
Mamaku Hantu
Part 47
“Ayo injak kaki gue.” Perintah Bagi pada Stevina seraya menurunkan tubuhnya agar Stevina lebih mudah menaiki tembok yang ditunjukkan oleh Dandi.
“Sori ya, Kak.” Tanpa segan Stevina menginjak paha Bagi yang tertekuk. Dalam satu gerakan Stevina berhasil mencapai puncak lalu menjatuhkan dirinya dengan mendaratkan kaki terlebih dahulu pada tanah.
Bagi pun berhasil mengikuti langkah Stevina dengan mendarat sempurna.
“Coba lihat baterai HP lo, Stev. Tinggal berapa?” Tanya Bagi sebelum mereka berdua menyusuri jalan kecil di sebelah sekolah.
“Kenapa memang?” Tanya Stevina penasaran.
“Kita perlu lampu penerangan. Kalau kita pakai keduanya, akan boros tenaga. Saat diperlukan malah keburu mati.” Jelas Bagi.
“Jangan khawatir, Kak. Gue bawa lampu senter.” Ucap Stevina yang sedang merogoh tas selempangnya. Sebuah lampu senter berukuran sedang berhasil menerangi jalan kecil itu.
“Good idea! Yuk jalan!” Perintah Bagi.
Dengan langkah cepat Stevina memimpin perjalanan mereka hingga sampai pada sederet tanaman semak belukar. Stevina menghentikan langkahnya. Tanpa ada yang memberikan komando, Bagi menyibak tanaman itu, dan mempersilahkan Stevina untuk melewatinya terlebih dahulu.
“Kemana kita sekarang, Kak?” Tanya Stevina yang melihat hamparan pohon durian di depannya dalam keadaan minim penerangan.
“Belok kiri bukan?” Bagi pun hendak memastikannya dengan Stevina.
Kedua pasang kaki itu bergerak cepat menyusuri tanah yang ditutupi dedaunan. Dari kejauhan nampak cahaya yang bergerak-gerak serta berbaris.
“Itu pasti anak-anak yang lagi jurit malam.” Seru Stevina menenangkan dirinya yang sangat terkejut ketika mendapati cahaya berterbangan.
“Masih jauh, Kak?” Tanya Stevina yang merasa sangat tidak nyaman berada di dalam kegelapan.
“Semakin dekat.” Jawab Bagi cepat.
“Apa kita perlu cari Senja juga, Kak?” Tanya Stevina dengan napas memburu.
“Nanti setelah Sena ketemu, kita cari Senja.” Pikiran Bagi kini benar-benar tidak bisa berpikir secara logika. Hanya menemukan Sena saja yang menjadi prioritas utamanya.
***
“Sayang sekali gue harus mendeklarasikan suatu keburukan kecil disaat seperti ini.” Ucap Ragil datar.
__ADS_1
Yang lain menoleh ke arah Ragil yang menunjukkan layar telepon genggamnya.
“HP gue tinggal tiga puluh tujuh persen.” Sambungnya lagi. “Semoga bokap lo segera sampai sini.”
Ragil lalu berjalan menuju dinding yang dianjurkan oleh Dara agar telepon genggamnya memperoleh signal. “Dan, signal pun ikut memusuhi kita.”
Ragil memutuskan untuk tetap duduk pada posisi itu, dengan tangan bergerak-gerak agar signal tertangkap oleh telepon genggamnya.
“Kak Dara, seberapa akrab Kak Dara sama Pak Teguh?” Tanya Sena pada Dara.
“Cukup akrab. Pak Teguh sering membimbing gue dan yang lain supaya bisa ikut olimpiade atau lomba-lomba lainnya. Waktu itu gue memang fokus olimpiade matematika, jadi hampir setiap hari berinteraksi sama Pak Teguh. Tapi gue enggak nyangka ternyata Pak Teguh begini.” Jelas Dara sambil memeluk lututnya.
“Apa kira-kira yang bikin Pak Teguh memilih Kak Dara untuk jadi korban?” Lanjut Sena menginterogasi Dara.
“Apa, ya? Gue enggak tahu. Begitu gue di sini, yang dia bilang selalu dingin, dingin, dan dingin.” Balas Dara. “Oh! Dia juga sempat bilang begini, kamu harus sehat supaya punya jiwa yang sehat.”
Sena menoleh Mamanya, berharap agar Agia memiliki ide atau opini dalam menanggapi masalah ini. Namun, Agia menggeleng lemah.
