
Mamaku Hantu
Part 56
Ragil, Riki, Doni, Senja, dan Sena, berkumpul di rumah sakit untuk mengunjungi Danti. Tentu saja Dandi berbesar hati menemani Danti melakukan pemulihan tanpa mengeluh. Anak-anak itu menghabiskan hari pertama liburan dengan mengulas keseruan saat kemah diwaktu lalu.
“Lo baik-baik kan, Danti?” Tanya Doni memastikan Danti yang sempat dirawat inap semalaman karena kekurangan cairan dan udara.
“Syukurnya baik, Kak. Cuma, badan gue sakit banget. Entah berapa lama gue ada di dalam tas ranselnya Pak Teguh. Badan gue kelipet, sakitnya enggak bisa ditahan.” Balas Danti berusaha menunjukkan wajah ceria dengan tersenyum.
“Sebenarnya gimana, sih? Kok lo bisa ada di dalam tas Pak Teguh?” Tanya Sena hati-hati.
“Gue juga enggak ngerti kenapa bisa jadi targer penculikan sama Pak Teguh. Gue cuma anggap Pak Teguh itu kayak bokap gue. Karena hal apa pun yang gue ceritain ke Pak Teguh, pasti nemu solusi.” Ungkap Danti dengan posisi bersandar pada kasur rumah sakit yang ditinggikan bagian atasnya.
“Lantas? Lo ada bilang apa ke Pak Teguh saat kemah?” Doni menambahkan pertanyaan untuk Danti.
“Bilang apa, ya? Gue enggak yakin sebenarnya. Pak Teguh nyamperin semua anak-anak kelas 4-A. Ya, termasuk gue salah satunya. Pak Teguh bermaksud memastikan anak-anak kelas 4-A aman dan tidak kekurangan apa pun, gitu. Karena gue memang merasa dingin, ya gue bilang lah. Saya kedinginan, Pak. Gitu doang.” Jelas Danti pada yang lain.
“Terus?” Balas Doni dan Ragil berbarengan.
“Terus gue diminta ikut ke tendanya Pak Teguh untuk ngambil minyak supaya enggak dingin lagi. Padahal gue sudah nolak, loh. Tapi entah gimana, perhatiannya Pak Teguh bikin gue jadi ngerasa enggak enak. Eh, gue ikutin dibelakangnya. Yang bikin gue heran saat itu, kalau mau ke tenda guru, kan tinggal nyebrang doang dari tenda kita. Lah, Pak Teguh malah ngajak lewat belakang tenda. Gue sudah setengah hati sebenarnya. Harusnya gue ikutin insting gue waktu itu, kalau keadaan sebenarnya tidak aman. Nyesal sekali rasanya.” Ungkap Danti lagi.
“Berarti benar, yang gue dengar ada langkah kaki di belakang tenda itu Pak Teguh dan lo. Harusnya gue segera bangun dan meriksa keadaan. Maafin gue ya, Danti.” Ucap Sena lirih.
“Ya, bukan salah lo juga, sih, Sen. Gue yang jadi korban aja enggak nyangka akan begini. Apa lagi elo, kan?“ balas Danti. “Setelah itu, gue ingat Pak Teguh ngasi gue minyak. Ternyata baunya obat bius. Entah lah dia dapat obat itu dari mana. Tapi gue yakin banget kalau itu bau obat bius. Gue rasa, setelah itu gue pingsan dan ditaruh di dalam tas. Kasihan ya gue.” Sambung Danti dengan meringis.
“Untung aja Dandi ngelihat lo, dan berhasil buntutin Pak Teguh. Kalau enggak? Mau bilang apa kita?” Seru Riki menanggapi.
“Sialnya lagi, gue disembunyiin di dalam bak pembuangan sampah. Dikiranya gue sampah kali, ya, sama Pak Teguh.” Balas Danti.
“Kira-kira, apa ya latar belakang Pak Teguh nyulik lo dan Dara?” Tanya Ragil kemudian.
“Kalau hal ini, sampai sekarang pun, enggak bisa gue tebak. Gue enggak pernah punya masalah apa-apa sama Pak Teguh. Malah Pak Teguh itu baik banget sama gue. Berkat Pak Teguh lah, gue bisa ikut lomba membaca puisi sampai tingkat kecamatan. Bahkan sampai juara satu.” Terang Danti akan ketidakpercayaannya.
“Pelaku kriminal itu, enggak perlu alasan unguk ngelakuin kejahatan. Jahat, ya jahat aja. Enggak perlu ngumpulin alasan untuk itu.” Balas Dandi sengit.
__ADS_1
“Kalau gue, benar-benar berterima kasih sama lo, Sen. Sumpah, nyesal banget rasanya kalau gue sering jahilin lo di sekolah. Malu banget rasanya kalau ingat, berkat bokap dan teman bokap lo yang bantu gue. Tanpa mereka, nasib Danti pasti tamat.
