
Mamaku Hantu
Part 39
“Di sana, Tante.” Ucap Raya ketika mereka berada di tengah-tengah kebun durian.
“Oh, di sana ada rumah, ya? Ayo kita ke sana.” Ajak Agia dengan seulas senyuman manis untuk Raya.
Rumah itu terlihat kosong, gelap, dan tak berpenghuni. Begitu juga dengan area sekitar rumah. Hanya angin berdesis yang mengaduk-ngaduk pepohonan terdengar di sekitar rumah gubug. Dedaunan yang bergesek menimbulkan kidung penuh misteri, seolah mengirimkan pesan untuk siapapun yang mendengarkannya.
Agia memejamkan mata sebentar, dia menunggu angin untuk menyapu kulitnya. Bahwa benar, angin tidak pernah memilih objeknya secara khusus untuk sebuah belaian. Namun sayang, Agia tidak merasakan sentuhan itu saat ini. Agia membuka mata, lalu menengadah pada bulan yang belum membulat sempurna. Dia merindukan tanda-tanda dari kehidupan yang dulu. Hembusan napas dari alam yang selalu menerpa angannya tanpa memilih waktu.
“Yuk, kita ke sana.” Ajak Agia berusahan melupakan nelangsa yang kian menggerogoti pikirannya belakangan ini.
Raya berjalan mendahului Agia. Dua pasang kaki melangkah di antara dedaunan yang menutupi ibu pertiwi. Beberapa daun dari pohon durian yang jatuh, tidak mencoba melawan angin. Mereka dengan berlapang dada mengikuti kehendak alam untuk tujuan hidup berikutnya.
Raya dan Agia berada beberapa langkah dari rumah gubug. Agia pun maju semakin dekat, “Di dalamnya ada apa?” Tanya Agia berusaha untuk melihat ke dalam rumah dari celah pintu.
“Enggak ada apa-apa, Tante. Mbak Dara bukan di dalam rumah ini.” Balas Raya. Agia mengangkat kedua alisnya. “Lantas, dimana dia?”
Raya menunjuk sebuah kandang hewan ternak di sebelah rumah gubug. “Itu kandang sapi, ya?” Tanya Agia.
Raya merespon dengan mengangkat kedua bahunya, “enggak tahu, Tante. Enggak pernah ada binatang apa pun di sana.” Jawab Raya.
Agia lalu melangkahkan kaki untuk mendekati kandang. Sedetik kemudian suara-suara dari arah kebun pisang terdengar ramai. Agia segera bersembunyi di balik kandang.
“Tante, ngapain ngumpet? Kan, mereka enggak bisa lihat kita.” Ucap Raya menyadarkan Agia, jika dirinya kini bukan lagi sama seperti yang dulu.
Agia tertawa renyah, “benar juga, ya. Tante sekarang kan hantu. Maklum, belum terbiasa. Kalau Raya, sudah lama jadi hantu?” Tanya Agia.
“Kayaknya sih gitu, Tante.” Sahut Raya tidak begitu tertarik dengan keingin tahuan Agia.
Mereka berdua memperhatikan beberapa orang dewasa yang mendekati rumah gubug itu.
“Akhirnya sampai juga.” Ucap salah satu di antaranya.
__ADS_1
“Pak Teguh, sini saya bantu.”
“Tidak usah repot, Bu Cahya. Tidak berat kok. Bu Cahya pasti kelelahan. Istirahat dulu.” Sahut Pak Teguh sopan.
“Tahu aja deh. Dari tadi saya capek sekali. Mana ngantuk pula.” Balas Bu Cahya.
Agia memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh guru-guru anaknya. Salah seorang membuka pintu rumah gubug.
“Pak Guntur! Kok main masuk aja.” Teriak Bu Siti yang melihat Pak Guntur mencoba memasuki rumah gubug.
“Enggak apa-apa. Pak Har sudah minta izin kok sama yang punya rumah. Kita boleh pakai rumah ini untuk tempat istirahat anak-anak. Saya mau taruh barang-barang di dalam.” Sahut Pak Guntur.
“Bu Rima, istirahat dulu sebentar. Nanti lanjutkan lagi perjalanan ke Pos 3. Masih jauh, kan?” Pak Teguh menyarankan rekan seprofesinya untuk istirahat sejenak.
