubungan sama Mamanya.” Jawab Bagi.
“Benar juga. Mereka pasti enggak keberatan untuk mencari hal-hal yang patut dicurigai.”
Tanpa Bagi dan Damar ketahui, Agia turut serta dalam pembicaraan dua sahabat sejak berada di bawah payung lembaga yang sama yaitu universitas.
__ADS_1
Rasa haru menyelimuti tubuh Agia, tiba-tiba perutnya kembali berdenyut.