“Ya, itu lah kita sebagai manusia. Kita harus baik dengan siapa aja. Karena yang namanya kebaikan, tidak menuntut untuk balasan dari yang bersangkutan. Tuhan pasti sudah menyiapkan balasannya dengan wujud yang cantik.” Sahut Ragil memberikan sedikit wejangan.
“Sayangnya gue enggak ikut dalam misi kalian.” Senja merengut dan memajukan bibirnya membentuk huruf u.
“Untung aja lo enggak ikut. Gue yakin segala rencana kita pasti akan kacau kalau ada lo.” Ucap Ragil pada Senja disertai dengan menggerakkan bola matanya ke tas.
Doni tidak tahan untuk ikut serta dalam menggoda Senja. “Betul, Kak Ragil. Kalau ini makhluk ikut, bisa jadi penguasa kebun durian akan datang. Hiii takut. Kebayang enggak sih? Monster besar dengan duri durian disekujur tubuhnya, terus ngejar-ngejar kita.”
“Enak aja lo! Lo kita gue pemuja setan kebun durian?” Balas Senja.
“Tapi, kedengarannya enak. Kita tangkap monster itu, lalu kita belah ramai-ramai. Lumayan pesta durian.” Sahut Dandi bersemangat.
“Ngomong-ngomong soal monster, kalian enggak penasaran sama penampakan yang muncul di gudang rahasia?” Tanya Riki yang tiba-tiba teringat dengan sosok Agia berwajah seram.
Doni melirik Sena yang terlihat salah tingkah Mendengar ucapan dari Riki. Kemudian Doni pun melirik Agia yang duduk tak jauh dari mereka.
“Penampakan apa?” Tanya Danti kemudian.
“Oh! Suara macan itu, ya?” Seru Dandi yang juga ingat dengan suara mengerikan itu.
“Macan? Mama dibilang macan?” Tawa Agia karena mendengar celotehan anak-anak itu.
“Seumur hidup, enggak akan gue pernah lupa sama suara itu.” Tambah Dandi lagi. “Keadaan di kebun durian betul-betul mencekam. Burung yang istirahat dipepohonan terbang ke sana kemari. Wah, kacau dah pokoknya. Persis kayak film-film yang nayangin gejala-gejala tsunami gitu.”
“Pantas sih kalau sampai begitu. Memang seram dan mengerikan.” Sambung Riki setelah mendengar cerita dari Dandi.
Senja yang sepertinya paham bahwa perempuan yang dimaksudkan Riki adalah Mamanya, mencoba mengalihkan.
“Lo jangan sampai cerita hal itu kesiapa pun, ya. Nanti malah lo yang dikira enggak beres ininya.” Ucap Senja seraya menunjuk pelipisnya.
“Apa itu nyokap lo, Sen?” Tebak Ragil tidak mau termakan oleh pengalihan dari Senja.
Senja menatap Sena was-was. Apa Sena akan mengatakan yang sesungguhnya pada teman-teman?
__ADS_1
***
“Sena, lo ingat Raya?” Tanya Doni ketika mereka bersiap pulang dari rumah Dandi dan Danti.
“Iya, kenapa?” Balas Sena.
“Kenapa kemarin dia enggak kelihatan, ya? Lo sempat lihat dia, enggak?” Tanya Doni lagi.
Sena berusaha mengingat dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Donu. “Benar juga, Kak. Kemana ya anak itu. Apa terjadi sesuatu?”
“Apa perlu kita mencari tahu?” Tanya Doni.
“Cari tahu tentang apa, woi?” Balas Senja yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Doni dan Sena.
“Sst! Jangan cerita sama dia, Kak. Nanti dia pasti berisik.” Sahut Sena mendahului Doni.
Mau, tidak mau, Doni tertawa mendengar pertengkaran yang selalu dilakukan oleh Senja dan Sena.
“Lo mulai rahasia-rahasia sama gue, nanti gue iket lo di kamar, ya!” Sahut Senja garang.
“Kalau Kakak mau tahu, beliin aku buku komik dulu. Baru deh aku kasi tahu.” Seru Sena mencari kesempatan.
“Enak aja! Gue enggak mau tahu!” Balas Senja.
“Besok gue mau ke rumah Dara. Kalian mau ikut, enggak?” Tanya Ragil pada yang lain.
“Boleh. Jam berapa?” Balas Riki.
“Ya jam segini lah, supaya engga terlalu sore.” Sahut Ragil.
“Kita kumpul dimana?” Tanya Doni memastikan.
“Rumah gue aja, supaya di tengah-tengah.” Sahut Ragil yang disetujui oleh semuanya.
***
__ADS_1