Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 31


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 31


Sena membuka mata karena mendengar suara langkah kaki di belakang tenda.


“Siapa itu di belakang?” Batin Sena. Dia mengedarkan pandangannya. Agia duduk dengan mata terpejam di ujung kaki Sena. “Apa Mama enggak dengar suara tadi?” Batin Sena lagi.


Teman-teman yang berada di dalam satu tenda dengannya tertidur pulas.


“Aduh, pengen pipis lagi. Berani enggak ya ke toilet?” Sena mengangkat tubuhnya. Sena duduk dan melihat ke arah kanan. “Gimana caranya keluar dari tenda, nih?”


Sena berada di bagian ujung tenda bersebelahan dengan empat temannya. Teman seangkatan Doni berada tepat di sebelah pintu tenda, berlawanan dengan Sena.


Agia terbangun dan melihat anaknya duduk dengan gelisah. “Kenapa?”


“Pengen pipis, Ma.” Sahut Sena berbisik.


“Bangun aja, Mama antar. Lewat sini.” Balas Agia sambil menunjukkan jalan pada bagian kaki-kaki teman satu tenda.


Perlahan-lahan Sena bangun dan menggeser kaki dengan hati-hati agar tidak membangunkan yang lain, apa lagi sampai menginjak tubuh temannya. Sena membuka pintu tenda perlahan dan berhasil keluar bersama Agia.


Sepi. Sena tidak melihat siswa atau siswi di area perkemahan. “Semua pasti tidur.” Batin Sena. Beberapa guru masih bersenda gurau di dekat api unggun. “Guru-guru pasti berjaga, sampai enggak tidur mereka. Tapi jadi tenang juga sih kalau guru-guru enggak tidur.” Sena tetap berbicara di dalam hatinya.


Sena berjalan mendekati kumpulan guru-guru. Ibu Siti menyadari kedatangan Sena, “loh, kok belum tidur?” Tanya Ibu Siti terkesiap dengan kehadiran Sena. Guru-guru lainnya menoleh ke arah datangnya Sena.


“Iya mau ke toilet, Bu.” Balas Sena.


“Dari kelompok mana?”


“Kelompok dua, Bu.”


Ibu Siti terlihat terkejut sebentar. Namun dengan cepat mengubah mimik wajahnya menjadi biasa. “Berani ke toilet?” Balas salah satu guru laki-laki yang berada di seberang Ibu Siti. Sena tidak tahu nama guru itu.


“Kayaknya sih berani, Pak.” Jawab Sena disertai dengan senyuman.


“Mau saya antar?” Tawar Pak Guntur.


“Enggak usah, Pak. Saya sendiri aja, berani kok. Kan ada lampu.” Jawab Sena menolak tawaran Pak Guntur.


“Ya sudah, saya lihat dari sini ya. Jangan lama-lama. Pesan Pak Guntur.


“Iya, Pak. Terima kasih atas perhatiannya.”


Sena berjalan menuju toilet di ujung lapangan sebelah selatan, dekat dengan sekolah.


“Ma, Mama lihat anak kecil enggak tadi sore?” Tanya Sena saat berjalan dengan Agia.

__ADS_1


“Yang dari kebun itu?” Balas Agia.


“Iya. Dia siapa, Ma?”


“Mama enggak tahu. Dia enggak mau jawab Mama. Diam terus dia. Sekarang dia pergi entah kemana.” Jawab Agia.


“Ma, dia…” ucap Sena ragu.


“Dia kenapa?”


“Dia udah mati ya, Ma?”


“Sepertinya begitu. Nanti kalau kamu ketemu, mau bicara?”


“Boleh?”


“Kenapa enggak?”


“Tapi aku takut, Ma.”


“Kenapa takut?”


“Kan dia bukan manusia, Ma.”


“Mama juga bukan manusia.”


“Kan dia wajahnya imut-imut, kenapa harus takut?”


“Iya deh, nanti aku kenalan sama dia. Semoga dia muncul lagi.”


Tanpa terasa toilet sudah berada di depan mata. Sena melirik kebun pisang di belakang toilet. Keadaan belakang toilet sangatlah gelap dan terlihat menyeramkan. Sena bergidik ngeri membayangan harus berjalan seorang diri di tengah kebun. “Untung saja aku ditemani Mama. Kalau enggak, aku akan ganggu semua teman-teman supaya mau antar aku pipis.” Ucap Sena tiba-tiba. Agia tertawa mendengar ocehan Sena.


