Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 59


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 59


Ragil, Senja, Sena, dan Doni bersenda gurau di depan rumah menunggu kedatangan Riki.


“Kalian rumahnya depan-depanan begini, pasti sering main bareng, ya?” Tanya Doni pada Ragil, Senja, dan Sena.


“Ngapain? Nanti ketularan tengil kayak dia. Males banget!” Sahut Senja dengan ekspresi jijik.


“Iya, iya. Lo aja yang paling menyenangkan. Gue dan manusia lain di muka bumi ini tengil.” Sahut Ragil malas.


“Memang betul katamu setan gundul pacarmu.” Balas Senja sambil melantunkan sebuah sajak dengan lantunan nada meledek Ragil.


Mau, tidak mau, Doni tertawa mendengar Ragil dan Senja yang tidak melihatkan keakraban.


“By the way, Gil. Lo kok bisa ada di kebun durian waktu itu?” Tanya Senja tiba-tiba.


“Gue mau ngerekam muka lo yang ketakutan saat jurit malam. Maunya gue bikin baliho besar di depan komplek, supaya lo jadi artis dadakan.” Sahut Ragil membuat Senja jengkel.


“Biar pun gue ketakutan, muka gue tetap oke lah! Enggak akan pernah lo bisa mengabadikan wajah jelek gue.” Balas Senja.


“Tapi, gue masih punya rekaman waktu lo meluk Sena dengan derai air mata yang mengalir bagaikan alitan sungai untuk arum jeram.” Ucap Ragil mendramatisir gaya berbicara.


Senja membelalakkan mata tidak terima perlakuannya direkam oleh Ragil.


“Lo jangan macam-macam, ya! Sini, biar gue hapus rekaman itu.” Balas Senja.


“Gue mau dong, Kak. Mau gue pakai kenang-kenangan. Kali aja bisa bikin orang ini jadi takluk.” Sahut Sena menanggapi cerita Ragil.


“Diam lo!” Bentak Senja pada Sena


“Gue juga mau, Kak. Biar gue jadiin video rekaman itu alat pengendali amarah Senja.” Sambung Doni tidak kalah semangat.

__ADS_1


“Lo enggak usah ikut-ikut, Don. Gue cocolin sambel bajak, nih.” Sahut Senja tidak terima.


Ragil, Sena, dan Doni kompak menertawakan kelemahan dari Senja saat ini.


“Tapi, benar juga pertanyaan Senja. Kok Kak Ragil bisa ada di kebun waktu itu?” Tanya Doni menyetujui topik pembicaraan itu.


“Yakin lo semua mau dengar penyampaian dari pacarnya setan gundul?” Tanya Ragil dengan memasanv wajah jahil pada Senja hang dibalas dengan sodoran kepalan tangan dari Senja.


“Gue sudah tahu kalau Dara hilang enggak wajar dua tahun lalu. Orang tua Dara bolak-balik ke sekolah hampir setiap hari. Teman-teman sekelas Dara yang memang didoktrin beberapa guru, enggak pernah membahas hilangnya Dara. Coba lo bayangin, teman sekelas hilang, tapi mereka biasa-biasa aja, gitu. Aneh, kan?” Terang Ragil pada yang lain.


“Terus? Kok lo beda pandangan sendiri?” Tanya Senja penasaran.


“Gue sempat dengar orang tua Dara bilang, kalau uang yang diterima cuma Dua puluh juta.” Cerita Ragil melanjutkan.


“Dua puluh juta? Untuk apa?” Balas Sena.


“Gue enggak paham, ada kata-kata kampanye dalam percakapan mereka. Kalian tahu, orang tuanya Dara bicara sama siapa?” Tanya Ragil lagi.


“Siapa?”


“Hah? Pak Hartanto? Dia jual Dara ke orang tuanya Dara? Atau ke Pak Teguh? Kok gue bingung?” Balas Doni.


“Spekulasi sementara gue, Pak Hartanto ini semacam perantara antara orang tua Dara dan Pak Teguh. Dia tahu, tapi pura-pura enggak tahu.” Jelas Ragil membuat Senja merinding ketakutan.


“Ih! Kok seram amat. Ini kan sudah masuk ke jual beli manusia, ya? Apa sih istilahnya?” Tanya Senja menanggapi.


“Trafficking.” Balas Ragil.


“Ah, iya. Benar.” Sahut Senja menganggukkan kepala.


“Lantas, apa rencana lo?” Tanya Senja pada Ragil.


“Gue sebenarnya enggak ada rencana apa-apa. Ngalir begitu aja. Masalahnya adalah, malam saat gue nyelinap ke kebun durian, Pak Hartanto kepergok lagi ada di sekitar rumah gubuk. Gue rasa, ada sesuatu yang ganjil.” Lanjut Ragil.

