Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 79


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 79


Bagi, Damar dan juga Stevina bergegas turun dari mobil yang terparkir sembarangan di depan gerbang rumah.


Bagi berjalan cepat menuju halaman, untuk mencari pot bunga yang dia sebutkan sebelumnya kepada Damar dan Stevina.


Tentu saja pot bunga itu kini tidak ada. “Waduh! Enggak ada! Pot bunganya enggak ada di sini.” Ucap Bagi frustasi.


Damar dan Stevina membantu dengan menajamkan matanya untuk mencari pot bunga yang dicari Bagi.


“Gue rasa memang pot bunga yang dimobil memang berasal dari sini, Bro.” Ucap Damar.


“Cari apa?” Tanya Sena yang muncul dari gerbang depan. Mendengar Papanya pulang datang, Sena bergegas pulang dari rumah Ragil.


“Sena, kamu ingat pot bunga yang dulu di sini? Yang kamu lukis bendera negara-negara itu. Kamu ingat?” Tanya Bagi memburu Sena dengan napas terengah-engah.


“Iya ingat, Pa. Kan di sini.” Sahut Sena dengan serta mengarahkan pandangannya ke tempat yang semestinya. “Loh, kok enggak ada ya?”


Mendengar ribut-ribut, Senja keluar dari dalam rumah. “Ada apaan, nih? Rame bener.” Tanya Senja penasaran.


“Kak, pot bunga di sini kok enggak ada?” Tanya Sena kemudian.


“Pot bunga apaan?” Balas Senja dengan alis terangkat.


“Yang ada lukisan aku, Kak.” Balas Sena cepat.


“Oh, dibawa sama Tante Silvia waktu ini.” Jawab Senja santai. “Kenapa memang?”


“Kamu tahu Silvia yang bawa pot bunga itu?” Tanya Bagi mendesak Senja.


“Kenapa, Pa? Kok kelihatannya gawat?” tanya Senja lebih penasaran.


Damar kemudian melangkah mendekati mobilnya dan mengeluarkan pot bunga berwarna hitam dengan bunga merah jambu tertanam didalamnya.


“Ini pot bunga yang kalian maksud, kan?” Tanya Damar pada Senja dan Sena.


“Iya, Om. Benar. Itu aku yang corat-coret.” Jawab Sena mengakui hasil karyanya.

__ADS_1


“Kalian tahu, pot bunga ini Om dapat dari rumahnya Silvia. Dan ini bunga yang sama dengan bunga di toko. Bunga Azalea.” Terang Damar seraya meletakkan pot bunga itu di bawah. Di hadapan semua orang yang berada di halaman rumah Bagi.


“Apanya yang aneh, Om?” Tanya Senja tidak mengerti dengan arah pembicaraan sahabat Papanya itu.


“Apa kalian enggak ngerasa kalau Silvia ini berencana untuk menghilangkan bukti. Apa tujuannya mengambil bunga Azalea dari rumah ini, coba?” Tanya Damar menggiring pendengarnya agar mengarah kepada pemikiran yang sama dengannya. “Berarti selama ini Mama kalian memang sedia bunga ini di rumah. Jangan-jangan tiap hari dipetik satu-satu, lalu direbus untuk dijadikan teh.” Sambung Damar.


“Tapi kalau Tante Silvia mau menghilangkan bukti kayak yang Om bilang, ngapain dia ngasi Om minta bunga Azalea ini coba?” Balas Senja.


Damar menunjukkan senyumnya, “Si Silvia ini enggak tahu kalau Om adalah teman Mama kalian.” Sahut Damar sambil mencolek dagu Senja.


”Jadi ceritanya Om lagi jadi mata-mata, gitu?” Balas Sena mengambil kesimpulan dengan alis bertaut.


“Betul. Keren, kan?” Sahut Damar dengan bangga.


Tiba-tiba saja emosi Senja tersulut. “Tante Silvia ini memang enggak beres! Aku! Aku saksinya kalau pot bunga ini dia yang bawa. Waktu itu aku ingat dia bilang kalau ada pelanggan yang minta bunga ini. Terus dia juga bilang kalau Mama enggak mungkin keberatan bunga ini diberikan kepada pelanggan.” Terang Senja melegakan semua orang.


“Oh! Tante Ragil juga bisa kita jadikan sebagai saksi. Waktu itu Ibunya Ragil sempat tanya-tanya pas Tante Silvi menaikkan pot bunga ini ke dalam mobil.” Seru Senja senang karena mengingat hal kecil yang bisa menjadi penting untuk kemajuan penyelidikan mereka. “Aku sebenarnya enggak sengaja ngintip aktifitas yang dilakukan Tante Silvi dari dalam rumah. Terus, aku lihat Tante Silvi ngobrol sama Tante Ragil. Untung aja aku punya insting memata-matai Tante Silvi. Ternyata ada gunanya juga sekarang.”


