
Mamaku Hantu
Part 54
“Jangan, Kak! Nanti ketahuan!” Ucap Stevina berdesis agar suaranya tidak membesar. Bagi membalasnya hanya dengan cara meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. Perlahan Bagi mendekati rumah gubuk dan memasang telinga dengan baik, apa saja obrolan guru-guru. Dengan terpaksa Stevina membuntuti gerakan Bagi di depannya.
Percakapan guru-guru tentang seorang siswi yang bernama Dara membuat Bagi dan Stevina merengutkan kening. “Jadi kejadian ini terulang kembali, dan guru-guru justru diam tidak melakukan apa pun.” Pikir Bagi sengit. “Bisa-bisanya mereka dengan santai duduk di sini tanpa ada usaha apa pun.” Bagi bergemuruh kemudian meninggalkan rumah gubuk.
Stevina mengerti yang dirasa suami sahabatnya itu. Kalau pun itu terjadi padanya, bisa jadi dia rubuhnya rumah gubuk ini.
Bagi berjalan cepat menuju kandang ternak yang disampaikan oleh Sena sebelumnya. Matanya bergerak mencari-cari kotak pakan ternak, tempat pintu rahasia itu disembunyikan.
Kotak pakan ternak itu telah bergeser tidak pada tempatnya dan mempertontonkan pintu besi dengan jelas. Bagi melihat ke arah Stevina.
Stevina merogoh telepon genggamnya dan mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menunjukkan layar itu pada Bagi.
[Kak, pintunya gak kekunci. Org itu kyknya ada di bwh sana. Kita hrs hati2, Kak.]
Bagi membaca tulisan itu dengan cermat dan membalasnya dengan anggukkan.
Perlahan-lahan Bagi mengulurkan tangan untuk memegang handle pintu guna mengangkatnya. Bagi kemudian menunjuk dadanya lalu tangannya mengarah pada lubang menuju bawah tanah.
Stevina paham, bahwa Bagi sedang memberikan keterangan jika Bagi akan masuk lebih dahulu. Sementara Stevina memutuskan untuk tetap diam di atas, meminimalisir adanya komplotan dari guru itu.
Bagi menapakkan kakinya pada anak tangga. “Sena! Sena!” Bagi berbisik memanggil anaknya. Betapa terkejutnya Bagi saat mendapati Sena dalam dekapan seorang laki-laki paruh baya.
“Hei! Siapa kamu?” Tanya laki-laki itu.
“Wow, wow, wow! Tenang, Pak. Tenang. Kita bisa bicarakan baik-baik.” Tawar Bagi dengan wajah panik. Ada beberapa anak di dalam ruang rahasia ini. Salah satunya Ragil.
__ADS_1
“Dengan baik? Apa kita saling mengenal? Saya tidak terbiasa berbuat baik dengan orang asing.” Sahut Pak Teguh sinis.
“Iya betul, dengan saya mungkin Bapak tidak kenal. Bagaimana dengan anak-anak ini? Mereka siswa Bapak, bukan?” Balas Bagi dengan melangkahkan kaki mendekat ke arah Teguh dan Sena.
“Sayang sekali, saya bukan tipe orang yang bisa diajak bernegosiasi.” Sahut Teguh dan mengeratkan dekapannya pada Sena.
***
“Ayo, Pak. Lewat sini.” Dandi memimpin perjalanan menuju kebun durian. Andre, Damar, Ijal, dan Kuntoro mengikuti di belakangnya.
Keadaan kebun durian yang gelap, tidak menyurutkan langkah cepat Dandi untuk menyelamatkan teman-temannya.
Tidak berapa lama, mereka tiba di dekat kandang ternak sesuai arahan Dandi. Stevina menunjukkan wajah lega karena Damar dan anggota kepolisian telah hadir untuk membantu mereka.
Andre memerintahkan Ijal dan Kuntoro untuk menyelidiki area rumah gubuk dengan satu gerakan tangan yang menunjuk.
Ijal mengangguk paham. Mereka berjalan tanpa suara seperti seorang ninja menuju rumah gubuk. Kedua pasang tangan memegang senjata api untuk melindungi diri. Ijal memasuki bagian dalam rumah, sementara Kuntoro melindungi Ijal dari kemungkinan serangan tiba-tiba.
Andre memutuskan untuk turun melalui pintu besi yang telah terbuka sebelumnya. Setelah melangkah beberapa anak tangga, suara perempuan memekik keras.