Dengan cepat sena menuntaskan panggilan alamnya dan segera keluar dari dalam toilet.


Betapa terkejutnya Sena mendapati seorang laki-laki berjalan di depannya. Sena segera memanggilnya. “Pak!” Orang itu lalu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


Laki-laki itu menoleh. “Halo, ternyata ada orang ya. Saya enggak lihat. Maaf, ya.” Sahut orang itu.


“Kenapa minta maaf, Pak.”


“Kamu kaget karena ada saya kan?” Tebak orang itu.


“Bapak siapa?” Tanya Sena sambil mendekati laki-laki di hadapannya. Sena mengabaikan tebakan orang yang diyakini bukanlah guru di sekolahnya. Agia pun mengikuti anak bungsunya berjalan menjauhi toilet.


“Saya Leri. Yang menyewakan tenda.” Jawab Leri.


“Oh,” Sena menganggukkan kepala tanda mengerti. Mereka kini berjalan perlahan-lahan menuju api unggun.

__ADS_1


“Tenda yang Pak Leri punya bagus banget, Pak. Bersih.” Puji Sena mencairkan suasana.


“Iyakah? Makasih lo pujiannya.”


“Sama-sama, Pak. Saya kan cuma menilai sesuai objeknya saja. Ngomong-ngomong, Bapak tadi ke toilet juga?”


“Iya, saya ada di bilik paling ujung.” Jawab Leri cepat.


“Bohong dia, Sen. Dia datang dari kebun pisang di belakang toilet.” Sanggah Agia. Sena melirik Mamanya sepintas.


“Oh ya? Saya enggak dengar.” Balas Sena mencoba mengorek sesuatu.


“Iya, mungkin karena terlalu jauh.”


“Memangnya yang punya tenda harus nungguin di area kemah juga ya, Pak?” Selidik Sena dengan tatapan tajam ke sebelah kiri, posisi Leri yang beriringan dengan Sena.


Terdengar jeda setelah Sena bertanya kepada Leri.


“Iya betul. Nanti kalau ada kerusakan dengan tenda atau alat-alat lainnya kan saya bisa bantu.”


“Oh begitu. Kalau di dalam kebun sana, seram enggak sih, Pak? Nanti malam kan kita lewat sana. Saya takut.” Sena tetap berusaha untuk mencari tahu, mengapa Leri harus berbohong kepadanya.


“Enggak perlu takut. Kan nanti ada guru-guru di pos. Lagian juga rumah penduduk dekat sini. Kamu kan jurit malamnya di kebun punya penduduk. Enggak mungkin sampai tersesat apa lagi hilang.” Terang Leri panjang lebar.


“Saya takut hantu, Pak.”


Leri berhenti dan menatap Sena. Sedetik kemudian Leri tertawa terbahak-bahak. “Hantu itu enggak ada.” Leri berhenti sebentar untuk menjawab Sena, lalu melanjutkan lagi tawanya. Leri pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sena di belakang.


“Hantu itu ada kok, Pak. Apa lagi di dalam kebun itu. Ada hantu anak perempuan.” Sahut Sena dengan merendahkan suaranya. Padahal, Sena tidak yakin dengan apa yang dilakukannya.


Leri mendadak berhenti dan segera membalikkan badan menghadap Sena. Kini mereka berada tepat di tengah-tengah lapangan. Jauh dari tenda, jauh dari toilet, hampir mendekati api unggun.


“Nama kamu siapa?” Tanya Leri dengan wajah yang tidak bisa dimengerti oleh Sena. Seperti orang yang terpergok sedang mencuri pulpen di dalam kotak pensil milik teman.


“Saya Sena, Pak.” Sahutnya cepat.


“Sena, buruan ke tempat guru-guru. Orang ini kayaknya berbahaya.” Seru Agia yang semakin takut dengan aksi yang dilakukan oleh Sena mengorek informasi dari orang asing ini.


Mendengar ucapan Mamanya, Sena berjalan cepat meninggalkan Leri.


“Sudah selesai?” Sambut Ibu Siti dan yang lain saat melihat Sena sudah dekat dengan api unggun.


“Iya, Bu. Saya balik ke tenda, ya.” Balas Sena.


“Jangan lupa tutup pintu supaya tidak dingin.”


“Iya, Bu. Terima kasih.”

__ADS_1


***


__ADS_2