“Ma, apa benar? Apa benar Tante Silvia yang mencelakai Mama?” Tanya Sena pada Mamanya yang berada di antara mereka.


Agia hanya menggeleng lemah. “Mama enggak ingat. Maafin Mama, ya.”


Sena menunduk kecewa dengan jawaban Mamanya yang tidak membantu sama sekali.


“Kita cari apa, ya?” Tanya Senja kemudian. “Teh? Bunga? Atau apa?”


“Apa aja yang mencurigakan.” Jawab Stevina yang masih sibuk memeriksa lemari penyimpanan.


Tiba-tiba Agia merintih memegang perutnya. Sena yang mengetahui hal tersebut segera mendekati Mamanya. “Ma! Sakit lagi?”


Mendengar Sena berkata demikian, yang lain menghentikan kegiatan masing-masing dan mendekati Sena.


“Kenap, Sen? Mama sakit perut lagi?” Tanya Bagi sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


“Iya, Pa. Mama kesakitan lagi.” Balas Sena.


“Sakit gimana? Agia sakit kenapa?” Buru Stevina ingin mendengar penjelasan dari siapa saja.


“Beberapa waktu lalu Mama juga gini, Tante. Katanya sih sakit perut. Cuma Sena yang bisa lihat.” Jawab Senja.

__ADS_1


“Ayo kita ke rumah sakit aja. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Agia di rumah sakit?” Seru Stevina memberikan idenya.


“Kalian diam di rumah ya. Biar Papa, Om Damar dan Tante Stevina berangkat ke rumah sakit.” Ujar Bagi.


“Enggak mau. Aku harus ikut.” Seru Senja menolak saran Bagi.


Mau tidak mau, mereka semua ikut serta menuju rumah sakit tanpa melakukan perdebatan lagi.


***


Setibanya di ruang tunggu, Bagi dan yang lain dikejutkan dengan informasi dari perawat bahwa Agia tengah menerima pengunjung. Mereka harus menunggu giliran setelah pengunjung selesai,


“Siapa, Sus?” Tanya Senja mendesak perawat yang sedang bertugas.


Tanpa menunggu jawaban dari perawat, tangan Bagi bergerak membalikkan buku kunjungan. Tertera nama Rania yang telah berada di dalam ruang ICU sekitar empat puluh menit.


Bagi melirik Senja. “Ngapain Tante Rania di sini, Pa?” Tanya Senja pada Bagi.


Belum sempat menjawab, pintu ruang ICU terbuka dan menampakkan wajah Rania yang terkejut mendapati Bagi sedang berada dihadapannya.


“Kak Bagi? Su, sudah dari tadi, Kak?” Tanya Rania menyapa Bagi. Wajah Rania terliha pucat. Matanya kemudian menemukan keberadaan Senja dan Sena, “Senja dan Sena ikut lihat Mama, ya?”


“Baru saja kami datang.” Jawab Bagi ramah, “Sudah selesai bertemu Agia?”


“Sudah, Kak. Semoga Mamanya anak-anak segera sadar.” Sahut Rania mendoakan Agia.


“Oh ya, saya belum mengucapkan terima kasih sama Rania, berkat informasi dari Rania saya jadi tahu banyak hal tentang keungan di toko.” Ucap Bagi tulus pada Rania.


“Sama-sama, Kak. Kan sudah kewajiban saya untuk membantu Mbak Agia saat dalam kondisi seperti ini.” Sahut Rania tenang dan santun. “Lalu, apa yang akan Kak Bagi lakukan tentang Silvia?” Tanya Rania seakan menuntut jawaban.


“Saya belum tahu. Masih saya rundingkan dengan keluarga. Kalau menurut kamu, bagaimana sebaiknya?” Tanya Bagi ingin mengetahui saran dari pegawai yang bersangkutan dengan aktifitas toko.


“Kalau saya, mendoakan yang terbaik, Kak. Saya kan enggak punya wewenang untuk memutuskan, walaupun hanya sekedar opini saja.” Jawab Rania menunduk seolah merendah, dan sadar akan posisinya yang hanya sebagai pegawai.


Bagi hanya menganggukkan kepala saat mendengar jawaban dari Rania.


“Ya sudah, saya pamit dulu. Silahkan Kak Bagi dan keluarga untuk menjenguk Mbak Agia di dalam. Pasti sudah ditunggu sejak tadi.” Ucap Rania kemudian.


“Terima kasih, Tante. Sudah meluangkan waktu untuk nengok Mama di rumah sakit.” Senja mengulurkan tangannya untuk Rania.

__ADS_1


“Tentu saja, Sayang. Mama kamu sudah Tante anggap seperti kakak sendiri.” Sahut Rania dengan senyum penuh keteduhan.


***


__ADS_2