“Iya, Pak Teguh. Terima kasih. Saya duduk sebentar. Nanti kita lanjut lagi ya, Pak.” Balas Bu Rima.
“Loh, Pak Teguh bukan jaga di Pos 2?” Tanya Bu Cahya.
“Bukan, saya di Pos 3 dengan Bu Rima dan Pak Yusuf.” Balas Pak Teguh.
“Berarti siapa aja yang di Pos 2?”
“Di Pos 3 cuma bertiga saja?” Tanya Bu Cahya lagi.
“Enggak, Bu Cahya. Nanti Pak Har nyusul lewat depan. Sekarang masih jaga di perkemahan untuk kasi komando anak-anak.”
Agia menyadari bahwa tidak ada yang mencurigakan dari guru-guru itu. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat ke dalam rumah. Sayangnya, Agia tidak bisa masuk ke dalam. Dari luar Agia memperhatian tindak-tanduk Pak Guntur. Tidak ada yang mencurigakan. Dia hanya mengeluarkan minuman-minuman dari dalam tas ranselnya.
“Tante, ini ada tas ransel di sini.” Ucap Raya kepada Agia yang sibuk melihat ke dalam rumah.
“Tas siapa?” Tanya Agia kemudian.
“Aku enggak tahu. Kayaknya dari tadi udah ada, deh.” Sahut Raya.
Agia lalu memeriksa tas berwarna hitam itu tanpa membukanya. Terasa seperti air mineral dalam bentuk botol di dalamnya.
__ADS_1
“Mungkin punya guru-guru itu, Raya.” Ucap Agia.
Pak Guntur lalu keluar dari dalam rumah, dan bergabung bersama guru lainnya.
“Raya, Om jahat yang kamu bilang tadi, ada di sini enggak?” Tanya Agia.
“Enggak ada, Tante.” Jawab Raya singkat.
“Tadi Raya bilang kalau Mbak Dara ada di kandang ini, kan? Kok Tante enggak lihat siapa-siapa, ya?” Ucap Agia memancing Raya untuk mengatakan posisi Dara saat ini.
“Ada, Tante. Di bawah kandang.” Sahut Raya.
“Di bawah? Masuknya lewat mana?” Agia mendekat ke arah peti pakan ternak yang terbuat dari kayu.
“Itu di bawah kayu tempat rumput.” Balas Raya.
***
Post 2 sudah nampak beberapa ratus meter di depan kelompok dua. Doni menoleh Sena yang berjalan paling belakang. Dia kemudian keluar dari barisan agar bisa menyamai langkah dengan Sena.
“Kenapa, Kak?” Tanya Sena saat melihat Doni menunggu kedatangannya. Doni menarik tangan Sena dan membiarkan teman-teman lain berjalan mendahului.
“Nyokap lo ada di sana, Sen.” Bisik Doni.
Sena mencari-cari ke arah jari Doni yang menunjuk ke arah sebuah rumah kecil.
“Oh! Benar, Kak. Nyokap gue juga sama anak perempuan itu.” Sahut Sena riang saat melihat keberadaan Agia.
“Berarti hal baik pasti akan berpihak pada kita, Sen. Tuhan memberkati kita.” Balas Doni.
Ragil dan Riki memisahkan diri dari barisan kelompok. “Hati-hati ya kalian.” Pesan Ragil saat mereka mulai mematikan lampu penerangan dan menghilang dimakan kegelapan.
Anggota kelompok dua melanjutkan langkahnya semakin cepat agar segera sampai di Pos 2. Mereka berjalan dalam diam dengan adrenalin memacu lebih cepat seirama dengan derap langkah kecil anak-anak yang belum menyentuh usia tiga belas tahun. Dingin dan gelap menyelimuti kesunyian masa bereksplorasi bagi mereka. Malam itu memang sunyi dan sepi, namun, yang bermalam didalam pikiran mereka tetap bising. Karena, bukanlah malam yang membawa sunyi, tapi hati yang sudah terlanjur sepi.
***
__ADS_1
Disetiap malam, langit menangis, seakan menemani sekeping hati yang sunyi di dalam kegelapan. Tangisan itu sangat berarti, karena kehidupan masih melekat pada diriku yang bisa saja mati kapan pun.
Ketakutanku telah merenggut kendali logikaku. Apakah diriku yang berada pada dimensi lain merasakan hal yang sama denganku?