Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 44


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 44


“Tante, Ragil mau tanya. Memangnya Tante enggak bisa jalan nembus dinding?” Tanya Ragil penasaran pada Agia.


“Enggak, Kak. Nyokap gue bisa keluar masuk ruangan kalau tangannya gue pegang. Atau gue panggil kayak barusan.” Sena dengan senang hati membantu Mamanya untuk menjawab rasa penasaran Ragil.


“Kak Dara, perkenalkan, gue Doni.” Ucap Doni kepada Dara yang disambut anggukan kecil. “Kakak lapar?” Tanya Doni lagi. “Gue ada roti dibagikan sama Pak Guntur tadi.”


“Terima kasih. Gue tiap hari tetap makan dan minum secara teratur. Pak Teguh enggak pernah abai kok sama gue. Cuma, gue enggak boleh keluar dari sini.” Sahut Dara.


“Kalau kita boleh tahu, apa sih latar belakang Pak Teguh nyulik lo di sini, Ra.” Tanya Riki.


“Gue juga enggak tahu. Dia cuma bilang, kamu enggak akan dingin lagi.” Balas Dara. “Kalau Pak Teguh ke sini, kita enggak pernah ngobrol. Sama sekali enggak pernah bicara. Padahal kalau di sekolh, Pak Teguh itu enak banget diajak ngobrol.”


Riki menoleh Ragil, mencoba memberikan waktu kepada sahabatnya itu untuk menemukan jawaban dari pernyataan Yang di erikan Dara.


“Lo masih ingat gimana bisa ada di sini?” Tanya Ragil kemudian.


“Enggak akan pernah gue lupa sama kejadian itu. Sesaat sebelum kita jurit malam, Pak Teguh memastikan kelompok gue untuk istirahat. Salah besar kalau gue menganggap Pak Teguh itu sebagai orang tua yang bisa diberikan keluh kesah. Gue mengeluh kalau malam itu dingin dan gue enggak suka ikut acara kemah. Alih-alih ditenangkan, gue diminta untuk ikut ke belakang tenda. Katanya, Pak Teguh punya minyak supaya enggak dingin lagi. Gue nurut aja. Tahu-tahu, saat gue sadar, gue ada di sini. Sendirian.” Dara kemudian menangis karena mengingat kejadian dua tahun lalu. Rasa rindu akan kebebasan seolah menjadi mimpi yang sangat sulit untuk diraih.


Ragil meraih tangan Dara untuk menenangkannya. “Sekarang lo enggak perlu khawatir. Kita semua pasti keluar dari sini dengan selamat. Lo akan bebas, dan enggak akan pernah ngelewatin hal menyedihkan kayak gini lagi. Gue akan pastikan itu.” Ucap Ragil dapat menghentikan tangisan pilu Dara. Kesepian selama dua tahun ini telah menguap bersama rasa khawatir yang setiap hari datang mengusik. Kini, harapan untuk selamat seperti menjadi dopping bagi Dara.


“Masalahnya adalah, ada satu orang lagi yang harus kita selamatkan.” Ucap Doni menambahkan.


***

__ADS_1


“Lokasi mereka ketemu!” Seru Bagi. Dengan gesit tangan Bagi menyentuh layar telepon genggamnya untuk memastikan jalan mana yang harus mereka lalui untuk mencapai posisi Sena.


“Waduh, pepohonan begini, lewat mana ke sana?” Ucap Bagi saat membuka lokasi tersebut dengan tampilan tiga dimensi.


“Lewat sini kayaknya lebih cepat.” Damar memberikan sarannya agar mereka berjalan melewati Pos 3.


“Lewat mana aja enggak masalah. Yang penting kita berhasil nemuin mereka.” Sahut Stevina.


***


“Sebenarnya Mama penasaran sama Raya. Dia juga kenal sama Pak Teguh itu. Tapi Raya enggak mau cerita secara detail bagaimana dan kenapa.” Tutur Agia.


“Raya itu anak perempuan yang ngintip-ngintip di kebun pisang, Ma?” Tanya Sena memastikan.


