
Mamaku Hantu
Part 25
“Gi, kenapa bisa kayak gini, sih?” Stevina menangis di dalam ruang ICU. Tak kuasa dirinya melihat keadaan sahabat terbaik sejak SMA terbujur lemah dengan perlengkapan medis yang menempel ditubuhnya.
“Gue tahu gue jahat. Selama ini gue enggak pernah hubungin lo. Tapi sedikit pun gue enggak tahu kalau lo sakit.” Stevina berbicara pelan di sebelah Agia.
“Salah gue memang, karena menutup semua akses kekalian. Gue terlalu asik menikmati proses menutup luka lama. Tapi nyatanya malah kayak gini sekarang. Luka itu tetap ada, karena gue tahu, yang gue perlu bukan obat penyembuh luka. Tapi dokter yang tepat untuk luka gue ini, Gi.” Stevina menghembuskan napasnya halus.
“Harusnya kita tetep kayak zaman kuliah dulu ya, Gi. Apa-apa kita cerita, apa-apa kita tahu tentang kehidupan sehari-hari. Apa lo ngerasa sendirian, Gi?”
“Gue kesel banget. Kenapa lo enggak pernah cerita sama gue kalau lagi sakit? Apa benar kata Kak Damar kalau sakit lo ini enggak biasa?”
“Gi, lo pasti dengar gue, kan? Gi, tolong bangun. Gue ada di sini.” Stevina memandang Agia lama. Merasa tidak akan mendapatkan respon apapun, Stevina keluar dari ruang ICU.
***
Damar yang sedari tadi menunggu Stevina di ruang tunggu, melihat kemunculan Stevina dari balik pintu Ruang ICU.
Stevina berjalan pelan dengan wajah sembab. Damar sangat yakin, jika Stevina menghabiskan waktunya bersama Agia dengn menangis.
“Sudah?” Tanya Damar saat Stevina mendekatinya.
Stevina tidak menyahuti pertanyaan Damar. Dia termenung memikirkan ucapan Damar sebelumnya tentang upaya seseorang yang membuat Agia menjadi seperti ini.
“Apa yang bisa aku lakuin untuk bantu menyembuhkan Agia?” Tanya Stevina tiba-tiba.
Damar memandang Stevina karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Bukannya kamu harus balik ke Jepang?”
“Aku bisa minta izin untuk memperpanjang cuti di Indonesia. Gampang itu. Sekarang, kita percepat untuk menemukan bagaimana cara menyembuhkan Agia dulu. Kita mulai dari mana?”
Damar telah memikirkan sebelumnya, dia lalu merogoh kantong celana untuk mendapatkan telepon genggam. Jari-jemari Damar bergerak lincah untuk mencari kontak milik Bagi dan menghubunginya.
“Bro, dimana lo?” Tanya Damar begitu telepon tersambung.
“Lagi di jalan. Tadi gue antar anak-anak ke sekolah. Ada apa?” Sahut Bagi di seberang sana.
“Bisa ketemu sekarang?”
“Bisa. Di cafe biasa aja, gimana?”
“Oke. Gue sampai sana kurang dari tiga puluh menit.”
***
__ADS_1
Bagi menatap kaku kepada Damar dan Stevina yang berjalan ke arahnya.
“Stev, kapan datang ke Indonesia?” Tanya Bagi begitu pulih dari kesadaran setelah yakin bahwa yang ada di hadapannya adalah Stevina.
Tanpa berkata apa-apa, Stevina memukul dada Bagi dan menumpahkan tangisannya lagi.
“Kenapa lo enggak pernah hubungin gue untuk kasi info tentang Agi, Kak? Tega lo sama gue!”
Bagi terdiam dan menyadari bahwa Stevina sudah mengetahui tentang keadaan Agia.
“Gue bisa apa, Stev? Urusan gue terlalu menguras waktu, tenaga, bahkan emosi gue.”
“Siapa yang tega bikin Agia kayak gini? Nyokap lo?” Tebak Stevina sinis.
Bagi terdiam.
“Sudah, duduk dulu.” Ujar Damar menenangkan Stevina.
Stevina menuruti saran Damar.
“Lo sudah pesan sesuatu?” Tanya Damar kepada Bagi.
“Belum.”
Damar lalu memanggil pramusaji untuk memesan tiga gelas jus jeruk dan tiga porsi waffle.
“Oke. Sekarang kita fokuskan pemulihan Agia. Bukan yang lain-lain. Kamu harus ngerti keadaan Bagi, Stev. Kamu aja shock kan setelah mendengar hal ini, apa lagi Bagi yang suaminya Agia. Bisa kebayang enggak bagaimana anak-anak?”