“Gue enggak tahan deh di sini. Udaranya pengap, mana bau duriannya awet banget!” Ucap Riki resah.
“Gil, kirim pesan ke bokapnya Sena. Bilang kalau posisi pintu masuk ke gudang ini ada di bawah kotak pakan ternak. Begitu signal ketangkap, pesan itu pasti langsung terkirim.” Perintah Riki pada Ragil.
“Gue malah puyeng banget karena penasaran sama motifnya Pak Teguh. Kalau memang dia jahat, masak sih selama ini Kak Dara baik-baik aja di sini?” Ucap Sena yang tidak berhenti mengait-ngaitkan benang merah yang belum terkumpul.
“Coba kita ulang dari awal,” balas Doni. “Kita cari kesamaan antara Dara dan Danti.” Lanjut Doni dan disambut dengan tatapan serius dari yang lain. “Pertama, mereka sama-sama diculik sesaat sebelum jurit malam dimulai. Kedua, mereka sama-sama perempuan. Apa lagi?”
“Kak Dara dulu kelas berapa saat penculikan?” Tanya Sena.
“Kelas 6.” Sahut Dara.
“Danti kelas 4. Berarti enggak sama.” Balas Sena.
“Tunggu! Tadi Kak Dara bilang kalau Pak Teguh itu wali kelas, kan?” Tanya Sena cepat.
“Iya, benar. Pak Teguh wali kelas gue waktu itu. Makanya Pak Teguh yang semangat banget ngebimbing gue dan teman-teman untuk ikut lomba.” Sahut Dara mengulang informasi sebelumnya.
“Fix! Pak Teguh juga wali kelasnya Danti. Pak Teguh itu walinya kelas 4-A.” Seru Sena.
“Oke, kita nemu satu kesamaan lagi. Pak Teguh nyari korban dari keakraban sama siswanya. Yang paling gampang ya sama anak didik sendiri, kan?” Sambung Doni.
“Ada lagi?” Ucap Ragil.
__ADS_1
***
Sebuah pemberitahuan tentang pesan masuk berbunyi pada telepon genggam Bagi. Sambil berjalan Bagi membuka pesan itu.
“Stev, Sena ngirim pesan. Katanya pintu masuknya ada di bawah kotak pakan ternak.” Ucap Bagi dengan napas memburu.
“Buset! Niat amat nyembunyiin pintunya.” Balas Stevina. “Masih jauh, enggak?”
“Dikit lagi.” Sahut Bagi.
“Kak! Itu ada rumah di sana.” Ucap Stevina tiba-tiba.
“Matiin lampu senternya Stev.” Perintah Bagi.
“Ih, gelap dong. Nanti gue jatuh.” Sahut Stevina.
“Kalau lampunya nyala, ketahuan dong kalau ada kita di sini.” Balas Bagi menjawab rengekan Stevina.
“Oke. Kita berhenti sebentar.” Pinta Bagi dan segera dituruti oleh Stevina.
“Lo percaya gue, kan?” Tanya Bagi. “Sebelum lo matiin lampu senter. Tutup mata lo beberapa detik. Dengan mata masih tertutup, lo harus matiin lampu. Setelah itu lo bisa buka mata lo pelan-pelan. Mata yang terbiasa dengan keadaan gelap dari awal, pasti akan terbiasa setelahnya. Apa lagi sinar bulan juga cukup terang sampai di sini.” Jelas Bagi.
“Oke gue turutin. Tapi lo jangan ninggalin gue sendirian di sini, Kak.” Serbu Stevina mengancam Bagi.
“Enggak mungkin lah gue ninggalin lo di sini sendirian. Mau dibikin pepes gue sama Damar?” Sahut Bagi.
“Eleh, bisanya lo belain itu orang.” Balas Stevina. “Lo bawa senjata, enggak?” Sambung Stevina.
“Waduh! Iya juga ya. Gue enggak bawa persiapan apapun.” Sahut Bagi menyesali kecerobohannya.
Stevina lalu membuka tasnya dan memeriksa, apakah ada benda yang bisa dijadikan sebagai senjata. ”Cuma ada pensil alis, Kak.”
“Ya elah, bisa apa sama pensil alis?” Tanya Bagi ragu.
“Kalau macam-macam, gue colok tu mata guru edan.” Sahut Stevina gemas.
Bagi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ide Stevina.
“Udah, gue mau tutup mata sekarang. Semoga Sena cepat ketemu.” Sambung Stevina.
***
__ADS_1