Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 80


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 80


Kali ini, giliran Sena yang masuk pertama kalo ke dalam ruang ICU. Walaupun hanya dengan berdiri di samping tubuh Agia, tidak menimbulkan rasa pegal sama sekali untuk Sena.


Sena melirik roh Agia yang berada di seberang Sena, di sisi samping berlawanan dari Sena.


“Ma. Gimana kabar Mama? Eh salah. Gimana kabar tubuh Mama?” Tanya Sena.


“Mama kelihatannya semakin kurus. Ya, biar pun masih tetap cantik. Tapi kelihatannya enggak segar, Ma.” Sena lalu melirik roh Agia. “Apa enggak bisa gitu, Mama coba masuk ke dalam tubuh Mama?”


“Mama enggak tahu caranya gimana.” Sahut Agia lemas.


“Ma, itu.” Ucap Sena sambil melihat ke sudut ruangan tempat pasien lain berbaring.


Agia lalu menoleh ke belakang, ke arah tatapan Sena sebelumnya. “Prabu Lanang.” Ujar Agia berbisik, namun masih terdengar oleh Sena.


Prabu Lanang kemudian mendekati tempat tidur pasien. Mengangkat tangannya, dan meletakkan di atas ubun-ubun pasien. Tidak menunggu waktu yang lama, alat pendeteksi detang jantung seketika berbunyi panjang. Para tenaga media berhamburan mendekati tempat tidur pasien. Segala daya dan upaya diberlakukan untuk memberi pertolongan pada pasien tersebut. Namun gagal.


Di sisi lain, Sena justru lebih asik memerhatikan Prabu Lanang yang diam memandang segala kejadian dengan seksama. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Merasa ada yang memandangi, Prabu Lanang menatap Sena tajam.


Sena tetap memandang Prabu Lanang tanpa memindahkan tatapannya. Kepala Prabu Lanang yang berisikan mahkota berwarna emas bergerak, menggeleng ke kanan dan ke kiri. Sudut bibir Prabu lanang terangkat sebelah.


Sedetik kemudian Prabu Lanang menghilang setelah tertutup oleh tubuh tenaga medis yang sibuk melakukan tindakan medis.

__ADS_1


“Prabu Lanang itu siapa, Ma? Malaikat pencabut nyawa, ya?”


***


“Dara, nyokap lo ada di rumah?” Tanya Ragil dari balik pintu gerbang.


“Ada di dalam. Kenapa?” Jawab Dara tanpa membuka pintu gerbang.


“Kapan nyokap lo ke luar rumah biasanya?”


“Kenapa memangnya?” Dara mendesak Ragil.


“Ada yang mau gue omongin sama lo.” Jawab Ragil berbisik.


“Dara! Ngapain kamu di situ? Ini sudah malam! Masuk!” Teriak Bram dari teras rumah. Mau tidak mau, Dara berjalan cepat meninggalkan Ragil dengan wajah cemas dan ketakutan.


“Enggak ada apa-apa, Om. Saya cuma mau lihat Dara aja. Saya,” Ragil menghentikan sejenak kalimatnya untuk memastikan raut wajah lawan bicara. Ide cemerlang memasuki sel otaknya hingga Ragil menemukan jawaban yang pantas agar Bram tidak curiga kepadanyaz


Bram menaikkan alisnya karena menunggu Ragil menyelesaikan ucapannya. “Saya kangen, Om, dengan Dara.” Ucap Ragil malu-malu.


Bram tersenyum kecil mendengar ucapan anak kecil di depannya. “Kangen? Kamu cinta sama anak pacar saya? Tahu apa kamu soal cinta-cintaan? Sudah sana pulang.” Tanggapan Bram sudah dapat ditebak oleh Ragil. Tanpa menunggu, tubuh laki-laki dewasa itu membalik dan menuju ke dalam rumah. Sedikit pun Bram tidak memedulikan keberadaan Ragil di luar sana.


Perlahan Ragil mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Dara. Masih teringat jelas raut wajah ketakutan Dara saat mendengar teriakan calon ayah tirinya. Tidak kuasa Ragil menahan keinginannya untuk segera membawa keluar Dara dari kandang mengerikan itu. Jelas saja kandang, bagaimana bisa sebuah rumah yang seharusnya dipenuhi dengan cinta kasih, justru teriakan, ancaman, serta ketidak nyamanan yang mendominasi. “Kasihan Dara. Besok gue harus ke sana lagi.” Ujar Ragil dalam hatinya.