“Iya. Dia cerita kalau diikat sama Pak Teguh. Pak Teguh itu dipanggil Om Jahat sama Raya. Mama juga masih belum nemu titik terang dari cerita yang dia bilang.” Ungkap Agia. “Satu hal yang Mama yakini adalah Raya itu punya hubungan khusus dengan Pak Teguh. Itu terbukti dengan rasa takut yang berlebih dari Raya hanya dengan mendengar siulan Pak Teguh aja.”


“Sekarang Raya dimana, Ma?” Tanya Sena.


“Tante, tadi Pak Teguh bawa Danti kemana?” Tanya Doni.


“Tante kurang tahu itu kemana. Tapi mengarah ke lapangan tempat berkemah.” Sahut Agia.


“Guys, gimana kalau kita dorong sama-sama pintu keluar itu?” Riki mengajak Doni dan Sena untuk mendorong pintu itu agar terbuka.


“Percuma, pintu itu cuma bisa dibuka dari atas.” Sahut Dara.


“Sebenarnya tempat apa sih ini, Ra?” Tanya Riki.

__ADS_1


“Ini gudang penyimpanan. Kalau masa panen, hasil durian yang akan dijual, disimpan dulu di sini.” Balas Dara.


“Buset! Apa enggak keblenger lo dalam satu ruangan dengan buah durian?”


“Luar biasa memabukkan. Tapi gue malah bersyukur saat masa panen, Pak Teguh jadi sering ke sini dan bawa banyak makanan.” Balas Dara. “Jujur aja, gue belum siap kalau harus mati mengenaskan di sini. Gue enggak akan terima kalau nasib gue setragis itu.”


“Berarti kebun ini punya Pak Teguh?” Tanya Doni ingin memastikan kepada Dara.


“Gue enggak pasti, karena memang Pak Teguh itu enggak pernah ngobrol apapun sama gue. Maaf gue enggak bisa ngasi banyak informasi untuk kalian.” Sahut Dara.


“Enggak apa-apa, Kak.” Balas Doni.


***


Riki bersandar pada anak tangga berdua dengan Ragil.


“Gil, apa jangan-jangan Pak Hartanto ada hubungannya dengan ini? Lo ingat kan kalau Pak Har ada di sekitar rumah gubud tadi?” Ujar Riki pada Ragil.


“Anggap lah kalau Pak Hartanto memang ada hubungannya dengan Pak Teguh, enggak mungkin Pak Har jadiin rumah gubug sebagai pos pemberhentian untuk peserta jurit malam, kan? Ngapain dia ambil resiko tempat persembunyian korbannya diketahui seseorang. Gue rasa Pak Har enggak ada hubungannya.” Balas Ragil.


“Bisa jadi Pak Har sudah menaruh curiga sama Pak Teguh atau tempat ini. Makanya diam-diam Pak Har menyelidiki rumah ini, kan?” Sambung Ragil lagi.


“Demi Tuhan, gue paling enggak suka sama rasa penasaran begini. Rasanya gue pengen ngobrol sama Pak Teguh dari hati ke hati. Supaya gue tahu, apa sih latar belakang tingkah laku anehnya ini.” Tambah Ragil nampak kacau.


“Dara, coba lo ingat-ingat, apa sih yang bikin lo sampai jadi korbannya Pak Teguh? Coba putar ingatan lo saat di sekolah. Apa lo pernah menyinggung perasaan Pak Teguh, atau lo pernah bikin Pak Teguh marah? Atau apa gitu? Gue gemes banget enggak ketemu motif dia nyembunyiin lo selama ini. Jujur gue kira penculik itu ngelakuin hal jahat ke elo. Maafin gue ya, Ra. Harusnya gue enggak berpikiran negatif tentang lo.” Ujar Ragil kepada Dara.


“Gue juga ngira kalau gue enggak akan pernah bisa bertahan hidup selama ini sendirian di tengah hutan. Di ruangan gelap yang dingin. Sebagai korban penculikan dan penyekapan. Tapi gue enggak yakin juga sama motifnya Pak Teguh. Selama ini dia ya bersikap biasa, selayaknya seorang wali kelas sama anak didiknya.” Sahut Dara.

__ADS_1


“Pak Teguh wali kelas Kak dara dulu?” Tanya Doni menimpali.


***


__ADS_2