
Mamaku Hantu
Part 72
“Tapi anak ini bukan murni lagi, Pak Har. Kita tidak bisa menyerahkannya ke Pak Presiden.” Ucap Teguh dengan wajah pias saat mendapati target operasi mereka ternyata sedang merintih kesakitan karena datang bulan.
Hartanto tidak menjawab, wajahnya terlihat berpikir. Apa yang harus dia lakukan.
“Jangan banyak omong, Pak. Kalau memang dia bukan anak yang murni, lebih baik saya kirim ke Jro Gemblung saja. Biar urusan ini jadi bagian dia saja. Lumayan dapat tiga ratus juta, kan? Nanti kita bagi rata saja! Oke?” Ucap Leri bengis.
“Jro Gemblung? Mau dibawa ke luar negeri maksud, Pak Leri? Kasihan, Pak. Kasihan anak ini. Masih terlalu kecil untuk jadi budak penjahat kelamin.” Balas Teguh tidak tega jika harus membayangkan Mala berada diposisi Dara.
“Kasihan bagaimana? Bukannya Pak Teguh yang menculik anak ini dari kelompoknya? Lagian, orang tuanya juga sudah setuju kok untuk menukar anak ini dengan uang dua puluh juta. Iya, kan, Har?” Sahut Leri cepat.
Hartanto masih belum bisa memberikan tanggapan atas apa yang sedang terjadi. Keberadaan mereka di dalam rumah gubug kebun durian terasa semakin mencekam karena Dara terlihat menggerakkan tubuhnya perlahan. Obat bius yang ditempelkan pada hidung Dara oleh Teguh sudah mulai menghilang khasiatnya.
“Lagi pula, kalau kita serahkan kepada Pak Presiden, anak ini juga akan jadi tumbal. Sama saja dia akan habis! Gimana sih Pak Teguh ini.” Ucap Leri dengan menyugar rambutnya gemas dengan cara berpikir Teguh.
“Lantas, kita harus bilang apa dengan Pak Presiden?” Balas Teguh.
“Gampang! Nanti kita carikan lagi anak perempuan lainnya. Tidak usah terlalu dipikirkan, Pak Teguh.” Sahut Leri santai. Seolah, pekerjaan menculik anak merupakan sesuatu yang sangat mudah dan tidak berdosa.
Tiba-tiba, telepon genggam Hartanto mengeluarkan nada panggilan masuk. Ketiga laki-laki dewasa itu terkejut, cepat-cepat tangan Hartanto merogoh kantong jaketnya untuk melihat layar telepon genggamnya. Nama Bu Siti terlihat disana. Hartanto melihat kedua rekannya, “Bu Siti,” ucap Hartanto memberi tahu siapa yang menghubunginya.
“Selamat malam, Bu Siti.” Sahut Hartanto lembut.
“Pak! Pak Har dimana?” Tanya Bu Siti panik.
__ADS_1
“Ada apa, Bu?” Balas Hartanto seraya menaikkan alisnya begitu mendengar suara Bu Siti yang sedang panik.
“Pak! Ada anak hilang, Pak. Salah satu peserta kemah tidak ada di sini!” Seru Bu Siti dari seberang sana.
Hartanto meyakini sedang terjadi kegaduhan diantara para guru tentang hilangnya salah satu siswi di perkemahan. “Oh, tenang, Bu. Barusan orang tua Dara memang datang menjemput. Saya sempat bertemu, kok. Bu Siti dan guru-guru lain jangan sampai meributkan hal ini, ya. Nanti orang-orang mengira kalau salah satu siswi benar-benar hilang, Bu.” Sahut Hartanto masih berusaha untuk tenang.
“Yang benar begitu, Pak Har? Kok kami para guru tidak tahu kalau orang tua Dara datang menjemput?” Balas Bu Siti lagi.
“Ya, Bu Siti tenang dulu. Saya menuju ke perkemahan sekarang. Saya sudah sampai di pos 3 ini. Sebentar lagi sampai.” Ucap Hartanto berbohong. Sebelumnya Hartanto mengaku sedang melakukan survey jalur jurit malam kepada guru-guru yang lain. Nyatanya, Hartanto bersama dua rekannya melakukan aksi paling jahat di muka bumi ini, yaitu, mengambil seorang anak dari lingkungannya.