Berawal dengan niatan untuk mencari tahu tentang kebiasaan orang tua Dara, agar Ragil dan teman-temannya bisa menjelaskan maksud dan tujuan mereka, justru membawa Dara ke dalam ketakutan. Ragil tiba-tiba menghentikan gerakan kakinya. Sepeda otomatis berhenti. “Jangan-jangan, karena gue ke sana tadi, Dara disakiti sama Om Sompret itu.” Ucap Ragil pada dirinya sendiri. Tidak ingin hal itu terjadi pada Dara, Ragil segera membalikkan sepedanya menuju rumah Dara.

__ADS_1


Dari kejauhan, terlihat Ibu dara sedang menaiki sepeda motor, berboncengan dengan kekasihnya. Pelan laju sepeda motor itu meninggalkan rumah Dara. Walaupun kegelapan menyamarkan wajah kedua orang itu, tapi Ragil yakin, kalau orang tua Dara tidak di rumah sekarang. “Yes! Kesempatan gue!” Seru Ragil.


***


“Yang tadi itu pegawai Mama kamu ya, Ja?” Tanya Stevina pada Senja yang sedang duduk di ruang tunggu. Mereka menunggu Sena yang mendapatkan kesempatan untuk menemui Mamanya di dalam sana.


“Iya, Tante. Mama punya tiga pegawai. Tante Silvia, Tante Sutustini, dan yang tadi itu namanya Tante Rania.” Jawab Senja sambil menoleh Stevina, “semuanya pegawai Mama dari awal buka.”


Stevina menganggukkan kepala tanda mengerti. “Mama kamu itu orangnya rajin, Ja. Dari muda sudah suka menyibukkan diri. Tante aja masih enggak percaya kalau toko bunga yang dirintis waktu kuliah bisa sebesar sekarang.” Cerita Stevina dengan wajah penuh dengan memori indah.


Senja tidak menanggapi ucapan Stevina. Dirinya sabar menunggu Stevina melanjutkan cerita yang tentu saja sangat ingin didengar oleh Senja.


“Awalnya, Mama kamu cuma buat satu bucket bunga. Ya, buat Papa kamu itu. Tapi Tante maksa minta tolong buat satu lagi untuk Om Damar. Mereka berdua wisuda waktu itu, Ja. Nah, di Universitas Tante dan Mama itu dalam setahun ada empat kali wisuda. Kalau enggak salah ingat nih, bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Papa kamu dan Om Damar kebetulan wisudanya bulan Agustus waktu itu. Eh ternyata, saat wisuda bulan November, ada banyak sekali yang order bucket bunga sama Mama kamu. Dia ngerjain sendiri semuanya. Tante bahkan enggak dikasi bantu.” Ucap Stevina dengan senyum manis pada wajahnya. Terlihat jelas kenangan indah itu masih tersinpan rapi juga sempurna dalam ingatannya.


“Harga yang diberikan Mama kamu itu jauh lebih murah. Otomatis, kantong-kantong tipis mahasiswa seperti kami waktu itu sangat tertolong. Mama kamu mendadak viral. Kayaknya, sampai sekarang Mama kamu masih jualan dengan harga yang enggak terlalu mahal ya, Ja.” Sambung Stevina.


“Betul, Tante. Kata Mama, biar semua krang bisa nikmati indahnya bunga-bunga yang diciptakan Tuhan. Bunga indah, bukan hanya untuk kalangan atas aja. Tapi, siapa pun harus menikmatinya.” Balas Senja menyetujui pemikiran Mamanya. “Nanti, kalau aku sudah selesai sekolah, aku mau bantu-bantu Mama di toko Bunga. G Florist mau aku kembangin, Tange. Harus lebih besar dan terstruktur dengan baik. Biar enggak kecolongan ratusan juta lagi gara-gara pegawai nakal.”


“Tante setuju, Ja. Mama kamu itu baiknya keterlaluan. Tante punya feeling, rasa-rasanya Mama kamu tahu kalau Silvia itu ada nilep uang.” Sahut Stevina.


“Kenapa gitu, Tante?” Tanya Senja heran.


“Feeling aja. Tapi Mama kamu malas memperpanjanh masalahnya. Atau, bisa jadi karena hal ini Mama kamu koma berminggu-minggu kayak sekarang.” Stevina memberikan pemikirannya untuk membuka insting Senja dalam menyelidiki pegawai-pegawai Agia.


“Tante, Senja kan lagi liburan semester, nih. Mau, enggak, ikut Senja kerja di G Florist?”

__ADS_1


***


__ADS_2