__ADS_1


“Oh ya, sebelum gue lupa. Bapak-bapak yang punya tenda itu, dia juga gue lihat keluar dari kebun pisang. Oke, gue ralat, yang sebenarnya ngelihat itu nyokap. Bukan gue lihat langsung. Gue rasa Bapak Tenda itu tahu sesuatu, deh.” Balas Sena menceritakan pengalamannya saat pergi ke toilet malam itu.


“Ah? Kok malam tambah pusing. Jadi kepala sekolah kita jadi oknum trafficking, nih?” Sahut Doni geram.


“Kalau itu sampai terjadi. Kita perlu cari tahu. Seperti apa sesungguhnya kedua orang tua Dara menghadapi Dara yang sudah ditemukan saat ini. Gue takut kalau Dara justru disakiti. Enggak menutupi kemungkinan, kalau Dara tahu sesuatu dibalik anak hilang ini.” Ucap Senja.


“Setuju! Makanya gue berencana ke ruman Dara hari ini. Kalaj kita ramai-ramai, orang tua Dara pasti enggak curiga. Kita bisa bagi tugas untuk menyelidiki orang tua Dara.” Lanjut Ragil antusias. “Salah satu kita harus bisa bermanis-manis sama orang tua Dara. Yang lain bisa ngobrol sama Dara, gue yang akan memantau hal-hal yang mencurigakan di sana.


Mereka semua yang mendengar ide Ragil, mengganggukkan kepala mantap.


“Untung saja rekaman Pak Hartanto di kebun durian itu masih tersimpan rapi. Supaya bisa jadi bukti untuk pihak kepolisian saat mengungkap semuanya.” Ucap Ragil.


“Apa tindakan kita ini akan membahayakan?” Ucap Senja ragu. Sena, Doni, dan Ragil saling melirik satu sama lain.


“Apa kita perlu bilang dulu sama Pak Polisi yang kemarin? Siapa namanya?” Tanya Doni.


“Pak Andre,” sahut Agia yang berada di antara mereka.


“Oh iya benar. Pak Andre namanya.” Balas Doni menyetujui ingatan Agia.


“Kalian jangan gegabah. Pak Hartanto itu kan kepala sekolah. Relasinya pasti banyak, bisa saja salah satunya membahayakan kalian, kan? Mending bilang dulu sama Papanya Senja dan Sena. Biar nanti Papanya Senja dan Sena yang membantu kalian untuk berpikir langkah awal. Ini bukan masalah anak-anak lagi. Ini sudah jadi urusan besar untuk kepolisian juga.” Ucap Agia pada mereka, tentu saja hanya Sena dan Doni yang mendengar.


“Pasti Mama lagi ngomong, dan lagi-lagi gue cuma jadi penonton orang bengong.” Sungut Senja.


***


“Wan, kamu bisa bantu saya untuk cari tahu tentang tempat pemeriksaan kandungan dari bunga kering yang kita temukan di toko bunga beberapa waktu lalu itu?” Tanya Bagi pada Darmawan saat mereka melakukan tugas lapangan ke suatu daerah terpencil.


“Biar saya coba bawa ke pengujian laboratorium, Pak. Beberapa waktu lalu ada teman saya yang memeriksa kandungan kopi untuk usaha kedainya. Semoga bisa segera keluar hasilnya.” Jawab Darmawan. “Bapak sudah bawa bunga kering itu?”


“Sudah, Wan.” Bagi membuka tas kerjanya dan menyodorkan sekotak bunga kering berwarna coklat. Sisa-sisa warna ungu pada bunga itu masih tertinggal walaupun terlihat samar.


Darmawan memandang wajah atasannya yang terlihat semakin menua karena berbagai masalah yang terjadi pada hidupnya. “Apa yang Bapak harapkan dari hasi laboratorium ini, Pak?” Tanya Darmawan.

__ADS_1


Bagi membalas tatapan Darmawan. “Apa ya, Wan? Saya takut berharap sesuatu. Kalau saya bilang bunga itu aman, saya juga khawatir dengan hal lain. Harus mengulang lagi pencarian bukti-bukti. Kalau terbukti bunga itu mengandung zat berbahaya, paling tidak, dokter bisa tahu apa yang harus dilakukan untuk tubuh istri saya, Wan.” Sahut Bagi nanar. “Saya takut, kalau saya sampai terlambat, Wan.”


“Nanti sore akan segera saya bawa ke tempat teman saya itu, Pak. Semoga hasilnya segera keluar.” Balas Darmawan.


__ADS_2