“Gue balik dulu. Gue rasa lo juga harus balik ke mobil lo deh, ***. Ayo lah kita persempit celah untuk menimbulkan kecurigaan diantara yang lain.” Ucap Hartanto sebelum melangkah meninggalkan mereka,
“Ck! Menganggu saja! Lantas, bagaimana dengan anak ini?” Tanya Leri dengan wajah berang.
“Pak Teguh, urus sisanya. Terima kasih.”
***
“Biarlah nanti urusan dengan Pak Hartanto dan Pak Leri belakangan saja diselesaikan. Sekarang kamu tinggal di sini dulu ya, di sini hangat, kok. Kamu enggak akan kedinginan seperti Mala.” Ucap Teguh pada Dara yang masih belum sadar sepenuhnya. Tidak lupa Teguh mengunci pintu rapat-rapat, dan merapikan kembali kotak kayu pakan ternak di atas pintu rahasia.
***
“Ma, tadi Mama bicara apa sama Raya?” Tanya Sena di dalam mobil Damar. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Senja dan Sena.
“Raya bilang, ada sesosok yang bernama Prabu Lanang terus mendekati Raya. Mama bilang, mungkin sudah saatnya Rata pergi agar lebih tenang dan enggak kesepian lagi. Tapi ya entah lah, menurut Raya, Prabu Lanang ini bilang kalau belum waktunya Raya ikut pergi. Mama juga enggak paham.” Balas Agia menjelaskan dengan singkat kepada Sena.
“Tadi saya juga dengar Raya menyebutjan nama Prabu Lanang, Tante.” Ucap Doni ikut serta dengab percakapan ibu dan anak itu.
__ADS_1
“Oh, ya? Kapan itu? Kok Tante enggak dengar, ya?” Balas Agia menaikkan alis seraya menolehkan kepalanya, karena Doni duduk di kursi penumpang bagian paling belakang.
“Waktu Pak Andre pergi ke luar rumah gubug, Tante. Waktu sedang menelepon petugas forensik!” Seru Doni.
“Kalian ngobrol apa sih? Mulai sombong ya karena punya kelebihan.” Ucap Ragil yang duduk di depan bersama Damar.
“Kebayang enggak lo semua perasaan gue setiap hari di rumah kayak apa?” Balas Senja tidak mau kalah dalam mengungkapkan ketidak senangannya akan kelebihan yang dimiliki Sena dan Doni.
“Prabu Lanang itu siapa, Tante?” Tanya Doni tidak menghiraukan intruksi yang dilakuan Ragil juga Senja.
“Tante juga enggak yakin, Don. Dulu Tante pernah ketemu sama Prabu Lanang ini di rumah temen Tante yang hampir saja meninggal karena koma. Tapi, Tante belum pernah ngobrol dengan beliau.” Jawab Agia.
“Kayak apa Ma mukanya Prabu Lanang itu?” Sahut Sena menimpali.
“Kayak raja. Pakai mahkota. Tinggi tegap. Wajahnya luar biasa rupawan. Tapi aura yang keluar bikin Mama jadi takut. Padahal enggak seram sama sekali.” Balas Agia.
“Terima kasih ya, karena menganggao kita enggak ada di sini.” Sahut Senja tiba-tiba. Hal itu membuat Sena menoleh Doni dan tersenyum penuh kemenangan.
“Demen lo ya bikin temen celingak-celinguk penasaran.” Sahut Riki yang sedari tadi diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sama dengan Damar.
“Om Damar, memangnya kenapa sih anak yang diculik Pak Teguh dan Pak Leri itu tidak boleh datang bulan?” Tanya Sena mengalihkan pembicaraan.
“Gimana ya, Sen. Om juga enggak yakin tahu nih masalah beginian. Di dunia ini, masih banyak sekali hal-hal berbau klenik. Tahu? Hal yang gaib-gaib. Bisa jadi anak-anak yang diculik guru kalian itu mau dijadikan tumbal atau sesuatu. Om juga enggak tahu, ya.” Jawab Damar santai sambil tetap berfokus dalam menyetir.
“Tumbal? Biar apa, Om?” Balas Ragil kemudian.
“Biar kaya lah, gimana sih lo? Segitu aja enggak tahu!” Sungut Senja mencibir Ragil.
__ADS_1
“Tumbal itu kan ada banyak, Om juga enggak tahu. Ah kalian ini salah nanya! Coba tanya Mamamu. Kali aja dia lebih tahu. Kan dia sekarang hantu.”