Stevina diam mendengar pembelaan yang dilakukan oleh Damar untuk Bagi.
“Aku bukan mau belain Bagi. Tapi kamu harus bisa membesarkan hati. Kita harus kuat untuk bisa bantu Agia.”
Stevina menghela napas mencoba untuk menerima kenyataan.
“Gimana kabar Senja dan Sena, Kak?” Tanya Stevina melunak.
“Mereka sekarang lagi kemah di sekolah. Untung aja mereka masih banyak kegiatan, jadi enggak terlalu terpukul tentang Mamanya. Tapi ya gitu, Sena nilai-nilai sekolahnya banyak yang anjlok.” Jelas Bagi kepada dua sahabat di hadapannya.
“Dimaklumi aja, Kak. Kasihan mereka. Kapan dijemputnya? Nanti kita jemput mereka ramai-ramai ya.” Balas Stevina antusias membayangkan berjumpa dengan Senja dan Sena setelah sekian tahun berkomunikasi hanya melalui telepon saja.
“Boleh. Besok sore kegiatan mereka selesai jam tiga.”
“Lalu, kita mulai dari mana penyelidikan ini?” Tanya Stevina kepada Damar dan Bagi. Dia melihat Damar dan Bagi bergantian.
“Bunga yang nyokap lo kasi ke Agia, sudah ada di dalam mobil gue. Itu kita check dulu kandungannya?” Jawab Damar.
“Kandungan gimana? Jadi benar nyokap lo masuk dalam list orang yang dicurigai?” Tanya Stevina tidak percaya kepada penjelasan yang disampaikan oleh Damar.
__ADS_1
“Kan baru spekulasi saja. Apa bunga itu ada kandungan berbahaya atau gimana. Kita belum bisa bikin kesimpulan ini atau itu.” Balas Damar.
“Dan lagi, gue lupa cerita sama lo, Mar. Di kantor, gue nemuin kotak yang di dalamnya ada bunga kering, persis seperti bunga yang ditanam di belakang toko. Sekalian kita check juga, apakah bunga itu bunga yang sama?” Bagi memberikan informasi tambahan kepada Damar dan juga Stevina.
“Sekarang bunga kering itu ada dimana?” Sambung Damar.
“Di rumah. Semua gue satuin sama bukti korupsi yang dilakuin Silvia.” Jawab Bagi malas.
“What? Silvia korupsi? Yang benar?”
Bagi mengangguk yakin menjawab ketidakpercayaan Stevina.
“Gimana ceritanya Silvia bisa korup?”
“Katanya sih awalnya enggak sengaja. Terus karena Agia diam-diam aja, lanjut sampai sekarang. Gue juga enggak yakin, apa benar Agia tahu. Atau alasan Silvia aja.” Balas Bagi.
Stevina terlihat berpikir. “Jadi spekulasi kita, Silvia nyelakain Agia untuk nutupin fakta tentang penggelapan dana toko bunga, gitu?”
Bagi menaikkan bahunya, “gue enggap punya spekulasi apa-apa.”
“Apa perlu kita lapor polisi?” Tanya Stevina.
“Bukti-bukti kita belum lengkap.” Balas Bagi.
“Untuk bukti penggelapan dana gue rasa udah cukup.” Jawab Damar. “Siapa tahu dengan masuknya pihak kepolisian dalam penyelidikan bisa menguak fakta-fakta lainnya kan?” Lanjut Damar.
“Setelah hasil laboratorium bunga ini keluar, kita ambil keputusan berikutnya.” Balas Bagi.
***
“Kok lo bisa bareng Stevina?” Tanya Bagi ketika Stevina meninggalkan mereka berdua untuk ke toilet.
“Kemarin dia ke toko Agia. Sialnya, dia malah ngelihat gue ngasi Silvia buket bunga.” Jawab Damar datar.
“Gimana, gimana? Lo ngasi Silvia bunga? Untuk apa?”
“Untuk ngorek-ngorek informasi. Kali aja dia terpikat sama ketampanan gue.” Sahut Damar percaya diri.
Bagi menghela napas sebentar. “Sebenarnya hubungan lo sama Stevina gimana?” Tanya Bagi terheran-heran dengan sahabatnya itu.
“Gue juga enggak ngerti. Tapi gue yakin dia masih cinta mati sama gue. Buktinya, kemarin dia kelihatan marah banget pas gue ngasi Silvia bunga.”
“Kalau seandainya untuk saat ini, apa lo siap nikah sama Stevina?”
“Gue enggak tahu. Gue enggak yakin bisa ngebahagiain dia. Gue takut akan jadi penghalang atas cita-cita tingginya yang tanpa batas itu.”
“Sst! Dia balik.” Seru Bagi cepat.
__ADS_1
***