Andre berhenti seketika, rasa ngeri yang belum pernah iya jumpai sebelumnya membuat enggan menuruni ruang rahasia itu.
Damar merangkul Stevina untuk melindunginya. Suara memekik tadi membuat burung-burung yang beristirahat di dahan pohon menjadi terbang tanpa arah. Bergemuruh ketakutan, dan ingin segera meninggalkan posisi mereka saat itu. Dandi segera berjongkok karena ketakutan. Belum pernah dia mendengar suara mengerikan seperti itu.
Pak Hartanto mendongak melihat sekawanan burung yang tiba-tiba saja seperti ketakutan.
“Ada apa ini?” Tanya Bu Siti tak kalah takut dengan burung-burung itu.
“Burung-burung itu seperti ketakutan akan sesuatu. Apa akan terjadi bencana alam, ya?” Bu Cahya ikut menimpali dengan wajah cemas.
__ADS_1
Sementara Ijal dan Kuntoro saling berpandangan saat mengalami kejadian aneh itu.
“Suara apa tadi? Suara itu terdengar seperti suara kucing betina yang sedang menjaga diri dari sebuah serangan.” Bisik Dandi. “Tunggu. Suara itu justru terdengar seperti macan betina. Ya, itu suara macan, Om.”
Stevina bergeming tanpa mampu untuk mengendalikan logikanya.
Andre gemetar mendengar ucapan anak kecil di atas. Ingin rasanya untuk urung memasuki ruangan di bawah. Tapi rasa penasaran tak kalah besarnya dengan rasa takut itu. “Apa jmungkin di bawah akan ada macan betina yang menyambut dan menerkam gue?” Ucapnya lirih di dalam hati.
***
Bagi, Sena, dan yang lain terpana menyaksikan secara langsung bagaimana Agia muncul dengan wajah hitam kemerahan di tengah-tengah mereka. Dalam satu detik, wajah menyeramkan Agia mendekat hingga satu inci dengan wajah Teguh.
Teguh diam menahan napas karena mata Agia membelalak berwarna merah menyiratkan kemurkaan. Sesaat kemudian Agia berteriak histeris memekakkan telinga layaknya seorang macan betina yang terganggu saat anaknya sedang didekati oleh anjing hutan kelaparan. Dara menutup telinganya tanpa sadar karena suara bergemuruh yang tiba-tiba keluar dari bibir makhluk menyeramkan itu.
Tanpa menunggu lama, Agia menarik Sena dari dekapan Teguh yang kehilangan tenaganya karena ketakutan. Tidak tanggung-tanggung, Agia lalu mencengkeram kerah baju Teguh dan mengangkatnya tinggi ke udara.
Melihat kesempatan itu Bagi kemudian secepat mungkin mengambil alih keadaan. Sena masuk kedalam pelukan Papanya yang masih tidak percaya jika melihat istri tercintanya mampu muncul menyelamatkan anak mereka. Walaupun dalam wujud yang sangat tidak dikenalinya.
Ragil dan yang lain merasa takjub, sehingga sukma mereka pun nyaris meninggalkan raga. Hal itu disebabkan oleh pengalaman pertama untuk mereka karena melihat makhluk menyeramkan dengan suara mengerikan. Tidak dengan Doni. Dia tahu betul jika Mamanya Sena sedari tadi menunjukkan perubahan wajah saat Teguh berusaha memainkan perasaan anak-anak agar menjadi ketakutan. Namun, Doni tidak memungkiri, jika kemunculan Agia dalam bentuk lain, mampu membuatnya ketakutan.
Andre kemudian menuruni tangga dengan cepat. Lampu senter yang diletakkannya tepat di atas senjata api menunjukkan keberadaan Teguh yang sedang melayang di udara. Mendapati munculnya Andre, Agia langsung melepaskan cengkeramannya. Teguh jatuh begitu saja, hingga menimbulkan suara berdebum.
“Pak Andre!” Teriak Bagi. “Dia pelakunya!”
Tanpa menunggu lebih lama, Andre segera mendekati Teguh yang sedang kesakitan. Cepat, tangan Andre menarik kedua tangan Teguh ke belakang, dan menguncinya dengan tali plastik.
***
Edit sedikit, maaf ya ada paragraf yang terulang. Terima kasih.
__ADS_1
Intan Pandan